The Degree

The Degree
Tragedi Terencana



“Semuanya menjau—” Belum sempat Arthur memperingati, asap sudah mengepul dan menutupi mereka.


Arthur menemukan dirinya terjebak sendirian di dalam, ia tak bisa melihat orang-orang di sekitarnya berkat asap tersebut.


“Waspadalah akan segala ancaman yang bisa terjadi!”


‘Apa yang sebenarnya terjadi di sini?’ pikir Arthur, ia gagal memahami situasi yang terjadi.


Asumsinya ada kemungkinan Virgo kembali menyerang namun Arthur cukup sulit membayangkannya. Virgo bukan orang bodoh yang akan terjun ke sarang singa untuk kedua kalinya


Jika begitu kemungkinan lainnya adalah serangan dari Indri meski Arthur cukup ragu akan hal itu. Wanita itu membantunya untuk menghancurkan Virgo sebelumnya. Harusnya tak ada alasan bagi menyerang sekarang.


‘Tidak. Mau bagaimanapun kami tak pernah berada di sisi yang sama. Jadi, bisa saja—’


Saat Arthur mulai memikirkan kemungkinan bahwa Indri adalah pelaku dari semua ini, ia merasakan seseorang menepuk bahunya. Arthur berniat waspada namun suara orang itu membuatnya kehilangan hal tersebut.


“Ini aku, Erina.”


“Erina?” gumam Arthur. “Syukurlah kamu di sini. Kita harus melakukan sesuatu pada asap ini. Entah mengapa jumlahnya sangat banyak dan lama sekali hilangnya.”


Biasanya asap yang datang dari bom tidak akan bertahan lama namun ini sudah berlangsung selama beberapa menit sehingga sulit percaya hanya ada asap biasa.


Selain itu, Arthur mulai merasakan perih di matanya, tampaknya asap ini tidak hanya dari granat. Kekhawatiran terbesarnya adalah bom air mata juga tercampur.


“Tampaknya ada orang-orang yang membakar sesuatu yang basah sehingga membuat atap semakin banyak. Selain itu, tempat ini cukup tertutup dan tak ada angin. Wajar asap akan hilang lebih lama.”


“Begitu. Apa tujuan orang ini menciptakan asap sebanyak ini?” gumam Arthur dengan tidak percaya.


“Entahlah,” ujar Erina. “Omong-omong kamu memiliki hutang budi besar yang besar padaku.”


“Ya. Aku tidak akan melupakannya. Apa kau ingin aku melakukan sesuatu?” ujar Arthur.


“Ya. Aku ingin kamu membayar hutangmu.” Erina sedikit menjeda kalimatnya, dia membisikkan kepda Arthur.


“Kamu tak bisa mengatakan, menyampaikan, atau memberi indikasi bahwa aku dan Ray penjahat. Dan, aku ingin kamu membunuh Chelsea dengan tanganmu sendiri tanpa mengatakan apa-apa sampai semua ini berakhir.”


“Hah?” Arthur terbelalak, dia menatap Erina dengan terkejut dan tak percaya.


Ada pemikiran bahwa wanita ini sedang berguyon atau sejenisnya. Namun Arthur tahu bahwa Erina bukan orang yang seperti itu.


“Apa yang kamu—”


“Lakukan sekarang.”


Arthur tentu akan menolaknya namun secara aneh tubuhnya bergerak sendiri.


‘Apa yang terjadi ... tubuhku bergerak sendiri?’


Tubuhnya bergerak sendiri, otaknya seakan-akan tak bisa memberikan perintah untuk mengontrol tubuhnya. Mulutnya juga tak bisa berbicara seperti yang dikatakan Erina sebelumnya.


Asap perlahan menghilang dan memperlihatkan bahwa tidak ada apapun yang terjadi.


Di sana Arthur menemukan Ray, Leo dan Eric sedang menjaga para wanita yang baru saja sadarkan diri. Meski begitu mereka tak bisa bergerak karena belum memulihkan tenaganya.


‘Kalian pergilah! Aku tak ingin membunuh siapapun! Ray, kamu pasti tahu ada sesuatu yang aneh padaku, sadarilah dan suruh Chelsea pergi!’


Arthur terus memohon dalam pikirannya, hal yang bisa dilakukannya adalah melakukan kontak mata dengan Ray. Namun Arthur melupakan satu hal yang dikatakan Erina.


Melalui tatapannya, Ray terkesan acuh tak acuh meski begitu bibirnya tersenyum. Hal tersebut membuat Arthur sangat terguncang.


‘Apa dia ... ini semua rencananya?’


Kata-kata Erina terlintas dalam benaknya seketika.


“Kamu tak bisa mengatakan, menyampaikan, atau memberi indikasi bahwa aku dan Ray penjahat.”


Hal tersebut menyampaikan bahwa Arthur tidak bisa mengatakan hal buruk apapun tentang Ray dan Erina.


Melihat hal itu membuat Arthur meledak dalam dadanya, ia benar-benar murka. Selama ini kecurigaannya tidak meleset bahwa Ray orang yang berbahaya. Faktanya, Arthur berhasil dimanipulasi.


‘Kamu bajingan! Apa yang kamu coba dapatkan dari hal ini?!’


Arthur ingin berteriak dan menghajar langsung orang itu namun tubuhnya tak bisa dikendalikan. Dia terus bergerak perlahan menghampiri Chelsea.


Leo menatap Arthur dengan marah, “Apa sesuatu terjadi? Wanita ini sudah sadar sebaiknya kita interogasi dia!”


Arthur tentunya tidak memberikan respon apapun. Mulutnya terkunci karena perintah yang diberikan Erina. Dia tentunya tidak berharap bahwa Erina memiliki Degree seperti ini.


“Arthur,” panggil Mona. “Aku—” Mona tak bisa mengatakan apa-apa, seakan sesuatu memaksanya berhenti untuk berbicara.


Arthur menjadi semakin marah karena dia sekarang memahami mengapa Mona menembak Terumi. Semua keganjilan yang terjadi sekarang ini terbongkar dengan luar biasa.


‘Dasar bajingan! Dia memerintah Mona menembak Terumi dan membuatnya tetap diam!’


Meski hanya asumsi belaka namun Arthur sepenuhnya yakin kejadiannya seperti itu. Erina membuat Mona menembak Terumi dan Ray akan berakting murka atas penembakan tersebut.


Dilihat dari keadaannya, Leo dan Terumi sungguh tidak tahu apa-apa. Mereka pastinya bukan bagian dari rencana ini.


‘Ray, kamu orang yang kejam! Bagaimana bisa kamu mengorbankan wanita yang mencintaimu?!’


Jika ini semua atas instruksi Ray, maka pria itu sungguh berdarah dingin. Arthur takkan pernah bisa memaafkannya.


“Arthur, mohon dengarkan ... Mona dulu,” Terumi berkata, dia berupaya menolong Mona untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. “Dia pasti ... terpaksa melakukannya.”


“Terpaksa? Itu sulit dipercaya, Terumi. Dia adalah yang menembakmu dengan sengaja!” Leo jelas menentang perkataan Terumi.


Tak peduli bagaimana dan seperti apa perdebatan keduanya, Arthur sama sekali tidak berbicara, hanya berjalan perlahan selagi mulai mengeluarkan pistolnya.


Leo dan Terumi tidak menyadari tindakan Arthur, sementara Mona dan Chelsea tertegun akan hal itu. Terutamanya Eric saat dia melihat Arthur berjalan ke arah adiknya.


“Apa yang ingin kamu lakukan, Arthur?” tanya Eric, ia merasa sedikit khawatir karena Arthur lebih banyak diam. “Woy, jawab aku!”


Eric melangkah dengan sudah payah ke tempat Chelsea dan siap pasang badan kalau sesuatu terjadi.


Sedetik kemudian Arthur mengacungkan pistolnya ke arah Chelsea dan mulai menarik pelatuknya. Sontak Leo, Terumi dan Mona terkejut atas tindakan tersebut.


“HENTIKAN!”teriak Eric selagi melompat untuk menghentikan Arthur.


Dor!


Arthur menembak, ia tercengang karena darah yang muncrat ke wajahnya. Bukan darah Chelsea, tetapi Eric yang melompat melindungi Chelsea. Pelurunya melukai bahu, beruntung bukan jantungnya.


Namun itu semua belum berakhir, tubuh Arthur mulai bergerak untuk menembak sekali lagi. Di saat itu juga, Chelsea melompat untuk melindungi Eric dan bertepatan dengan Arthur menarik pelatuknya.


Dor!


‘Ah~ ... kali ini habis sudah ...


“Ahh ... ahhh ... AHHHH! CHELSEA!” Eric menjadi gila, dia berteriak dan memeluk tubuh adiknya yang jatuh dengan dramatis.


“Apa yang kamu lakukan, Arthur?!” teriak Eric dengan sangat marah.


“Arthur ...,” gumam Mona, ia juga terlihat memahami apa yang terjadi dan refleks menatap Erina juga Ray.


...****************...


Ray menyaksikan penampilan dari para pemain panggung yang luar biasa. Situasi yang diharapkan terjadi meski selalu ada revisi.


Arthur dan yang lainnya akan bertarung melawan Virgo. Ray memang sudah mengharapkan bahwa salah satu dari keduanya akan gugur. Meski katanya Virgo mungkin berhasil selamat namun setidaknya Rebellion dipastikan musnah.


Erina akan memanipulasi Mona, Chelsea dan Arthur untuk menciptakan situasi seperti ini. Dari hal itu, maka semua kemarahan dan kebencian akan diarahkan kepada Arthur, tokoh utama yang bermain penting dalam skenario ini.


Sebuah skenario yang sudah dirancang oleh Ray.


‘Aku harus sabar. Jangan sampai tertawa sekarang. Sudah kuduga, tempat ini sangat luar biasa!’ Ray bergetar senang karena berhasil menyaksikan sendiri peristiwa yang dia harapkan.


“Apa yang kamu lakukan, Arthur?!” Eric berteriak penuh kemarahan. “Kamu membunuh adikku!”


Arthur terlihat memejamkan matanya dengan pahit, sampai sesaat kemudian dia membuat keputusan. Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah bom dan menarik pin-nya. Dia melemparkannya ke tengah-tengah dan segera berlari ke arah Mona.


“SEMUANYA MENJAUH!” teriak Leo selagi menggendong Terumi bersamanya.


Eric dengan susah payah mencoba menyeret Chelsea menjauh namun kakinya terluka sehingga mustahil itu terjadi. Pada akhirnya ia coba melindungi Chelsea yang sekarat dengan menggunakan tubuhnya.


Ray dan Erina sudah tiarap namun nyatanya bom yang dilemparkan Arthur adalah palsu.


Terlambat menyadarinya bahwa orang itu menggunakan tipuan untuk membawa Mona pergi.


“Aku takkan membiarkanmu pergi!” ujar Ray, membidik Arthur dan menembaknya.


Tiga pelurunya meleset namun ada satu yang berhasil mengenainya tepat di bahu. Hal itu cukup memberikan kerusakan besar namun sayangnya Arthur tak mengurangi kecepatannya dan menghilang.


“Sudah kuduga! Dua orang bajingan itu adalah penjahatnya!” Leo menjadi sangat marah dan mulai berlari mengejar Arthur.


“Hentikan itu, Leo!” bentak Ray.


Panggilannya cukup membuat Leo menghentikan langkahnya dengan kesal, “Memangnya kenapa?! ****** itu menembak Terumi dan sekarang si keparat membunuh wanita itu!”


Dilihat dari manapun Mona dan Arthur tampak seperti sepasang kekasih yang melakukan pembunuhan berencana. Pembunuhan ini telah disaksikan oleh hampir semua orang yang selamat. Hanya dengan disaksikan saja sudah cukup.


“Selama kita masih menjalani tugas maka kita akan bertemu lagi dengannya. Mengejarnya sekarang sudah tidak berguna lagi.”


‘Dengan ini semua orang yang menyaksikan akan menganggap Arthur dan Mona sebagai penjahat besar. Rumor buruk akan mengikuti, dan pada akhirnya akan muncul orang-orang yang memburu Arthur juga Mona.’


Ray tentunya bisa membuat Arthur bunuh diri atau dia membunuh Mona. Namun jika begitu maka keganjilan besar akan sangat terlihat dengan jelas.


Jika Arthur bunuh diri, akan muncul pertanyaan mengapa dia melakukannya, hal itu juga berlaku jika dia menembak Mona.


Pada tahap ini Ray tak ingin niatnya terbongkar pada Terumi, Leo dan semua orang di tempat ini.


‘Selain itu, jika aku membunuh Arthur sekarang maka semuanya akan membosankan.’


Ray masih tak percaya diri mampu membunuh Arthur mengingat Degree pria itu sungguh-sungguh sebuah masalah. Meski begitu, Ray ingin lihat apakah Degree-nya akan mampu menyelamatkannya dari kejaran banyak orang.


“Chelsea! Bertahanlah, Chelsea!” Eric terus memanggil nama Chelsea yang tubuhnya mulai mendingin.


Napasnya menipis dan kehilangan banyak darah. Tembakan Arthur tampaknya mengenai titik vitalnya sehingga Chelsea takkan selamat.


“Siapa saja! Cepat obati adikku! SIAPAPUN ITU!”


Eric meminta namun tentunya tidak ada yang mengambil tanggung jawab mustahil itu. Tak peduli seberapa besar mukjizat Degree, manusia yang mati tak bisa dihidupkan.


Degree bukan obat segala penyakit dan Secret bukan dewa yang bisa menciptakan sesuatu hingga mampu menghidupkan orang lain. Bahkan Degree masih memiliki batasan-batasan yang mustahil dilampaui.


“Ka-kak ...” Chelsea mengerahkan tenaganya yang terakhir untuk tersenyum pada Eric, tangannya berusaha menggapai wajahnya.


Eric lekas menangkap tangan tersebut dan menempelkannya di pipi. Ia menangis sedu, sangat paham bahwa ini kali terakhir dirinya bersama adiknya.


“Mengapa kamu keras kepala? Bukankah sudah kubilang bahwa tempat ini tak senyaman kelihatannya? Kamu adik yang tak mau mendengarkanku!” Eric sedikit marah dan menyesal.


Kesalahan ada padanya. Andaikan saja dia tak membiarkan Chelsea menerima surat itu dan menyerahkannya kepada orang lain, maka ini semua tidak akan pernah terjadi.


Ray memandang hal ini dengan diam. Baginya ini tidak lagi penting namun pemandangan tersebut cukup menarik untuk disaksikan. Selain itu, Ray membuat situasi ini untuk menambah rekan.


Eric harus menjadi rekanan terlepas apa Degree-nya. Orang itu akan mampu dia bagikan rencananya seperti halnya Erina. Bahkan jika Eric bukan orang yang berguna maka Ray hanya perlu membuangnya suatu hari nanti.


“Kakak ...” Chelsea sekali lagi memanggil, kali ini air mata mulai membasahinya.


Napasnya kian melemah dan matanya mulai kehilangan cahaya. Di hembusan napas terakhir, kata maaf dikatakan dengan lancar.


“Maafkan ... aku.”


Chelsea kehilangan nyawanya tepat di tangan Eric. Peristiwa menyedihkan yang terjadi diakibatkan penembakan tak terduga dari Arthur.


“Tidak ... Chelsea, bangunlah, CHELSEA!”


Eric menangis sejadi-jadinya terlepas dari luka yang di deritanya. Baginya, kehilangan adiknya lebih menyakitkan ketimbang tertembak oleh timah panas.


Setengah jam setelah insiden tersebut robot-robot mulai muncul dan memadamkan api serta mengumpulkan mayat. Orang-orang yang terluka dan masih hidup dikumpulkan serta diberikan pengobatan langsung.


Tampaknya Secret sendiri membutuhkan waktu untuk persiapan semua ini. Dia bahkan menyediakan air juga makanan untuk dikonsumsi.


Butuh waktu lebih dari dua jam agar semua api dipadamkan. Meski banyak yang terselamatkan namun duka tak terhindarkan. Ada banyak hal yang terjadi dalam satu waktu. Insiden yang sungguh-sungguh memakan lebih dari separuh partisipan ini lebih menyakitkan ketimbang Open World.


Beberapa menit setelahnya, sebuah drone besar terbang dan datang entah dari mana. Di atasnya berdiri sosok yang wajahnya tak diketahui dengan jelas namun dikenal oleh semua orang karena topeng dan jasnya yang khas.


Si pencipta Degree dan mungkin sumber dari semua kesialan serta penderitaan ini. Dia adalah Secret.


Bisikin mulai terdengar dari berbagai tempat. Mayoritas suara itu mengucapkan ketidaksenangan pada Secret. Tampaknya peristiwa tentang kematian Chelsea berhasil dengan sukses menyentuh hati mereka dan menyadarkan mereka sebusuk apa tempat ini.


“Dia baru muncul setelah semua ini berakhir?”


“Dasar bajingan!”


“Tidakkah dia tahu sesuatu bernama hati nurani?!”


“Jika ada sebuah kesempatan aku ingin menghajarnya!”


Secret tampak mengabaikan semua perkataan itu. Ia hanya merentangkan tangannya. Dan, mulai menyampaikan hal yang tidak bisa diterima semuanya


“Ini sebuah kegagalan. Kalian cukup mengecewakan kami di satu sisi.”