
Di malam yang sama setelah membuka data tentang Arthur, Ray tak lupa untuk menghancurkan flashdisk tersebut karena khawatir dirinya membuat kesalahan dan membuat orang lain mengetahuinya.
Ray menginjak benda itu sampai tak berbentuk sebelum membuangnya ke tempat sampah. Sekalipun barangnya tak segera lenyap, tidak ada orang aneh yang akan menggali tumpukan sampah.
“Tampaknya sudah terlalu malam sampai-sampai hanya ada sedikit orang di sini,” gumam Ray selagi memandang sekelilingnya.
Peristiwa tentang penemuan mayat pasti membekas dalam ingatan semua orang. Mereka tentunya memiliki kekhawatiran bahwa korban selanjutnya adalah diri mereka sendiri.
Wajar untuk berpikir menghindari berkeliaran ketika malam tiba. Situasi ini seperti ‘Jika kau pergi di malam hari maka Jack akan membunuhmu’.
Siapa yang tidak memiliki ketakutan akan serangan di malam hari? Semuanya akan takut tentunya. Hanya orang-orang yang mungkin memahami situasinya atau percaya diri dengan Degree-nya saja yang akan berkeliaran.
Saat Ray berkeliaran tidak jelas, ia melihat seseorang dari kejauhan yang bersandar pada dinding. Orang itu jelas menyadari kehadiran Ray dan menggunakan ekor matanya untuk mengundangnya.
Ray mengikutinya dan menemukan orang itu pergi ke bioskop. Ia mulai memesan tiket dari film secara acak dan menggunakan tangannya untuk menunjukkan bahwa ia mentraktir Ray soal itu.
Tentunya tak perlu menolak hal ini. Meski begitu kewaspadaan diperlukan karena Ray tak tahu apa yang menantinya di dalam.
Ruang bioskop yang di dalamnya sudah ada beberapa orang menunggu.
“Kamu bisa duduk di manapun degan syarat bisa mendengar percakapan diantara kita.”
Pria yang membawa Ray ke sini adalah Guren. Orang aneh dengan Degree aneh yakni membalikkan kata-katanya dari kebohongan menjadi kenyataan. Ray sudah lama tidak melihat orang ini. Entah apa yang Indri minta ia lakukan sampai-sampai Guren tak tampil di permukaan dua bulan ini.
“Lama tidak berjumpa, tampan.”
“Kamu tampaknya sehat-sehat saja. Dan, entah mengapa semakin mempesona.”
Seperti biasa bahwa Rani dan Rina akan menggodanya dengan kompak seperti itu. Ray juga lama tak melihat mereka dan menemukan perubahan yang cukup signifikan. Entah mengapa keduanya tampak jauh lebih dewasa dari sebelumnya.
“Silahkan duduk di manapun kamu suka,” Indri tersenyum ramah dan meminta Ray memilih kursinya.
Tentunya Ray akan memilih kursi yang tidak jauh dari tempat keluar dan tempat yang tidak ada orang di belakang punggungnya. Bahkan jika orang-orang di sini ada rekan, bagi Ray ia seperti masuk ke kandang singa.
Semuanya hening selama beberapa waktu sampai akhirnya film mulai di putar. Reid tidak tahu tentang kisah apa ini namun ia coba menikmatinya sedikit.
Tampaknya tempat ini juga sudah memiliki pengaturan khusus di mana suaranya tidak terlalu kencang namun tidak terlalu pelan juga. Hal ini digunakan bahwa perekam suara atau sejenisnya tidak akan berguna.
‘Wanita ini pasti otaknya. Sungguh mengerikan karena ia telah meramalkan kewaspadaanku,’ pikir Ray.
“Apa yang kalian inginkan?” Ray membuka percakapan.
“Tidak ada. Aku hanya tertarik dengan rencana yang kamu siapkan itu.”
Ben datang membantu atas perintah Indri. Wanita ini meramalkan banyak hal, ia bahkan mengerti kalau Ray akan melakukan sesuatu dan alasan itulah yang mendorongnya mengirim Ben.
“Kami telah melakukannya sesuai instruksi. Semua bom yang ada telah tersebar luaskan. Selain itu, kemampuan Ben akan berguna dan bekerja sesuai keinginan.” Indri yang berbicara mewakilkan Ben, yang untuk beberapa alasan menggunakan riasan dan melambaikan tangannya.
‘Apa dia waspada dan menggunakan Degree-nya? Atau mungkin ada hal lainnya.’
“Aku bisa memahami separuh tujuanmu melakukannya. Akan tetapi, ada banyak hal yang tidak aku mengerti tentang ini,” ujar Indri. “Apa tujuanmu yang sebenarnya, Ray?”
Indri tahu dari Ben kalau Reid ingin menghilangkan setengah populasi orang yang ada di sini. Hal itu memang pembunuhan masal tetapi cepat atau lambat memang akan terjadi.
“Kamu akan tahu saat waktunya tiba bagimu mengetahuinya. Aku tidak perlu memberikan penjelasan apapun tentang tujuanku.”
Satu minggu dari sekarang akan menjadi pertaruhan besar untuk Ray dalam mengungkap Degree Arthur dan bagaimana bisa orang ini memiliki dewi keberuntungan di sisinya.
“Jadi begitu. Hanya untuk memastikan, kamu tidak membuat kesepakatan apapun dengan pihak lainnya, kan?” tanya Indri dengan nada yang terkesan mengejek. “Aku membunuh Sebastian karena orang itu menjengkelkan. Aku juga mendapatkan beberapa informasi tentang Virgo meskipun gagal dalam penangkapannya.”
Ray tidak tahu bahwa ada rencana besar yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Indri mencoba menangkap Virgo. Bagaimana caranya? Tidak diketahui namun yang pasti ada hubungannya dengan beberapa orang lain di sini.
“Guren, Rani dan Rina sudah melakukan pencarian secara berkala. Kami berhasil melacaknya dan memojokkannya namun gagal karena bajingan itu tidak lemah.”
Indri menyampaikan bahwa bahkan Virgo mampu mengelabui kemampuan Hiroshi. Bahkan orang itu tidak dengan mudah terjebak dalam permainan kata Rani dan Rina.
Sementara tentang kebohongan Guren, sangat mudah mengatasi orang ini. Kata-kata Guren akan menjadi kebohongan, maka untuk mengatasinya cukup membuatnya tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Dan kamu tahu apa yang mengejutkanku? Virgo— bajingan ini adalah seorang wanita yang sangat dekat denganmu selama ini.”
Ray mengangkat alisnya dengan terkejut. Mengetahui jenis kelamin Virgo sudah merupakan kemajuan besar, terutama ketika Indri mengatakan bahwa orang ini dekat.
“Apa kamu mengetahui wajahnya atau setidaknya identitasnya?” tanya Ray yang sangat tertarik terlepas apakah ini kebenaran atau tidak.
“Saat wanita itu terpojok, Hiroshi berhasil menghancurkan penutup wajahnya dan mengekspos siapa orang itu,” ujar Rani.
“Ya. Kita sangat beruntung bahwa wanita itu tidak menggunakan topengnya yang biasanya. Namun, identitasnya tetap saja sangat mengejutkan. Aku bahkan tidak menduga kalau dia orangnya,” ujar Rina.
Hiroshi yang sejak tadi diam mengangguk, “Dia adalah gadis yang selalu menempel dengan kelompokmu.”
Ray bertanya-tanya siapa wanita itu. Selama ini ia tidak memiliki kecurigaan kepada orang-orang di sekitarnya sama sekali. Namun setelah mengambil pertimbangan tentang berbagai kemungkinan Degree yang ada, tidak sulit berpikir bahwa itu mungkin saja.
“Aku lelah untuk berputar-putar,” ujar Reid. “Tidak bisakah kalian langsung mengatakannya saja dengan jelas?”
Indri cekikikan dan melemparkan sebuah tablet dengan foto seorang gadis. Itu adalah foto yang menunjukkan di mana momen Indri beserta rekannya memojokkan Virgo.
Ray mengecek slide lainnya ketika Hiroshi menggunakan katananya untuk memotong toleng Virgo.
Saat topeng itu terbuka dan menunjukkan wajah yang terekspos, bahkan Ray sekalipun tidak mampu berkata-kata.
Indri kemudian bicara menggantikan Ray yang diam.
“Identitas Virgo yang sebenarnya adalah sahabat baik dari Erina Queen dan mantan wakil serikat Redwest. Orang ini adalah wanita yang dipanggil Mein.”
Wanita yang seharusnya sudah mati di tangan Ray, nyatanya masih hidup seperti hantu gentayangan.