The Degree

The Degree
Tantangan Dong Wok



Beberapa waktu sebelumnya, jendral besar atau sang Marshal, Ardianto telah berbicara dengan beberapa jendral lainnya tentang negosiasi ini.


Tentunya ada banyak ketidaksetujuan tentang itu namun bukan berarti mereka semua menentangnya. Mendengar apa yang dikatakan Ardianto membuat mereka semua tak memiliki pilihan selain menurut.


Mudahnya, kehadiran Ardianto sendiri sudah cukup mengintimidasi mereka meski dia tak berniat melakukannya. Selain itu diantara kemiliteran, senioritas amat dijunjung tinggi.


Belum lagi Ardianto saat ini adalah satu-satunya orang yang memiliki lima bintang, wajar dirinya sangat dihormati.


“Semuanya tetap bersiaga! Jangan sampai mengendur!” teriak Ardianto kepada prajurit yang berbaris di belakangnya.


“Siap!”


Semua dalam posisi tegak dan juga merasakan ketegangan. Di hadapan mereka ada monas yang kehilangan kehormatannya, bukti sejarah dari negara ini.


Dan, di sekitarnya terdapat banyak mobil yang digulingkan untuk membentuk barikade dan juga terdapat beberapa orang menjaga dengan ketat di setiap sisinya. Merekalah para ******* yang nekat mencuri emas berharga monas.


‘Mereka bukan bocah tengik yang bodoh. Persis seperti yang dikatakan Mira dan Arthur, bahwa ada sekelompok orang yang tak boleh diremehkan.’


Ardianto tentunya percaya diri atas kemampuannya sebagai jendral besar karena telah melewati berbagai pertempuran sulit sehingga membawanya ke posisi saat ini.


Namun dia saat ini merasa begitu dipermainkan oleh sekelompok ******* yang benar-benar membuat banyak masalah.


Meletakkan bom di tempat umum, menyandra presiden hingga mentri dan duta besar sehingga mereka tak bisa nekat menerobos barikade tersebut karena tahu kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.


“Apa ini sungguh akan berhasil, Arthur? Aku tak masalah mempertaruhkan hidupku demi bernegosiasi, tetapi sulit menerima gagasan ini.”


Melakukan penawaran dengan musuh memang membuatnya kesal karena itu seperti tidak ada cara apapun yang bisa digunakan.


Namun Ardianto tidak naif, dia tahu betul bahwa kemenangan adalah segalanya. Bahkan jika harus menundukkan kepalanya, Ardianto takkan ragu melakukannya. Semuanya hanya untuk negara.


“Permisi, Jendral!”


Seorang prajurit datang ke hadapannya, tegang dan memberikan hormatnya. Ardianto tentunya membalas hormat dengan mengangkat tangannya.


Prajurit tersebut memberikannya sebuah mic yang telah terhubung dengan pengeras suara, seperti permintaannya. Ardianto kemudian menarik napas dalam dan berteriak.


“Dengar aku, *******! Aku ingin bernegosiasi dengan kalian!”


Ardianto diam menunggu balasan selama beberapa menit, tak ada balasan apapun sehingga dia melanjutkan perkataannya.


“Aku bersumpah atas negara dan kehormatanku untuk tidak menyerang perwakilan kalian selama negosiasi!”


“Aku ingin bicara denganmu!”


Sekali lagi menunggu dan berharap akan mendapatkan balasan. Hampir dua puluh menit menunggu namun tak ada jawaban atau respon apapun.


Para ******* yang berjaga juga tampak acuh tak acuh, mungkin mereka tak memahami bahasa atau semacamnya. Meski begitu Ardianto yakin bahwa mereka mengerti.


Saat dia hampir menyerah akhirnya seseorang tampak berjalan dari balik barikade, pria yang sangat besar. Bukan karena buncit tetapi otot-ototnya yang menonjol.


Ardianto mengangkat tangannya ke udara, “Jangan ada yang menembak! Ini perintah!”


Semua tentara menurunkan senjatanya namun tetap berwaspada dan siaga. Ardianto mengangguk dan melemparkan mic-nya sebelum berjalan ke arah pria besar tersebut; yang juga berjalan menghampirinya.


Keduanya hanya terpaut jarak lima meter dan Ardianto merasa diintimidasi secara tak langsung.


‘Secara umum tinggi dan tubuhku lebih besar dari kebanyakan orang namun dihadapannya aku seperti anak kecil.’


Ardianto setinggi kisaran 200cm namun pria di depannya masih jauh lebih tinggi darinya dan badannya lebih kekar darinya. Meski begitu dia tak gentar olehnya.


“Im Maa Dong Wok. Tell me what do you need.”


Suaranya besar dan sedikit serak, gagah dan perkasa. Sungguh tampak seperti pria sejati dalam benak Ardianto saat ini.


‘Orang asing? Jadi para ******* ini bukan WNI. Seperti yang disampaikan Arthur dan putriku.’


Perawakannya memang gagah dan penampilannya yang menutupi wajah, badan ditutupi rompi anti peluru. Ardianto merasa Maa Dong Wok seperti bos terakhir.


“Im Ardianto. Where is your leader? I want to talk with you leader.”


“Talk to me, Ardianto. Im representative.”


Ardianto sedikit kecewa karena tak mampu bertemu dengan pemimpin ******* ini namun dia tak coba memaksakan kehendaknya. Tampaknya orang-orang ini tidak begitu memahami baik bahasa Indonesia ataupun inggris.


Mempertimbangkan kemungkinan itu, tidak ada salahnya membicarakannya dengan Maa Dong Wok, perwakilan para ******* ini.


“I want to make an offer with you, Dong Wok.”


“Offer?”


“Yea. Tell me the location of the bomb you planted. Instead, I will listen to your request.”


“Very interesting, Ardianto. U out of the lane for this offer. Ha ha, you're a good person. But, we don't need anything. We know what we're doing. Take your self and go.”


Seakan tidak ingin mendengarkan apapun lagi, Maa Dong Wok melangkah pergi tanpa peduli. Meski begitu Ardianto tentunya tidak menyerah begitu saja. Sekalipun dirinya terlihat menyedihkan, jika gantinya dia bisa menyelamatkan orang banyak maka itu tak apa.


“Wait, Dong Wok! I can give u anything you want!”


“Anything?” Dong Wok berbalik dan menatap Ardianto. “So, can you give me your life?”


Ardianto mengerutkan alisnya dengan marah, “Fuck it!”


Sejak awal mereka tak berniat melakukan pertukaran apapun, jelas mereka memiliki kepercayaan diri yang besar. Ardianto jelas merasa diremehkan.


Dengan sikap Maa Dong Wok yang tidak menerima negosiasi, yang harusnya menguntungkan pihaknya maka itu sama seperti deklarasi perang darinya.


Dong Wok secara tak langsung membuat pernyataan untuk menenggelamkannya jika Ardianto mampu melakukannya.


Meski begitu Ardianto telah terlatih untuk tak terprovokasi dan mengambil tindakan dengan kepala dingin, dia sudah melalui berbagai hal sehingga hal ini tak cukup untuk memancing kesalahan darinya.


Ardianto kemudian meminta para prajurit bersiaga penuh dan dia berjalan ke tenda Arthur namun seseorang datang memanggilku dengan suara keras.


“Ah, wait. I have good idea!”


Orang itu adalah Dong Wok, pria yang menolak negoisasi darinya. Ardianto enggan mendengarkannya sampai akhir namun firasatnya mengatakan dia akan menyesal jika melewatkannya.


“If you want to fight with me, and win, i swear i will bring back the president.”


“What? Fight?” ujar Ardianto dengan nada tinggi agar suaranya mencapai Dong Wok.


“Man talking with his hands. U know it.


You and i. One by one. How do u thing, Ardianto?”


Tantangan terbuka dari Dong Wok, pertarungannya tangan kosong antara Ardianto dengan Dong Wok. Sejauh yang dipahaminya, itu ada keuntungan satu pihak.


Ardianto akan mendapatkan kembali presiden, komandan tertinggi negeri ini. Dan, dia juga berkesempatan menjadikan Dong Wok sebagai tawanan.


Dilihat dari manapun ini hanya keuntungan di pihaknya saja.


Note:


Yo, maaf karena percakapan bagian terakhir menggunakan bahasa luar. Dikarenakan ini pov Ardianto dia takkan memahami bahasa yang diucap Dong Wok; yang bahasa utamanya adalah korea.


Awalnya saya ingin menuliskan dong Wok dengan bahasa asalnya tetapi sayang bahwa saya tak memiliki pengetahuan apapun. Tentu, translate adalah jawaban namun bahkan mesin translate bisa memiliki perbedaan terjemahan dengan aslinya.


Yah, gak beda jauh dengan inggris. Cukup sampai sini. Selanjutnya tentang Lost Of Legends.


Jika kalian memiliki waktu senggang yang lebih, tolong mampir ke karya saja. The Lost Of Legends. Dan, berikan pendapat kalian. Bahkan lebih bagus lagi kalian membantu saya menemukan nama yang tepat untuk sebuah kerajaan maupun kota, bahkan mungkin nama tokoh.


Saya buntu menemukan nama untuk tokoh figuran dan hal lainnya.


Yah, sekian dari saya. See u in the next chapt!