The Degree

The Degree
Ray Vs Leo



“Tampaknya kalian saat ini telah berada di pihak Haiyan ... bisa aku simpulkan seperti ini?” tanya Ray dengan apatis.


“Hah! Kamu bisa simpulkan demikian. Tidak peduli apapun itu, aku akan mengakhiri kekejianmu sekarang!”


Leo dan Eric tampak serius, Ray tahu bahwa tidak ada celah untuk negosiasi. Mereka tampak telah diperdaya oleh kemarahan. Seperti kata orang bijak, hati yang marah tak memiliki tempat untuk cinta.


Jika memang telah tiba waktu di mana mereka berlainan sisi, maka takkan pernah ada belas kasih maupun keraguan untuk melenyapkan.


Roid telah siap untuk melakukan bentrok dengan Leo juga Eric, sementara Ray di sisi lain akan bertindak memberikan dukungan dari belakang sebanyak yang dia bisa.


“Mari selesaikan ini dengan cepat mengingat ada banyak pekerjaan rumah untuk dilakukan,” ujar Ray dengan acuh tak acuh.


Tak ada belas kasih bagi mereka yang berkhianat. Sekali berkhianat tetaplah pengkhianat, Ray tak mau memberikan kesempatan kedua untuk dikhianati lagi.


Ray kemudian menarik pisaunya, bahkan jika hanya dengan satu tangan dia masih percaya diri. Di institusi ayahnya, Ray dituntut untuk bisa bertarung dengan kondisi apapun.


“Kamu pikir bisa menang? Jangan lupa, kamu bahkan tidak tahu apa Degree yang aku miliki,” ujar Eric yang terlihat memiliki kebanggaan tertentu.


Ray tidak peduli apapun itu Degree-nya, meski meresahkan karena dia tidak tahu tingkat bahayanya namun dapat dikatakan Ray akan segera tahu setelah bertarung.


Akan buruk jika Degree-nya tentang bela diri atau sesuatu yang terkait dengan mental dan pikiran. Namun di luar hal itu Ray yakin mampu untuk mengatasinya.


“Degree tidak akan menolong jika kamu mati.” Ray dengan sigap melangkah maju menuju Eric namun seseorang segera menghalanginya.


“Kamu adalah milikku, Ray!” Leo menangkis pisau Ray dengan cakarnya yang memanjang.


Ray terkesiap dan memutar tubuhnya, dia memberikan tendangan kuat ke pinggang Leo namun ditahan lagi.


Cakar tajam menusuk pergelangan kaki yang dipegang oleh Leo. Ray sedikit mengerutkan alisnya dan melompat dengan kakinya berusaha mengarahkan tendangan ke wajah Leo.


Tak ada rute lain bagi Leo selain melepaskan Ray dan melangkah mundur. Leo tentu sadar tentang betapa besar kekuatan fisik Ray setelah menahan serangannya tadi.


‘Akan fatal jika aku menerima tendangan di wajah,’ pikirnya selagi membayangkan situasi tersebut terjadi.


Tendangan sebelumnya jelas mengincar rahang. Leo bisa saja pingsan andaikan menerimanya.


‘Bajingan ini tentunya tidak lemah. Bagian terburuk adalah dia tidak pernah terlihat menggunakan Degree-nya.’


Sudah lama sejak Leo bersama Ray dan mengamatinya dari jarak yang dekat. Dia sangat memahami bahwa Ray Morgan adalah sosok yang kuat bahkan tanpa menggunakan Degree-nya.


Leo tidak pernah tahu seperti apa Degree yang dimiliki Ray. Hal itulah yang membuatnya sangat mewaspadai Ray dalam segala aspek.


“Kamu jelas berbohong soal Degree-mu, Leo,” ujar Ray yang setenang sungai namun membara bak lahar.


Leo bisa merasakan Ray memiliki semangat yang tak seperti biasanya.


“Lantas mengapa? Tak jauh beda denganmu yang tidak mengungkapkan apa-apa.”


Jika diingat lagi, Ray sama sekali tidak mengatakan apapun Degree-nya. Bahkan mungkin dia tak membagikannya kepada Terumi. Sejak awal bajingan itu hanya memanfaatkan orang-orang di sekitarnya.


Andaikan saja Haiyan tidak memperlihatkan kepada Leo rekaman dan berbagai bukti bahwa Ray terlibat dengan banyak hal mengerikan, maka mungkin sampai akhir dirinya hanyalah alat.


“Tentu bukan masalah. Sejak awal aku tak mempercayaimu. Singa tidur? Itu bodoh dilihat dari manapun.”


Ray tidak percaya karena itu aneh baginya. Leo bisa memanjangkan kukunya sesuka hati tanpa memerlukan kondisi rumit seperti halnya yang dilakukan Erina.


“Hah! Jadi kamu berpikir Degree-ku bukan singa tidur, ya?” ujar Leo dengan nada mengejek.


“Aku tidak menyangkal kemungkinan kamu memiliki Degree singa. Mulai dari nama, keberanian dan tindakanmu bisa saja terkait dengan Degree. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi.”


Leo mengerutkan kening karena dia tahu Ray tak bodoh. Sejujurnya, memang sebuah kesalahan berbohong dengan menggunakan singa tidur. Itu adalah kesalahan di pihak Leo yang saat itu panik untuk memperkenalkan Degree-nya.


Seperti yang dikatakan Ray, Degree-nya bukanlah singa tidur namun masih dalam lingkup singa. Lebih tepatnya Degree Leo adalah; seseorang yang menyerupai singa.


Seperti halnya orang-orang yang bisa membuat benda dari kekosongan dengan syarat masih berada di dalam fasilitas. Leo bisa melakukan hal serupa yakni dengan mempercepat pertumbuhan di antara kukunya. Tentu ketajaman dan kekuatannya persis milik singa.


“Oleh karena itulah ...” Ray mulai berbicara, dia memutar kakinya yang terluka oleh Leo dengan apatis, “Variabel yang tak diketahui wajib disingkirkan.”


Ray dengan cepat mulai bergerak ke arahnya. Leo terkesiap karena Ray bisa bergerak sangat cepat meski dia telah melukai kakinya.


“Coba saja jika bisa!”


Pertarungan sengit yang berdarah-darah antara Leo dan Ray dimulai.


***


Tak jauh dari tempat keduanya berada, Eric dan Roid menatap pertarungan kedua orang itu yang kian lama, kian intens pertarungannya.


“Wah-wah ... itu masih mengerikan meski aku sudah melihatnya,” ujar Roid yang menggelengkan kepalanya dengan tak percaya.


Dia sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya melakukan pertarungan dengan Ray. Meski saat itu Roid menjadi sombong karena memberikan keringanan dengan Ray menjatuhkan lima pukulan awal, tetap saja itu pertarungan sengit.


Ray yang hanya memiliki satu tangan mampu bertarung dengan baik melawan Leo saat ini. Meski ada celah dari kehilangan tangan, tetapi dengan cerdik Ray mengatasinya dengan kaki.


“Gerakan itu hanya bisa dilakukan oleh profesional. Aku terus berpikir bahwa Degree orang ini adalah seniman bela diri. Bagaimana menurutmu?” tanya Roid dengan senyuman tipis.


Eric hanya menatap tajam antara Roid dan Ray secara bergantian.


“Aku tak peduli apapun selain mengambil kepala bajingan itu!”


Setelah semua, Eric tahu bahwa adiknya mati berkat rencana busuk Ray yang ingin merekrutnya. Meski orang itu tak tahu Degree-nya, tetapi mungkin Ray tertarik mengetahui masa lalu Arthur yang hanya diketahui Eric.


Oleh karena itu untuk membalas kematian adiknya, Eric telah bertekad menghancurkan Ray di tempat ini bahkan jika harus membayar nyawanya juga.


“Minggir. Kamu mungkin juga dimanfaatkan oleh bajingan itu,” ujar Eric, nadanya menekan amarah.


“Dimanfaatkan? Aku? Pft! Hahaha!” Roid tertawa dengan senang. “Ini menarik!”


Roid sudah tahu bahwa Ray adalah orang yang menggunakan orang lain seperti boneka benang di jarinya. Namun dia tidak tahu secara detil. Mendengar bahwa Eric telah dimanfaatkan Ray tentu secara tak langsung memberikan Roid beberapa informasi.


“Yah, sayangnya aku bukan pecundang sepertimu. Aku secara sukarela mengikutinya setelah kalah bertarung dengannya. Tentu, jika suatu saat dia membuangku maka aku telah menyiapkan ‘bom waktu' untuknya.”


Roid yakin dirinya tidak perlu melakukan sesuatu seperti itu. Bom waktu itu tidak akan meledak karena Roid percaya, bahwa Ray takkan melakukan tindakan seperti mengkhianatinya.


***


Maaf, lama tak update. Dan, maaf karena mungkin juga jarang update chapter terbaru di tiga novel saya di sini. Sedikit cerita, saya merasa jenuh, dan lelah.