
Degree adalah sebuah teknologi misterius yang membuat penggunanya mampu menggunakan kekuatan spesial. Bisa dikatakan bahwa itu adalah teknologi seukuran sel darah yang memberikan kekuatan super kepada manusia.
Jika diartikan secara bahasa Degree adalah gelar. Cara kerja Degree menentukan kekuatan adalah melalui sosok paling dekat dengan individu tersebut, atau sesuatu yang akan maupun ingin dicapai.
Degree tidak hanya tentang cita-cita dan keinginan, tetapi juga kepribadian, apa yang disukai dan apa yang diidamkan.
Contohnya bila ada seseorang yang sangat menyukai budaya dan mempelajari banyak darinya, maka Degree akan menjadikannya sebagai fanatik budaya.
Tentu ada banyak kasus lain yang tidak masuk akal dan sulit dimengerti. Salah satunya adalah orang dengan Degree tokoh utama.
Apa yang membuatnya menjadi tokoh utama? Mungkinkah itu berasal dari keinginannya sendiri? Kalau begitu mengapa hanya ada satu orang mengingat semua orang ingin menjadi tokoh utama?
Lantas mengapa hanya satu orang ini yang bisa menjadi tokoh utama?
Itu karena kisahnya. Setiap orang memiliki kisah yang sangatlah berbeda namun ada satu kisah yang mendekati tokoh utama itu sendiri.
Kisah yang menyedihkan dan penuh penderitaan adalah hal yang menjadi ciri khasnya. Tidak hanya itu, tetapi tentang prinsip, keinginan dan hal apa yang ingin dicapainya menjadi kualifikasi tokoh utama.
“Aku dengar dari Eric ... bahwa kau pernah membunuh sebelum datang ke sini.”
Ray tahu tentang itu namun dia tidak pernah mendengar kisah lengkapnya.
“Kamu tidak tahu cerita lengkapnya ... itu artinya Eric tidak memiliki kesempatan menceritakannya.”
Arthur tidak lagi terkejut jika sesuatu sudah terjadi tanpa sepengetahuannya. Meski Eric adalah teman masa kecilnya namun aneh bahwa Arthur tidak merasakan duka sama sekali.
Dia hanya merasa kosong selagi membuang-buang waktu sebelum memulai pertarungan terakhirnya.
“Aku membunuh pamanku yang berniat memperkosa kakak perempuanku ... meski akhirnya aku gagal menyelamatkan siapapun.”
Itu adalah hari ketika baru dua bulan sejak orang tua Arthur meninggal karena kecelakaan. Alhasil pamannya harus menjadi wali dan tinggal bersama mereka.
Namun pamannya itu mulai tertarik pada kakak perempuan Arthur. Awalnya dimulai dari kejahatan kecil seperti menghirup pakaian dan hal menjijikkan lainnya. Namun kian lama makin menjadi, pamannya mulai melakukan pelecehan.
Sampai tiba waktu di mana dia tidak mampu menahan dirinya dan berusaha menyetubuhinya kakak perempuannya.
“Saat itu kakakku sedang menyiapkan makanan dan bajingan itu menyerangnya. Aku ... kebetulan baru pulang dari sekolahku dan menyaksikan itu.”
Arthur menyaksikan kakak perempuannya sedang memberontak selagi pamannya mendorongnya ke lantai.
Kala itu Arthur yang menyaksikannya terdiam dan mulai menyerangnya. Tentu percobaan pertama adalah kegagalan dan dia dihajar habis-habisan, tetapi kakaknya tidak diam.
Dia mengambil wajan panas berisi telur dan memukul pamannya. Tentu sasaran pamannya berganti ke arah kakaknya. Pada akhirnya di kesempatan itu Arthur mengambil pisau dan menusuk pamannya.
Arthur ingat jelas kenangan saat dia melakukan pembunuhan.
“Arthur kamu baik-baik saja?!”
“... membunuhnya. Aku ... membunuhnya...” Arthur terguncang karena melakukan pembunuhan pertama dalam hidupnya.
Api kompor saat itu membakar kain dan menyambar ke benda lain yang mudah terbakar. Dalam waktu singkat si jago merah melahap apapun di sekitarnya.
“Kamu tenang saja ... kakak akan mengurusnya untukmu!”
Arthur saat itu menurut dan berlari keluar meninggalkan kakaknya. Dia panik dan karena itu meminta pertolongan orang lain dengan berteriak. Namun sayang, guncang batin dan hatinya goyah menyebabkan suaranya tak mampu keluar.
Seakan-akan ada yang mencekik pita suara demi mencegahnya berteriak. Lantas apa yang bisa dia lakukan? Hanya seperti orang gagap yang berusaha bernyanyi selagi banjir air mata kesedihan.
Beberapa orang menghampirinya dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi namun suara tak bisa keluar. Arthur hanya bisa menoleh ke arah rumahnya yang mulai mengeluarkan asap.
Akhirnya kakak perempuannya keluar dengan tubuh penuh darah, menangis dan tersenyum.
Bertepatan dengan kalimatnya, kayu mulai berjatuhan dan menimpa kakaknya Arthur sebelum dia selesai berbicara.
Arthur yang mengingat kembali kenangan itu merasakan pahit dan kesal. Karena ulahnya, kakaknya menderita koma hingga saat ini.
“Begitu, kah. Kamu dalam kondisi putus asa itu undangan Secret datang padamu.”
“Tepat sekali.”
Secret menawarkan orang yang mengikuti uji coba akan mendapatkan apapun yang diinginkannya. Arthur mungkin terpincut oleh itu meski curiga.
“Bagaimana denganmu? Kamu tidak tampak seperti orang yang pertama kali membunuh saat datang ke tempat ini.”
Ray tertawa kecil dan menceritakan kisahnya sebagai timbal balik. Dia perlu juga mengisi tenaganya demi pertempuran terakhir meski sebenarnya tidak ada waktu lebih banyak lagi.
Selesai bertukar cerita baik Ray maupun Arthur mulai berdiri dan saling berhadapan satu sama lainnya. Mereka tahu betul bahwa ini akan menjadi yang terakhir.
Bahkan jika Ray sudah memiliki lima kunci, dia tidak segera menyelesaikan semua ini. Urusan terakhir yang dia perlu selesai adalah dengan Arthur.
Arthur mengangkat tinjunya dan menatap tajam,“Bukankah kamu mengatakan akan mengungkapkan Degree?”
Ray tersenyum dan memasang kuda-kudanya sendiri.
“Tentu kulakukan. Namun tidak bisakah kamu menebak setelah mendengar ceritaku?”
“Aku tidak suka melakukan hal yang sia-sia.”
Itu memang persis Arthur, Ray hampir mengatakan itu dengan lantang.
Degree, setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda namun bisa disimpulkan bahwa itu adalah sesuatu yang cocok untuk individu tersebut.
Arthur memiliki Degree tokoh utama, itu mungkin karena dia memang memiliki kelayakan untuk mendapatkannya.
“Aku belum pernah menyampaikannya pada siapapun. Tentang Degree yang tidak bisa kumengerti dan tak bisa aku gunakan.”
Degree yang bisa dikatakan aneh namun juga memiliki hal yang spesial. Bahkan mungkin Degree-nya adalah lawan terbaik untuk tokoh utama.
“Mungkin memang tidak bisa digunakan atau sudah aktif setiap saat tanpa aku sadar. Yah, itu tidak kupahami sampai sekarang.”
Arthur tersenyum, “Aku rasa mustahil orang bisa bertahan sejauh ini tanpa Degree. Meski kamu di didik untuk menjadi jenius serba bisa, tetap saja ada hal yang tidak mungkin bisa dilakukan di lingkungan seperti ini.”
Lingkungan di mana manusia menerima kekuatan. Ray Morgan mungkin orang yang bertahan dari semua ini tanpa menyadari Degree-nya telah otomatis digunakan tanpa pernah dia meminta.
“Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yah, aku tidak benar-benar peduli. Pada akhirnya yang hidup adalah pemenangnya.”
“... Degree-ku—”
Tindakan yang dia ambil akan dijawab oleh konsekuensi yang menunggu kesimpulannya.
Untuk pertama kalinya dunia akan mendengarkan pernyataan dari Degree yang dimiliki oleh Ray Morgan.
Ray memiliki senyuman tipis dan diam-diam bersuka cita. Akhirnya setelah melewati masa yang panjang dia bisa mengatakannya dengan lantang.
“—Penjahat Utama.”
Lawan yang cocok untuk tokoh utama, dan keberadaan yang mampu membunuh tokoh utama.
Bahkan di dalam novel manapun, bila ada MC, pastinya ada pula Villain.