
Erina dan Terumi tiba di suatu tempat. Mereka tak tahu bagaimana cara Secret mengirimkannya karena sebelumnya mereka seakan diselimuti cahaya yang aneh.
Sesaat sebelum mereka menyadarinya, pemandangan ruang untuk dua orang telah berubah menjadi pemandangan berbeda. Mereka tiba di sebuah toilet umum.
“Di mana ini?” gumam Terumi, mencoba keluar memimpin jalan dan menemukan pemandangan menarik.
Hal pertama yang ia rasakan adalah udara, meski bukan kualitas yang terbaik namun rasanya sangat menyegarkan. Mungkin sudah lama sejak terakhir kali dia merasakan kebebasan semacam ini.
Terumi merasa kini dirinya memahami perasaan burung yang keluar dari sangkarnya setelah sekian lama.
“Tempat ini ... ini di luar,” Terumi hampir menangis jika saja dia tak ingat kalau tiba di tempat umum. “Ini kebun binatang, kah?”
Dia berada di toilet umum yang ada di kebun binatang. Entah bagaimana caranya namun Secret mungkin mengirimkannya dengan teleportasi atau sejenisnya. Bahkan, mungkin saja ada jalan rahasia di toilet tersebut yang menuju fasilitas rahasia milik Secret.
“Tidak, aku tidak boleh terbawa suasana!” Terumi menyadarkan dirinya sendiri. “Erina, mari pergi dan lakukan hal-hal yang diinginkan Ray.”
Terumi mulai memimpin jalan dengan perasaan riang. Dia terus berjalan sampai akhirnya menyadari bahwa Erina tak mengikuti.
“Erina?” panggilnya dan menatap Erina, yang bersikap aneh.
Erina tampak terbelalak matanya, dia bahkan mulai menangis. Seakan-akan sesuatu yang mengejutkan baru saja menimpanya.
“Apa yang terjadi, Erina?!”Terumi bergegas menghampirinya dan mengguncang pelan tubuh Erina.
“Aku ... aku ... siapa?”
“Hah?” Terumi tersedak napasnya, apa yang dikatakan Erina tidak bisa dipahami olehnya. “Apa yang kamu katakan? Kamu Erina! Tolong jangan bercanda di saat-saat seperti ini!”
Terumi berharap ini hanya candaan meski dia tahu itu tidak mungkin. Mau bagaimanapun, Erina bukan jenis orang yang akan mau membuat candaan tak peduli apa situasinya mendukung atau tidak.
“Jangan bilang ...” Terumi menangkap sesuatu, pastinya ada hal yang menyebabkannya namun dia tak tahu apa itu. Hanya saja satu hal yang pasti, “Kamu ...”
Sebelum sempat menyatakan apapun, Terumi mendapatkan pemberitahuan dari jamnya. Tak hanya dia, tetapi Erina memiliki hak yang sama.
Terumi memastikannya dan cukup terkejut dengan hal itu. Pemberitahuan yang datang adalah tentang gugurnya ketua kelompok enam dan tampaknya digantikan oleh seseorang yang namanya tak diketahui.
“Bagaimana bisa? Bukankah setiap kelompok ditempatkan dengan jarak yang jauh?”
Itu pemikiran yang sulit namun Terumi merasa bukannya mustahil. Faktanya dia dan Erina berada berdekatan meski harusnya terpisah sejauh beberapa ratus meter. Entah, mungkin karena dia hanya berdua sehingga hal tersebut tidak termasuk.
“Hanya saja ... apa yang sebenarnya terjadi?”
...****************...
Di sebuah tempat yang ditinggalkan di daerah Jakarta, seorang pria sedang mencekik leher seorang gadis muda.
“Seluruh kelompok akan berada di tempat yang berbeda. Beruntung bahwa aku memiliki kaki yang cepat sehingga bisa menemukanmu dengan mudah setelah melakukan kalkulasi. Yah, meski disayangkan ada beberapa bajingan yang tiba lebih dulu.”
Pria itu tersenyum dengan senang dan penuh merendahkan. Wanita yang dicekiknya menatap dengan sedih dan tak percaya.
“Me-ngapa kamu ... melakukan—”
Duar!
Kepalanya dibenturkan ke dinding dengan sedikit kuat, perlahan tubuhnya diangkat ke udara dengan menyakitkan. Cengkraman di lehernya sedikit menguat.
“Kamu tak perlu mengatakan banyak hal, ******. Kemalangan bagimu, aku akan langsung mengakhiri hidupmu dan mengambil kunci milikmu.”
“Takkan kubiarkan—” Tentunya dia akan memberikan penolakan karena kehilangan kunci sama artinya kehilangan kehidupan.
Meski begitu, pria tersebut tak cukup peduli mendengarkan tanggapan dari pihak lain. Dia mulai memeriksa setiap tempat yang memungkinkan. Dikarenakan tak menemukan apa-apa, pria itu melakukan langkah lain yakni melucuti semua yang dikenakan gadis tersebut.
Tak ada keraguan dalam setiap tindakannya. Meski terkesan melecehkan namun pria itu tak memiliki niat ke arah sana. Seakan-akan dia tak memiliki dorongan apapun hanya dengan melihat tubuh lawan jenis.
“Tak ada? Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam pria itu, sebelum tatapannya beralih kepada wanita di tangannya. “Apa yang kamu lakukan pada kuncinya?”
Wanita itu tersenyum berani, “Aku ... menyimpannya. Di tempat yang kamu tak ketahui!”
Bahkan jika harus mati di tempat ini, wanita itu tak peduli karena pria di depannya takkan mendapatkan apa-apa. Bahkan, besar kemungkinan pria itu tak pernah bisa membunuhnya karena ada beberapa hal yang membuatnya tak mampu.
Namun hal tersebut, kebanggaan dan rasa percaya dirinya seketika hancur dengan kemunculannya.
“Rani!” Di sana Rina datang dengan tergesa-gesa, membuat Rani putus asa seketika. “Apa yang terjadi di sini!”
Tindakannya justru membuat pria itu mendapatkan informasi secara tidak langsung.
“Ah, aku lupa kalau kalian adalah kembar. Begitu, kuncinya tidak ada padamu, tetapi yang satunya. Sungguh, ini kesalahan memalukan yang pernah aku lakukan.” Pria itu menggelengkan kepalanya dengan bermasalah.
“Kamu ... mengapa kamu melakukan ini?! Bukankah kita—” Rani berniat mengatakan sesuatu namun kalimatnya dipotong.
“Itu tidak lagi penting. Sekarang adalah sekarang, kemarin adalah kemarin. Kamu tak bisa menyamaratakan masa lalu dengan masa kini. Aku ini mudah melupakan sesuatu, sehingga apapun yang terjadi di masa lalu telah tiada dalam ingatanku.”
“Serahkan kuncinya kepadaku jika kamu tak mau saudarimu ini mati.”
Beruntung bahwa dia tak segera membunuh Rina karena dengan ini dia bisa memiliki ancaman ampuh kepada Rani.
“J-jangan,” rintih Rina dengan menyakitkan, bahkan mulai menangis.
Rani menjadi dilema. Ada keinginan besar untuk menyelamatkan saudarinya, tetapi ada juga perasaan tak ingin memberikan kunci dan menghancurkan rencana yang sudah susah payah dibangun oleh Indri.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku takkan pernah menyerahkannya!” Rani akhirnya memutuskan. “Tunggu sampai nona mengetahui kebusukanmu!”
“Wah, ini memang sangat bermasalah,” ujar pria itu.
Dia kemudian melepaskan cengkraman di leher Rina dan dengan sangat cepat meraih wajahnya. Dengan kekuatan yang cukup kuat, dia membenturkan kepala Rina ke dinding selagi coba membuatnya tak kehilangan kesadaran.
“Kyah!” Rina menjerit menyakitkan, darah mulai keluar dari kepalanya.
“Rina!” panggil Rani, berusaha menghampirinya.
Saat Rani bergerak mendekat, pria itu lekas memberikan pukulan di perut Rina. Memang terlihat lemah dan tak seberapa, tetapi bagi tubuh wanita itu pukulan yang menyakitkan.
“Tolong berhati-hati saat bergerak. Mungkin saja akan ada benturan kuat di tempat lain di bagian tubuhnya.”
Rani dengan patuh berhenti, tak berani melangkah sedikitpun. Itu karena dia tak mau melihat adiknya itu terluka. Sudah cukup baginya dipermalukan dengan dilucuti seluruh pakaian di tubuhnya, dia tak mau melihat adiknya disiksa juga.
“Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Rani dengan wajah menyakitkan dan menangis. “Bukankah kita harusnya bekerjasama? Mengapa kamu mengkhianati kami?!”
Pria itu sedikit diam akan pernyataan menyedihkan milik Rani, namun diamnya hanya sementara sebelum akhirnya dia tersenyum tipis.
“Apa peduliku? Sudah sewajarnya alat yang tak lagi berguna pantas untuk dibuang.”
“Eh?” Rani tertegun bukan main, pernyataan tersebut lebih mengejutkan daripada tindakannya.
“Serahkan saja kuncinya padaku. Apa mungkin kamu ingin melihat momen di mana aku melemparkan wanita ini ke para pria berhidung belang? Parasnya cukup rupawan. Aku yakin tak sedikit orang kaya yang mau membayarnya untuk satu malam ataupun gadis simpanan.”
Tugas terakhir di mana uang akan menjadi tokoh utama yang akan menggerakkan situasinya di masa depan. Tak ada yang namanya uang kotor dan bersih di dunia ini. Pria itu merasa tak masalah menjual wanita kepada pria manapun yang akan memberikannya keuntungan.
Sekali lagi pria itu memberikan pukulan ke tubuh Rina. Kali ini tak hanya perut, tetapi mulai ke tempat-tempat seperti tulang kering, paha bahkan dadanya.
Rani tentunya tak tahan melihat situasi menyedihkan seperti itu. Ikatan saudara adalah yang paling kuat di dunia ini.
“Baiklah! Akan ku serahkan padam!” Rani mengeluarkan kunci dari sakunya. “Tolong lepaskan Rina!”
Pria itu tersenyum senang dan melepaskan Rina dari tangannya. Dia kemudian berjalan mendekati Rani selagi mengambil pistol di sakunya.
“Jika kamu melakukannya dari tadi, ini akan berakhir dengan cepat.”
Dor!
Dia menembak Rani tepat di kepalanya dan kemudian mengambil kunci tersebut. Seketika pemberitahuan muncul dari jamnya namun hal tersebut tak cukup untuk membuatnya peduli.
“Tidak! Rani! Rani!” Rina dengan susah payah menghampiri mayat Rani selagi menangis sedu.
Dia kemudian menatap pria itu dengan penuh kebencian dan kemarahan.
“Kamu sangat jelek, enyah dari pandangku,” ujar pria itu selagi menodongkan pistol ke kepala Rina.
Rina tak takut dengan pistol di kepalanya dan berteriak marah, “terkutuk kau, RAY MORGAN!”
Dor!
Peluru sekali lagi ditembakkan dan merenggut nyawa orang lagi. Ray tak peduli tentang mayatnya dan berjalan dengan acuh meninggalkan tempat tersebut.