The Degree

The Degree
Pesan Virgo



Satu bulan sejak penyerangan Rebellion berlalu. Aliansi antara Blueeast dan Redwest terbentuk. Meski tak ada satu dari dua serikat besar tersebut memilih bergabung menjadi sebuah kesatuan, fakta bahwa mereka bisa bekerjasama tanpa masalah menunjukkan bahwa tak ada masalah dengan itu.


Kenyataan lainnya adalah baik Blueeast maupun Redwest menunjukkan sikap yang kooperatif sehingga tak ada masalah apapun yang berarti.


Bukannya tak ada masalah seperti rasa permusuhan dan sulit bercengkrama. Itu adalah hal yang wajar mengingat dulunya mereka musuh dan mendadak jadi teman. Itu sikap yang wajar karena anggota serikat berpikir bahwa ada konspirasi dibalik ini semua.


Antara serikat Redwest ditipu oleh Blueeast yang ingin mengambil keuntungan dari Redwest yang hancur. Atau juga, Redwest berusaha mendapatkan bantuan Blueeast demi menjaga serikatnya tetap berdiri kokoh.


Mereka sama sekali tak tahu apa yang terjadi di belakang layar termasuk fakta bahwa dua pemimpin tersebut terikat hubungan darah.


Erina dan Ordo berpikir tak ada yang penting dari mengungkapkannya. Mereka cukup memerintahkan untuk tak coba melukai satu sama lain karena mulai dari titik ini mereka adalah teman.


Meski tidak semua orang Blueeast akan mematuhinya, setidaknya orang-orang dari Redwest tidak akan berlaku macam-macam.


Selama satu bulan tersebut dua serikat melakukan persiapan penuh untuk menghancurkan Rebellion. Kenyataan bahwa ada kemungkinan Virgo mengandalkan misil takkan berubah.


Sampai saat itu Ordo memutuskan untuk membagi pasukan menjadi beberapa perkemahan dengan jarak tertentu. Untuk menghindari ada satu serangan misil secara beruntun maka langkah itu perlu dilakukan.


Karena mereka tak berniat diam dan menunggu, Ordo tak mempedulikan pertahanan dan memfokuskan diri untuk kelak menyerang.


Beberapa hari setelahnya mereka kembali digemparkan setelah penemuan kaset yang datang bersamaan dengan hancurnya salah satu perkemahan.


Saat ini semua orang yang memiliki peran penting berkumpul di ruangan Erina karena ia juga ingin melihatnya. Jika bukan karena kondisinya yang memprihatinkan maka mereka takkan repot-repot memesan laptop dengan harga tak murah.


Mein menyetel rekaman dari kaset tersebut dan semua orang menanti dengan gugup.


“Kira-kira apa yang coba disampaikan Virgo?” Terumi sedikit takut saat membayangkan bahwa sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi.


“Entahlah. Yang pasti orang ini takkan menyampaikan kabar gembira.” Leo merasa yakin karena mengingat kepribadian Virgo sampai kini, orang itu bukan tipe yang akan melakukan hal menyenangkan.


“Kita akan tahu setelah menyaksikannya.” Ordo tidak dalam suasana hati yang baik.


Itu karena perkemahan yang hancur tak hanya menghilangkan banyak nyawa, tetapi banyak persediaan telah dicuri.


Orang-orang yang ada di sana dilucuti, bahkan ada yang menghilang. Orang yang menghilang tersebut tak diketahui pasti berapa jumlahnya. Namun mudah menebak bahwa setidaknya ada beberapa penyusup.


“Sebastian. Kamu yakin sudah memeriksa semua dan tak ada penyusup?” tanya Ordo geram.


Kehadiran penyusup adalah hal paling merepotkan dan menyebalkan. Ordo benar-benar marah jika keberadaan tersebut dikatakan tidak ada.


“Ya. Aku yakin telah memeriksanya dengan benar dan tak ada indikasi keberadaan penyusup. Entah mereka menyelam dengan baik atau memang tak pernah ada keberadaannya.”


Sebastian menyampaikan bahwa mungkin Virgo sengaja melakukannya dengan tujuan mengecoh dan mengalihkan perhatiannya.


Ordo hanya diam tanpa kata apapun lagi untuk disampaikan.


Sementara Ray yang sejak tadi diam hanya menatap percakapan mereka. Ray menatap Sebastian selama beberapa detik sebelum kembali melihat Mein yang menyiapkan videonya.


“Ini dia.” kata Mein. “Mari kita dengarkan.” lanjutnya.


Video diputar. Ditampilkan Virgo dengan topengnya dan beberapa orang di belakangnya. Ia cukup pintar karena menggelapkan ruangan untuk menghindari pelacakan.


“Salam, kalian orang-orang bodoh. Aku yakin kalian semua telah berkumpul dan membentuk aliansi untuk menghancurkanku.”


Virgo tak berbasa-basi dan langsung pergi ke poin utama yang ingin ia bahas. Cukup mudah menebak bahwa Ordo dan Erina pasti akan bergabung untuk menghancurkannya.


“Meski aku bisa saja mengabaikan dan menghancurkan kalian saat ini juga. Jika itu terjadi sayangnya kesenangan akan berakhir. Secret, organisasi sialan ini pasti menginginkan sebuah pertunjukan besar.”


Pertunjukan yang dimaksud adalah kehancuran yang melibatkan semua pesertanya. Ray berpikir bahwa itu hanya bualan belaka karena untuk apa Secret berencana melenyapkan semua peserta uji coba jika tujuan mereka adalah penelitian.


Namun mengingat semua ujian sampai kini, Ray tak memiliki opini untuk membantahnya.


“Pertunjukan besar yang akan aku tunjukkan adalah pertunjukan yang akan mengakhiri tugas ke lima. Sesuatu yang telah lama didambakan yaitu berakhirnya neraka ini.”


“Aku akan menjatuhkan tempat ini beserta isinya. Yang mana tugas ke lima menuntut kita menghancurkan tugasnya. Dalam dua minggu lagi, akan tiba penentuan siapa yang akan bertahan. Dan, siapa yang akan hancur. Persiapkanlah diri kalian ... selagi masih ada waktu.”


Video berakhir dengan kata-kata menegangkan tersebut. Seisi ruangan menjadi hening dan tak seorangpun mengatakan apa-apa.


Ray menghela napas dan memicingkan matanya, “Dua minggu. Waktu yang singkat dan secara kebetulan bertepatan dengan berakhirnya persiapan kita.”


“Itu bahkan sangat mencurigakan jika memiliki waktu yang tepat dengan persiapan kita. Aku benar-benar yakin setidaknya ada penyusup.” Ordo kembali menatap Sebastian, kali ini ia benar-benar marah. “Cepat lakukan pemeriksaan menyeluruh atau kehancuran akan menanti kita!”


“Sayangnya aku tak bisa membantu apapun tentang itu. Mein, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kabarkan aku secara berkala atas persiapannya.”


“Baik, Nona Erina.”


“Lalu, Ray. Bisakah kita bicara empat mata nanti? Ada hal yang ingin aku sampaikan." Erina tersenyum nakal dan sorot matanya seakan-akan memiliki hal penting untuk disampaikan.


Ray mengangguk dan tak menolak. Ia memperhatikan bahwa untuk beberapa alasan Terumi terlihat sedih dan memegang dadanya.


“Entah apa yang akan menunggu kita setelah ini.” kata Leo. “Setidaknya kita akan membuat banyak dosa nantinya.”


Peperangan akan selalu menuntut sebuah pembunuhan. Dan, pembunuhan berarti membuat sebuah dosa yang tak bisa dimaafkan.


Sejak pertama kali datang ke tempat ini dan menjalani tutorial, mereka telah diajarkan bahwa untuk bertahan hidup di tempat ini, halal membunuh manusia untuk tetap bertahan.


“Setidaknya aku yakin ini perang pertama dan terakhir bagi kita. Harap saja begitu.” Mein berkata lirih dan dengan maksud tertentu.


“Aku harap ... tak ada satupun dari kita menghilang. kata Terumi memegang dadanya yang terasa sakit.


Pertemuan dibubarkan dan sebelum melanjutkan pembicaraan dengan Erina, Ray pamit untuk pergi ke satu tempat.


Ia pergi ke atap gedung dan menatap pemandangan Open World dengan seksama.


“Bisa jadi ini terakhir kalinya aku melihat keindahan Open World.”


Tak lama lagi tempat ini akan hancur karena tugas tak masuk akal dari Secret. Yah, setidaknya, Ray sudah memiliki kesiapan untuk mengeksekusi rencananya.


“Virgo. Aku tak tahu siapa dirimu. Jika kamu bermaksud memainkan pertunjukkan liar biasa maka silahkan saja. Selama aku yang bermain sebagai dalang, itu sudah cukup.”


...[****]...


...Prolog....


Ini adalah cuplikan dari bagian masa depan yang akan terjadi. Sebuah masa yang akan tiba saat Open World mencapai akhirnya dan menuju kehancuran.


Banyak mayat berserakan dan kematian di mana-mana. Jeritan dan ratapan dari manusia menggema layak suara yang stereo.


Tangisan tak terhindari dan tanah dihiasi merah anggur darah. Aroma amis dan pohon-pohon serta bangunan yang terbakar.


Tak salah lagi itu adalah pemandangan nyata dari sebagian kecil neraka. Pemandangan yang mengerikan di mana seluruh Open World dilahap habis oleh si jago merah.


Di tengah pemandangan menakjubkan tersebut ada seorang pria dikelilingi mayat, pria yang sedang mengangkangi seorang gadis. Meski begitu ia tampak tak peduli. Yang ia lakukan adalah fokus terhadap genggamannya.


“Me .... ngapa?” Gadis itu merengek selagi menangis. Suaranya nyaris tak terdengar di tengah kebisingan tersebut. Hal itu juga didukung faktor bahwa lehernya sedang dicekik.


“Mengapa aku melakukan ini? Entahlah. Aku juga ingin tahu mengapa.”


Tatapannya dingin dan terlihat tak peduli dengan apapun. Termasuk tangisan dan rengekan wanita di bawahnya yang terkesan menyedihkan. Tidak, memang sangat menyedihkan.


“Aku ... apa salahku?”


“Pikirkanlah sendiri. Yah, itu berlaku jika kamu masih memiliki waktu. Sampai jumpa.”


Pria itu mengerahkan seluruh kekuatan pada genggaman tangannya. Beberapa detik kemudian kekuatan genggaman tersebut mematahkan leher gadis itu dengan bunyi 'Krek!' yang cukup keras.


Nyawanya melayang dalam sekejap. Air mata tak lagi mengalir deras seiring dengan hilangnya cahaya di matanya.


Pria itu berdiri sempoyongan dan menatap langit.


Dia mulai bergetar dengan tubuhnya yang penuh darah tersebut.


“Ku hu hu hu ...”


Cekikikan yang tak bisa dimengerti siapapun mulai menggema. Dari suara yang awalnya pelan kian kencang dan orang akan menilai tawa tersebut terkesan penuh kegilaan.


“Ku ha ha ha! HA HA HA HA!”


“Ini menyenangkan. Sekarang aku tahu mengapa menerima gelar seperti ini! Ku ha ha ha! Aku memang benar-benar seorang bajingan yang luar biasa hina! Ku ha ha ha!”


Tawa tersebut menggema keras tanpa seorangpun mendengarnya di Open World yang menuju kehancurannya.