
Para polisi sibuk mengurus evakuasi warga sipil, tentunya mereka mulai kewalahan karena kekurangan jumlah orang.
“Mohon evakuasi dengan tertib! Tenang saja, para ******* itu tidak akan menyerang tempat ini!”
Tak peduli seberapa keras mereka berteriak namun kepanikan warga sipil tak kunjung reda. Mereka sungguh benar-benar takut, bahkan banyak yang meninggalkan satu sama lain.
Seorang bocah menangis lantaran terpisah dari orang tua. Orang tua panik mencari anaknya yang terpisah darinya. Pria pergi memanggil wanita. Wanita pergi memanggil pria dalam lengkingan huru-hara.
Kepanikan yang terjadi karena serangan di monas, insiden ini mungkin termasuk ke dalam kasus serangan terhadap negara.
Kasus dengan skala besar dan melibatkan satu negara, bom dan baku tembak, tentu saja semua akan panik karenanya.
“Hey, lakukan dengan benar! Jangan sampai semuanya semakin kacau atau akan ada orang yang mati terinjak saat evakuasi!”
Polisi itu mencari seorang rekannya yang juga harus memastikan jalannya evakuasi, tetapi rekannya itu tak kunjung menjawab. Hal itu membuatnya kesal namun saat menoleh ke arahnya orang itu tak ditemukan.
“Hei! Sial, ke mana bajingan itu pergi?!”
Dia mulai keluar dari posisinya dan mencari ke sekitarnya. Pria itu pergi ke kejauhan di mana tempat sepi, barangkali rekannya itu sedang buang air atau semacamnya.
Saat pergi ke bangku taman dia melihat sesuatu bergerak-gerak sehingga memutuskan untuk menghampirinya.
Saat dia menemukannya dan terkejut bahwa sesuatu itu adalah rekannya yang sudah dilucuti pakaian juga senjatanya. Bahkan kaki dan tangannya diikat, mulutnya disolasi sehingga tak bisa meminta pertolongan kepada siapapun.
“Oi! Apa yang terjadi padamu?!” dia lekas berusaha melepaskan ikatan pada rekannya z tetapi rekannya mulai menggeliat, panik dan seakan memberitahu ada sesuatu.
“Hm! Hm! Hm!”
“Ada apa?” pria itu kemudian melihat bayangan orang berdiri di belakangnya selagi mengangkat tongkat baseball. Dia kemudian berbalik dan menemukan seorang pria berniat memukulnya.
Sayang, dia terlambat menyadari sehingga pukulannya sampai lebih dulu tanpa sempat merespon apapun.
...*****...
Ray dan Roid keluar dari toilet dengan pakaian polisi militer serba hitam, helm, masker juga pelindung dada.
“Aku tak menyangka perlengkapannya cukup ringan meski terlihat besar dan berat,” ujar Ray saat mengecek peluru senjatanya.
Polisi menggunakan bahan pakaian yang kuat, elastis dan begitu ringan sehingga Ray kagum dengan hal itu. Selain kuat, menjaga agar bebannya tak berat adalah prioritas.
“Meski begitu aku tak menyangka kamu akan menyarankan ide seperti ini, Ray. Bukankah ini seperti kita membegal polisi? Sungguh, ini akan membuat kita jadi kriminal jika diketahui!”
Ray tak terlalu mempedulikannya, di tengah situasi besar tersebut masalah sepele seperti ini takkan segera diangkat. Baik aparat kepolisian maupun negara akan berusaha mencari para ******* ini.
“Ini lebih baik daripada muncul secara gamblang. Pada akhirnya kita hanya akan diusir, paling buruk mungkin ditembak dengan dugaan *******.”
Lebih banyak risiko yang datang dari tidak menggunakan seragam kepolisian.
Ray juga sempat melihat beberapa namun dia tak coba memikirkannya mendalam mengingat ada opsi untuk tak berpartisipasi.
“Kita akan pergi ke sekitar TKP dan memantau situasinya dari kejauhan untuk mengetahui pihak mana yang terpojok dan diuntungkan.”
Wajar bagi siapapun untuk memihak pihak yang sudah pastinya akan menang dalam insiden ini. Ray sendiri tak mau mengambil begitu banyak risiko, oleh karena itu dia ingin mengawasi situasinya lebih dulu.
Mereka memiliki teropong dari para polisi yang mereka jegal sebelumnya. Ray dan Roid pergi ke tempat yang cukup aman dan juga bisa memantau situasinya dengan jelas.
Ringkasnya, posisi pemerintah maupun pengguna Degree sama-sama buntu. Polisi militer sudah mengepung sekitar monas, dan para pengguna Degree juga mengisolasi diri di monas bersama sandra.
Berkat hal itu polisi militer tak bisa mengambil tindakan secara sembarangan karena harus mengutamakan sandra.
“Meski ada beberapa sandra, aku penasaran mengapa banyak barikade di sana. Apa ada pengguna Degree yang cukup kuat untuk membuat barikade seperti itu?”
Mereka menggulingkan mobil dan bahkan menambahkan beberapa pembatas jalan untuk membuat barikade tersebut. Dengan adanya barikade maka polisi militer akan kesulitan dalam menyusup, selain itu tak mengejutkan baku tembak sungguh terjadi.
“Tampaknya mereka telah merencanakannya matang-matang, namun aku penasaran apa yang akan mereka lakukan untuk melarikan diri.” Ray mengarahkan teropongnya ke emas monas yang sudah menghilang dari tempatnya.
Ray bisa memikirkan berbagai kemungkinan namun dia yakin asap besar sebelumnya berasal dari ledakan yang menghancurkan penyangganya.
Emas monas pada akhirnya dijatuhkan dan mungkin dihancurkan agar mudah untuk membawanya.
Masalahnya adalah bagaimana cara orang-orang itu lolos dari kepungan yang sedang terjadi. Tak hanya polisi militer, tetapi satu negara akan segera mengepung tempat ini.
Ray penasaran bagaimana cara orang-orang itu berakhir nantinya, dia sungguh ingin mengetahui akhir dari insiden besar ini.
“Ini tidak akan mudah, Ray. Tidak seperti kamu menggunakan tangan kiri robot itu seperti halnya saat melawanku. Penyamaran ini takkan berhasil untukmu karena polisi tak boleh hanya memiliki satu tangan.”
Memang sebelumnya alasan Ray tak ingin menggunakan lengan robot karena tidak nyaman adalah benar karena dia telah mencobanya langsung meski lengan itu tak lagi bisa digunakan berkat pertarungan dengan Roid. Mungkin lengannya itu juga yang membuatnya menang.
Lengan itu Ray dapatkan dari sisa-sisa peninggalan dari penelitian di fasilitas ayahnya, memang masih sebatas prototipe dan belum sempurna karena setiap kali mengalami benturan kecil, Ray akan merasakan gatal pada urat syarafnya. Bagian terburuknya adalah pertarungan dengan Roid menyebabkan Ray hampir gila oleh rasa sakit dari benturannya.
“Kamu ada benarnya. Bahkan aku tak cukup percaya diri menang melawan polisi militer dengan satu tangan saja. Ini menyedihkan karena kita kekurangan orang saat tiba di situasi yang membutuhkan rekan.”
Ray cukup menyesal tidak menghubungi Terumi dan yang lainnya untuk membantu situasi di sini, tetapi dia tidak tahu akan serumit ini.
Sebelumnya Ray memiliki premis bahwa semakin banyak orang maka semakin buruk situasinya karena negara akan mengirim lebih banyak orang sehingga mempersulit masalah.
Namun saat ini memiliki lebih banyak orang tidak menjadi hal yang buruk.
“Apa kamu sungguh ingin memilih hanya oada opsi berpihak pada pencurian atau berusaha menghentikannya dan berdiri bersama negara.”
Bahkan jika ditanyakan demikian Ray tak memiliki jawabannya sama sekali. Sungguh, ada banyak hal rumit du kepala Ray saat inu