The Degree

The Degree
Arti Sebuah Kehangatan



Pagi hari tiba membawa keceriaan dan kesegaran udara bak pegunungan. Ray membuka jendelanya untuk menemukan langit gelap yang kian diusir oleh matahari yang perlahan muncul.


Untuk memulai harinya Ray akan melakukan rutinitas yang selama ini tidak dia lakukan.


“Apapun keadaannya aku harus menjaga fisikku sebaik mungkin.”


Dikarenakan tugas-tugas sebelumnya tidak memungkinkannya untuk melakukannya.


Meskipun tangan kiri dan luka di bahunya belum benar-benar sembuh namun itu tidak menjadi alasan Ray untuk tidak berlatih.


“Mari lakukan hal yang takkan membahayakan bagi luka ini.”


Ray memulai olahraganya. Setelah beberapa waktu dan ketika dia mulai berkeringat, pintu kamar diketuk dan dibuka.


“Sayang, aku membawakanmu sarapan dan perban untuk luka—, Ara~, pagi-pagi seperti ini aku sudah melihat sesuatu yang panas.” Erina merona dan memegang bibirnya dengan gelagat aneh.


Ray pernah membaca artikel bahwa wanita itu lemah dengan otot pria terutama ketika berkeringat seakan-akan memancarkan aura tertentu. Meski begitu Ray tak percaya bahwa itu benar adanya.


“Kebetulan aku juga membawa handuk.” Erina mengambil handuk putih dan melemparkannya.


Ray tak menolaknya dan segera menggunakannya untuk membersihkan keringat di tubuhnya.


Untuk beberapa alasan tatapan Erina kepadanya membuat bulu kuduk merinding. Ray menoleh ke arahnya namun seketika itu juga Erina mengalihkan pandangan seakan-akan dia tidak memperhatikan sejak awal.


Tingkahnya mungkin lucu terutama bagian di mana telinganya terlihat merah. Andai saja wanita itu tidak mencoba menggunakannya, mungkin Ray akan membawanya ke dalam pelukannya segera.


Setelah beberapa saat Ray memakan sarapan yang dibawakan oleh Erina selagi wanita itu merawat luka yang dimilikinya.


“Tampaknya suasana hatimu jauh lebih baik sekarang ini. Tubuhmu juga begitu kekar dan meski habis berkeringat mengapa aromanya begitu nyaman di hidung?” Erina segera mengendus di dekat leher Ray.


“Hentikan itu. Itu cukup menggelikan.”


“Fufu, tak hanya wanita. Tampaknya bagian leher juga tempat sensitif bagi pria.” Erina dengan usil meniupnya.


Mau bagaimanapun Ray tetap pria normal. Dia bisa memiliki dorongan semacam itu tiba-tiba, terutama di waktu pagi. Ada benda pribadi milik pria yang akan bangun tegak dan berkokok setiap pagi.


“Aku akan mengoleskan alkohol untuk lukamu. Ini akan sedikit sakit, jadi tahanlah. Kamu boleh memelukku jika tidak mampu menahannya.”


“Jangan khawatir. Rasa sakit adalah teman bagiku.”


Setelah ada begitu banyak hal yang telah dilalui Ray selama hidupnya, rasa sakit tak lagi bisa membuatnya menangis.


Tentunya tidak ada manusia yang bisa terbiasa dengan rasa sakit.


Hanya saja Ray sudah bosan terhadapnya sampai rasa sakit tak lagi dia anggap penderitaan.


“Aku tak tahu apa yang kamu lakukan sebelum datang ke tempat ini. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang kamu miliki, tampaknya lingkungan tempatmu tinggal cukup spesial. Tak apa jika tak ingin mengatakannya. Jika boleh tahu, di lingkungan seperti apa kamu dibesarkan?”


Entah dia coba memancing atau sekedar menebak saja. Jika tujuannya adalah menebak maka itu sama sekali tidak meleset.


Lebih tepatnya spesial dalam artian lain.


“Jika harus mengatakannya, tempatkan tinggal memang spesial dan berbeda dari kebanyakan orang.”


Erina tersenyum senang sekaligus iri ketika dia terus merawat luka yang dimiliki Ray.


“Begitu, sepertinya itu tempat yang benar-benar spesial, ya.”


“Ya, mengingat tidak ada kemanusiaan yang berlaku di sana, segalanya sangatlah spesial.”


Bukan berarti Ray ingin mengungkapkan asal-usulnya secara terang-terangan.


Hanya saja untuk beberapa alasan Ray ingin mengatakan sedikit hal tentang dirinya.


“Tidak ada kemanusiaan? Aku takut salah mengambil kesimpulan, apakah artinya ... .”


“Itu persis seperti yang ada di pikiranmu. Dalam hidupku aku sama sekali tak merasakan apa-apa selain dinginnya hati manusia.”


Kenangan akan hari-hari menyakitkan itu akan terus membekas di hati dan pikiran Ray sebagai luka yang tak tersembuhkan.


Bahkan ketika dia berhasil melarikan diri dari hari-hari itu nyatanya berkat tempat itu segala hal yang ada di dunia membuat Ray tak tertarik dan begitu bosan.


Seakan-akan dunia yang dimiliki Ray berbeda dengan kebanyakan orang-orang. Untuk alasan itu juga Ray menerima undangan Secret dan berakhir memasuki kandang besar.


Meski begitu bedanya dengan tempat di masa lalu, Ray lebih menyukai lingkungan yang diciptakan Secret.


Ray melebarkan matanya dengan terkejut. Itu karena Erina memeluknya dengan lembut tanpa alasan yang jelas. Ray mampu merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyelimuti punggungnya.


“Fufu, kamu beruntung mampu bertemu denganku. Seandainya kondisi kita tak seperti ini, aku ingin benar-benar mengenalmu. Aku ingin mengajarkanmu arti dari sebuah kehangatan.”


Seandainya Ray dan Erina tidak bertemu di tempat yang disediakan oleh Secret, maka Erina takkan melakukan hal menyusahkan seperti mencoba mengendalikan Ray dengan Degree-nya.


Keinginan Erina adalah dia dekat secara normal. Meski begitu lingkungan yang diciptakan Degree mendorongnya melakukan hal itu untuk keamanan dirinya juga.


“Dengan saling menyentuh kehidupan lain, kamu akan mempelajari arti dari kehangatan makhluk hidup, kehangatan hati manusia. Kehangatan yang takkan pernah kamu temukan atau pelajari dari buku dingin yang tidak memiliki kehidupan. Untuk mempelajarinya, melakukan sentuhan semacam ini akan membantumu.”


Ray sedikit paham tentang apa yang coba disampaikan Erina.


Dia mungkin benar. Seandainya mereka bertemu dengan cara yang lebih baik, Ray mungkin akan belajar menerima seseorang di dalam hidupnya.


“Kamu satu-satunya pria yang membuatku tertarik. Aku akan membantumu mempelajarinya dengan cara apapun yang kamu inginkan.”


Erina mengalungkan tangannya di leher Ray selagi berkata berbisik.


Ray mungkin sedikit tersanjung oleh kata-kata tersebut namun andai saja Erina tidak melakukan hal-hal itu ...


“Itu kalimat yang menyenangkan untuk didengar seandainya kamu tak menggigit leherku.”


Ray berusaha menjauhkannya tetapi Erina melawan dan terus menggigitnya selama beberapa waktu. Ray menemukan bahwa ada bekas merah di lehernya karena tindakan Erina.


Itu bekas yang tidak akan hilang dalam waktu dekat. Ray menatap tajam Erina yang menjulurkan lidahnya dengan tatapan menggoda.


“Fufu, dengan ini aku sudah tenang. Bagi kamu para wanita, tanda itu adalah sebuah tanda kepemilikan.”


“Aku tak pernah memahami cara konyol semacam itu.”


“Kami wanita memang makhluk yang rumit. Terutama persoalan hati dan pria, kamu sangatlah sensitif.”


Setelah selesai memasangkan perban baru untuk Ray, Erina berniat untuk pergi.


“Untuk pemulihanmu, sebaiknya beristirahatlah. Panggil saja pelayan jika kamu membutuhkan sesuatu. Selain itu, aku akan memastikan bahwa kamu tak menerima tugas bonus apapun karena saat ini namamu belum terdaftar ke dalam serikat.”


Ada hal mengejutkan yang ingin Ray tanyakan namun Erina dengan cepat menutup pintu dan pergi.


Sikapnya itu cukup menjengkelkan namun untuk beberapa alasan Ray cukup nyaman ada di dekatnya.


“Seandainya kamu tak memiliki Degree apapun yang merepotkan hingga coba mengendalikanku. Kamu mungkin akan berakhir jadi seperti yang kamu inginkan.”


Namun cukup disayangkan bahwa masa depan menjadi tidak pasti untuk saat ini.


...[***]...


**Nama: Mein Stanford.


Asal: Australia.


Umur: 19 tahun.


Degree: Aktris.


Informasi yang terungkap saat ini. Kemampuannya mampu mengubah karakteristik tubuhnya menjadi sesuai dengan peran yang ingin dia mainkan. Meski begitu dia tak bisa menciptakan benda apapun secara artifisial. Bagian kemampuan yang bisa dia lakukan hanyalah mengubah tubuhnya ke hal-hal tertentu.


Ada bagian lain dari kemampuannya yang belum terungkap**.