
Ray datang bersama dengan Erina dan Ben menuju Shelter, alasan Rani dan Rina tak bersama adalah untuk mengurangi kecurigaan tentang apa yang mereka lakukan. Sebelum benar-benar berpisah mereka memperingatkan Ray.
“Jangan lupa kalau kamu berhutang satu hal kepada kami.”
“Saat kita bertemu lagi, kami akan lekas menagihnya dan kamu harus menurutinya dengan cara apapun.”
Ray tak tahu apa yang direncanakan gadis kembar ini namun ia memiliki harapan agar tidak ada hal mustahil yang mereka inginkan. Jika sampai pada permintaan yang aneh maka ia harus siap melepaskan banyak hal yang telah ada di tangannya.
Dalam perjalanannya tak ada percakapan apapun yang berarti dengan Ben, pria itu sangat diam bukan karena sifatnya, tetapi kemampuannya yang mengharuskannya demikian.
Sama seperti Mein yang harus mendalami peran pilihannya, untuk menggunakan Degree Pantomim miliknya, Ben harus mendalaminya dan diam tanpa suara adalah salah satu syaratnya. Meski tampak merepotkan, kemampuannya adalah yang paling membuat Ray merasa terancam.
Ray masih meragukan apakah orang-orang dari kelompok kecil yang dibuat Indri benar-benar dapat dipercaya atau tidak, namun untuk saat ini ia akan memanfaatkan mereka meskipun itu juga berlaku untuknya.
Tiba di Shelter, Ray menemukan ada lebih banyak orang dari yang dia harapkan, atau setidaknya Ray yakin hanya akan sedikit yang sampai ke sini.
Baik orang-orang dari Blueeast ataupun Redwest ada di sini, meski sudah mencapai Shelter tak ada kebahagiaan di wajah mereka. Ray tahu alasannya dengan jelas.
Alasan mereka bisa berada di sini pasti karena mereka meninggalkan orang-orang yang dikenal, banyak orang terluka namun ditinggalkan, mereka yang tak mendapat tumpangan hingga bahkan tersesat. Ada berbagai macam alasan yang bisa saja muncul jika ia memikirkannya lagi.
“Aku yakin Arthur dan yang lainnya berada di sini ... ah, itu mereka.” Ray berniat menghampirinya mereka, tetapi ia mengerutkan alisnya.
‘Mengapa wanita itu melakukan kontak dengan mereka meski aku menyuruhnya menghindari mereka?’
Ray telah memberikan instruksi kepada Indri agar meminta kelompoknya tak melakukan kontak apapun dengan Arthur dan lainnya. Namun wanita itu tampak tak mengidahkannya.
‘Tidak. Mungkinkah Indri merencanakan sesuatu?' Ray bisa menerka beberapa namun tak ada pola apapun yang bisa ia lihat jelas sekarang ini.
Berdiam diri saja takkan mengatasi apapun, Ray memutuskan menghampiri mereka namun sebelum itu—
“Kamu bersikaplah seperti biasa. Buatlah dirimu seakan sedih dan murung karena kematian Ordo.”
“... baik.” Erina menjawab dengan lesu, bersandar di pundak Ray dan mengeluarkan air mata. Entah itu dibuat-buat atau memang murni hatinya terluka, apapun itu Ray tak cukup baik untuk peduli.
“Ray!” Terumi menjadi orang pertama yang menemukan Ray, ia berlari ke arahnya dengan gembira, beberapa kristal air mata tampak jatuh dari mata cantik itu. “Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat cemas kalau kamu takkan sempat mengungsi!”
Ray tersenyum dengan pahit, “Yah, ini memang menyakitkan karena tangan kananku semakin parah sakitnya. Bisakah kamu menolongku dengan menggendong Erina?”
Kursi roda yang dipakai Erina telah hancur sehingga tak ada cara apapun untuk membawanya selain menggendongnya.
“Aku akan melakukannya!” Leo. berinisiatif menggantikan Ray untuk menggendong Erina, meski tubuhnya kecil namun Leo memiliki kekuatan fisik yang kuat. “Aku turut bersyukur karena kamu kembali hidup-hidup, Ray. Bahkan jika lukamu semakin parah, selama nyawamu baik-baik saja itu adalah kemenangan.”
Ray tersenyum selagi menekan lukanya yang mengeluarkan darah. “Ya, andaikan orang ini tidak membantuku. Aku mungkin sudah tidak bernapas lagi saat ini.” Ray menggunakan ekor matanya untuk melihat Ben, yang memperagakan bahwa dirinya orang berjasa.
Terumi dan Leo memandangnya dengan aneh, mereka jelas curiga dengan penampilan Ben yang seperti seorang badut menyebalkan. Terlepas dari penampilannya yang nyentrik, Terumi senang karena orang itu menyelamatkan Ray.
“Aku tidak tahu siapa kamu, tetapi terima kasih banyak karena telah menyelamatkan temanku.” Terumi membungkukkan badannya di depan Ben.
“Aku juga berhutang terima kasih. Tanpamu, aku mungkin harus berduka atas kematian temanku.” Leo juga berterima kasih dari lubuk hati terdalam.
Ben menggelengkan kepala dan tangannya dengan bingung, ia kemudian menyadari Indri mendekat.
Ray mengerutkan alisnya dengan waspada, “Siapa kamu?”
Indri hanya mendengus dan mengabaikan pertanyaan Ray seakan-akan tak mendengarnya sama sekali. Fokusnya hanay tertuju kepada Ben saja.
“Tempat ini aman, Ben. Aku yakin setelah ini Secret akan memberikan waktu untuk istirahat dan menghentikan tugas. Tak ada masalah jika kamu berbicara sekarang.”
Mengetahui hal itu, Ben menghela napas panjang dan tersenyum dengan lembut, “Sangat melelahkan untuk menjadi orang lain.”
Terumi, Leo, Ray dan lainnya tertegun mendengar suara Ben yang begitu lantang, serak dan juga berat. Suaranya jelas berbeda dengan penampilannya yang konyol, bahkan ekspresinya saat ini lebih terkesan jantan.
Degree didapatkan dengan cara seperti itu, masih sulit dimengerti dengan jelas namun sejauh ini memang berkaitan.
Degree diambil berdasarkan keinginan, cita-cita, tindakan dan kepribadian orang tersebut. Bahkan jika Ben bukan orang yang konyol, tetapi andaikata ia ingin menjadi orang konyol maka Degree seperti itu sungguh akan muncul.
“Yah, kamu ada benarnya. Kita sudah menyelamatkan orang-orang yang diincar Virgo. Aku yakin orang itu akan kesulitan karena ada banyak singa yang menerkamnya dari segala arah,” ujar Ben.
“Kamu benar. Aku yakin orang itu juga ada di sini. Mari kita berkeliling untuk mencari petunjuk. Seingatku, ketua Blueeast berhasil memberikan luka parah kepada salah satu anggotanya. Setidaknya kita bisa mendapatkan beberapa hal darinya.” Indri mulai berjalan ke tempat lain dengan acuh tak acuh.
Ben hanya mengangguk dan mengikutinya. Hiroshi dan Guren juga pergi tanpa mengatakan apapun, tetapi Terumi menghentikan mereka.
“Tunggu!” Hal itu membuat Indri dan kelompoknya berhenti, berbalik menatap ke arahnya. “Apa tujuan kalian dengan menyelamatkan kami?”
Ray dan Leo mengerutkan alisnya. Meski Ray sudah tahu apa arti di balik ini semua, ia sekarang hanya bermain bodoh.
Sementara Leo sungguh-sungguh tak mengetahui apapun tentang tindakan Indri serta kelompoknya.
“Tujuan? Kami tak memiliki hal semacam itu.” Guren berkata dengan tawa kecil yang menyebalkan.
“Tak ada satupun kalimatmu bisa dipercaya, penipu,” Leo menyela dan mencemooh Guren.
“Kalimatnya setengah benar dan salah.” Indri menyela karena tak ingin membuang waktu lebih lama. “Kami tak memiliki niat khusus pada kalian. Satu hal yang bisa aku jamin. Aku tak berniat menjadi musuh kalian karena kita memiliki musuh yang sama.”
“Selama ini kami bermain sebagai pengamat karena tindakan kalian jelas beban besar bagi Virgo.”
“Sayangnya langkah terakhir kalian begitu buruk,” Ben menyela dengan sedikit kekecewaan, “Peperangan secara langsung dengan mereka adalah tindakan bodoh karena ada musuh dibalik selimut. Faktanya kami tahu Ordo ditusukkan oleh orang kepercayaannya. Bahkan, siapa yang menduga pria tua itu bisa membunuh ajudan bernama Mein itu?”
Kata-kata Ben jelas mengguncang semua orang karena itu adalah informasi yang tak diketahui Terumi dan lainnya.
Mereka berpikir bahwa Mein mungkin sedang melakukan sesuatu dan telah mengungsi lebih dulu mengingat wanita itu sangat kompeten. Namun, berita kematiannya sekarang ini sulit dipercaya.
“Karena kemungkinan kalian menang perang sangat kecil, kami berhenti menjadi pengamat. Sampai akhirnya kami memutuskan mengakhiri Open World dan menyelamatkan kalian, para singa yang dikhawatirkan Virgo.” Indri melanjutkan kalimat Ben yang belum benar-benar selesai.
Orang yang sejak tadi diam mengamati di kejauhan akhirnya berbicara.
“Apa aku bisa menyimpulkan bahwa kalian bukan musuh?” tanya Arthur.
“Setidaknya untuk saat ini, aku bisa dengan tegas menyampaikan bahwa kami bukan musuh. Kita memiliki musuh yang sama untuk dihancurkan,” jawab Indri.
“Begitu. Menyelamatkan kami adalah investasi bagi kalian karena kami memiliki kemungkinan menghancurkannya.”
“Kamu bisa menganggapnya demikian,” Indri tidak mengiyakan ataupun menolak asumsinya. “Hanya saja ingatlah satu hal.”
“Apa itu?”
“Kita memiliki musuh yang sama, namun bukan berarti bisa bekerja sama. Dengan lingkungan seperti ini, hubungan antara dua kelompok tak bisa dipercaya. Aku harap kita memiliki hubungan tak saling mengganggu atau ikut campur dalam tahap ini.”
“Tambahan,” Indri tersenyum dengan sinis kepada Arthur dan lainnya. “Jangan sampai membuatku menunjukkan taring pada kalian.”
...****************...
Sleeping Prince akan update rutin mulai bulan depan. Begitu juga The Degree.
Mengapa? Itu karena regulasi sekarang membaik!
Gak mau munafik, selain komentar saya menulis karena menantikan cuan, mwehehe. Di abad ke 21 ini, uang jelas sangat penting. Tak ada penyangkalan soal itu.
Ini memalukan, sangat memalukan! Saya pernah berkata takkan menerbitkan judul di sini lagi, namun sekarang saya mulai mempertimbangkan akankah saya menarik kata-kata tersebut atau tidak?!!
Seperti yang selalu saya katakan. Diri saya adalah orang yang labil, tak kompeten, tak konsisten dan ... serakah:v