
“Ha ha ha, kamu berhasil lagi menguak kasus itu, aku bangga padamu dan rekan-rekanmu, Arthur!” ujar pria berperawakan kekar meski usianya sudah mencapai kepala lima selagi mengangkat gelas berisi jus.
“Itu bukan apa-apa, justru saya senang bisa membantu anda,” ujar Arthur dengan senyuman masam.
Jika harus jujur dia sungguh merasa gugup setiap kali berhadapan dengan pria tua itu, dia terkadang ada di rumah ketika makan siang seperti sekarang. Bahkan jika umurnya terlampau jauh, pria tua itu masih sanggup membanting Arthur dengan satu tangan.
Selain itu, pria tua tersebut memiliki posisi yang luar biasa sehingga Arthur cukup sungkan kepadanya. Di negara Indonesia itu sendiri, orang yang mencapai tempatnya saat itu dapat dihitung oleh jari.
Arthur tidak menyangka kalau Mira memiliki orang tua yang luar biasa seperti itu dan juga orang berpangkat tinggi di negeri ini.
Benar, ayah Mira adalah seorang jenderal besar berbintang lima di negara Indonesia, dia menjadi satu-satunya orang dengan pangkat tertinggi saat ini di militer dan sosok yang bisa berhubungan langsung dengan pemimpin negara alias, presiden.
Dia adalah Ardianto Baharuddin Marshal. Seorang jenderal besar yang juga dikenal pahlawan karena memberantas ******* di wilayah papua.
Arthur memanggil pria itu dengan sebutan ‘Paman Ardi’ seperti yang diminta oleh Ardianto.
“Ha ha ha kamu pria yang cakap, sangat disayangkan karena kamu tak bergabung dengan militer. Dengan bakat seperti itu aku yakin kamu akan mendapatkan prestasi yang luar biasa.”
“Itu memang tawaran menarik, tetapi aku tak tertarik dengan militer. Selain itu, aku bukan WNI.”
“Aku bisa mengurusnya, itulah gunanya pangkat tinggi,” Ardianto tetap bersikeras untuk membuat Arthur bergabung dengan militer negara.
Mira merasakan kesulitan Arthur karena paksaan ayahnya itu, akhirnya dia berbicara dan membantunya.
“Kamu terlalu memaksanya, ayah. Biarkan Arthur menentukan pilihannya sendiri. Dia tak ingin bergabung ke militer, maka itu adalah pilihannya yang harus dihargai!”
Ardianto tampak sedikit tertegun dan menggaruk kepalanya, “Kamu mungkin benar, putriku. Sepertinya aku harus menyerah membuatnya gabung militer.”
“Ya, itu baru benar!” Mira menganggukkan kepalanya dengan puas.
Arthur dan Mona hanya menatap percakapan keduanya dalam diam, mereka merasa tak memiliki hak untuk ikut campur ke dalamnya, sampai akhirnya Ardianto membuat gagasan unik.
“Mengapa kalian berdua tidak menikah saja? Ayah memang selalu melarangmu membawa pria manapun atau bermain dengannya, tetapi jika itu Arthur kurasa tak masalah. Dia pintar, kuat dan sangat cekatan. Sudah diputuskan, kalian harus menikah!”
“Hah?!”
Tidak hanya Arthur dan Mira, tetapi Mona ikut terkejut atas saran yang begitu mengejutkan tersebut. Tentunya, itu sesuatu yang berada di luar harapan untuk dikatakan oleh seorang jendral besar sepertinya.
“A-a-a-a-aku tak setuju! Sangat tak setuju!” Mona menggebrak meja dan menentangnya.
Mira melakukan hal yang sama, “Itu benar! Aku tak mau menikah dengannya! Meskipun dia pria yang ideal untuk dijadikan suami, aku tak bisa melakukannya, dia terlalu baik untukku!”
Arthur hanya terdiam, dia tentunya senang akan pujian Mira, tetapi entah mengapa hatinya juga sedikit terluka.
Ardianto hanya menghela napas selagi mengerutkan alisnya, “Huh, alasan khas perempuan yang tidak aku mengerti.”
Setelah mengatakan hal itu, wajah orang baik yang penuh perhatian darinya segera menghilang. Ardianto saat ini terlihat begitu tegas, galak dan juga menakutkan.
“Sekarang mari sudahi basa-basinya dan mari lakukan pembicaraan serius.”
Mira mendadak diam dan sangat patuh, tentunya Arthur dan Mona bersikap sama. Setiap kali Ardianto menjadi seperti itu, bisa diartikan dia sedang dalam mode militernya yang galak dan tak bisa diajak bercanda.
Ardianto mulai menjabarkan situasi Arthur dan yang lainnya secara singkat.
Dua tahun lalu sepuluh ribu orang menghilang secara misterius tanpa jejak apapun. Diantara sepuluh ribu orang tersebut Mira, Arthur dan Mona adalah salah satunya.
Tentunya saat itu Ardianto begitu marah dan sedih karena putrinya menghilang tanpa diketahui keberadaan bahkan mayatnya. Sampai pada enam bulan lalu, Mira tiba-tiba muncul di hadapannya bersama ratusan orang asing.
Ardianto tentunya senang mengetahui putrinya baik-baik saja, tetapi setelah mengetahui situasi putrinya dia kehilangan rasa senang itu. Meski banyak bagian dari ceritanya yang disembunyikan, ringkasnya Mira belum aman.
“Kalian berada di sebuah tempat selama dua tahun dan mendapatkan sesuatu yang memberikan kalian kekuatan aneh. Mona dengan analisisnya yang luar biasa dan Mira ... yah, itu tak penting. Pada intinya situasi kalian saat ini tak bagus.”
Arthur bersyukur bahwa aturan Secret tentang merahasiakan keberadaan organisasi dan Degree cukup longgar sehingga memungkinkan sedikit orang yang tidak berhubungan tahu tentang hal itu.
Sebelumnya Arthur telah memberikan penjelasan kepada Ardianto bahwa akan muncul orang-orang yang menghilang dua tahun lalu dan akan membuat kekacauan di negeri ini.
Tentunya Ardianto akan menolak percaya, tetapi sampai pada waktu di mana tindak kejahatan mulai merajalela, dia kian percaya nika Arthur tak berbohong. Selama itu juga, Arthur membantu Ardianto untuk memecahkan beberapa kasus rumit seperti pembunuhan terencana dan semacamnya.
Tentunya Ardianto tak turun tangan tentang hal itu, dia melakukannya setiap kali ada luang atau menemukan kepolisian kesulitan menyelesaikannya.
“Para manusia super ini akan membuat kekacauan, kah ... melihat kalian datang ke hadapanku dengan menceritakannya secara samar adalah tanda bahwa kalian ingin bantuanku. Tentunya, aku sadar bahwa kalian sepertinya memiliki sesuatu yang mengharuskan kalian menahan informasi sebanyak mungkin.”
Ardianto memahami situasi dengan baik meski Arthur hanya menyampaikan sedikit karena dia sendiri khawatir akan melanggar batas yang ditolerir oleh Secret.
‘Apa ini juga faktor Degree-ku? Jika begitu ... sungguh mengerikan.’
Jika Degree-nya mempengaruhi semua itu, maka Degree berkemungkinan besar bisa mengubah nasib seseorang dengan cara yang luar biasa. Bahkan sejujurnya Arthur sedikit takut dengan Degree-nya sendiri. Dia takut karena tak tahu seberapa jauh Degree-nya itu bisa mempengaruhi hidupnya.
“Aku sejujurnya bersedia memberikan kalian bantuan untuk mengakhiri semuanya dan mencegah kekacauan di negara ini.”
Arthur menjadi memiliki harapan karena perkataan Ardianto. Jika dia berhasil mendapatkan bantuan dari pihak militer negara ini, maka akan ada banyak hal yang bisa dia lakukan.
“Apa itu sungguh-sungguh, ayah?!” tanya Mira dengan wajah yang senang.
“Ya, tetapi jika persoalan militer itu lain urusan. Aku memang ingin membantu kalian, tetapi sebagai jendral besar aku tak bisa menggunakan kekuasaanku semena-mena.”
“Selama belum ada bukti nyata maka aku tak bisa menggerakkan apapun. Tentara negara ini dikhususkan untuk menjaga kedaulatan dan hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan juga keamanan negara.”
Itu artinya Ardianto takkan menggerakkan pasukannya untuk sesuatu yang belum jelas keberadaannya. Bahkan jika dia sudah melihatnya secara langsung, selama hal tersebut belum mengancam keamanan negara, maka tentara takkan bergerak.
Jika Arthur ingin membersihkan para pembuat onar seperti Ray dan yang lainnya, paling baik dia harus pergi ke kepolisian.
“Apakah ayah sungguh tak bisa melakukan apapun untuk itu?” tanya Mira dengan kesedihan.
“Tentara bukan milik ayah, nak. Tentara adalah milik rakyat dan negara. Jika sesuatu naik ke permukaan dan bergerak untuk mengancam rakyat juga negara, maka ayah bersumpah akan turun tangan untuk menyelesaikannya.”
Arthur tidak bisa melakukan apapun untuk hal itu, dia juga tak berhak untuk melakukannya.
‘Jika sudah seperti ini, maka aku hanya harus fokus membangun nama dan koneksiku di bidang lain.’
Arthur telah bergerak untuk membangun suatu perusahaan miliknya sendiri. Tujuannya adalah untuk uang, koneksi dan juga kekuasaan. Jika dia memiliki ketiga hal itu, maka Arthur akan bisa menggerakkan orang untuk kepentingan pribadi.
“Apakah jika hal besar terjadi pada negara ini, anda akan mau langsung maju dan menuntaskannya?” tanya Mona.
“Ya, itu sudah tugasku.”
“Jika begitu maksudnya, anda hanya akan bergerak jika sudah ada korban jiwa, kan?”
Arthur menatap Mona dengan terkejut. Perkataan itu jelas lancang dihadapan Ardianto dan benar saja, pria itu tidak senang.
“Nak, negara memiliki prosedurnya masing-masing. Tentara mungkin belum bergerak, tetapi jika kamu datang ke pihak kepolisian maka penyelidikan akan dijalankan.”
“Maaf namun mereka tak seperti anda yang akan memahami situasi sulit kami. Pada akhirnya mereka hanya akan menerima laporan dan menertawakannya, bahkan jika anda sendiri yang memintanya.”
Mona mungkin hanya membuat asumsinya sendiri, tetapi mudah membayangkan hal itu terjadi. Umumnya, manusia super sungguh hanya ada di cerita fiksi.
Selain itu, bahkan jika Ardianto percaya kepada mereka, dia takkan melaporkan hal ini karena memiliki integritas yang perlu dijaga. Selama keberadaan manusia dengan kemampuan spesial belum terungkap pada dunia, maka pembicaraan tentangnya hanya akan jadi lelucon.
“Anda pasti pernah mendengar kata-kata bahwa lebih baik mencegah dari pada merawat.”
Arthur tidak tahu apa yang coba Mona sampaikan, tetapi dia tidak berniat menghentikannya. Dia yakin kalau Mona bukan gadis yang akan melakukan sesuatu yang merugikan.
Bahkan Ardianto tampak mendengarkan apa yang ingin dikatakan Mona.
“Lanjutkan,” ujarnya.
“Kita takkan bisa melakukan operasi untuk mengangkat kanker jika tidak tahu di mana letaknya. Jika kita mencarinya saat dalam operasi maka besar kemungkinan orang itu akan mati sebelum kita menemukannya. Selain itu, menunggu kankernya memburuk juga pilihan yang bodoh.”
Oleh karena hal itu tersedia sebuah opsi yang bisa mereka lakukan. Bahkan jika tak bisa segera melakukan penanganan apapun, setidaknya mereka takkan mengalami kerepotan ketika waktunya tiba.
“Apa yang sebenarnya coba kamu sampaikan?” tanya Ardianto untuk memastikan, meski dia tahu apa yang diinginkan Mona, tetapi Ardianto tetap ingin mendengarnya langsung.
“Kita tak bisa melakukan operasi tanpa mengetahui lokasi kanker, dan menunggunya bukan juga pilihan. Oleh karena itu, kita harus mencarinya lebih dulu. Singkatnya, saya ingin anda membuat tim khusus untuk melakukan pencarian terhadap kanker ini.”
Kanker yang dimaksud adalah para pembuat onar dari pengguna Degree. Mereka saat ini bahkan sedang merencanakan atau bahkan melakukan tindak kriminal. Mulai dari pembunuhan, pemerkosaan bahkan perampokan.
Untuk mengatasi hal itu, mereka perlu setidaknya menyelidiki di mana para bajingan itu berkumpul dan tinggal. Dengan melakukan itu, pada saat kekacauan besar terjadi mereka telah siap.
“Itu masuk akal. Membuat tim penyelidikan sendiri dan mengumpulkan berbagai hal tentang manusia super ini agar aku bisa menguak keberadaannya pada dunia. Baiklah, akan aku pikirkan sedikit.”
“Sungguh? Terima kasih banyak!” Mona berseru dengan senang.
Arthur di sisi lain tersenyum lembut, “Kerja bagus, Mona. Dengan ini kita bisa fokus terhadap hal yang sedang—”
Baru saja Arthur berencana fokus kepada rencananya yang terus berkembang, sebuah pesan berdering dari jamnya. Tidak hanya miliknya, tetapi juga Mona dan Mira.
Hanya satu sosok yang bisa mengirim pesan ke mereka melalui jam yakni, Secret.
Ardianto telah mendengar bahwa jam itu berfungsi seperti tali pengekang agar mereka tak bisa melarikan diri. Selain itu, orang-orang yang menggunakan jam tersebut adalah manusia super.
‘Aku jadi penasaran siapa dalang dibalik ini semua. Apa mungkin, sosok misterius yang membawa banyak penemuan baru seperti teleportasi yang melakukannya? Aku perlu memperdalamnya,’ pikir Ardianto.
Di sisi lain Arthur, Mona dan Mira sangat terguncang dengan informasi yang baru saja mereka terima. Bagaimana tidak? Tugas terakhir yang dikira akan berlangsung cukup lama nyatanya tak seperti itu. Sungguh, tindakan Secret tak pernah sejalan dengan pemikiran mereka.
“Rincian lainnya dari tugas terakhir dan juga ... ketentuan penyelesaian yang telah ditentukan,” gumam Mona.
Arthur sendiri tidak percaya dengan apa yang diterimanya. Dia melirik ke arah Ardianto sedikit sebelum menatap Mona dan Mira. Arthur kemudian mulai berbicara dengan bahasa jepang yang mana Ardianto tak mengerti maknanya.
Hal itu dilakukan untuk menjaga dirinya juga agar tak membeberkan informasi berlebih yang dapat membuat Secret turun tangan. Beruntung bahwa dengan teknologi Secret, para pengguna Degree akan memahami bahasanya.
“Jangan biarkan paman Ardi mengetahui percakapan kita, ini demi keamanan bersama. Berkat pemberitahuan ini semuanya jadi menyebalkan, rencana kita untuk membangun banyak relasi terlebih dahulu takkan bisa lagi digunakan.”
Di dunia ini uang dan kekuasaan adalah keadilan juga kekuatan mutlak. Dunia digerakkan oleh uang sehingga dapat terus berputar dan peradaban berkembang.
Tujuan Arthur untuk mengumpulkannya tanpa menukar DP tampaknya akan berakhir, tidak. Lebih tepatnya dipaksa untuk diakhiri.
“Tak ada pilihan lain, kita harus mengandalkan rencana B. Memang, ini mungkin cara yang cukup kasar untuk dilakukan.”
Aturan yang baru disampaikan oleh Secret adalah tentang teka-teki dan kunci emas, penentu berakhir atau tidaknya tugas ini.
Pemberitahuan tersebut berisi tentang:
—Kunci emas pertama telah diraih dan teka-teki telah diberikan pada pemilik kunci emas.—
—Ketentuan lebih lanjut mengenai The Degree.—
—Kelompok yang tak mendapat teka-teki dan kunci emas akan segera dieliminasi mulai empat hari dari sekarang.—
—Terkait pembebasan.—
—Seseorang dapat melewati tugas terakhir dan tetap hidup dengan pembayaran sejumlah DP serta beberapa syarat yang patut dipenuhi.
—Last Quest.—
—Pemilihan takhta akan segera dimulai.—
Pesan beruntun yang setiap kalimatnya sangat mengejutkan. Semua permainan ini memasuki tahap terakhir.