The Degree

The Degree
Penemuan



Ray ingat bahwa di tempat ini Mona mungkin adalah orang yang paling dekat untuk mengungkapkan identitasnya. Mungkin alasan itu juga yang mendorong Virgo untuk datang menemui Ray.


Apakah identitasnya sangat penting baginya sampai-sampai rela bekerjasama dengan Ray hanya untuk itu? Mau bagaimanapun sulit membayangkannya. Dari pada khawatir wajahnya terungkap, Ray yakini bahwa ada hal lebih dari wajah yang tak boleh untuk terungkap.


“Jika begitu memang kemungkinan orang yang serupa dengan ciri-cirinya sangat sedikit. Setidaknya ada kurang dari seribu orang.”


Ray tak tahu ciri-cirinya mendetil seperti Mona dan Arthur. Namun ia memiliki keyakinan bahwa pria itu tidak akan melakukannya jika akan ada banyak orang yang memiliki ciri-ciri serupa.


“Memangnya apa yang ingin dilakukannya bahkan jika kita mengetahui identitasnya?” tanya Terumi dengan mulut penuh roti dan telur.


“Bahkan jika kita tahu wajahnya, bukan berarti mudah menangkapnya. Orang-orang di sisinya sangat kuat. Kita juga tidak tahu masih ada yang bersembunyi atau tidak.”


Kemungkinannya besar bahwa masih ada anggota yang belum mengungkapkan dirinya atau sengaja disimpan untuk saat-saat tertentu. Bahkan, benar kata Terumi bahwa tak ada gunanya mengetahui wajahnya.


Jikapun wajah Virgo diketahui sehingga orang itu tidak bisa menyusup dan membaur, bukan hal sulit menggerakkan orang-orangnya untuk melakukan hal itu.


“Aku sendiri tidak tahu apa yang diinginkan Arthur tentang itu,” Mona setuju dengan Terumi. “Nah, apa kamu bisa memahami sesuatu dari tindakannya, Ray?” lanjutnya.


Ray ingin menjawabnya namun pada tahap ini dia tak bisa melihat tujuan Arthur. Selain itu, Ray memiliki firasat yang tak biasa soal ini.


“Entahlah. Aku sendiri tidak melihat apa yang bisa diperbuat hanya dengan identitasnya saja. Namun Arthur mungkin bertujuan agar di masa depan tidak disusupi Virgo.”


“Disusupi?” tanya Terumi.


Hal yang paling mungkin dari mengindetifikasi identitas seseorang adalah mencegah kemungkinan orang tersebut menyusup.


“Virgo bisa saja memainkan peran sebagai korban dari sesuatu atau insiden yang bisa terjadi di masa depan. Dia bisa saja merayu kita dan bergabung. Selanjutnya mudah mengetahui apa yang bisa ia lakukan jika berhasil bergabung dengan kita.”


Ada banyak hal yang bisa terjadi. Salah satu yang paling mungkin adalah pengkhianatan.


“Jika hal itu terjadi maka sudah dipastikan kita akan hancur. Ada baiknya mencegah sebelum kehancuran itu terjadi.”


...****************...


“Aku masuk.”


Di ruangan tempat Virgo berada, Alexis Sanchez masuk dengan ketukan beberapa kali. Virgo yang sudah memakai helmnya mempersilahkannya. Bahkan diantara para anggotanya, Virgo tak pernah menunjukkan wajahnya.


“Bagaimana hasil pencariannya?” tanya Virgo yang sedang membaca buku buatan sendiri.


“Aku tak menemukan apapun dalam penyelidikan. Tampaknya para keparat ini menyembunyikannya atau membuangnya di tempat yang sulit dijangkau.”


Virgo menghentikan tindakannya membalik halaman buku dan menoleh ke Alexis.


“Kamu yakin sudah mencarinya dengan benar?” tanya Virgo dengan kesan curiga.


“Tempat pembuangan limbah dan berbagai tempat terpencil lainnya. Bahkan mall dan berbagai tempat rekreasi. Aku sudah mengunjungi semuanya tanpa terlewatkan satu hal. Namun tak ada di manapun. Bahkan jejaknya juga.”


Alexis menyampaikan bahwa anggota lainnya juga mencari di tempat-tempat yang tak dikunjungi orang namun tidak memiliki hasil apapun.


“Huh,” Virgo menghela napas dengan kasar. “Apa kalian seonggok daging yang tak diberkati otak?” Virgo berkata dengan dingin.


Alexis cukup kesal karena hinaannya namun ia tak berani menentang. Apa yang dikatakan Virgo benar sehingga tak ada tempat baginya bisa menolak.


Selain itu, tanpa Virgo mereka takkan berhasil sejauh ini.


“Yah, aku tak bisa menyalahkan kalian sepenuhnya,” Virgo menutup bukunya dengan sedikit lebih kuat. “Tua bangka itu penyebab semua ini. Mengapa ia dengan bodohnya bisa tertangkap?”


Masalah yang mereka hadapi adalah Sebastian menghilang. Kamarnya tampak kacau dan memiliki bekas pertarungan yang cukup sengit. Dari goresan yang tertinggal adalah bekas sayatan dari benda tajam.


Dari yang Virgo simpulkan bekas tersebut berasal dari pedang atau sejenisnya. Sebastian mungkin menyimpan senjata serupa, tetapi kedalaman dari sayatannya berbeda.


“Aku sangat yakin si bocah chuunibyou itu pelakunya. Tak ada yang lebih mungkin darinya.”


Virgo yakin kelompok kecil itu adalah dalang dibalik semua ini. Kecurigaannya tak mungkin salah karena sejauh ini hanya dua kelompok yang sering menentangnya.


Kelompok Indri dan sisa-sisa anggota Redwest juga Blueeast. Mereka adalah kumpulan orang dari Sepuluh Degree Berbahaya.


‘Aku telah membuat kesepakatan dengan Ray, seharusnya hal ini akan menahannya agar tak memusuhi kami. Maka hanya ada satu variabel yang tersisa.’


Virgo membuat kesepakatan tak hanya untuk menghancurkan Mona dan Arthur, tetapi untuk mengurangi musuh yang mampu menyerangnya. Jika semuanya memusuhinya dalam waktu yang sama, maka ia akan berakhir saat itu juga.


‘Pria itu mungkin keji karena mampu mengkhianati teman-temannya. Sekilas dia tampak cerdas namun nyatanya cukup bodoh sehingga bisa aku gunakan,' pikir Virgo.


“Lebih dari itu, aku penasaran mengapa mereka mengetahui lokasi Sebastian. Orang itu selama ini tidak pernah keluar dari tempatnya.” Alexis terlihat bingung dari balik topengnya.


“Mungkin mereka melakukan pengamatan di 26 blok dan mencari pintu di mana tak pernah ada orang keluar dari sana.”


Mudah menebak cara mereka mengetahui keberadaan Sebastian meskipun itu cara yang bertele-tele. Virgo tidak tertarik dengan cara mereka menemukannya.


Sebastian adalah kekuatan yang penting. Kerusakan dari kepergiannya akan cukup besar. Meski begitu Virgo lebih khawatir bahwa pria tua itu akan membongkar hal-hal tidak perlu.


“Pria tua itu harusnya tidak memiliki banyak hal yang ia ketahui tentang kita.”


Bertahun-tahun orang itu mengikuti Ordo sehingga ia takkan memiliki banyak informasi yang berguna.


“Masalahnya adalah dia mengetahui wajahku.”


Di awal uji coba ini Virgo masih tidak mengenakan helmnya, Sebastian adalah salah satu orang yang mengetahui wajah dan Degree-nya.


“Kalau begitu kita harus segera mencari Sebastian untuk membungkam mulutnya,” ujar Alexis dengan serius.


“Itu mustahil,” Virgo berkata. “Aku yakin dia sudah menjadi mayat.”


“Kita harus mencari mayatnya untuk mengetahui kondisinya,” lanjut Virgo.


“Mengapa perlu?” Alexis tidak tahu apa manfaatnya mendapatkan mayat.


“Kita harus mengidentifikasi seberapa banyak kuku yang hilang darinya. Jika Sebastian memiliki seluruh kukunya lepas, bisa dipastikan rahasiaku tetap aman.”


Itu cara mudahnya namun Virgo khawatir bahwa tubuhnya tidak dalam kondisi yang ia harapkan.


“Lalu, di mana mereka akan membuang mayatnya?”


“Hanya ada tiga kemungkinan. Menyimpannya di tempat tertentu sampai membusuk. Membuangnya ke tempat sampah. Dan, menyembunyikannya di tempat tertentu.”


Sembunyikan daun di dalam hutan. Tempat terbaik menyembunyikan rahasia adalah membuatnya membaur di tempat ramai.


“Mungkinkah ...” Virgo mulai menerka lokasi yang memungkinkan.


...****************...


Ray yang sedang menyantap makan siang dengan Mona dan Terumi mulai menyesali pilihannya.


Memang roti daging dan telur bukanlah pilihan yang buruk untuk siang hari, tetapi Ray mulai merasa menyesal setelah melihat apa yang dikeluarkan Terumi.


“Sekarang waktunya karage dan daging hamburger!”


Ada terlalu banyak daging untuk dimakan. Ray tak bisa menolak makanan Terumi. Jika melakukannya maka wanita itu semestinya akan sedih.


“Makanlah, Ray! Aku membuatnya sendiri jadi jangan sungkan!” Terumi dengan riang menyodorkan sepotong daging hamburger.


Ada terlalu banyak minyak. Ray yang melatih tubuhnya jelas tidak menyambut makanan sebanyak ini.


“Huh, sepertinya aku akan bergabung dengan Arthur untuk berolahraga.” Ray tersenyum masam dan menerimanya.


Rasanya tak mengecewakan meski datang di jam yang tepat.


Sesaat kemudian ia mendengar jeritan keras dari seorang wanita. Ray tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi.


“Ada apa di sana?” tanya Terumi.


“Entwah lah. Tampwaknya adwa sesuwatu,” ujar Mona yang masih mengunyah daging di mulutnya.


“Mari kita lihat.”


Mereka menghampiri keramaian itu untuk menemukan apa tang terjadi. Ray menemukan wanita yang berteriak sebelumnya. Wajahnya terlihat buruk dan memuntahkan isi perutnya.


“Apa yang terjadi di sini?” tanya Ray kepada seorang pria pirang yang tampaknya mengetahui situasi di sini.


“Itu ... kamu akan tahu setelah lihat apa yang ada di kolam,” jawabnya.


Ray mengikuti arahannya dan menemukan tujuh plastik hitam di kolam. Salah satu telah dikeluarkan dan dibuka yang menjadikannya delapan kantong plastik besar.


Mona mengambil salah satunya dengan tertarik, “Memangnya ada apa di dalam—” Mona berhenti bergerak setelah membukanya.


Ia kemudian menjauh dan jatuh dengan bokongnya sebelum memuntahkan semua makanan yang sudah masuk ke perutnya.


“Ada apa, Mona?!” Terumi dengan panik mencoba menenangkan Mona.


Ray mengambil kantong plastik tersebut dan memahami alasan semua keributan ini.


“Jadi begitu.”


Apa yang ia temukan adalah tangan manusia yang telah di potong seukuran genggaman tangan dan juga kepala dari orang yang tak asing.