The Degree

The Degree
Tawarkan Segalanya!



Ketika tiba di lokasi selanjutnya, Ray menemukan auditorium yang juga berisikan orang-orang sepertinya yang mengikuti uji coba Serum D. Perbedaannya kini terlihat sangat jelas antara sekarang dan sebelumnya.


Selain itu perbedaan jumlah yang awalnya ribuan kini bahkan hanya tersisa seratus orang.


Sebelumnya wajah semua orang masih dihiasi dengan keceriaan dan ketidaksabaran akan Degree, bentuk evolusi manusia yang sedang dalam tahap percobaan. Ini adalah sebuah revolusi besar jadi tidak ada seorangpun yang bisa menahan diri terhadapnya.


Namun ketika waktunya datang untuk menyelesaikan tugas mereka pasti menyadari bahwa lingkungan yang diciptakan oleh Secret untuk para pengguna Degree bukanlah lingkungan yang mudah.


Mulai dari titik ini semua mungkin akan saling bunuh-membunuh untuk bertahan hidup dan memuaskan keinginan mereka. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah terpuaskan, Ray tidak yakin apakah tragedi ini akan berakhir begitu saja.


“Ada lebih sedikit orang. Sepertinya tidak semua dikumpulkan di satu tempat atau bahkan bisa saja hanya segini mereka yang selamat.”


Awalnya Ray sedikit berharap bisa bertemu Terumi dan Leo karena cukup menyedihkan baginya berdiri di pojok tanpa seorangpun bisa diajak bicara.


Meski begitu, orang-orang di sini memiliki hawa berbeda dari Tyson dan yang lainnya. Pikirnya ketika mengamati.


Ray kemudian terkejut menemukan seorang wanita dengan rambut kemerahan yang menggunakan gaun cantik menatapnya dengan tatapan menggoda, separuh wajahnya ditutupi oleh kipas lipat di tangannya.


Wanita itu kemudian berbicara kepada pelayan wanita yang berdiri anggun di sisinya. Ray tidak tahu apa yang dia bicarakan karena kipas tersebut menutupi gerak bibirnya namun Ray juga tidak begitu peduli tentangnya.


“Kami ucapan selamat atas keberhasilan kalian telah menyelesaikan tugas pertama.”


Suara yang tak asing mulai menggema, orang berpenampilan sama seperti sebelumnya tiba dengan Drone besar. Dia merentangkan kedua tangannya seakan-akan menyambut.


“Dari sepuluh ribu peserta, 2500 diantaranya telah gugur. Ini sebuah kemajuan karena berbeda dari sebelumnya yang memiliki penurunan drastis di luar harapan sehingga tugas dihentikan.”


Sebelumnya?


Ray terkejut bahwa dia bukan yang pertama tapi ada regu lain yang menerima Serum D. Bisa dibilang ada senior di percobaan buatan Secret.


Ini berita yang baru diketahui sekaligus menggemparkan. Jika hanya ada sedikit dari mereka maka artinya perjuangan mereka sangat sulit ketimbang yang dialami Ray.


Tampaknya jumlah mereka sedikit sehingga tak dimungkinkan melanjutkan tugas. Itu artinya kami juga tidak boleh kehilangan banyak orang. Pikirnya.


Ada beberapa hal yang bisa terpikirkan olehnya.


Pertama adalah keberadaan tugas yang membutuhkan banyak jumlah peserta. Atau tugas yang hanya bisa diaktifkan dengan jumlah tertentu.


“Kalian hebat, kami memutuskan bahwa generasi sebelumnya dan milik kalian akan menjalani hal yang sama. Tentunya yang sudah lebih dulu ada bisa mengalami tugas yang sudah mereka lalui untuk kedua kalinya atau melewatkannya.”


Tampaknya ada beberapa senior yang membaur diantara mereka.


Itu misterius mengingat mungkin tidak ada untungnya mengalami tugas yang sudah mereka alami.


Tidak, itu justru lebih dari menguntungkan. Pikirnya.


Ray yakin mereka yang menjalani tugas kedua lagi memiliki tujuan yang mudah ditebak yakni, DP.


“Terlepas dari keberadaan orang yang memiliki pengalaman lebih. Kami juga memisahkan kalian dengan lainnya dan membagi kalian di beberapa auditorium.”


Ray dapat berasumsi bahwa Secret memiliki tempat yang begitu luas. Selain itu, sepertinya tugas tidak akan berakhir begitu saja.


Ada hal lain yang menanti mereka. Ray hanya bisa diam dan mendengarkan.


“Kami telah menurunkan kesulitan yang kalian dapat dari tugas. Setiap tempat memiliki ujian dan kapasitas berbeda. Kami menjamin bahwa hanya kalian yang memiliki kapasitas sempit dan ujian berbeda dari yang lainnya.”


Hanya ada seratus orang lebih sedikit di ruangan itu. Bahkan dengan jumlah tersebut ruangan sudah terasa sempit. Bisa diartikan bahwa tempat Ray saat ini mendapat perlakuan spesial entah baik atau buruk.


Ray yakin alasannya berhubungan dengan tugas. Tak ada yang lebih bisa dipikirkan ketimbang hal tersebut.


“Kami memiliki kalian yang menarik minat setiap saat dan bertindak berbeda dari yang lain. Setiap hal yang kalian lakukan kami mengawasinya, tak sedikitpun terlewat. Karena itulah kami membuat pengaturan kecil di mana memberikan tugas berbeda dari yang lainnya. Kalian memiliki bonus yang lebih besar, dan tentunya kesulitan lebih tinggi.”


Jam semua peserta yang berada di ruangan mulai berdering. Ray memeriksanya dengan sedikit keterkejutan.


— Tugas ketiga. Tempati enam kursi kosong di tempat selanjutnya. Bagi mereka yang tidak mendudukinya akan dieliminasi dan pergi ke tumpukan sampah.(0/6) —


Ray mulai menyadari betapa buruknya situasi. Dari seratus orang hanya akan ada enam yang bisa menuju stage selanjutnya.


Entah apa makna tumpukan sampah namun tidak menutup kemungkinan bahwa itu sama artinya dengan mati. Mau tidak mau tugas kali ini akan menjadi neraka.


Memegang sakunya, Ray yakin betul persiapannya masih kurang. Dia beruntung bahwa sebelum mencapai tempat ini telah menyiapkan sesuatu yang lainnya.


Aku memiliki 75DP tersisa. Harga yang cukup mahal hanya untuk membeli barang itu namun kuharap ini sepadan.


Ray sungguh beruntung telah melakukan pemesanan sebelumnya.


Ruangan tempat mereka berada perlahan naik seperti lift raksasa yang menampung banyak orang.


Tiba di ruangan yang lebih luas dengan lampu merah, enam kursi yang berbaris di ujung ruangan tampak elegan dan seperti takhta.


Jadi itu tempat yang harus kami perebutkan. Pikirnya.


Tempatnya cukup jauh untuk dijangkau, dan posisi setiap orang memiliki jarak tertentu.


Posisi Ray saat ini dipenuhi dengan kerugian. Bukan hanya dari perlengkapan yang tak memadai, bagian terbesar adalah soal Degree.


“Orang dengan Degree kuat akan memiliki keuntungan besar. Bahkan jika ada yang terlemah di sini maka aku jawabannya.”


Degree-ku tak bisa digunakan. Pikirnya.


Ray tak yakin bisa menggunakannya, tidak—


—Sejak awal Ray tak memahami Degree miliknya yang sedemikian rupa sulit dipahami apa kegunaannya.


Dia tidak menganggapnya lemah namun tidak juga berpikir kuat. Mudahnya masih abu-abu. Tak ada cara pasti untuk membuktikan kegunaannya.


“Geh! Ini hal mudah, aku hanya perlu sampai sana lebih dulu dari siapapun, geh!” Seorang pria kasar yang nyaris telanjang dengan otot berlebih berkata dengan sombong.


“Huh, aku sungguh lelah. Mengapa ada begitu banyak orang tak berotak di sini?” Wanita bergaun yang menatap Ray sebelumnya berkata dengan bosan dan jijik.


“Huh? Kamu sungguh kasar, cantik. Biar aku tunjukkan kegagahanku dan Degree kuat milikku, Binaragawan!” Pria itu membuat pose yang mampu mengekspos seluruh otot-ototnya.


Siapapun sudah mampu menebak Degree miliknya. Otot-otot tersebut lebih dari cukup untuk mengatakannya.


Wanita itu tetap menatap jijik dan merendahkan, “Kalau begitu coba dapatkan dua tempat maka aku akan mengabulkan satu keinginanmu.”


Mendengar perkataannya, pria otot menatap wanita itu dengan tatapan mesum, tatapannya tertuju kepada bagian dada yang memang akan menggoda.


“Geh! Itu mudah saja, sayang! Lihatlah aksi hebatku dan akan kubuat kamu menari di ranjang semalaman, Geh heh heh!”


Dengan kebanggaan diri yang besar, pria otot berlari dengan gaya menjijikkan menuju kursi yang tersedia.


“Geh heh! Ini sangat mudah, pelaminan kita ada di depan mata, sayang!”


“Itupun jika kamu masih bisa bernafas setelahnya.”


Ketika kata-kata tersebut keluar, sebuah pilar besar muncul dari dinding bagian kiri. Pilar tersebut menghantam pria otot dan membuatnya remuk ketika menghantam tembok di sisi lain.


Pemandangan menjijikkan di mana manusia hancur berkeping-keping dan membuat ruangan tersebut bersimbah darah.


“Wah! Lihat itu Mein baru kali ini aku melihat manusia geprek!” Wanita sebelumnya berkata dengan riang dan menunjuk pemandangan mengerikan tersebut.


“Mohon pelankan suara anda, Nona. Ada banyak orang bodoh dan jelek muntah karena melihatnya. Mereka akan berpikiran buruk karena Nona senang melihat pemandangan tersebut.” Si pelayan, rambut merah maroon pendek dan berkacamata serta berpenampilan maid berkata tanpa ekspresi.


“Apa masalahnya? Mereka pasti pecundang dan yang memiliki nyawa lebih pendek jika tidak tahan melihatnya.”


Ray cukup memahami perkataannya. Jika seseorang tidak bisa bertahan melihat hal-hal seperti mayat dan mutilasi, mereka takkan bisa bertahan dari hal-hal yang menanti di masa depan.


Ketika semua orang yang muntah dan histeris mulai tenang, Secret kembali berbicara. Dia sepertinya sudah menunggu seseorang untuk gegabah sebagai bentuk demonstrasi bahwa perkataanya tidak pantas diragukan.


“Kami lupa memberitahu bahwa ada setiap perangkap dan rintangan di setiap langkah. Kami yakin ini hal mudah untuk kalian yang telah berevolusi. Kalau begitu, mari berjumpa di Stage selanjutnya. Itupun jika kalian bisa mengatasinya.”


Ray menatap Secret yang pergi melalui atap yang terbuka lalu tertutup. Sebelum benar-benar menghilang Secret menyampaikan:


“Persembahkanlah segalanya untuk kemenangan. Temui kami di puncak, alhasil segala sesuatu yang ditawarkan dunia akan jadi milik kalian.”


Mengantungi tangannya di jubah putihnya yang seperti seorang ilmuwan atau dokter. Ray menatap diam segala rintangan mengerikan yang satu persatu aktif.


“Untuk berdiri di puncak, korbankanlah orang lain untuk membuat tangga mendaki. Sesungguhnya, manusia tak berguna lahir untuk menjadi pijakan orang sepertiku.”


Ray tak peduli seberapa mahal harga yang dia bayarkan. Selama dia menjadi orang yang memijak tangganya tidak ada masalah.


Mengorbankan atau dikorbankan, begitulah hidup.