
Ada sekitar dua puluh orang yang berhasil menjawab dengan benar.
Jumlahnya lebih banyak dari yang diharapkan.
“Aku pikir hanya akan ada sedikit orang yang bisa menjawabnya.” Steve bergumam dengan sedikit kekecewaan dalam nadanya.
Dengan ada banyaknya orang yang selamat sama artinya bahwa saingan mereka jadi lebih banyak.
Ditambah dengan orang-orang yang sejak awal sudah melewati ujian Guardian, ada sekitar tiga puluh orang yang akan bersaing di tahap akhir.
—Seseorang telah menduduki kursi.(5/6)—
“Sial! Bergegaslah! Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika enam orang telah duduk!” Edward mendesak rekannya untuk melangkah lebih cepat.
Steve juga mulai menurunkan Diana yang mulai mengembalikan kekuatannya.
“Tetaplah berwaspada karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di tahap akhir!”
Tahap akhir kali ini bisa dianggap sebagai perlombaan siapa cepat dia dapat. Semua orang dihantui oleh ketergesa-gesaan karena hanya tersisa satu kursi.
Ray bahkan mulai merasa khawatir akan sesuatu. Tidak hanya tentang kursi namun Alfa, Beta dan Testa mengkhawatirkan.
Mengapa mereka tidak bertindak seperti perintahku?
Ray telah mengetahui ketiga Degree orang itu. Si Alfa memiliki Degree sebagai pesulap dan harusnya dia bisa mengeluarkan asap serta membuat ilusi dirinya.
Beta memiliki Degree ketapel yang artinya dia ahli dalam menembak. Sementara Testa seorang koki, maka tak ada keraguan dia bisa memunculkan pisau dan membunuh orang.
Rencananya adalah membuat kekacauan di mana Alfa membutakan sekitar dengan asapnya, Beta menembak asal untuk membuat kerusuhan dan Testa akan membunuh orang di sekitarnya.
Harusnya rencana telah berjalan namun nyatanya tidak sama sekali. Ray bahkan tak menemukan ketiga orang itu di manapun.
Mungkinkah mereka membelot padaku? Cukup bernyali juga mereka.
Jika faktanya begitu maka Ray tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak memiliki pilihan lain selain kembali ke rencana awal.
Ketika Ray berniat melakukan sesuatu secara mendadak palu besar jatuh dari langit-langit. Ray segera melompat dan menghindarinya, tindakan itu membuatnya terpisah dari kelompok Edward.
Tak sampa di sana, kapak besar mulai muncul dan berayun dari kiri ke kanan. Jarum kecil ditembakkan di satu tempat dengan cepat. Berbagai macam perangkap berbahaya mendadak aktif begitu saja.
“Ini kesempatan, bunuh orang itu!”
Ray mendengar suara dari kejauhan dan menemukan Alfa, Beta dan Testa berlari ke arahnya.
Benar saja bahwa ketiga orang itu membelot dan tak menjalankan rencananya melainkan berniat membunuh Ray.
“Mereka lupa bahwa aku punya—”
—punya pistol.
Itu yang ingin Ray katakan namun dia berhenti ketika menyadari pistolnya berubah menjadi pisang.
Tidak, ini bukan berubah. Sejak awal aku tak lagi memegangnya. Ini hampir seperti—
“Trik sulap, kah.”
Ray kemudian menyadari bahwa sejak awal Alfa, Beta dan Testa tak pernah benar-benar tunduk kepadanya.
Mereka membuat kesempatan di mana Ray mengampuni mereka dan ketika dia lengah memasukkan pistol ke sakunya, disitulah Alfa melakukan aksinya.
“Ku ha ha ha, tak ada seorangpun yang bisa lari dari trik sulapku!” Alfa tertawa senang selagi menunjukkan pistol Ray yang ada di tangannya.
“Kerja bagus, bos! Sudah kuduga Degree-mu sangat cocok denganmu sejak saat aku mengetahuinya!”
“Ya! Kita akan jadi yang terhebat karena bos memiliki Degree yang luar biasa!”
“Tentu saja! Kita akan membunuh dua orang yang duduk di kursi agar tersisa tiga kursi kosong! Sejak awal tak ada larangan membunuh orang yang duduk di kursi!”
Perkataan Alfa menjatuhkan bom yang coba Ray hindari yakni kekacauan lebih besar. Orang-orang yang sebelumnya telah putus asa dan menyerah mulai mendapatkan harapannya.
Mereka percaya diri bisa membunuh orang yang sudah duduk untuk keselamatan mereka.
Semuanya menjadi semakin kacau karena perkataan Alfa.
“Tak ada waktu untuk keluhan.” Ray dengan cepat berdiri dan berlari menuju kelompok Edward untuk memberi arahan kepada mereka.
Saat terus berlari Ray menghindari semua jebakan dan peluru ketapel yang ditembakkan Beta kepadanya.
“Dia berbahaya, jangan pernah biarkan dia lepas karena dia akan menggigit kita nantinya!”
Meski Alfa percaya akan kemenangannya namun dia takkan bisa tenang jika Ray tak mati. Dia telah mengetahui lebih dari siapapun bahwa Ray sangatlah berbahaya.
“Edward! Mari bergabung dan hadapi—”
Ketika Ray berniat menggunakan Edward dan kelompoknya, dia tak menduga bahwa Edward berputar arah dan mengirimkan tendangan kuat kepada Ray.
Tentunya Ray berhasil menahannya meski sedikit terlambat dan kembali jatuh. Ray menatap dingin Edward dan kelompoknya.
“Maaf, Ray. Sejak awal kamu bukan bagian dari kami. Aku tahu bahwa kamu berniat menggunakan ketiga orang itu untuk membunuh kami namun berakhir dikhianati.”
Ray terkejut dan kemudian menyadari bahwa Edward mengamatinya meski Ray telah mendiskusikan rencananya secara sembunyi-sembunyi.
Pada akhirnya hanya ada satu jawaban yang mungkin, “Begitu ... kamu bisa membaca gerak bibir.”
Tak ada jawaban yang lebih memungkinkan dari itu.
“Selain itu jika kamu ingin membunuh kami, seharusnya kamu mulai dengan Steve dan Diana. Namun karena kamu tak melakukannya maka sudah cukup bukti bahwa Degree racun itu tipuan.” Jack menambahkannya.
Edward dan kelompoknya segera pergi menjauh dan melanjutkan perjalanannya.
Ray tak merasa marah atau frustasi, dia hanya menghela napas dengan kasar.
“Aku terlalu meremehkan mereka, kah. Ini menyedihkan karena sudah lama aku tak mengalami kegagalan.”
Terakhir kali Ray gagal melakukan sesuatu adalah ketika dia masih kecil. Kegagalan tersebut membuatnya frustasi dan sejak saat itu hingga sekarang Ray tak pernah mengalami kegagalan sampai membuatnya benar-benar bosan.
Hanya di tempat ini, uji coba yang dilakukan Secret, Ray mengalami kegagalan kecil.
Ray perlahan berdiri dengan wajah tertunduk.
“Takkan kubiarkan kamu lolos kali ini!”
Dor!
Alfa menembakkan pistolnya namun meleset dan hanya menembus bahu kiri Ray.
Ray sama sekali tak bergeming meski timah panas menembus bahunya. Di waktu itu juga suara dan getaran yang keras terdengar dari arah kursi.
Semua orang berhenti bergerak dan menatap sumbernya. Tepat di langkah terakhir menuju kursi yang tersisa, Erina melemparkan bom dan meledakkannya.
Tindakannya membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya seakan sengaja melakukannya.
“Aku sengaja menyisakan satu kursi untuk melihat bagaimana kamu memperebutkannya. Namun apa hanya segitu saja batas milikmu? Aku kira kamu spesial, namun kamu juga pecundang seperti yang lainnya.” Erina terlihat kecewa kepada Ray dengan sangat.
Untuk beberapa alasan ruangan yang berisik menjadi sangat sunyi, sangat tenang. Seakan-akan waktu yang berjalan lurus menemui pemberhentiannya. Seakan-akan dunia yang sibuk menjaga keseimbangan sengaja berhenti untuk momen ini.
Ah~, sudah kuduga ... . Ray telah memastikan sesuatu di dalam kepalanya.
Di ruangan yang penuh diam terdengar cekikikan. Dari cekikikan berubah menjadi tawa besar.
“Ku ku ku, ku ha ha ha, KU HA HA HA!”
Tatapan semua orang berubah seirama, mereka menatap Ray seperti menatap orang gila.
Bagaimana tidak? Tanpa sebab yang jelas Ray tertawa dengan sangat keras.
Takkan seorangpun ada yang bisa memahami Ray. Orang seperti itu akan muncul di dalam mimpi saja.
“Ada apa dengannya?”
“Dia mungkin sudah gila, abaikan saja dia, sebaiknya kita rebut kursinya sebelum orang lain!”
Semua orang mengacuhkan Ray yang terus tertawa keras tanpa sebab. Hanya Alfa dan rekannya, Edward dan rekannya, juga Erina dan mereka yang telah duduk di kursi menatap Ray dengan penasaran.
Ruangan yang mulai kembali ramai tersebut, Ray merasa senang. Sangat senang untuk pertama kalinya.
“Sudah kuduga ... Tempat ini takkan membuatku bosan!”
Saat mengatakan kalimat tersebut Ray tanpa peduli berlari maju menuju Alfa.
Alfa yang panik menembak secara asal namun Ray bergerak cepat dan berada di depannya.
Ray tersenyum lebar dengan mengerikan dan memberikan pukulan kuat di perut. Satu pukulannya membuat Alfa kehilangan kesadaran dan jatuh. Ray menginjak tengkuknya dengan kuat selagi mengambil alih pistolnya kembali.
Dengan pistol di tangannya Ray menembak Beta dan Testa tanpa keraguan. Kemudian dia beralih menuju Edward dan kelompoknya yang terdiam.
“Terima kasih telah memberikanku kegagalan, Edward! Terima hadiah dariku!”
Ray menembak Edward namun akurasi tembakannya sedikit meleset sehingga Edward mampu menghindarinya.
Dia mengganti targetnya menjadi para gadis yang terlihat sok kuat.
Dor!
“Pergi dari sana, Jane!” Edward mendorong Jane dan menggantikan dirinya terkena tembakan.
Meski begitu dia masih diberkati karena peluru Ray tak menyentuh organ vital sama sekali. Walaupun begitu kegilaan Ray tak pernah berakhir.
“Aku akan berdiri di puncak tempat ini! Mau bagaimanapun ... AKU SEORANG RAJA!”
Raja akan berdiri di puncak manusia. Ray akan membuat dirinya menjadi Raya di tempat ini dengan atau tanpa bantuan Degree.
Ray berlari dan meraup benda di kantungnya. Dia menarik pin yang mengganjal benda tersebut dan melemparkannya ke kelompok Edward.
“MAKAN DEBUKU!”
Mereka menatap benda seukuran genggaman tangan yang dilemparkan Ray.
Itu bukan bom yang sama dengan yang dilemparkan Erina sebelumnya, tetapi sesuatu yang lain.
“PEJAMKAM MATA!” Edward berteriak dengan keras dalam upaya memberikan peringatan namun apa daya.
Tak seorangpun sempat bereaksi sama sekali sampai benda itu meledak dan mengeluarkan sinar putih yang membutakan mata.
“Aku mungkin gagal namun kegagalan tak menjadikanku pecundang. Jika ada masa di mana aku gagal, maka aku harus membalasnya!”
Ray berkata dengan sedikit cekikikan selagi berlari dan menutup matanya dengan jubahnya.
Tak ada waktu untuk menyesal hanya karena gagal. Jika kamu gagal maka balas hal yang membuatmu gagal dengan kegilaan!
Senjata terakhir yang Ray simpan yakni, flashbang membutakan pengelihatan semua orang. Saat semua orang menjadi buta maka tak diragukan lagi Ray menginginkan sebuah pembantaian.