
“Mengapa aku tak melakukannya?” Ray mengulang kalimat Arthur. “Jika semuanya berakhir begitu cepat maka tak ada kesenangannya.”
“Hah?” Arthur tersedak oleh napasnya.
Tentunya dia mungkin merasa bingung tentang kalimat Ray. Jika semuanya selesai maka tak ada kesenangan, siapapun akan menganggapnya aneh.
“Kamu pasti sudah sinting!” Arthur mengumpat dengan wajah kesal.
“Justru aku bingung, apakah ada orang waras di dunia yang sinting?”
Jika dunia tidak sinting maka sejak awal Ray tak akan pernah mengalami hal mengerikan di mana ia harus bertemu buku dan dipaksa mempelajari banyak hal oleh ayahnya. Dia takkan pernah diajarkan menjadi manusia yang mampu berdarah dingin jika dibutuhkan.
Tidak ada orang waras di dunia yang sudah menggila, Ray yakin betul akan hal ini. Tentunya hal tersebut bergantung pada definisi waras setiap orang.
“Aku takkan membiarkanmu melakukan hal sesukamu lagi. Suatu saat aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. “Arthur mulai berbalik dengan susah payah, Mona tampak menunggu di kejauhan dan berusaha tak mengintervensi.
“Aku takkan setengah hati lagi, Ray. Mulai dari titik ini akan kubuang idealisme konyol yabg berusaha kugapai, hanya untuk menguburmu,” lanjut Arthur.
Biasanya Ray hanya akan tertawa dan tergelitik hatinya jika ada orang, terutama Arthur mengatakan sesuatu seperti itu.
“Ini mungkin pertanyaan konyol namun, kamu yakin bisa menguburku?” tanya Ray dengan sungguh-sungguh meski bagi Arthur tampak seperti provokasi.
“Lebih sulit membayangkan aku tak bisa melakukannya.”
Tak ada keraguan dalam kalimatnya, bahkan Ray merasakan Arthur mulai berubah dalam waktu yang benar-benar singkat ini. Tampaknya pria itu telah merapihkan pemikirannya dan membuang hal-hal seperti norma yang dia pegang dengan kukuh.
“Aku tak tahu apa yang ingin kamu capai dan kamu percayai, namun ingatlah ... Jika kamu bertindak atas dasar keyakinan, aku akan menghancurkan semua yang kamu perjuangkan.”
Tak peduli apakah itu keselamatan banyak orang, diri sendiri bahkan orang yang disayangi. Ray akan menghancurkannya sampai tak menyisakan apapun. Bahkan jika setelahnya dia akan pergi ke neraka, sejak mengenal dunia Ray tahu akan ada konsekuensi atas setiap tindakannya.
Hanya tentang bagaimana saja pengadilannya atas dosa akan tiba nantinya.
Ray hanya memandang punggung Arthur yang semakin menjauh, menjauh, lalu menghilang. Ada perasaan yang sulit dipahami olehnya, dan entah mengapa ada keinginan untuk menantikan apa yang akan terjadi nantinya.
Saat itu juga Ray teringat sebuah kata-kata yang telah berdengung keras di telinganya. Kalimat yang membuatnya percaya diri menghadapi berbagai masalah dan tak ragu dalam mengambil keputusan.
“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri, dan kamu takkan takut pada seratus pertempuran.”
Mereka yang paham tentang dirinya sendiri, dan mau memahami apa yang akan dihadapi maka mereka orang yang takkan kalah melawan kesulitan apapun.
Kebanyakan orang mungkin akan menyerah setelah dihadapkan dinding besar dan berakhir mengeluh menyalahkan dunia atau menyalahkan takdir yang memberikan cobaan terlalu berat.
Padahal, semua itu terjadi karena kemalasan mereka sendiri. Bahkan Ray sangat percaya bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang tidak bisa diselesaikan.
“Dengan ini aku juga harus meningkatkan kesulitan. Biasanya aku akan pergi untuk memanipulasi atau membuat rencana di belakang layar, namun kali ini akan berbeda.”
Ray tak menjaminnya, tetapi dia berencana akan ikut bermain sebagai pemain dan bukan dalang. Tentunya, semua akan bergantung pada apa yang terjadi nantinya.
Setelah melakukan pembicaraan tersebut Ray pergi melewati lorong. Terumi dan yang lainnya sudah pergi lebih awal dan mungkin tiba di kota.
Diantara lorong besar tersebut ada jalan bercabang yang bebas dipilih. Ada beberapa pintu yang sudah tertutup, mungkin tanda bahwa jalur tersebut telah dilewati orang.
Ray memilih jalan yang terbuka secara acak, di dalamnya hanya ada sebuah ruangan seukuran lift dan kursi untuk duduk.
Pintu kemudian tertutup dengan rapat, lampu berubah hijau dan monitor hologram muncul menunjukkan waktu yang menghitung mundur.
“Tak peduli seberapa awal seseorang masuk, tampaknya kita akan tiba di waktu yang sama. Hanya tempatnya yang berbeda.”
Monitor tersebut kemudian menampilkan beberapa pesan tentang penempatan pengguna Degree ke luar.
—Setiap kelompok akan diturunkan di tempat berbeda dan dipastikan takkan bertemu sekurang-kurangnya 24 jam.—
—Orang-orang yang berasal dari kelompok yang sama akan ditempatkan di satu tempat yang sama namun tetap akan ada pemisahan dengan jarak beberapa ratus meter dari ketua kelompok.—
—Mohon diperhatikan bahwa penempatan akan benar-benar secara acak. Kami takkan memiliki tanggung jawab jika penempatan kalian berada di tempat-tempat yang sulit.—
Pesan terakhirnya membuat Ray khawatir. Secret menyampaikan bahwa dia tak peduli di mana itu, para pengguna Degree akan tiba dengan medan yang acak.
“Jakarta adalah sebuah kota yang padat. Jika ada penempatan yang berbahaya maka ...”
Ray kemudian harus sukarela menggunakan DP secepat ini. Dia membeli pelampung air dan juga parasut untuk keamanan dirinya. Bahkan Ray juga membeli beberapa ransum dan menyimpannya di saku baik-baik.
Meski seperti sebuah pemborosan namun tak ada masalah mengorbankan beberapa DP jika itu untuk keselamatan nyawanya.
Bukannya Ray terlalu khawatir. Peringatan Secret tidak pernah menjadi sebuah kebohongan. Jika bahkan dia merepotkan diri untuk memberikan peringatan, maka pastinya ada sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.
“Sayangnya aku tak terlalu percaya diri dengan keberuntunganku. Ini kali pertamanya aku akan berdoa agar tak ada hal buruk.”
Saat Ray menunggu selagi memejamkan matanya, dia merasakan guncangan. Entah itu naik, turun, kiri atau kanan. Dia tak bisa mengerti dengan jelas namun yang dipastikan adalah dia telah pergi ke suatu tempat.
Pesan lainnya kemudian muncul dari jam tangannya setelah beberapa menit berlalu dengan cepat.
— Misi bonus. Tinggalkan kapsul ruang atau titik awal ketibaanmu dan menjauhlah sebanyak 6km dalam waktu 24 jam.—
— Gagal; wajib membayar sejumlah DP. Berhasil; mendapatkan sejumlah besar DP.—
Ray memandangnya selama beberapa waktu dalam diam. Dia masih berusaha memahami tugas mendadak tersebut.
“Hadiah dan hukuman yang diberikan tidak jelas. Berapa yang harus aku bayar jika gagal, dan berapa yang akan aku dapatkan jika berhasil.”
Meski hal tersebut belum jelas namun kondisi untuk menyelesaikannya sudah cukup jelas. Meski tidak adanya kematian adalah kabar baik, tetapi pemotongan DP yang jumlahnya tak bisa dipastikan adalah kabar buruk.
“Bajingan ini bermain dengan baik. Dia membuat kondisi di mana DP sangat berharga, dan memanfaatkan hal itu untuk memberikan ancaman selain dengan nyawa.”
Ray memiliki kekhawatiran jika saja dia gagal menyelesaikannya dan berapa banyak yang ia harus bayarkan. Berkat hal itu kewaspadaan dan memanfaatkan DP sebaik-baiknya akan menjadi prioritas utama.