The Degree

The Degree
Kurikulum Baru



Setelah melakukan perjalanan yang panjang Ray akhirnya tiba di kebun teh. Di tempat ini sama sekali tidak ada orang, mungkin kebun teh bukan lokasi yang populer.


Meski membawa ketenangan dan kedamaian, pemandangan ini tidak lengkap tanpa adanya langit biru dan cahaya dari sinar matahari alami. Kebun teh amat indah jika dilihat di pegunungan, bukan kebun buatan.


“Apa Terumi sungguh ada di sini?” Ray merasa tidak yakin karena ia sungguh tidak menemukan siapapun di tempat ini.


Ray memutuskan untuk berkeliling ke sekitar kebun teh selama beberapa waktu. Ia memetik pucuk daun yang segar dan menghirupnya, sampai akhirnya suara isak tangis terdengar.


Tepat di sebelah Ray ada jalan lain dan di sana seorang wanita menangis memeluk lututnya seperti anak kecil. Ray tidak tahu mengapa namun dadanya memiliki gejolak yang tidak biasa.


‘Ini perasaan yang asing. Bukannya sedih, perasaan ini seorang aku gemas ingin meremas sesuatu.’


Ray tak tahu apa namanya sehingga hanya bisa mendefinisikannya seperti itu.


“Akhirnya aku menemukanmu.” Ray berkata demikian, meski begitu ia hanya berdiri membelakangi Terumi.


“... Ray,” Terumi hanya berkata lirih. “Mengapa kamu di sini?” lanjutnya.


Ray kemudian menatap Terumi yang menyembunyikan wajahnya selagi memeluk lututnya. Ray memilih duduk di sisinya dan menatap langit-langit yang mengacaukan keindahan kebun.


“Ada beberapa hal yang perlu aku luruskan padamu, Terumi.”


“Apanya yang perlu diluruskan? Itu sudah sangat jelas. Kamu membawa gadis-gadis itu ke kamarmu.” Terumi berkata dengan sedikit marah.


Ray hanya diam dan membiarkan Terumi mengucapkan apapun yang ingin dikatakannya. Wanita ini berusaha memendam perasaannya, maka dari itu Ray akan membiarkannya meluap.


“Kamu tahu bahwa aku memendam perasaan padamu, kan? Kamu mungkin kaku, tetapi tidak cukup bodoh sampai tak menyadarinya.”


Ray sedikit diam sebelum mengakuinya, “Ya. Sejak kita bertemu di tugas ke lima, aku sudah tahu.”


Terumi bergetar sekali lagi, “Itu sejak sangat awal.”


“Jika kamu tahu sejak awal, mengapa tak menyampaikannya padaku sesegera mungkin? Apa kamu sangat menyukai melihatku berusaha mengejarmu seperti seekor anjing yang takkan berpaling darimu?”


Anjing adalah jenis hewan yang paling setia. Banyak manusia memeliharanya lantaran kesetiaan mereka luar biasa sampai manusia tidak bisa dibandingkan dengannya. Terumi menganggap dirinya seekor anjing yang menyerahkan kesetiaannya kepada Ray.


Pendapat Ray sendiri, jika harus jujur jawabannya adalah tidak. Ray tidak pernah menganggap Terumi demikian. Ray tak pernah menyetarakan manusia dengan hewan.


Seekor anjing hanya bisa menggonggong untuk mendapatkan makanannya dan menyerahkan kesetiaan. Manusia mungkin tidak setara dengan anjing dalam hal kesetiaan, tetapi derajat manusia tidak bisa disamakan dengan hewan.


Ada banyak hal yang bisa dilakukan manusia ketimbang binatang. Dan, hanya ada sedikit hal yang tak bisa dilakukan manusia namun bisa dilakukan binatang.


“Pasti menyenangkan bagimu, ya? Aku terus mengejar, kamu terus menghindar.”


“Aku tak menghindarimu. Aku juga tidak menganggapmu seperti seekor anjing.”


“Jangan berbohong,” Terumi berkata pelan, gemetar tubuhnya semakin kuat. “Kamu mengatakan itu karena khawatir aku mengungkapkan rahasiamu, kan? Tenang saja, Ray. Aku takkan mengganggumu dengan mengatakannya. Kamu bisa dengan tenang berbahagia dengan dua wanita itu.”


Ray menghela napas. Berurusan dengan wanita, terutama pasal hati adalah bagian yang paling merepotkan.


“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dua wanita itu, Terumi. Setidaknya tolong dengarkan penjelasan—”


“BERISIK!”


Terumi menaikkan suaranya, ia menatap Ray dengan penuh air mata dan kemarahan. Ray hanya memandangnya dengan wajah apatis seperti biasa, meski ada sedikit keterkejutan dari kemarahan tidak terduga Terumi.


“Kamu mungkin tidak memahami tentang perasaan seperti ini mengingat hidupmu menyedihkan!”


“Lahir tanpa mengetahui siapa ibunya! Dibesarkan oleh ayah yang kejam! Hidup sebagai seorang pembunuh berdarah dingin—”


“Ya.” Ray menyela perkataan Terumi.


Terumi tampak terkejut sendiri, ia sadar telah mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak dikatakan. Rasa bersalah memenuhi hatinya. Sebelum ia sempat mengatakan apapun lebih jauh, Ray mulai berbicara.


“Seperti katamu, aku tidak memahami banyak hal tentang hubungan asmara dan kasih sayang manusia. Di luar hal yang dijelaskan oleh buku, aku tak mengetahui apapun.”


“Aku hanya memahami segalanya dengan setiap kalimat yang aku ingat dari buku tanpa memiliki pengalaman yang nyata tentangnya.”


Ray tidak pernah merasakan dibelai ataupun pelukan dari orang tuanya. Bagaimana cara menanggapi perasaan seseorang? Seperti apa rasanya mencintai? Hal-hal tersebut sungguh asing baginya.


“Apa yang kamu rasakan, aku tahu namun juga tidak. Namun satu hal yang aku bisa pastikan, aku tak berniat melukai perasaanmu. Perlahan, aku mencoba mempelajarinya karena ketika aku menerima perasaanmu tanpa memahaminya. Akhir yang terjadi adalah aku menorehkan luka tak terobati pada hatimu yang lembut.”


Terumi tidak menerima kata-kata tersebut dengan kepalanya. Darahnya justru semakin mendidih, ia memotong jarak dengan Ray, meraih kerahnya dan berteriak:


“Kalau begitu kenapa kamu—”


Reid menarik kepala Terumi mendekat, membungkam mulut dengan mulut. Terumi memiliki mata yang bergetar, ia coba menolak dan menjauhkan diri, tetapi Ray menahannya dan mendorong bibirnya agar Terumi tak bisa menjauh.


Ray mampu merasakan kelembutan bibir dan lidah Terumi, wanita itu awalnya menolak namun perlahan dirinya mulai menerimanya dan berinisiatif.


Saat Terumi sudah lebih tenang Ray melepaskannya dan memegang pinggulnya untuk membuatnya tidak jauh darinya. Terumi menatap dengan tatapan layu, yang mana hanya akan muncul dari wanita yang terlena.


Hal inilah yang Ray incar. Waktu di mana kebohongan yang jelas mudah untuk diterima.


“Saat kamu membuka kamarku, aku tak ada di sana. Semalaman aku tidak tinggal di kamarku karena menjaga kondisi mental Erina yang kacau. Aku tidak tahu bagaimana caranya namun tampaknya wanita itu masuk ke kamarku dengan cara tertentu. Dengan Market, bukan mustahil tersedianya alat untuk membobol.”


Ray menjadikan Rani dan Rina sebagai kambing hitam. Ia menanamkan stigma bahwa kedua bocah itu berusaha membuat kesalahpahaman semacam ini.


“Kamu tahu bahwa aku bukan orang yang akan tergerak dengan cara apapun. Selain itu, Degree wanita itu bagaikan belenggu yang membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya menemaninya sampai pagi tanpa melakukan apa-apa.”


Untungnya Ray telah menghancurkan barang bukti tentang apa yang terjadi ketika malam sehingga tidak perlu ada kekhawatiran membual tentangnya. Masalah yang perlu Reid atasi hannyalah membungkam kedua gadis itu.


“Aku sama sekali tidak mengetahui keberadaan mereka di ruanganku. Sampai sini harusnya kamu paham.”


“Katakanlah kalau kamu masih meragukan sesuatu.”


Terumi hanya diam dan menggelengkan kepalanya, Ray menarik wanita itu ke pangkuannya dan menjatuhkan bom terakhir dengan membuat jarak wajah diantara mereka tersisa beberapa centimeter. Tentunya Ray tak berniat menambahkan ciuman, dengan kontak mata sedekat ini Terumi takkan memikirkan celah dari kebohongannya.


“Aku tak mengetahui seluk-beluk hubungan asmara. Maka dari itu, maukah kamu perlahan mengajarkannya padaku?”


Terumi sedikit merona dan tersenyum lembut akan hal tersebut. Ia kemudian mengangguk.


“... ya.”


Setidaknya untuk saat ini Ray berhasil menenangkan Terumi. Selain itu, Ray akan mendapatkan kurikulum baru yang bernama cinta.


...****...


Mungkin berbeda dari biasanya, chapter-chapter di tahap ini akan berisi beberapa drama kecil, meski saya merasa geli setiap kali menulis beberapa kata.