
Indri memuntahkan darah selagi memandang perutnya yang memiliki pisau menembus dari punggung hingga ke perutnya.
Mati dikhianati rekannya sendiri? Dia tidak melihat mimpi masa depan seperti ini. Tidak, lagipula Indri tidak bisa melihat segalanya. Degree-nya adalah ramalan, dia bisa meramalkan masa depan yang akan terjadi melalui tidurnya.
Terdengar tidak masuk akal namun nyatanya hal tersebut memiliki dasar yang kuat.
Ketimbang melihat masa depan, bisa dibilang Degree-nya adalah memprediksi masa depan. Dengan semua informasi yang sudah dikumpulkan maka Indri bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
Namun kekurangan dari Degree-nya adalah jika dia menerima informasi yang salah maka masa depan yang dilihatnya akan salah. Oleh karena itu Indri sangat memperhatikan setiap informasi dan bahkan mengendalikannya informasi saat di Open World.
“Ugh ... kamu—” Indri berniat menguak identitasnya namun orang yang menyamar menjadi Hiroshi mengungkapkan dirinya sendiri.
“—Jung Haiyan.”
Jung Haiyan, pengguna Degree yang mampu menyamar menjadi orang lain. Indri tidak mempertimbangkan bahwa orang itu akan menyamar menjadi Hiroshi.
“D-di mana ... H-hiroshi?”
Jung Haiyan mendengus seakan-akan itu lucu, “Dia sudah mati, bukankah sudah sangat jelas?”
Jung Haiyan tidak akan membiarkan Hiroshi hidup. Toh, bocah itu berbahaya dan juga musuhnya. Bodoh namanya jika dia membiarkannya tetap hidup.
Lagipula Haiyan tidak bisa mendapatkan informasi berarti darinya. Bocah yang benar-benar fanatik dengan samurai itu memilih mati ketimbang berkhianat. Bahkan Haiyan ingat betul saat Hiroshi melakukan seppuku dengan sukarela.
“Di mana kuncinya kamu sembunyikan?” tanya Haiyan mulai memutar pisau di perut Indri.
“BAJINGAN!”
Ben segera berteriak marah, nangis dan menyerang Haiyan dengan liar. Haiyan tersenyum dan mengarahkan tubuh Indri dan menjadikannya perisai hidup. Tidak, lebih tepatnya perisai yang sekarat.
Tidak ada pilihan bagi Ben selain berhenti karena dia tidak ingin memukul Indri yang terlihat kacau dan sekarat.
“Ada apa? Kamu takut melukai mayat?” Haiyan tersenyum senang dan tertawa kecil.
“Keparat! Lepaskan dia!”
“Mengapa meminta? Aku akan memberikannya jika kamu memberikan kunci padaku. Bukankah ini fifty-fifty?” Haiyan tersenyum.
Ben berada dalam dilema, dia ingin memberikan kunci tersebut namun tatapan Indri yang tertuju kepadanya seakan-akan mengatakan untuk tidak memberikannya.
Dengan bibirnya yang gemetar Indri berbicara. Ben bisa memahaminya karena ia cukup ahli membaca gerak bibir.
“Bunuh ... aku ... .”
Itu yang Ben tangkap dari gerakan bibir Indri. Tentunya Ben tahu apa maksudnya karena itu sangat sederhana. Ben dihadapkan oleh keputusan yang sulit.
Haruskah dia melakukannya? Mengingat Indri tidak lagi bisa diselamatkan maka mengakhiri penderitaannya adalah yang terbaik. Namun ada kemungkinan untuk tetap hidup.
‘Jika Indri bisa bertahan beberapa waktu, aku bisa mencari orang yang memiliki Degree dokter atau sejenisnya.’
Namun itu adalah harapan dengan kemungkinan yang kecil. Sejauh ini Ben belum menemui orang seperti itu. Belum lagi dengan adanya kekacauan saat ini membuatnya sulit mencari orang seperti itu.
“... laku-kan ... .” Indri lanjut menyampaikan melalui gerak bibirnya.
Ben tersentak, “Namun jika seperti itu ... aku akan sendirian.”
Jika dia kehilangan Indri maka Ben akan sendirian. Hiroshi dan Indri adalah yang terakhir sementara Hiromi tidak diketahui keberadaannya hidup atau tidak. Besar kemungkinan dia juga telah tereliminasi.
“Ha ha ha, aku tidak mengerti mengapa kamu begitu namun kamu takut sendirian? Dasar anak kecil.”
Haiyan menikmati situasi saat ini dengan sepenuh hati. Dia tidak peduli dengan penderitaan orang lain dan menyenangkan untuk menyaksikan mereka menderita.
Meski ia membencinya namun Haiyan memiliki kelainan. Bisa dibilang dia sedikit psycho dan memiliki beberapa sekrup kepala yang terlepas.
Indri meletakkan kepalanya di bahu Indri guna mendengar suara Indri yang mungkin lemah karena telah kehilangan darah.
Saat itu juga Indri mulai bergumam.
“... Persetan.”
Haiyan mengerutkan alisnya dengan tidak senang. Dia mencabut pisau dari perut Indri dan segera menusuknya di tempat yang lain.
“Kergh!” Indri hanya mengerang kecil dan memuntahkan darah. Namun dia mulai tersenyum dan dengan suara lemah berbicara.
“Kukuku, kamu pikir bisa ... menyiksaku? Sengaja ... menghindari titik vital.”
Indri bisa merasakan bahwa organ tubuhnya masih baik-baik saja. Jung Haiyan jelas wanita yang terampil dalam hal aneh seperti menusuk orang. Dia bahkan bisa menghindari menusuk di bagian fatal yang mampu membunuh Indri dalam sekejap.
“... sayang ... kamu salah memilih lawan ... .”
“Bicara sebanyak yang kamu mau.”
Haiyan memainkan pisau yang menusuk perut Indri dan menggerakkannya perlahan. Dia ingin mendengar jeritan Indri dan suara yang penuh putus asa darinya namun hal itu tidak juga datang.
“Kergh!”
“Jangan menahan diri. Kamu bisa berteriak sesuka hati!” Haiyan tersenyum riang.
“... bajingan. Aku takkan ... membuatmu senang dengan ... cara apapun.”
Indri segera mengalihkan tatapannya kepada Ben yang memandang dengan tercengang. Dia jelas lemah saat ini, Degree-nya tidak bisa digunakan lagi karena dia mulai berbicara.
Pada akhirnya Indri mulai melakukan kontak mata dengan Ben berharap pria itu memahami niatnya. Indri memang menyampaikan untuk membunuhnya, tetapi niat sebenarnya tidaklah seperti itu.
Ben melihat mata Indri, dia bisa melihat bahwa wanita itu tidak memiliki mata yang berniat mati. Sorot matanya justru benar-benar terlihat memiliki tekad untuk hidup yang kuat.
‘... apa dia ... tidak berencana mati?’ pikir Ben.
Tampaknya dia sedikit salah memahami niat Indri. Pada akhirnya Ben mengangguk dan memberikan kepastian kepada Indri.
“Apa kamu akan melepaskan Indri hidup-hidup jika aku memberikannya?”
Ben mengeluarkan kunci dari kantungnya dan mengangkat kedua tangannya seakan-akan menyerah.
Haiyan segera menjadi sedikit was-was, “Aku bisa memegang janjiku. Tidak ada yang lebih aku hargai selain janji.”
Itu adalah perkataan yang jujur. Haiyan tidak menyukai orang-orang yang mengingkari janjinya, oleh karena itu dia tidak mengingkari janjinya sama sekali.
“Kalau begitu singkirkan pisau itu lebih dulu. Aku akan melemparnya, kamu harus melempar Indri padaku di waktu yang sama.”
Penawaran Ben jelas masuk akal karena itu akan menghindari munculnya penipuan. Haiyan jelas tidak menolaknya dan menyetujui proposal tersebut.
Dia mengikuti perkataan Ben dan mulai menarik pisau dari perut Indri. Namun disaat itu juga Indri segera berbalik dan meraih kerah Haiyan dengan kedua tangannya.
‘Wanita ini ... dia berpura-pura lemah?!’
Dengan cepat Haiyan mencoba menyingkirkan Indri namun tenaga yang mencengkram kerahnya sangat kuat.
“Kuhahaha! Akan kutunjukkan apa itu kegilaan yang sebenarnya!”
Indri tertawa dengan gila, dia mengayunkan kepalanya sekuat tenaga dan membenturkannya dengan Haiyan.
Kepala keduanya berbenturan dengan kuat. Baik Haiyan maupun Indri sama-sama memiliki visi yang bergetar. Haiyan merasa pusing dan pandangannya kabur, namun Indri lebih parah karena dia hampir hilang kesadaran.
“Dasar ******-!” Haiyan dengan cepat mengambil fokusnya dan berusaha menyerang namun dia bisa melihat Ben sudah bergerak ke arahnya secepat mungkin.