The Degree

The Degree
Karena Kita Musuh



“Semua ini membuatku gila ...”


Indri saat ini bisa mendengar banyaknya demonstrasi dan kekacauan dari kejauhan. Bom bunuh diri sebelumnya seakan-akan menjadi tembakan untuk kekacauan dimulai.


Dia tidak berharap bahwa Ray akan melibatkan warga sipil ke dalam kekacauan ini. Selain itu, bagaimana bisa dia menunggangi demo seperti itu?


Ada banyak hal yang mengerikan tentang Ray terutama rencananya ini yang melibatkan banyak nyawa.


‘Aku beruntung tidak memusuhinya, tetapi kami tidak benar-benar sejalan saat ini.’


Indri memiliki tujuan berbeda dengan Ray saat ini. Jika Ray ingin menghancurkan Arthur dan menyelesaikan tugas, maka Indri hanya ingin menyelamatkan rekannya saja.


Persetan sudah dengan mendapatkan kunci. Tidak ada gunanya Indri mengumpulkannya jika orang-orang yang dia peduli pada mereka pergi satu persatu.


‘Saat ini menyelamatkan dua bocah itu yang terpenting.’


Indri tidak ragu tentang tujuannya. Dia memandang Ben yang bersiaga, masih dibutuhkan lima belas menit lagi agar kemampuannya bisa digunakan.


Itu bukan waktu yang lama jika dalam kondisi biasa. Namun dikondisi sekarang ini lima belas menit sangat menentukan.


“... apa? Mereka melepaskan sandra?” Indri terkejut begitu melihat situasi di monas.


Para ******* jelas bergerak dan berniat melarikan diri dengan mobil. Mereka telah membuat jalannya sendiri setelah menghancurkan barikade tentara dengan bom bunuh diri.


Saat ini mereka menggiring sandra ke mobil, beberapa tampak dilepaskan dan mulai berlari ke arah para tentara; yang diam tanpa bisa menyerang.


Diantara sandra yang mereka bawa, indri menemukan satu orang yang dia cari. Orang itu tampaknya tidak akan dilepaskan begitu saja. Dia memasuki sebuah mobil hitam yang bergerak perlahan.


”Itu Hiroshi! Ben, mari bergegas!”


Indri pergi mengejar mobil itu dan berusaha untuk tetap tersembunyi. Saat dia tiba di jalur yang akan dilalui mobil tersebut, Indri mulai tengkurap.


Dia menyiapkan pistolnya dan mulai membidik. Saat mobil tepat ada di garis bidikannya, Indri menembak tepat di ban mobilnya.


Mobil mulai tergelincir dan berputar sebelum berhenti. Ben memanfaatkan itu untuk membunuh supir di dalamnya dan menghancurkan jendela untuk membunuh orang lain.


“Hm!” Hiroshi menjerit, tubuhnya diikat dan mulutnya ditutupi sesuatu untuk mencegahnya bunuh diri.


Indri bersyukur bahwa bocah itu baik-baik saja. Ben segera melepaskan sesuatu yang menyumpal mulut Hiroshi.


“Nona, Ben! Di mana Hiromi?”


Ben dan Indri segera mengerutkan alisnya setelah melihat reaksi.Hiroshi. Wajahnya mengatakan bahwa dia benar-benar serius dan tidak tahu tentang keberadaan gadis itu sama sekali.


“Apa dia berhasil mencapai kalian dan memberitahukan tentang Jung Haiyan?” Hiroshi lanjut bicara.


“Hiroshi, sebaiknya kita pergi dari sini terlebih dahulu.”


Melihat reaksi Hiroshi maka bisa dikatakan bahwa dia tidak bersama Hiromi. Bisa disimpulkan bahwa hanya Hiroshi yang ditangkap oleh Haiyan, tetapi nyatanya Hiromi berhasil meloloskan diri.


‘Jika begitu ke mana dia?’


Setelah menjauh dari lokasi tersebut, Indri dan Ben membawa Hiroshi ke tempat yang lebih sepi. Hiroshi kemudian mulai menjelaskan segalanya dimulai dari dirinya yang ketahuan dan membiarkan Hiromi melarikan diri. Sampai akhirnya dia yang tertangkap, diintrogasi dan menjadi sandra.


“Hiromi tidak menemui kami. Aku pikir dia tertangkap bersamamu.” Indri mulai memberikan penjelasannya termasuk situasi saat ini.


Segalanya telah menjadi kacau dan tak terprediksi. Bahkan Indri sendiri terkejut bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa ia lihat melalui mimpinya.


“Begitu ... lalu di mana Hiromi?” ujar Hiroshi dengan sedih dan tatapan bersalah.


Indri tidak bisa berbuat apapun tentang itu, bahkan Ben hanya memandanginya dalam diam. Dia tentu memiliki hal untuk disampaikan, tetapi jika bukan karena syarat penggunaan Degree-nya, Ben pasti sudah berbicara.


“Mengapa? Apa kita akan mencuri kunci miliknya?” tanya Hiroshi sedikit terkejut.


Indri menggelengkan kepalanya dengan pahit.


“Kita sudah kehilangan cukup banyak dan aku tak ingin kehilangan jauh lebih banyak.”


Kematian si kembar, Guren, bahkan mungkin Hiromi adalah hal yang menyakitkan. Indri sangat sadar bahwa dalam kehidupan bagian kehilangan seseorang adalah yang paling menyakitkan.


Oleh karena itu Indri akan menghentikan tragedi ini dan jalan terakhir yang bisa diambil adalah melarikan diri dari semuanya.


Ben dan Hiroshi memandang Indri dengan sedih, terutamanya Ben. Dia tahu betul bahwa Indri, meski terlihat mengerikan dan kejam namun nyatanya dia memiliki hati paling lembut.


Semua orang akan bersikap kejam dan keras kepada orang lain, tetapi mereka akan sangat lunak kepada orang-orang yang dekat dengannya.


“Kita pergi sekarang dan menyerah mendapatkan kunci.”


Keputusannya sudah bulat. Indri memimpin jalan diikuti dengan Ben di sisinya, dan Hiroshi berada di belakang.


“... kamu sudah menyerah mendapatkan kunci?” tanya Hiroshi dengan lemah.


Indri tahu bahwa Hiroshi mungkin kecewa dengan keputusannya. Setelah banyak perjuangan bahkan pengorbanan yang mereka lakukan, namun Indri mengakhirinya dengan mengaku menyerah.


Dia bahkan berencana pergi dari semua ini dan bergantung pada orang lain. Indri tentu mengerti mengapa Hiroshi tidak menerima situasi ini.


“... ya. Lebih baik menyerah sebelum menjumpai kegagalan total.”


Setengah gagal adalah yang terbaik ketimbang gagal sepenuhnya. Indri tidak akan ragu menyerah saat dirinya sudah menemukan tanda kegagalan besar yang dialaminya.


“Jadi begitu. Kamu menyerah, ya? Maka baiklah.”


Terdengar dipaksakan Hiroshi menerimanya. Indri tidak berusaha melihat bocah itu karena dia tak mau melihat seberapa menderitanya dia.


“Mari kita pergi,” ujar Indri, tetapi Hiroshi tidak segera bergerak.


“... kalau kamu menyerah maka—”


Hiroshi mengeluarkan pisau dari saku dan memegangnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya berlari menerjang langsung menuju Indri.


“—berikan kuncimu padaku.”


Ben bergegas menoleh dan melihat Hiroshi sudah berlari ke arah Indri dengan pisau di tangannya.


Dia berniat berteriak namun tidak bisa karena jika Ben melakukannya maka dia takkan bisa menggunakan Degree. Namun bertindak juga tidak berguna karena dia takkan bisa sampai tepat waktu, bahkan Indri juga tidak menyadari bahaya itu.


Apakah dia tidak melihat situasi seperti ini di masa depan? Ben tidak yakin tentang itu.


“Tidak ... INDRI!” Ben berteriak keras dan berusaha mendorong Indri, tetapi dia terlalu lambat.


Indri mulai berbalik namun dia segera bisa merasakan sesuatu keluar dari perutnya. Pisau yang menembus punggung belakang hingga sampai ke perutnya.


Darah segar segera mengalir dan membawa kehangatan tubuh manusia pergi. Indri hanya menatap diam pisau di perutnya meski dia mulai muntah darah.


“M-mengapa?” tanyanya dengan lemah.


Hiroshi yang menusuk semakin dalam pisau tersebut hingga bahkan memutarnya mulai tersenyum. Suara yang dia keluarkan mulai berubah menjadi orang lain. Suara Hiroshi berubah menjadi suara seorang gadis.


“Bukankah sudah jelas? Kita adalah musuh. Saling membunuh adalah keharusan.”