
Saat Arthur akhirnya membungkam mulut orang-orang itu, sesuatu meledak keras, menciptakan gempa kecil yang mencapai tempat mereka.
“Apa yang terjadi?”
“Ledakan ini ... mungkinkah rudal atau semacamnya?!”
“Jangan mengatakan hal konyol! Tidak mungkin sesuatu seperti itu meledak di sini!”
Mereka tentunya terkejut dan sedikit panik. Yang pertama mengambil tindakan adalah Indri, dia bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Diikuti oleh Ben dan kemudian Arthur. Mereka bergegas menuju TKP secepat yang mereka bisa namun ... mereka mendadak jadi begitu diam, seakan-akan terkena sihir dan mematung berkat kejutan besar di mata mereka.
“Malapetaka ...,” gumam Arthur, tidak bisa menemukan kata terbaik selain malapetaka untuk menyimpulkan sesuatu yang terjadi di depannya.
Malapetaka, itu berarti sesuatu yang bisa berarti kekacauan ataupun peristiwa besar. Dan, apa yang ada tepat di depan matanya adalah peristiwa besar.
Saat itu Arthur teringat kembali perkataan Indri; api akan berkobar dan bukan pertempuran, tetapi peperangan dimulai.
Barikade yang dibuat dari truk dihancurkan sebagian. Asap dan apinya cukup besar untuk membuat langit terpolusi dan memerah layaknya senja.
Sekelompok orang-orang mulai berjalan keluar dengan santai, menghampiri seorang pria dengan tinggi tidak normal. Pria itu tampak mengangkat kerah seseorang. Orang yang dikenal Arthur dengan baik.
“Jendral Ardianto!”
Ya, saat ini Marshal besar tak berkutik di hadapan pria besar tersebut. Wajahnya juga babak belur dan tangannya bengkok ke belakang serta jari-jarinya yang memar.
Arthur ingat bahwa Ardianto menerima duel dengan pria bernama Maa Dong Wok. Tidak terduga bahwa dia dikalahkan, Maa Dong Wok juga tidak terlihat memiliki luka yang fatal.
Dari hal itu muncul pertanyaan; apa semudah itu jendral berbintang lima dikalahkan oleh pengguna Degree?
Arthur sangat yakin jika Maa Dong Wok ini adalah pengguna Degree. Habisnya tidak mungkin dia sama sekali tidak mengetahui kehadiran orang sebesar itu, mungkin Dong Wok sendiri lebih besar dari Hulk.
Dong Wok pasti memiliki suatu trik yang membuatnya bisa membesar atau memperkecil tubuhnya. Arthur tidak tahu apa rahasianya namun jika Mona berhasil mengidentifikasinya, maka mudah mengetahui apa Degree-nya.
“Apa-apaan ini?!”
“Jendral dikalahkan?!”
“Lebih dari itu lihat mereka! Mengapa ada begitu banyak presiden?!”
Hal yang menakjubkan selain ledakan dan kekalahan Ardianto adalah orang-orang yang berjalan keluar. Mereka semua memiliki satu wajah. Wajah yang sama dengan sosok presiden negara ini.
Orang-orang itu juga membawa beberapa sandra bersama mereka yang wajahnya ditutupi oleh kain hitam. Meski begitu, ada juga beberapa yang memiliki wajah seperti presiden.
“Jangan macam-macam. Presiden, menteri dan beberapa orang yang kalian anggap penting berada di sini!”
Suara seseorang berteriak memberikan peringatan. Memang, dengan cara ini mereka tak bisa melakukan penembakan secara asal lantaran bisa saja salah sasaran.
Tidak lucu di mana tentara yang berusaha menyelamatkan presiden justru membunuhnya karena salah target.
“TAHAN TEMBAKAN!” Arthur berteriak keras karena melihat beberapa tentara hendak menembak. “JENDRAL JUGA ADA DI SANA!”
Dong Wok bisa saja menjadikan Ardianto sebagai perisai hidup untuk melindungi dirinya. Meski kondisi Ardianto terlihat menyedihkan, setidaknya Arthur yakin dia masih bernapas.
“Ini ... tidak mungkin. Semuanya akan dimulai,” ujar Indri. “... aku tidak bisa mengubahnya.”
Arthur mendengar hal itu langsung dari Indri, dari yang dia simpulkan tampaknya masa depan yang buruk belum terjadi. Arthur tidak mau membayangkan hal apa yang dilihat oleh Indri.
“Bagaimana ini? Apakah kita akan membiarkan mereka melarikan diri dengan cara yang mustahil seperti ini?!”
“Apa-apaan inu sebenarnya?! Mengapa mereka bisa melakukan sesuatu seperti itu?!”
Arthur sudah tahu alasan mengapa sampai detik ini Haiyan hanya membarikade dirinya di dalam monas. Itu mungkin karena dia sedang mempersiapkan semua ini. Toh, telah terungkap bahwa Haiyan mampu menjadi orang lain.
Maka bukannya mustahil dia bisa membuat orang melakukan penyamaran sempurna seperti itu.
“Jangan panik!” Indri berteriak dan menyampaikan kepada Arthur, “Yang asli takkan menembak, Arthur!”
Arthur dengan cepat memahami apa yang coba disampaikan Indri. Toh, meski Indri bisa mengatakan langsung kepada semuanya namun belum tentu mereka akan menurut.
“Presiden yang asli tidak akan menembak! Saat ada diantara mereka menembak kita, maka orang itu adalah musuh, jangan ragu membunuhnya!”
Tak sampai di sana, Arthur berbalik dan memanggil salah satu prajurit lalu membisikkan sesuatu.
“Kamu pergi ke garis belakang dan perluas batas sampai sepuluh kilometer jauhnya!”
“Siap!”
Arthur khawatir bahwa Haiyan akan memanfaatkan ini untuk melarikan diri. Dia tahu Arthur tak bisa menjatuhkan perintah penembakan, dan juga dia mungkin memahami bahwa andaikata dia menembak para tentara, maka itu adalah akhir darinya.
‘Saat mereka berusaha membunuh salah satu sandra atau setidaknya presiden yang asli, aku akan bertindak untuk menyelamatkannya.’
Sangat disayangkan bahwa Mona dan Mira sedang dia kerahkan untuk tugas mencari bom yang disebarkan. Arthur merasa itu keputusan yang buruk namun juga bagus.
Buruk dalam artian dia kehilangan kekuatan dan otak tambahan yang berharga, baik dalam artian dia menjauhkan mereka dari bahaya besar ini.
“Ini ... sial, semuanya tambah kacau. Ben, mari pergi!” Indri dengan tergesa-gesa melarikan diri dengan susah payah.
“Hey! Ke mana kamu pergi?!” Arthur berusaha mengejarnya namun dia tak melakukannya, situasi saat ini lebih penting ketimbang Indri.
“SEMUANYA—”
Suara keras yang dikenali Arthur dan para tentara lainnya. Itu adalah Jendral Besar, Ardianto yang berteriak keras.
Arthur bersyukur bahwa pria itu masih hidup namun disisi lain dia merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Firasat tersebut juga didukung oleh fakta Indri dan Ben melarikan diri secepat yang mereka bisa.
“Apa yang—” tepat ketika Arthur merasakan kebingungannya, Ardianto kembali menyampaikan.
“Tidak ada satupun ... yang asli. Semuanya palsu!”
Para tentara terdiam dan berusaha mencerna pesan Ardianto. Di sisi lain orang-orang dengan wajah presiden mulai berlarian ke arah mereka, menyebar seperti semut yang marah. Tersenyum lebar, wajah yang terlihat jelas dipenuhi oleh segala kegilaannya.
Di waktu yang teramat singkat tersebut Arthur memahami segalanya dengan cepat. Tidak ada yang asli, itu artinya mereka semua adalah palsu.
“TEMBAK!” Arthur berteriak sekeras-kerasnya sampai tenggorokannya terasa begitu menderita.
Beberapa komandan mendengarkannya dan mulai menembak, tetapi berbeda dengan yang lainnya bereaksi lambat.
Namun apa daya? Para ******* itu sudah bergerak lebih dulu dan memotong jarak yang dekat dengan para tentara.
Tidak dapat dijelaskan secara rinci namun disaat itu Arthur melihat jelas bagaimana setiap tubuh manusia itu meledak layaknya kembang api penuh darah.
Cara paling keji dan tidak manusiawi dalam melakukan serangan yakni ... sebuah bom manusia.