The Degree

The Degree
Kesetaraan



“Kamu tak ingin mengatakan apa-apa tentang mengapa Mona bisa mengetahui Degree Sebastian yang bahkan aku, Ordo dan Mein tak ketahui.”


Sepengetahuan Erina, Sebastian menyampaikan Degree-nya adalah pengawal namun setelah semua peristiwa ini terungkap bahwa itu semua adalah kebohongan yang ia buat.


Tentunya ia tidak mencurigainya mengingat tak ada faktor apapun yang bisa membuatnya curiga kepada orang yang sudah lama bersamanya.


“Lalu kamu memiliki kecurigaan bahwa Ray membuat kebohongan tentang lukanya?” lanjutnya.


Erina juga mengatakan bahwa itu sedikit tidak tahu diri bagi orang yang tidak memiliki dasar kuat untuk meyakinkan bahwa keraguannya pantas diragukan orang lain.


Arthur hanya menghela napas panjang, “Degree-ku sungguh tak perlu diberitahukan pada tahap ini. Namun untuk milik Mona aku memang tidak bisa mengatakannya, tetapi lain halnya jika ia yang mengatakannya sendiri.” kata Arthur. “Aku tidak punya hak menghentikannya.”


Mona memiliki haknya sendiri untuk mengatakan atau tidaknya kekuatan Degree miliknya. Ray tidak akan berusaha menghentikannya jika Mona pribadi yang ingin menyampaikannya. Paling tidak kerepotan yang akan Arthur dapatkan adalah usaha lebih keras untuk melindunginya.


“Begitu. Mari kesampingkan hal ini. Sejujurnya aku sangat penasaran dan ingin mendesak lebih jauh tentangmu serta dasar kuat yang menjadi pendukung kecurigaan terhadap Ray. Namun sekarang prioritas adalah bagaimana kita menyelesaikan situasi ini.”


Waktu terus berlalu selagi mereka melakukan perdebatan tak berarti. Erina jelas ingin mengakhirinya sekarang juga karena tak ingin dirinya memiliki kecurigaan terhadap Ray.


Arthur tak bisa berkata apa-apa lagi setelah memahami bahwa Ray memiliki posisi yang kuat untuk mempertahankan dirinya. Bahkan jika kebohongan yang ia buat cukup buruk mustahil akan ada orang yang meragukannya sepenuhnya.


Setidaknya aku bisa memastikan hal ini. Aku tak bisa bergerak sembarangan bahkan jika hatiku meragukan posisi Ray. Pikirnya.


“Yah, kalau begitu pilihan hanya ada diantara membuang orang yang terluka atau membawanya bersama kita. Urusan perbekalan mungkin bisa kita tinggalkan. Setidaknya di dalam Shelter tampak bisa menggunakan Market.”


Market hanya berfungsi di tempat tertutup yang merupakan fasilitas milik Secret. Jika Shelter adalah tempat tertutup macam itu maka tak ada keraguan mereka bebas menggunakan Market.


“Ya. Kita bisa membakar semua persediaan untuk menghambat Rebellion yang mungkin menyerang. Sesungguhnya aku yakin mereka sudah beberapa kilometer lebih dekat dari yang kita bayangkan.” Arthur terlihat bermasalah saat mengetahui diskusi ini tidak akan berakhir cepat.


Semakin lama ini berlangsung semakin banyak waktu yang terbuang. Arthur mulai memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan ini. Masalah utamanya adalah ada pada ketidaksetujuan Terumi dan juga mungkin akan ada penolakan dari beberapa orang.


‘Maka aku perlu mencari jalan tengah untuk menyelesaikan ini. Jalan yang disetujui Terumi, dan jalan yang tidak akan menimbulkan kekacauan.’


Meski Arthur bisa mengabaikan semuanya dan meninggalkan mereka namun ia tak bisa melakukannya dikarenakan idealisme kuat yang ia miliki. Mungkin karena alasan ini jugalah yang membuatnya mendapatkan Degree seperti ini.


Setelah berpikir beberapa detik dan memejamkan matanya sebuah pemikiran tersirat dalam kepalanya. Ide yang mungkin akan cocok dan diterima berbagai kalangan.


“Kalau begitu bagaimana dengan ini ... kita akan membiarkan pasukan yang memilih apakah akan membawa mereka atau meninggalkan yang terluka.”


Arthur menyampaikan bahwa mungkin ada kerabat dari salah satu pasukan yang terluka, maka kerabat lainnya bisa membawanya untuk menyelamatkannya. Sementara orang yang tidak memiliki siapapun akan ditinggalkan.”


“Aku tahu ini hal yang kejam, bahkan dadaku terasa sakit ketika memikirkan cara ini. Terutama saat membayangkan orang-orang meratapi nasibnya selagi menunggu kematian.” Arthur mengepalkan jarinya dengan erat. Ia teringat suatu peristiwa di masa lalu yang amat menyakitkan.


Saat itu semuanya terbakar dan Arthur harus membuat pilihan yang sulit hingga akhirnya ia membuat sebuah pilihan yang salah. Arthur telah bersumpah kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.


“Jika begitu adanya, maka kita juga perlu membawa Ray dan Ordo. Ray mungkin takkan kesulitan berlari namun Ordo akan menjadi masalah.” Erina tampak mencemaskan kondisinya.


Ordo berhasil diselamatkan nyawanya karena organ vitalnya tak terluka namun ia tetap kehilangan cukup banyak darah. Erina mampu melakukan donor darah dan sudah memberikannya berkat fasilitas yang memadai namun itu tak menjadikan Ordo sudah cukup baik untuk pergi.


Akan sulit melindungi tiga orang terluka pergi menuju Shelter.


“Kalau begitu aku akan pergi ke tempat Mona dan Ray.” Terumi lekas pergi tanpa menunggu persetujuan dari Erina maupun lainnya. Sejak tadi ia sudah gelisah ketika memikirkan kondisi Ray yang sedemikian rupa.


Arthur dan Erina tidak mencoba menghentikannya karena dengan begini Terumi tidak akan menolak rencana melarikan diri mereka. Sementara Leo adalah pihak yang akan mengikuti jalan terbaik untuk dipilih juga tak menyuarakan penolakan.


“Maka aku akan segera mengabari berita ini kepada orang-orang di luar sana dan membuat persiapan untuk keberangkatan.” Leo berinisiatif untuk bertindak.


Arthur dan Erina mengangguk dalam hening selagi menyaksikan kepergian Leo. Ketika hanya ada mereka berdua di dalam tenda, Erina melirik Arthur dengan curiga.


“Apa kamu memiliki hal lain untuk disampaikan? Meski aku tidak percaya bahwa Ray patut dicurigai namun setidaknya aku mau mendengarkan. Tentunya, percakapan kita selanjutnya akan jadi rahasia diantara kita.”


Arthur menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Ia sudah menduga bahwa Erina akan mampu menebak niatnya dengan mudah meski awalnya sedikit ragu.


“Itu bagus ketika kamu memahaminya dengan cepat.” kata Arthur. “Untuk pertama dan paling utama, aku yakin bahwa kamu bukan musuh. Degree-mu, meski aku tidak tahu dengan pasti namun aku yakin itu sangat merepotkan.”


“Merepotkan? Apa maksudmu, Degree-ku hanya sesuatu yang bisa dibilang biasa saja.” Erina tersenyum masam namun tindakannya tak membuat Arthur berubah pikiran.


“Ya. Hanya saja ketika orang mengucapkan terima kasih atau memiliki hutang budi padamu maka disitulah kehidupan mereka berakhir dan menjadi bonekamu.”


Saat mendengar perkataan Arthur, Erina mengerutkan alisnya dan kehilangan senyumannya. Tentunya ia tidak merasa senang saat orang lain mengetahui rahasia yang tidak ingin ia bagi dengan siapapun.


“Asumsimu berlebihan. Mustahil Degree mampu melakukan hal itu.” Erina coba menolaknya namun Arthur tersenyum percaya diri.


“Aku berpikir sama namun nyatanya itu bertentangan dengan fakta. Akal sehat sungguh tidak mampu menilai sejauh apa kekuatan Degree. Buktinya, Degree milikku ini bukan sesuatu yang seharusnya ada di kehidupan nyata namun setelah sejauh ini, Degree-ku sungguh sesuai.”


Erina tak mengatakan apa-apa dan Arthur melanjutkan percakapannya.


“Tenang saja, aku tidak berniat membeberkan Degree-mu. Aku sengaja mengatakannya agar kamu tahu bahwa aku memiliki senjata yaitu rahasia Degree-mu. Mau bagaimanapun dalam negosiasi harus ada kesetaraan.”