
Saat gas air mata digunakan dan Leo mulai pembunuhannya, Ray serta Terumi bergerak memasuki gedung.
Tentunya ada beberapa orang yang akan menemukan mereka namun Ray dengan cerdas memberikan saran tak terduga.
“Mereka tak memiliki pakaian atau tanda pengenal untuk mengetahui apakah mereka berasal dari serikat yang sama. Kita akan berlari huru-hara selagi berpura-pura mengejar Leo. Diam-diam kita akan mengambil langkah mendekati gedung.”
Andai kata mereka melawan arah secara langsung maka pastinya akan cepat ketahuan. Lain halnya bila ada satu tempat yang kosong atau benar-benar sepi penjagaan.
“Aku mengerti.”
Selagi terus berlari dan perlahan menyimpang dari tempat orang-orang berkumpul mengejar Leo. Ray terus membuat informasi kacau.
Seperti mengatakan penyusup ada di utara, barat dan arah lainnya untuk menyesatkan mereka.
Setelah bersusah payah melakukan berbagai hal akhirnya mereka sampai di gedung. Meski begitu masalah utamanya adalah mereka tak tahu apa yang ada di balik pintu.
“Ada kemungkinan bahwa di dalam ruangan sudah ada orang yang bersiap untuk menghajar kita. Sebaiknya kita pikirkan cara lain lebih dulu sebelum memilih pintu.”
Terumi mulai berpikir keras untuk mencari jawabannya. Dia awalnya ingin masuk begitu saja namun tampaknya pemikiran Ray jauh lebih kritis darinya.
“Bagaimana jika kita lewat ventilasi? Aku yakin takkan ada orang yang cukup aneh untuk tetap menunggu di ventilasi.”
Ventilasi adalah tempat yang sempit dan takkan ada orang yang coba menunggu di sana.
Ray sendiri berpikir itu cukup bagus namun sayangnya lawan mereka bukan amatir.
“Meski anggota lainnya adalah orang bodoh namun pemimpin mereka bukan orang bodoh. Aku yakin pola umum seperti itu sudah diduga oleh mereka.”
Kemungkinan besar ada perangkap atau mereka telah melakukan langkah antisipasi agar seseorang tidak bisa masuk untuk penyusupan. Ray berpikir bahwa mereka telah menyiapkan gas beracun.
“Namun apa mereka benar-benar menyiapkannya hingga sedetil itu? Aku yakin gedung ini bukan milik mereka karena tempat ini harusnya adalah hotel penginapan yang bisa diakses semua serikat.”
Ray tidak memikirkan hal itu dan cukup tertegun. Benar, sejak awal tempat ini semestinya bukan milik Rebellion.
Bahkan jika mereka telah merencanakan dalam waktu yang lama mustahil untuk memperhatikan hal detil semacam itu.
“Kamu mungkin ada benarnya. Namun aku tetap khawatir bahwa setidaknya mereka telah menyegel tempat itu.”
Bahkan jika kecil kemungkinannya ia takkan mau memilihnya. Selain betapa sempitnya ventilasi, akan sulit melarikan diri jika sesuatu terjadi.
“Kalau begitu bagaimana dengan pintu belakang?”
“Itu mungkin sama saja. Tampaknya kita harus menggunakan cara yang tidak halus.”
Ray buntu pikiran saat memikirkannya. Tak ada jalan lain yang bisa dia lakukan selain melakukannya.
“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?”
Ray menunjukkan senyuman penuh percaya diri padanya, “Kita akan membuat jalannya sendiri.”
“Bagaimana— ah, jadi begitu.”
Terumi dengan mudah memahaminya. Setelah sekian lama tak mungkin dia tidak memahami cara melakukan kekerasan.
“Saat ledakannya selesai aku akan masuk lebih dulu, kamu bantu dari belakang.”
“Baiklah.”
Ray menempelkan bom di dinding dan mengaturnya untuk segera meledak.
DUAR!
Ledakan besar terjadi. Orang-orang yang sudah menodongkan senjata ke pintu dengan harapan penyusup masuk terkejut.
Fokus mereka teralihkan dan secara psikologis kejutan pada otak manusia akan terjadi selama dua puluh detik untuk mereka mampu berpikir kembali secara normal.
Di jeda waktu tersebut Ray masuk dengan berlari sedikit menunduk. Dia bergerak zig-zag dan melempar pisaunya ke salah satu orang.
“Lambat.”
Ray menembak dagu orang yang ingin berteriak. Pelurunya menembus hingga ke kepalanya. Tak ada satupun keajaiban yang akan mampu menyelamatkannya.
“Itu dia!”
“Sudah kubilang kalian terlalu lambat.”
Ray mencabut pin granat dan melemparkannya bersama mayat yang baru saja dia habisi.
Bom meledak bersama tiga orang lainnya dan seketika itu satu orang yang ada di belakangnya hendak menembak Ray.
“Matila—”
Sebelum bisa menarik pelatuknya sebuah shuriken terlempar dan menancap di lehernya. Hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan. Terkejut lalu dia tewas secara perlahan.
Lantai satu telah berhasil dibereskan dan Ray tak ingin berlama-lama di tempat ini.
“Mari kita bergegas menuju lantai selanjutnya. Entah lebih kuat atau lemah namun tak masalah. Mari kita telanjangi persenjataan mereka.”
Ray mengambil peluru, bom dan barang-barang lain yang bisa dia gunakan.
Terumi terlihat enggan untuk melakukannya namun untuk bertahan hidup dia perlu mengotori tangannya.
Hidup dengan menjatuhkan orang lain untuk membangun tangga agar dia bisa tetap hidup.
“Ya.”
Beberapa kali Terumi hendak muntah saat sedang mengambil barang-barang dari mayat.
Dia mungkin sedikit terbiasa dengan darah dan mayat. Hanya dari jauh saja, dia terbiasa. Namun menggeledah mayat adalah hal yang berbeda.
Dia dapat melihat luka dan organ dalam dari mayatnya. Darah yang mengental dan bau amisnya yang menyengat tak bisa dihindarkan.
Ray merasa kejam karena telah meminta wanita untuk melakukan hal itu.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri, Terumi. Aku bisa mengatasinya. Tak bagus jika kamu sakit kepala sebelum pertempuran sebelumnya.”
Terumi tampak ingin memaksakan dirinya lagi namun saat Ray menatap tajam dia akhirnya menyerah.
“Baiklah. Maaf telah membebanimu untuk hal ini.”
“Tak masalah. Aku tidak keberatan karena ini bukan hal yang berat.”
Ray akan bermasalah ketika Terumi tak lagi bisa melakukan pertempuran apapun. Pada akhirnya jauh lebih merepotkan kehilangan kekuatan tempur yang berharga ketimbang melakukan pekerjaan kotor seperti melucuti mayat.
Mereka pergi dan menuju lantai dua dengan penuh kewaspadaan. Ada berbagai hal yang perlu diperhatikan.
“Tampaknya listrik di tempat ini telah mati. Kita tak perlu melakukan hal-hal seperti mewaspadai CCTV.”
“Ya. Namun kita tak tahu apa yang terjadi di lantai selanjutnya. Barangkali mereka lebih memilih memasang perangkap ketimbang menempatkan seseorang.” Terumi mengemukakan pendapatnya.
Ray sendiri ragu bahwa mereka akan menyiapkan peledak di lantai-lantai yang akan dia lalui. Tak ada orang yang cukup bodoh untuk melakukannya.
Hal itu akan terjadi bila mereka gila atau sekelompok orang yang ingin bunuh diri.
“Kita takkan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Untuk saat ini mari kita periksa apa yang ada di lantai dua. Aku akan pergi sendiri, kamu beristirahat di sini sebentar. Jika terjadi sesuatu aku akan memberikanmu tanda.”
Ray terlihat serius dan tak main-main. Ia tak suka dengan orang yang keras kepala dan terlalu memaksakan diri.
Terumi menenggak air liurnya, mengangguk dengan canggung dan mengikuti nasihatnya.
“Baiklah. Berhati-hatilah dan jangan ragu untuk meminta bantuanku.”
“Ya. Aku pasti akan melakukannya.”