
Dari waktu yang ditunjukkan oleh jam, sekarang telah menunjukkan waktu di pagi hari. Di waktu ini harusnya sebagian orang akan bangun dan mungkin juga sebagian tetap tidur dan bermalas-malasan.
Terumi memakai beberapa conditioner di wajahnya dan sangat jarang untuknya berdandan, ia bahkan sampai rela membuang DP untuk pakaian kasual, sampo hingga parfum yang cukup harum.
Ia memegang dadanya yang berdegup kencang, “Kira-kira reaksi seperti apa yang akan ia miliki.”
Terumi menantikan waktu di mana ia menunjukkan penampilannya ini kepada orang itu. Terumi tentunya tidak akan pergi sejauh ini kalau bukan untuk berusaha menarik minatnya.
“Aku penasaran bagaimana Ray akan bertindak melihat ini,” Terumi melihat dirinya lagi ke cermin, pipinya sudah cukup merona, “Apakah ia mau pergi berkencan denganku?”
Terumi tidak menganggap dirinya cantik, tetapi ia yakin setidaknya dirinya sudah termasuk ke kategori banyak diminati pria. Selain itu, dari yang ia ketahui banyak pria dari Indonesia memiliki ketertarikan besar terhadap wanita jepang.
Setidaknya Terumi memiliki kepercayaan diri bahwa dirinya tidak akan ditolak, terlepas dari wanita rupawan lainnya yang berada di sekitar Ray. Seperti misalnya Erina dengan kecantikan yang anggun, Mona dengan keimutannya, dan barang kali Indri yang merupakan wanita bergaya tampan perlu dipertimbangkan.
Ray dikelilingi oleh wanita seperti itu dan Terumi memiliki banyak pesaing.
“Yosh! Aku akan berusaha!”
Terumi pergi meninggalkan kamarnya dan dengan gugup berjalan ke tempat Ray berada harusnya. Tempatnya dengan Ray berada di lokasi yang cukup jauh sehingga butuh waktu untuk sampai ke sana.
Dengan wajah riang ia pergi ke tempat Ray, setiba di depan pintunya Terumi diam dan tak menunjukkan tanda akan mengetuk atau memberitahukan dirinya ada di sini.
‘Aku telah pergi sejauh ini, mustahil untuk kembali!’
Terumi meyakinkan dirinya dan mengetuk pintunya beberapa kali, “Ray, ini aku Terumi. Apa kamu sudah bangun?”
Tidak ada jawaban yang datang dari dalam, Terumi terus menunggu selama kurang dari satu menit dan tidak menemukan balasan apapun.
“Apa kamu belum bangun?” Terumi memegang gagang pintunya dan menemukan itu tidak terkunci. “Aku masuk, ya.”
Ia perlahan membukanya, hatinya sedikit menantikan tentang bagaimana Ray tertidur di kasurnya seperti bayi. Bagi wanita yang tengah jatuh hati sepertinya, melihat pria terkasih tidur adalah hal yang dinantikan.
Bagian dalam ruang mulai terbuka, bukan pria yang dirindukan tetapi pemandangan gadis kembar tanpa busana berbaring di kasurnya.
Terumi sesaat tidak bisa bernapas beberapa saat karena pemandangan tersebut. Ada pemikiran yang bisa ia ambil namun pada situasi di mana dadanya mulai sesak, logika tak bisa bergerak seperti semestinya.
“... ini, mungkinkah?” Terumi memiliki beberapa pemikiran, ia berusaha menyangkal apa yang ia lihat saat ini.
...*******...
Pagi hari tiba, meski Ray tak melihat langit secara langsung, siang dan malam diketahui melalui jam yang tersedia. Fitur ini baru-baru muncul bertepatan dengan hilangnya sistem serikat dan hal lainnya.
Tugas juga belum muncul sampai sekarang dan terbukti bahwa Secret tidak akan berbohong tentang tugas dan uji coba.
“Ini sudah pagi.” Ray meregangkan tubuhnya sebelum berbalik dan menemukan Erina telah terbangun.
Sepanjang malam Ray harus memegang tangan wanita ini dan harus menginap. Meski tubuhnya terasa sakit karena harus tidur dalam posisi duduknya, hal tersebut tidak sepadan dari membiarkan Erina berada dalam tangannya.
Selama malam yang panjang ini Ray juga memahami perkataan yang disampaikan Ben. Entah apakah orang itu sungguh-sungguh atau hanya memberikan jebakan, Ray bisa mengujinya nanti.
“Sangat aneh ketika orang itu selalu menggunakan kata ‘Kita’ pada percakapan kemarin. Aku pikir itu memang memiliki niat tersembunyi.”
Menguji apakah kesimpulannya benar atau tidak. Tergantung pada situasinya, maka Ray akan mampu menggerakkannya untuk hal tertentu. Kemampuannya memang sangat dibutuhkan oleh Ray dan hal itu juga salah satu alasan Ray menerima kerja sama Indri.
“Sudah waktunya aku pergi,” kata Ray, “Kamu tetap di sini dan beristirahatlah untuk mengembalikan kekuatan yang hilang. Kunci pintunya. Jangan izinkan siapapun masuk dan jawab saja kamu ingin sendiri.”
“Lalu, makan dan minumlah dengan teratur sesuai jadwal yang aku berikan sebelumnya. Tempat ini memiliki kamar mandi tersembunyi dan beberapa ruang lainnya. Kamu bisa menggunakannya saat dibutuhkan. Kamu juga dilarang memegang benda tajam.”
Ray memberikan beberapa instruksi yang tentunya akan dipatuhi oleh Erina bahkan jika ia tidak menginginkannya. Kondisi ini memang unik karena akan tampak seperti hipnotis abadi yang mana korban takkan bisa mendapatkan kesadaran berpikirnya begitu saja.
Meski begitu banyak hal yang masih belum pasti. Bahkan Ray sendiri ragu seberapa lama kemampuan si kembar akan bertahan.
“... ya.”
Ray meninggalkan Erina sendirian dan berjalan menuju kamarnya selagi mengisi kepalanya dengan beberapa pemikiran.
‘Aku harus menghindari Erina melakukan kontak dengan siapapun sekarang ini. Terutama pria yang mulai mencurigaiku.’
Retsuji Arthur. Ray sudah sejak lama merasa tidak nyaman dengan variabel bernama Arthur ini. Ia sudah melihatnya selamat dari peristiwa menakjubkan di mana manusia tidak bisa selamat harusnya.
Salah satunya adalah ketika pertama kali Ray bertemu dengannya. Saat itu Arthur keluar dari gedung yang terbakar dan meledak. Kemungkinan untuk selamat mendekati satu persen, tetapi Arthur berhasil meraih satu persen tersebut.
Hal tersebut tentunya tidak bisa dipercaya dengan cara apapun, tetapi faktanya itu terjadi.
“Sebaiknya aku harus mempersempit kemungkinan.”
Ray harus mencaritahu apa Degree-nya dan juga melenyapkan wanita yang berada di bawah pelindungnya. Kemampuannya analisis yang dimiliki Mona jelas sesuatu yang sangat berharga juga berbahaya.
Itu tidak masalah ketika Degree tersebut datang ke bawah telapak tangannya, tetapi wanita itu jelas terpincut oleh Arthur sehingga hal tersebut harus dimusnahkan.
Saat tiba di lorong kamarnya, Ray menemukan Terumi datang dan mulai membuka kamarnya. Untuk beberapa alasan yang tidak diketahui punggungnya terasa merinding. Firasat buruknya kemudian muncul ketika melihat Terumi terdiam membeku dan mulai menangis.
‘Jangan bilang ...’
Ray bergegas menghampirinya dan memanggil, ia juga mengambil kesempatan untuk melihat kamarnya, “Terumi. Apa yang kamu laku—”
Kata-kata tak bisa lagi keluar dari mulutnya. Kepala Ray sangat jarang berhenti berputar dan mengolah informasi. Ray tentunya terkejut bahwa dua bocah itu masih tertidur lelap di kamarnya bahkan tanpa busana.
“Aku... .” Terumi memegang dadanya, selagi menahan air mata.
“Tunggu, kamu salah–”
“Awalnya aku pikir salah kamar, tetapi kamu juga datang ke sini,” Terumi menatap Ray dengan penuh air mata. “Begitu. Wajar untukmu menyukai gadis lain. Maafkan aku!”
Terumi melangkah pergi dengan cepat selagi meninggalkan jejak air matanya. Ray tak bisa mengatakan apa-apa selagi melihat kepergiannya.
Hal-hal yang merepotkan terus dan terus saja terjadi tanpa henti. Ray tidak tahu ada apa dengan semua ini namun untuk sekarang ...
“Baiklah, apa yang harus aku lakukan kepada mereka?”