
Jalan Raya yang dipenuhi oleh mobil dan motor listrik yang melaju dengan lambat, terdapat satu motor berkecepatan tinggi dan bersuara bising melaju cepat.
“Whoa! Apa itu?!”
“Bukankah motor listrik tidak memiliki kenalpot?”
“Apa mungkin motor itu masih menggunakan minyak atau modifikasi?”
Motor sport berwarna hitam dengan dua penumpang menggunakan jaket kulit dan helm full face. Mereka adalah Ray dan Indri.
Motor tersebut didapatkan dari gudang yang ada di ruang bawah tanah rumah Ray. Tidak diketahui alasan mengapa ada motor dan mobil sport di dalam sana, tetapi dari pendapat Reid benda-benda itu sempat dimodifikasi untuk tujuan pengembangan.
Ray dan Indri tiba di sebuah kostan di daerah perkampungan.
“Apa kamu yakin di sini tempatnya?” tanya Ray.
“Ya, aku yakin tentang ini. Ben telah memberikan alamatnya lewat cara yang kami tentukan.”
Ray tidak tahu bagaimana, tetapi mungkin saja sama dengan yang Ray kondisikan dengan Terumi dan lainnya. Ray telah meminta mereka untuk mengirim surat ke alamat yang Ray minta untuk membagikan informasi.
“Ini sudah satu minggu sejak kita pertama kali tiba dan kematian Rani,” gumam Indri dengan wajah datar. “Setidaknya, aku yakin mereka memiliki beberapa penemuan berarti.”
Ray hanya mengamati dalam diam dan mengikuti Indri di belakang. Situasi saat ini adalah Ben dan yang lainnya pergi menyelidiki pembunuh Rani dan Rina. Mereka jelas menjadi begitu murka karena rekannya terbunuh.
Diantara mereka Ray tahu bahwa Indri adalah yang paling merasa bersalah. Kematian dua gadis itu disebabkan oleh terdapatnya penyusup diantara orang-orang yang terluka.
Sebelum Indri telah membuat kesepakatan dengan Arthur untuk membiarkan orang-orang yang terluka bergabung dengannya. Indri tentunya menerima hal itu karena dia akan menerima pemasukan DP secara konsisten.
Hanya saja tak ada yang pernah menduga jika seorang pemimpin kelompok akan menyerahkan kelompoknya ke orang lain dan menyusup ke kelompok Rani.
Lalu, alasan Ray terlibat dengan semua ini adalah karena dirinya menjadi tersangka atas dugaan pembunuhan Rani dan Rina.
Ray sungguh tidak terlibat akan hal itu. Ketika semua itu terjadi, Ray sibuk memikirkan cara menyelamatkan diri karena dia terjebak di tengah lautan.
Mereka saat ini pergi ke kostan milik Ben untuk mengetahui perkembangan situasinya.
“Ben, ini aku,” ujar Indri selagi mengetuk pintunya.
Perlu sedikit waktu sampai pintu terbuka dari dalam, di sana ada wajah yang tak asing bagi Ray. Wajah yang terlihat kurang tidur dan senyuman lembutnya. Dia tak menggunakan riasan badutnya yang biasa, yang artinya dia sedang tidak bisa menggunakan Degree-nya.
Ray tahu hal itu setelah dia menghabiskan waktu untuk membaca buku pemberian Ryouma dan menghapalkannya.
Jika informasinya benar maka alasan Ben selalu memakai riasannya adalah syarat penggunaan Degree-nya. Tentunya, ada beberapa kondisi lain yang sudah diungkapkan namun Ray tetap tak menduga jika pantomim akan sangat berbahaya.
“Indri,” ujar Ben sebelum menemukan Ray di belakangnya dan kehilangan senyuman. “Ray ... Morgan.”
Ray tidak merasa tersinggung dengan sambutan dingin terhadapnya. Ben pastinya sangat lelah karena hal ini, dan kecurigaan bahwa Ray pelakunya sama sekali tak hilang. Ben hanya bisa menahannya, tetapi tak bisa menghilangkannya.
Setelah masuk Ben segera menyediakan minuman bagi keduanya. Tempatnya tak begitu luas dikarenakan banyaknya botol minuman beralkohol yang berserakan di mana-mana.
“Tampaknya benar bahwa tak baik membiarkan para pria mengurus rumah,” gumam Indri selagi menggelengkan kepalanya.
Pakaian berserakan juga, sungguh rumah yang tidak terawat sama sekali. Bahkan Ray dan Indri enggan untuk duduk, keduanya hanya berdiri di sana. Di sisi lain Ben dengan santai menendang botol yang berserakan dan duduk.
“Satu minggu ini kamu selalu bersamanya, kan?” tanya Ben dengan sedikit curiga.
“Ya. Aku dan Ray tidak berpisah sama sekali.” Indri mengatakannya dengan nada yang menggoda.
Dia tidak salah, selama satu minggu ini Ray terus bersama Indri. Mereka hanya berpisah ketika tidur dan mandi. Selebihnya mereka terus bersama termasuk ketika Ray menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk beberapa hal.
“Tidak bisakah kamu menyampaikannya dengan cara yang tidak membuat salah paham?” ujar Ray dengan sedikit jengkel. “Aku memang bersamanya, tetapi kami tak pernah melakukan ha apapun.”
Mendengar itu Ben menarik napas panjang dan mulai tertawa, dia seakan-akan baru saja melepaskan beban berat yang diterimanya.
“Ha ha ha ha, brengsek! Jika memang seperti itu adanya, maka pembunuh Rani dan Rina benar seorang peniru!”
Indri tertunduk dan menggigit bibirnya dengan kesal, “Begitu, tampaknya kamu telah menemukan sesuatu, ya?”
Ray sedikit bingung tentang mengapa Ben berubah pikiran begitu cepat. Reaksinya saat sebelumnya mereka berjumpa sungguh dingin dan memiliki kebencian yang cukup mendalam.
Itu sama seperti kebencian seseorang terhadap kriminal yang membunuh orang tuanya. Ray merasakan kebencian itu sebelumnya, tetapi sekarang semuanya hilang.
Setelah memikirkannya sejenak kini Ray mengetahui alasannya. Ada satu hal yang sebelumnya terus mengganggunya. Ketimbang menyelidikinya bersama-sama, mengapa Indri keluar jalur dan memilih menetap bersama Ray sampai hari ini?
Harusnya kecurigaan telah bersih sejak Indri menemukan Ray mengambang di lautan, namun bukannya bergabung dengan rekannya, Indri justru memilih menetap. Sekarang Ray tahu alasannya.
“Kamu dan yang lainnya akan menyelidiki lebih lanjut kasus pembunuhan tersebut selagi mencari jejak pelaku. Sementara Indri akan mengambil tindakan berisiko dengan mengawasiku dengan sangat dekat. Tentunya kalian bertujuan untuk memastikan apakah aku benar-benar putih atau tidak.”
Indri mungkin curiga bahwa Ray melakukan trik tertentu untuk melakukan pembunuhan tersebut. Meski tidak melakukannya secara langsung, tetapi Indri dan Ben sudah sangat mengetahui bahwa Ray adalah otak yang pintar.
“Ya. Ada kemungkinan kamu memanipulasi beberapa hal sebelum penurunan dan menempatkan penyusup bersama tim Rani. Hal itu karena kamu tak memiliki siapapun sebagai pengawal dan ada kemungkinan juga kamu menggunakan cara tertentu untuk berada di dua tempat dalam waktu singkat,” ujar Indri.
Logikanya mustahil seseorang berada di kota dan tengah laut dalam waktu yang begitu singkat. Bahkan Ray sendiri yakin tidak ada yang seperti itu, tetapi masalahnya adalah situasi mereka saat ini memungkinkan logika untuk tak berfungsi.
“Jadi begitu. Kalian mencurigai bahwa aku memiliki Degree yang membuatku bisa berpindah ke dua tempat berbeda dalam waktu singkat. Namun itu sulit karena aku tidak— jadi begitu. Kalian juga berasumsi aku memiliki satu kesempatan untuk membuat permintaan kepada Secret.”
Ray akan menggunakan kesempatan tersebut untuk di pindahkan di lokasi yang sama dengan Rani dan setelah melakukan pembunuhan, Ray akan menggunakan Degree-nya untuk pergi ke laut setelah melakukan persiapan. Kira-kira seperti itulah skenario yang dibayangkan Indri dan Ben.
“Untuk alasan itulah kami perlu sangat mengawasimu,” ujar Ben dengan wajah yang rumit. “Fakta bahwa kamu menebak semuanya dengan tepat adalah bagian mengerikan darimu.”
“Jadi seperti itulah. Maaf karena telah melakukan hal itu padamu, namun ini diperlukan karena aku sendirian tak mau dimakan olehmu meski berada di sisimu untuk membantu.” Indri tersenyum lembut kepada Ray sebelum berbalik menatap Ben. “Sekarang bisakah kamu jelaskan penemuanmu?”
Ben mengangguk dan mulai menjabarkan penemuannya dengan detil.
Ringkasnya, selama seminggu belakangan ini Ben berhasil mengendus jejak tersangka ini. Tidak diketahui apakah dia memiliki wajah seperti Ray atau orang lain karena dia menyembunyikan wajahnya dengan masker dan bahkan menggunakan topeng.
Meski begitu Ben memiliki dugaan kuat kalau orang itu yang dia cari. Ben telah mengerahkan Guren untuk membuntutinya dan memintanya untuk memberikan laporan secara berkala.
Sejauh ini belum ada apapun yang bisa memberikan konfirmasi, tetapi dari setiap gerak-geriknya telah dipastikan bahwa orang yang dicurigai Ben adalah pengguna Degree.
Meski jamnya telah disembunyikan sedemikian rupa, entah bagaimana caranya Guren menemukan kesempatan untuk melihat jam itu secara tidak sengaja. Selain itu Guren mengirimkan pesan bahwa dia telah melihat orang itu menerima pistol melalui drone unik yang berbeda dari drone pengantar lainnya.
“Market tak lagi mengirim barang melalui teleportasi, bahkan sekarang terdapat biaya untuk pengiriman. Jika drone yang dilihat Guren memang berbeda dari pada umumnya, maka itu pasti milik Secret,” ujar Indri selagi menyentuh dagunya selayaknya berpikir.
“Ya. Aku yakin kita tak salah orang dalam menargetkan. Kamu telah menjaga Ray dan memastikannya aman, maka sisanya adalah tentang bagaimana cara kita menindaklanjutinya.”
Andaikan orang tersebut menggunakan wajahnya untuk berbuat kejahatan, maka Ray takkan pernah bisa muncul kembali ke kota karena dia akan menjadi buronan aparat penegak hukum.
Selain itu ada kemungkinan orang tersebut bisa saja menipu Terumi dan yang lainnya. Jika keadaannya seperti itu maka Ray tak bisa membayangkan seberapa besar kerusakannya.
‘Orang ini sama seperti penyakit. Jika tidak ditangani maka akan semakin buruk dampaknya.’
Indri yang tampaknya memikirkan sesuatu sejak tadi mulai mendapatkan sesuatu.
“Kamu benar tentang itu. Kita tak perlu khawatir salah target karena orang ini dipastikan salah satu dari kita. Hanya saja pertanyaannya adalah tentang bagaimana kita memancing orang ini. Jelas, bertarung di tempat umum adalah tindakan idiot.”
Mereka diharuskan menjaga kerahasian Degree jika tidak ingin menjadi buruan Secret, pengguna Degree, dan bahkan pihak luar seperti kepolisian. Yang menjadikan tugas terakhir sulit adalah karena mereka tak bisa sembarangan bertindak.
Ada lima puluh orang yang memegang kunci, itupun masih perlu diseleksi dan menjadikan hanya lima orang yang berhak mendapatkan kunci emas. Jika target mereka adalah salah satu dari pemimpin tersebut maka diperlukan rencana yang super brilian.
“Bagaimana menurutmu, Ray?” tanya Ben. “Aku yakin kamu setidaknya telah memikirkan sesuatu.”
“Ini tidak hanya menguntungkan kami, tetapi juga kamu. Aku yakin kamu juga tak ingin namamu tercemar,” ujar Indri.
Rencana Ray untuk menunggu dulu tampaknya tak bisa dilakukan. Dia sudah menduga jika Indri dan Ben bukan orang yang mudah dipermainkan. Keduanya mungkin sadar bahwa Ray akan tetap diam sampai waktu yang dia inginkan datang sendirinya.
Meski begitu bukannya Ray tidak memiliki apapun untuk dikatakan.
“Dari pada memikirkan bagaimana menjalankan eksekusinya, bukankah kita harus memperhatikan orang-orang di sekitar lebih dulu?”
Indri dan Ben memiringkan kepalanya, keduanya tidak mengerti apa yang coba Ray sampaikan.
“Mari ulas kembali. Bajingan ini menggunakan wajahku untuk membunuh Rani dan Rina. Entah bagaimana dia mungkin seperti Virgo yang bisa menyembunyikan wajahnya dengan Degree.”
Virgo telah diyakini gugur, Ray yakin bahwa hal tersebut adalah fakta. Ryouma juga sebelumnya telah memastikannya secara tak langsung. Selain itu, Ray yakin bukannya tidak mungkin ada dua orang atau lebih yang memiliki Degree sama.
“Dia bisa menyamar menjadi diriku, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan dia menjadi orang lain atau membuat orang lainnya menyamar.”
Indri dan Ben terkejut dan saling menatap, keduanya tidak memikirkan hal tersebut secara mendalam.
“Maksudmu,” ujar Ben, “bukannya tidak mungkin si keparat ini menjadi salah satu dari kita?”
“Dan juga bukannya tidak mungkin bajingan ini bisa mengubah wajah selain miliknya sendiri, kan?” ujar Indri. “Jika ini benar maka lawan kita sungguh keparat yang merepotkan.”
Salah target bukan masalah jika yang terbunuh itu adalah pengguna Degree karena pada akhirnya mereka tetap akan saling membunuh.
Akan tetapi, sebuah kesalahan besar jika mereka salah mengira orang dan membunuh penduduk sipil. Selain membuktikan bahwa si peniru ini sedang dikejar oleh Ray dan yang lainnya, laporan orang hilang akan mulai bermunculan.
“Penting untuk kita memiliki suatu cara mengidentifikasi kalau orang-orang di sekitar kita bukan penipu. Aku cukup yakin diriku asli, Indri juga terus bersamaku. Dan, kamu mengingat rencana buatanmu dengan Indri seminggu belakangan. Jadi, kita bertiga adalah asli.”
Mereka yang ada di ruangan ini bukan tiruan dari bajingan yang suka menyamar. Ray tidak mencurigai siapapun yang ada di dalam, tetapi mereka yang di luar.
“Maka artinya kita perlu mengidentifikasi Hiroshi dan Guren, ya?” gumam Ben selagi memejamkan mata.
“Untungnya mudah menjebak si maniak samurai itu. Aku memiliki beberapa hal yang bisa membuktikan kalau dia asli. Masalahnya hannyalah Guren. Bahkan aku tak memahami apa yang dia takuti atau tidak.”
Indri sendiri sulit untuk berurusan dengan Guren karena setiap kalimat yang dikatakannya tidak diketahui apakah benar atau tidak. Meski begitu Indri mempercayai pria itu dan membuatnya melakukan beberapa pekerjaan penting. Tentunya, alasan lain Indri melakukannya adalah karena dia terganggu oleh pria itu.
“Ah, kamu tak perlu khawatir tentang dia. Aku—” Ben ingin mengatakan sesuatu tetapi doa berhenti karena beberapa ketukan di pintu yang cukup keras.
Indri dan Ben menjadi begitu waspada, sementara di sisi lain Ray terlihat kebingungan.
“Apa itu bukan rekan kalian?” bisik Ray pada keduanya.
“Bukan,” ujar Ben menarik pisaunya. “Itu bukan irama ketukan yang kami sepakati.”
“Artinya di balik pintu itu orang asing.” Indri mulai meletakkan tangannya di pistolnya.
Sesaat kemudian suara dari balik pintu mulai memanggil.
“Apa ada orang di dalam?! Cepatlah, dia terluka!”
Ray mengenali suara wanita di balik pintu tersebut. Dia cukup terkejut kalau akan bertemu secepat ini.
Sebelum ada yang sempat bereaksi, suara dari balik pintu itu kembali berbicara.
“Maaf jika ini tidak sopan namun aku akan masuk!”
Pintu mulai terbuka, Ben dan Indri tetap dalam kewaspadaan penuh sementara Ray mengamati sekitarnya dengan saksama untuk memastikan dia tidak berada di ruangan yang tertutup.
Pintu terbuka. Menunjukkan wajah Guren yang babak belur sedemikian rupa dan dilumuri oleh darah. Dan, orang yang memapah tubuhnya adalah gadis di kelompok Ray, Sakura Terumi yang wajahnya panik.
“Guren!” panggil Ben ketika dia mulai berjalan mendekat. “Apa yang terjadi padanya.”
Indri menarik kembali tangannya dan bernapas lega.
Di sisi lain, ada beberapa hal yang mengganggu Ray. Tentu dia senang jika bertemu Terumi sekarang, tetapi ada yang ganjil di sini. Terumi memang gadis yang baik, dia akan menolong siapapun tanpa pandang bulu, namun —
‘Ini aneh ... mengapa dia membawanya ke sini bukannya ke rumah sakit?’
Bertepatan dengan Ray mulai menjadi curiga, Guren mulai bergumam sesuatu. Suaranya cukup untuk di dengar Ray dan yang lainnya.
“... pergilah ... Terumi ... palsu ...”
“Hah?” Ben sedikit tersedak dan mematung, dia tidak memahami apa yang disampaikannya.
Terumi mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar seperti orang gila. “Ini hadiah dari santa!”
Terumi mendorong tubuh Guren dengan cukup kuat, bersamaan dengan Guren yang mulai tumbang, sesuatu jatuh dari tubuhnya. Sebuah benda berbahaya yang akan meledak dalam hitungan tiga detik lagi.
Sebuah bom yang telah diatur untuk meledak saat itu juga.
Di waktu yang sama Terumi berlari dan melompat keluar dari lantai dua. Dia jatuh menghadap langit, selagi tertawa menyampaikan, “SELAMAT NATAL!”
Ben berlari ke dalam untuk menjauhi bom tersebut dan berteriak, “KEPARAT!”
DUAR!
Ledakan besar terjadi dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya sehingga menciptakan sebuah kebakaran yang hebat.