The Degree

The Degree
Perasaan Terumi



Ray dan Terumi menatap kepergian Virgo dengan diam. Suasana yang ditinggalkan orang itu sungguh berat. Terumi menatap Ray sesekali tanpa tahu harus mengatakan apa.


Entah apakah benar atau tidak yang dikatakan Virgo tentang Ray, namun tampaknya itu bukan kebohongan. Fakta bahwa Ray benar-benar terganggu dan marah menjadi bukti nyata.


Terumi tak berani mengungkitnya untuk saat ini lantaran emosi Ray belum stabil.


“Siapa ... di sana ... .”


Suara yang lemah hampir seperti rengekan kambing yang menuju kematiannya. Jika dibiarkan rengekan itu akan menghilang. Bukan suara, tetapi orang yang merengek tersebut.


Ray ingat kembali tujuannya datang ke sini, yaitu untuk menyelamatkan Erina. Jika dia tak segera diberikan pertolongan maka nyawanya mungkin takkan terselamatkan.


“Mari kita lakukan hal-hal yang harus dilakukan. Tolong, tetaplah bungkam tentang apa yang dikatakan orang itu.” Ray menatap tajam Terumi, dia tak bisa memberikan ancamannya untuk saat ini.


Setidaknya Ray bisa mengabaikan hal yang memiliki dampak kecil. Risiko paling besar dari masa lalunya terungkap adalah seseorang mampu menebak Degree apa yang dia miliki.


“Ya, tetapi aku ingin kamu memberikan penjelasan nantinya, tak masalah, kan?” Terumi mungkin canggung namun dia tidak gentar untuk memberikan syarat untuk bungkam.


Ray enggan melakukannya karena masa lalu bukan sesuatu yang bisa dibagikan kepada orang yang bahkan belum lama dia temui.


Tak apa bila itu sesuatu yang baik, namun jika yang dibagikan adalah masa-masa kelam dalam hidupnya ... perlu pertimbangan besar untuk melakukannya.


“..., ya ... tak ada masalah.”


Mengabaikan hal tersebut Ray segera pergi ke tempat Erina, begitu juga Terumi.


Mereka melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Terumi memeriksa kondisinya dan menemukan lukanya teramat fatal.


“... ini mengerikan. Aku tak percaya ada orang yang begitu kejam di dunia ini ... .” Terumi melihat Erina dengan prihatin.


Bagaimana tidak? Tangan dan kakinya dipatahkan dengan mengerikan. Termasuk kuku-kukunya yang dicabuti, jari-jarinya juga patah. Bahkan nasib tangan dan jarinya juga serupa.


“Mereka pasti melakukan penyiksaan untuk mendapatkan sesuatu. Salah satunya adalah mengungkapkan Degree-nya.”


Selain Degree pastinya Virgo berharap bahwasanya Erina akan tunduk dengan penyiksaan dan mengungkapkan Degree serta memberikan posisi ketua Redwest.


“Apa itu ... kamu, Ray?”


“Ya. Berhentilah bicara dan istirahat. Semua telah baik-baik saja. Mein mungkin sedang mengatasi anggota lainnya. Sisanya serahkan pada kami.” Ray segera membopongnya dan menutupi tubuh yang nyaris telanjang dengan jubahnya.


“Fu fu, seperti yang diharapkan ... dari priaku. Datang untuk menyelamatkanku ... kamu seperti Pangeran berkuda ... .”


“Istirahat.” Ray kembali menekannya untuk segera istirahat, kali ini dia sedikit menaikkan suaranya.


Erina hanya tersenyum dengan menyakitkan dan mengerahkan tenaga terakhirnya untuk menutup matanya.


“Dia cukup hebat bisa tetap waras setelah rasa sakit itu. Seharusnya seseorang akan menginginkan kematian atau membeberkan semuanya.”


Ray mengangguk setuju. Manusia tidak pernah bisa berdamai dengan rasa sakit. Orang yang mampu menahannya dan memilih mati menyakiti ketimbang berkhianat adalah orang yang luar biasa hebat.


“Ya. Dia memiliki mental yang sangat kuat, yang mana tak seharusnya dimiliki para gadis sepertinya.”


Wanita adalah makhluk yang rapuh dan rentan oleh rasa sakit. Secara umum luka kecil bahkan mampu membuat mereka menangis. Meski tak semuanya demikian. Apa yang telah dilalui Erina bukanlah sesuatu yang bisa ditahan.


Jika ada sepuluh orang yang mengalami hal sama. Ray dengan yakin mampu mengatakan bahwa paling banyak hanya akan ada dua orang seperti Erina.


“... ya.”


Selagi melihat Ray membopong Erina dan menyampaikan pujian tulusnya. Perasaan lain yang bukan simpati maupun kesedihan muncul dalam hatinya.


Terumi pernah menyangkal perasaannya terhadap Ray selama beberapa waktu ketika bersamanya. Namun semuanya kini menjadi jelas disaat ini.


Rasa cemburu dan hati yang sakit ketika melihatnya memuji wanita lain dengan tulis.


Apa namanya kalau bukan cinta? Pikirnya.


Terbesit pemikiran kecil di dalam kepalanya.


Andaikan aku yang ada di sana. Apa Ray akan melakukan hal yang sama?


Ia sadar bahwa itu pemikiran yang bodoh dan tak ada gunanya, namun tetap saja, rasanya tidak mengenakan di dada.


Terumi melambat langkahnya dan Ray berjalan di depannya. Menatap punggung lebar dan tegap pria tersebut, tangannya terulur. Seakan-akan ingin meraihnya. Ingin memilikinya. Dan, meminta kepastian segera.


“Ray ... apa kamu—”


—mencintainya?


Kalimat terakhir tersangkut di tenggorokannya. Sebuah kalimat yang harusnya mampu memperjelas semuanya. Dan, mampu menjawab hatinya. Entah sakit atau bahagia yang akan didapat ketika berhasil mengatakannya.


Tidak. Aku tidak harus mengatakannya. Mendengar apa yang akan dia katakan mungkin akan membuatku sakit dan hubungan kita menjadi regang. Aku harus sabar. Dan, mengandalkan waktu, untuk membuatnya memelukku.


Terumi menarik kembali uluran tangannya. Meski sedih, namun dia percaya bahwa di masa depan, waktu yang jauh, akan tiba di mana Ray menempati posisi yang ia ingin Ray ada di sana.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?”


Ray berhenti jalan dan menoleh. Dia menyadari bahwa Terumi berhenti melangkah dan berpikir mungkin ada yang salah.


Terumi menggelengkan kepalanya dengan cukup kuat, “Tidak ada. Aku hanya berpikir bagaimana cara kita membawanya turun.”


Dengan lancar dia berbohong seperti halnya bernapas.


“Jika dipikirkan lagi itu benar. Aku tak bisa turun jika kedua tanganku bahkan tidak bebas untuk memegang tangga.”


Terlalu banyak peristiwa di luar kendali terjadi sehingga Ray tak sempat memikirkan langkah kecil seperti hal itu.


Saat ini ia terlalu berkabut. Pemikiran kritisnya nyaris tak bisa diandalkan karena berbagai pertanyaan di kepalanya. Salah satunya adalah siapa sebenarnya Virgo.


“Apa kamu mau mengikatnya di punggung? Aku yakin melihat tali tambang di bawah sana. Kita bisa memanfaatkannya.”


Untungnya ia tak sendirian sehingga ada orang yang mampu membantu dalam hal memberikan solusi disaat kritis seperti ini.


“Mari lakukan itu. Apa kamu bisa mengambilkannya untukku? Selagi aku memastikan beberapa hal?”


“Ya. Aku akan pergi.” Terumi bergegas turun tanpa banyak bicara.


Ray yang masih membawa Erina pergi ke tepi gedung untuk melihat situasi sekitarnya.


Selain yang terluka parah, tak sadar, mati: sisa anggota Rebellion lainnya telah meninggalkan wilayah timur.


“Mereka benar-benar telah mundur tanpa sebab yang jelas.”


Ray tentunya bisa menduga beberapa hal namun harusnya itu hanya akan terjadi paling cepat setengah jam lagi. Atau, Virgo telah menempatkan seseorang untuk mengawasi situasi di luar.


“Apa mungkin ... .” Ray memiliki sebuah spekulasi, namun dia sendiri meragukannya.


Sampai sesuatu muncul dan Ray meletakkan Erina kembali. Kini kedua tangannya bebas. Tak lupa, Ray melakukan satu hal penting yang harus dia lakukan. Hal itu berlangsung kurang dari satu menit saja.


Ray kemudian mengambil pistol dengan tangan kanannya. Dia menatap kalibernya selama beberapa waktu selagi memiliki pemikiran tentangnya.


“Ini memang sangat berisiko, namun aku tidak punya opsi lain yang bisa aku ambil.”


Meski awalnya ragu menyelimuti dirinya, namun kini keputusannya sudah bulat.


Tanpa keraguan sama sekali, Ray menembakkan pistolnya sebanyak dua kali. Suara tersebut mampu di dengar oleh siapapun di sekitarnya.


Tak peduli apa yang dia pilih pada akhirnya semua akan memiliki risiko. Bahkan mungkin lebih buruk.