
Ray dan Terumi berhasil meloloskan diri dari maut yang mengejar. Ada begitu banyak teriakan tangis, panik dan putus asa di tempat ini. Ledakan telah berhenti beberapa menit yang lalu dan berhasil menghancurkan separuh tempat ini.
Untuk berjaga-jaga Ray bersembunyi di bawah dan tak pergi ke tengah taman di mana semua orang berada. Alasannya sederhana, itu karena Arthur belum tiba. Dan, Ray sadar seekor singa sedang menantikan mangsanya itu.
“Sungguh kejam,” ujar Terumi selagi menatap sedikit sekitarnya. “Mengapa ada orang yang tega melakukan sesuatu seperti ini?”
Ray hanya diam tanpa menyampaikan apa-apa karena dirinya termasuk ke dalam orang kejam yang disebutkan Terumi.
‘Tak kusangka dindingnya bisa dihancurkan,’ pikir Ray. Ia pikir dindingnya tidak akan bisa hancur karena ledakan tersebut namun nyatanya salah.
Jika begini maka bukan mustahil mengeliminasi cukup banyak orang dengan rencananya. Ray sendiri tidak berharap banyak awalnya namun jika sudah begini apa boleh buat. Rencananya akan jadi sempurna.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Terumi, memandang Ray dengan khawatir. “Kita harus membantu evakuasi!”
Ray sedikit berpikir, ia tak mau membuang-buang tenaga untuk melakukannya namun dia tidak bisa menolaknya juga karena Terumi pasti akan menentangnya.
Memandang sekelilingnya Ray kemudian tertarik mengetahui satu hal. Ia menemukan Arthur, Mona dan Chelsea, tetapi Ray tak menemukan Eric dan Leo di manapun.
“Tidak. Lebih baik kita mengumpulkan orang-orang yang kita kenal lebih dulu,” ujar Ray.
Terumi tampak tak sepakat dan sedikit marah, “Mengapa? Lebih baik kita selamatkan semuanya!”
Seperti yang diduga kalau Terumi tidak akan menyetujui hal kejam seperti mengabaikan nyawa orang. Wanita itu masihlah naif, dia mungkin lupa tempat seperti apa ini.
“Tidakkah kamu pikir mati sekarang atau nanti di masa depan tidaklah jauh berbeda?” Ray menatap langsung ke mata Terumi dan menekankan realita tempat ini.
Terumi mengerutkan alisnya dan sedikit takut, ia mengambil satu langkah mundur, “Apa maksudmu?”
Ray yakin kalau Terumi sudah memikirkan apa yang ia maksud namun dia masih menyangkalnya dan tak mau mengambil kemungkinan itu. Tentunya, Ray tetap akan membuatnya mengakui benar adanya.
“Kamu mungkin bisa menyelamatkan hari ini namun kamu takkan bisa menyelamatkan esok dan seterusnya. Tempat ini menuntut untuk saling membunuh untuk tetap hidup.”
Terumi menunduk dan matanya bergetar, “Hukum rimba, ya? Mengapa mereka, Secret ... mengapa mereka begitu kejam?”
Ray tentu tidak tahu apa yang diinginkan Secret dengan semua uji coba ini selain data. Yang Ray ketahui mereka mencari seseorang untuk tujuan yang tak diketahui.
“Selain itu, bisa saja orang-orang yang kamu selamatkan berbalik menyerangmu di masa depan.”
Lebih menyakitkan rasanya ketika orang yang diselamatkan nyawanya justru akan mengancam bahkan mungkin membunuhnya.
“Itu memang benar namun—” Terumi berniat membantah, tetapi Ray segera menyela kalimatnya.
“Berpikirlah realistis. Manusia akan melupakan semua kebaikan orang hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan mereka bisa membunuh orang yang melahirkannya untuk nyawa.”
Manusia adalah makhluk yang mudah dalam melupakan. Bahkan sejuta kebaikan bisa terabaikan hanya karena sebuah kesalahan. Begitulah sifat dasar manusia, yakni melupakan.
“Apa kamu yakin takkan menyesal jika suatu saat orang-orang yang kamu selamatkan akan membunuhmu?” Ray meminta ketegasan Terumi sekali lagi. Membuat wajah gadis itu seakan menelan sesuatu yang pahit.
Ray bisa dengan jelas meyakini kalau kelak situasi yang ia sebutkan terjadi, Terumi atau setidaknya orang lain akan menyesal. Rasa dikhianati terutama soal nyawa adalah yang paling menakutkan.
“Di tempat— di dunia ini tidak ada yang bisa kamu percaya selain diri sendiri. Aku hidup berdasarkan prinsip ini. Kamu tahu masa laluku. Bahkan orang terdekatmu bisa menjadi musuh terbesar dalam hidupmu.”
Ray tidak menganggap dirinya paling menderita di dunia ini namun ia yakin tidak banyak orang sepertinya. Yang hidup terkurung dan diwajibkan menghapal banyak hal sejak ia lahir hanya karena keegoisan manusia.
“... kamu ... mungkin benar,” Terumi menggigit bibirnya dan bergetar. “... mari selamatkan ... hanya teman kita,” ujarnya dengan suara lemah.
Ray menepuk kepalanya dengan lembut dan mulai memimpin jalan. Tentunya ia tahu lokasi mana saja yang tak terkena ledakan dari bom miliknya namun sayangnya ia tak tahu di mana saja Ben meletakkan miliknya.
Hal yang pertama Ray lakukan untuk mencari Leo dan Eric adalah menyusuri sekitar taman. Ada pemandangan menarik di mana robot-robot yang bertugas membersihkan sampah dan hal-hal lainnya berusaha memadamkan api.
‘Itu ... .’
Ray menemukan hal yang menarik dalam perjalanannya. Di sana ia melihat Indri di kursi taman bagian pojok, tempat yang hanya ada sedikit orang.
Indri tampaknya tidak menyadari kehadiran Ray, dia tampak terpaku kepada sesuatu sampai-sampai Ray bisa menembaknya sekarang juga. Meski begitu Ray tak melakukannya.
Ia berhenti melangkah dan melihat apa yang sedang dilihat oleh Indri. Sesuatu yang bahkan Ray terkejut dan tentunya tertarik akan hal itu.
“Ada apa, Ray?” tanya Terumi yang juga memperhatikan kejauhan. “Itu? Bukankah dia—”
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, ledakan besar kembali terjadi dan membuat seisi tempat bergetar kuat. Tak hanya itu, pemandangan mengerikan selanjutnya terjadi di mana puluhan orang terbakar.
Orang-orang mulai wara-wiri menjauh dari lokasi tersebut. Mau bagaimanapun terbakar adalah cara paling menyakitkan untuk mati.
“Apa-apaan itu?!” Terumi tidak bisa diam saja menyaksikan hal tersebut di depan matanya. “Kita harus menolongnya!”
Terumi sudah pergi sebelum Ray sempat mengatakan apa-apa.
“Yah, biarlah. Toh, aku juga tertarik melihat apa yang terjadi sesungguhnya.”
Orang-orang yang terbakar bukan disebabkan oleh ledakan besar sebelumnya namun sesuatu yang sulit untuk dipercaya. Mereka terbakar karena beberapa orang gila yang menggunakan pelontar api.
Mereka membakar siapapun di sekitarnya secara acak, seakan-akan memang hanya ingin membunuh secara masal.
“Ini bukan bagian dari rencanaku,” gumam Ray sebelum menatap Indri di kejauhan yang juga memiliki wajah terkejut.
“Wanita itu juga bukan tersangkanya, maka artinya,” hanya ada satu kelompok lain yang sangat mungkin menjadi dalangnya. Kelompok yang telah beberapa kali menggagalkan rencana Ray, “Rebellion.”
Ray tak menduga kalau sisa-sisa anggota serikat tersebut masih bersama dan tidak bubar seperti halnya Redwest juga Blueeast.
“Aku tahu mereka akan melakukan sesuatu untuk mengalahkan Arthur, tetapi ini sudah keterlaluan,” gumam Ray sedikit mendecakkan lidahnya.
Sekali lagi Virgo mengacaukan rencana kecil yang Ray miliki. Ray awalnya hanya ingin memasuki panggung besar disaat-saat terakhir, tetapi jika begini jadinya ia harus campur tangan lebih cepat.
Ray memandang ke arah lain, tempat yang sudah ia minta seseorang untuk menunggu tanpa diketahui siapapun. Ray berjalan ke arahnya sedikit dan menyampaikan;
“Bersiaplah, Erina. Kita akan memulai rencana pahlawan kita lebih cepat.”