The Degree

The Degree
Rookie Berbahaya



“J-jangan pikir kamu bisa—”


“Mengancammu? Tentu aku bisa, faktanya aku tengah melakukannya. Apa perlu bagiku menunjukkan langsung bahwa tak ada keraguan bagiku menghancurkannya?”


Ray semakin mendekatkan jarum ke matanya. Jika pria itu masihlah menunjukkan keraguan atas ancamannya maka diperlukan pembuktian yang nyata.


“Kamu tak mempercayainya, ya? Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada mata kananmu.”


Ray tanpa ragu sedikitpun menusuknya dengan perlahan agar menyakitkan dan menderita.


“Argh! Sakit, ini sakit! Ampun, tolong ampuni aku!”


Pria gemuk menangis dan setiap lubang di wajahnya mengeluarkan air. Mata kanannya hancur dan telah kehilangan pengelihatan untuk seumur hidupnya.


Tak ada cara apapun baginya untuk memulihkannya.


Lantaran bola matanya langsung hancur, bahkan jika dia mencoba operasi mengganti retina hal itu takkan bisa terjadi jika wadahnya sendiri telah hancur.


“Tidakkah kamu mengerti bahwa orang-orang yang sampai di Open World telah membuang kemanusiaannya. Bukan hanya dirimu namun semua orang demikian.”


Ray mendekatkan wajahnya ke telinganya dan membisikkan kata-kata yang tak hanya berupa gertakan belaka.


“Kamu masih memiliki satu mata, dua telinga dan jika keadaannya tak berubah aku akan memaksamu menelan kotoran. Sekarang katakan namamu.”


Pria gemuk masih menangis, kondisinya tak berubah jadi baik, justru sebaliknya.


Kondisi yang semakin menyedihkan dan menjijikan untuk dilihat. Tak ada cara apapun untuk menutupi betapa menyedihkannya ia.


“Eagh ... namaku, Endruid ... tolong ampuni aku, lepaskan aku!”


“Endruid, ya. Aku tak peduli Degree apa milikmu namun apa yang kamu maksud dari Delapan Rookie Berbahaya tadi?”


Rookie, sebutan yang sudah umum digunakan generasi pertama untuk menyebut generasi kedua.


Hal ini sudah jadi umum namun tak pernah terdengar tentang "Rookie Berbahaya" yang dimaksud.


“Katakanlah dengan singkat dan jelas. Berleha-leha dan coba menipu hanya akan membuatmu menderita.” Ray menusuk jarumnya semakin dalam dan memberikan penderitaan lebih untuk Endruid.


“Eurgh ... itu adalah delapan pemula yang memiliki Degree dan kemampuan memumpuni. Menurut bos, delapan orang ini adalah yang terhebat dari para Rookie.”


Dengan semua air mata dan suara yang berat lantaran rasa sakit yang kuat, akan sulit bagi pria seperti Endruid menyusun sebuah kebohongan.


Kebohongan yang sempurna seperti itu hampir mustahil bahkan jika dia sudah menyiapkannya sebelumnya.


“Lalu selain Arthur apa kamu tahu siapa saja yang diwaspadai dari delapan rookie ini?”


Ray yakin setidaknya nama Terumi ada di salah satu rookie yang patut diwaspadai.


Hal itu tidak dapat dipungkiri bahwa Degree-nya bisa jadi berbahaya tergantung bagaimana dia menggunakan dan memanfaatkannya.


Tak segala hal yang terlihat remeh bisa diremehkan, seperti kata-kata Erina bahwa sesuatu yang biasa dipandang remeh memiliki kegunaan besar sebagai Degree.


“Aku hanya tahu beberapa ... Selain Arthur, wanita itu yang bersamamu, Sakura Terumi juga termasuk. Lalu, Ronald Franklyn, Euclesia Gehenna, Udin Saipuloh ... hanya itu yang aku ketahui.”


“Itu baru lima, mana tiga lainnya?”


“Bos tak mengatakannya ... tiga orang terakhir masih abu-abu Degree-nya sehingga kekuatannya tak bisa dipastikan batasnya.”


Ray hampir tidak percaya oleh hal tersebut. Selain itu dari mana orang-orang ini mengetahui nama-nama para Rookie dan memahami seberapa jauh kemampuan seseorang.


“Dari mana dan bagaimana cara kalian menentukan bahwa ada delapan orang diantara para Rookie yang berbahaya?”


Tak mungkin ada alat yang mampu mengungkapkan informasi penting seperti itu, atau orang yang bisa melakukan hacking kepada sistem yang dikembangkan oleh Secret.


Ia sama sekali tidak menentang bahwa mungkin ada orang yang memiliki Degree Hacker. Ia juga yakin bahwa Secret telah membuat sistem keamanan dengan mengambil asumsi akan lahir orang dengan Degree ini.


“Itu ... aku tak bisa mengatakannya ... .”


“Begitu, kamu tidak mau bicara, ya? Kalau begitu aku hadiahkan rasa sakit lainnya.”


“Tolong hentikan ini, lepaskan aku! Aku tak ingin buta!”


Endruid menangis sedu dan terisak-isak saat Ray mengerahkan jarumnya ke satu mata lainnya.


“Lalu apa yang harus aku hancurkan sebagai gantinya? Tenggorokan dan telingamu masih penting saat ini, hanya matamu saja yang tak aku butuhkan.”


Lalu apa langkah terbaik yang bisa dilakukan? Tentu. Hanya mata yang tak benar-benar dibutuhkan.


Walaupun kebohongan seseorang mampu terlihat jelas melalui mata seseorang, tetapi ketika keadaannya mendesak seperti saat ini, bahkan jenius sekalipun takkan mampu menyusun kebohongan.


“Baik-baik, aku akan bicara jadi tolong hentikan!”


“Bagus, kamu tahu untuk tak perlu memaksakan keberuntungan.”


“Bos memiliki informasi itu dari data yang dia dapatkan dari tugas bonus. Aku sendiri tidak tahu seperti apa data itu namun saking berharganya dia tak pernah menunjukkannya pada siapapun.”


Ray terkejut, ini pertama kalinya dia benar-benar menunjukkannya secara ekspresif.


“Data? Maksudmu semua data tentang kami dari generasi kedua? Bagaimana bisa ... .”


Ray tak percaya hal tersebut, apa memang bahwa Secret memberikan informasi pribadi semudah itu?


Secret pernah mengatakan bahwa kerahasiaan Degree seseorang akan dijamin namun kenyataannya seseorang memiliki data tentangnya.


Ini akan berbahaya jika seseorang mengetahui Degree-ku. Bagian terburuknya adalah semua orang akan jadi musuhku. Pikirnya.


Meski ia tak bisa menggunakan Degree-nya namun bukan berarti akan aman untuk orang lain mengetahuinya.


Ray menyembunyikannya bukan sekedar menjaga kerahasian dari kekuatannya, tetapi untuk dirinya sendiri.


Rahasia tentang Degree-nya haruslah dia bawa sampai mati.


“Dia mendapatkannya dari suatu tugas bonus ... aku tak tahu apa yang dia lakukan namun ada banyak kerusakan terjadi berkatnya.”


Endruid masih merengek dan setiap kali selesai menjawab dia akan memohon untuk dilepaskan.


“Apakah orang ini Rookie sama seperti Arthur dan Terumi?”


“Aku tak tahu pasti namun tampaknya ... ya. Lagipula dia yang menarikku untuk melakukan pemberontakan terhadap serikat besar.”


Itu artinya Ray setidaknya pernah melihat dalang ini sebelum game kematian ini dimulai.


Dikarenakan Endruid adalah pemimpin dari suatu serikat maka artinya dia pernah mendengar suara atau melihat sosok yang dianggap "Bos" ini.


“Lalu, siapa bos-mu ini? Apakah dia pria atau wanita, tinggi atau pendek, jika kamu tahu namanya katakan saja.”


Untuk beberapa alasan Endruid coba melirik Ray yang sungguh-sungguh akan melakukan berbagai hal untuk mendapat apa yang dia inginkan.


Tak ada celah untuknya bisa berbohong. Tatapan tajam yang merendahkan seakan-akan melihat kotoran, sorot matanya yang berisikan perintah dan semua ketakutan.


Jika aku ingin selamat setelah menjawabnya, atau dari ancaman bos, maka aku harus mengikuti orang ini ... Lagi pula, Retsuji Arthur tampaknya adalah rekannya. Pikir Endruid.


“Ya ... bos-ku, dia adalah ... .”


Sebelum sempat mengatakan apa-apa Ray merasakan sesuatu yang kencang melesat ke arahnya.


Dengan cekatan Ray menjauh dari Endruid, ketika dia hendak memintanya pergi namun kenyataannya Endruid terlalu gemuk untuk bisa pindah dalam waktu singkat.


Bukan peluru pistol atau senjata api namun sebuah anak panah yang mencekram dahi Endruid seperti kaki laba-laba


Tak bisa melubangi tubuhnya namun panah itu tidak memiliki tujuan melakukannya. Tujuan sebenarnya adalah setelahnya.


“Anak panah itu ... Endruid, cepat lepaskan—”


— terlambat. Anak panah itu mengeluarkan listrik bertegangan tinggi dan membuat Endruid tersetrum.


Tubuhnya menjadi kaku. Ray berdecak kesal dan membuka jubahnya, dia melilit tangannya dan dengan cepat mencabutnya dari dahi Endruid.


Endruid masih hidup namun tampaknya tak lama lagi sebelum tewas. Baik Ray dan Endruid menatap asal anak panah tersebut.


Seorang pria dengan panah yang tampak modern, menggunakan topeng dan pakaian ketat tengah berdiri di menara jam.


Ketika Ray dan Endruid melihatnya, orang itu memberi hormat seakan tahu diperhatikan sebelum melompat pergi.


Ray takkan bisa mengejarnya karena jaraknya tidaklah dekat. Satu hal yang bisa dia lakukan hanya melakukan usaha sia-sia.


“Bertahanlah, Endruid!”