The Degree

The Degree
Dua Bulan



Dua bulan sejak para pengguna Degree dilepaskan ke Jakarta. Beberapa kekacauan kecil terjadi seperti ledakan dan baku tembak. Pihak kepolisian menganggap bahwa ada kemungkinan keberadaan ******* atau penyelundup senjata.


Hal ini tentunya menjadi berita heboh dan membuat orang-orang jadi takut untuk pergi keluar. Untuk mengatasi hal tersebut gubernur bertindak tegas dengan melakukan pemeriksaan kepada setiap orang.


Memang hal itu memberi ketidaknyamanan karena mereka harus digeledah setiap kali masuk ke suatu tempat ataupun bertemu pihak kepolisian. Namun tentunya semua warga sadar bahwa itu semua untuk keselamatan mereka.


“Semuanya jadi tambah kacau. Siapa orang-orang bodoh yang melakukan hal itu?” gumam Ray selagi memandang berita TV.


Terumi yang sedang mengupas apel untuk Ray juga setuju. Ada banyak kelompok yang bergerak tanpa berpikir panjang. Meski keberadaan Degree tersembunyi dengan baik, tetapi pertarungan di permukaan adalah tindakan bodoh.


“Bukankah dengan ini musuh kita bukan hanya para pengguna Degree? Selain itu untuk bergerak akan sulit bagi kita.”


Mereka tak bisa bertindak sembarangan seperti membawa pistol ataupun pistol ke mana-mana. Jika ada kesempatan untuk menghajar para bajingan itu maka Ray akan dengan senang hati untuk melakukannya.


“Itu benar adanya. Kemungkinan terburuk di masa depan aparat keamanan juga akan menjadi musuh bagi kita. Untuk alasan itu juga aku ingin membangun company.”


Di dunia ini kekuatan mutlak bukanlah otot, tetapi kekuasaan dan uang adalah yang terkuat. Dengan uang bukan hal sulit membelokkan hukum negara sekalipun, dan dengan kekuasaan besar, mereka yang tak punya kuasa akan segan dan dipaksa untuk tunduk.


Sudah bukan rahasia lagi bahwa orang berkuasa akan menginjak mereka yang tak memiliki apa-apa. Bagi para penguasa, rakyat jelata adalah barang sekali pakai yang bahkan tak ada masalah jika dihilangkan.


Meski membutuhkan waktu yang lama untuk membangun kekuasaan, Rau yakin dirinya memiliki waktu lebih banyak. Berkat Serum D, para pengguna Degree akan memiliki umur yang panjang.


“Aku pikir kamu bercanda, namun kamu benar-benar berencana membangunnya?” tanya Terumi dengan wajah tak percaya.


“Ya, memangnya kapan aku bercanda pada sesuatu?” ujar Ray dengan wajah yang terlihat sedikit bingung.


“Kamu mungkin benar, tetapi apakah bisa melakukannya dalam waktu singkat?” tanya Terumi.


Membangun sebuah company bukan pekerjaan mudah. Mereka butuh waktu beberapa tahun untuk mendirikannya sampai memiliki kekuasaan yang cukup disegani.


Terumi tentunya tidak yakin jika mereka memiliki waktu sebanyak itu untuk disia-siakan. Dia juga tak yakin bila ada cara untuk mempersingkat prosesnya.


“Kamu tak perlu khawatir tentang itu. Aku memiliki cara untuk mendapatkannya dalam waktu singkat. Tentunya, itu adalah pilihan terakhir yang bisa kugunakan.”


Ray tak berniat membeberkannya sekarang mengingat rencana tersebut tak lagi bisa menjadi sebuah jaminan. Alasannya sederhana karena kartu truf yang disimpannya entah masih bisa berguna atau tidak.


Ya, kartu itu adalah Erina Queen. Ray memiliki rencananya sendiri saat wanita itu masih berada dalam kendalinya namun sekarang hal itu sulit dilakukan karena Erina divonis lupa ingatan.


Bahkan jika Terumi memberikannya pengetahuan tentang Secret dan Degree, tetap saja sulit baginya untuk menggunakan Degree-nya karena membutuhkan syarat tertentu agar aktif.


Erina yang sekarang ini mungkin saja takkan berani membuka pakaiannya agar target memiliki rasa terima kasih dan utang budi sehingga Degree-nya dapat berguna.


“Omong-omong pemulihanmu begitu cepat dan bisa dipulangkan. Tampaknya Serum D benar-benar berfungsi dengan baik.”


Biasanya dua bulan adalah waktu yang cukup untuk lukanya mengering, tetapi dengan Serum D hal itu dua kali lebih cepat. Ray saat ini bisa bergerak dengan bebas.


“Ya. Meski begitu Serum D tak maha kuasa. Sejujurnya aku sedikit berharap kemampuan pemulihannya bisa meregenerasikan tangan kiriku.”


Ray sekarang harus menjalani hidupnya tanpa tangan kiri, itu adalah hal yang mengecewakan namun Ray bersyukur. Dia bersyukur hanya kehilangan tangan kirinya dari kejadian itu dan bukan nyawanya.


Tak ada masalah dengan mengorbankan beberapa bagian tubuh lainnya karena sesungguhnya pemenang adalah mereka yang berhasil bertahan hidup. Bahkan jika melarikan diri dan dicap sebagai pengecut, pada kenyataannya pengecut itulah yang menang karena berhasil survival sampai akhir.


“... itu memang disayangkan, namun apa boleh buat.”


“Ya. Kalau begitu mari persiapkan diri untuk pergi, namun sebelum itu ...”


Ray pergi mengunjungi Indri dan Ben setelah ia mengurus administrasi serta membawa barang-barangnya.


Terumi dan Erina memutuskan untuk menunggu di luar meskipun Ray memintanya untuk ikut. Entah apa alasannya Terumi begitu enggan bertemu dengan Indri.


Ray sedikit-banyak tahu alasannya, mungkin karena Terumi benci denhan cara bicara Indri yang penuh dengan sarkasme. Dia selalu merendahkan lawan bicaranya setiap kali ada kesempatan.


Meski begitu Ray sempat bertanya-tanya mengapa Indri tak menggunakan gaya bicara khas itu kepadanya. Indri hanya berbicara seperti orang normal saat lawan bicaranya adalah Ray, Ben dan juga rekannya.


Bahkan Indri tampaknya pilih-pilih untuk mengucapkan perkataan itu kepada lawan bicaranya. Kemungkinan dia memperhatikan siapa lawan bicaranya. Indri mungkin tak ingin menyinggung orang yang bisa benar-benar berbahaya untuknya.


Ketika Ray masuk ke ruangan Indri dan Ben berada, dia disambut pemandangan mengejutkan di mana Indri masih menggunakan perban di sekujur tubuhnya, dan Ben memiliki luka di wajah juga matanya. Pria itu tampaklah baru saja di bius untuk mencegahnya merasakan sakit.


Bahkan dengan kemampuan Serum D, Ben masih belum pulih seutuhnya. Dia menderita luka yang sangat fatal.


Diantara Ray dan Indri, Ben jadi orang yang menerima kerusakan paling buruk. Tak hanya di bagian wajah, tampaknya dia kehilangan kaki kiri dan jari di tangan kanannya. Selain itu ada kemungkinan dia juga mendapatkan luka dalam yang Ray tak ketahui.


“Kalian terlihat sangat menyedihkan,” ujar Ray tanpa memperhatikan perasaan Indri.


“Tidakkah kamu merasa seperti menghina diri sendiri?” ujar Indri selagi tersenyum masam. “Kehilangan lengan adalah kerugian besar untukmu. Sangat disayanginya bahwa Serum D tak bisa meregenerasi.”


Indri mengatakannya seakan-akan dia mendengar langsung harapan kecil Ray, meski begitu Ray tak mengatakan apapun tentang itu.


“Aku tak memiliki kekhawatiran apapun tentang tangan ini. Justru ini pengalaman berharga dan juga aku bisa menggantinya dengan sesuatu.”


Teknologi sudah maju, dengan uang yang dimilikinya maka bukan mustahil memasang lengan robot. Ray tak tahu bagaimana caranya bekerja, tetap dia pernah mendapat kesempatan untuk melihatnya.


“Ya, itu ada benarnya,” Indri tertawa kecil sebelum menjadi serius, dia menatap Ray dengan marau yang terpendam. “Saat kamu menemukannya ... bisakah kamu letakkan kepala bajingan itu di tempat yang mencolok?”