
Leo tengah dalam situasi bermain petak umpet dengan Alexis. Dengan Alexis sebagai pengejar yang melemparkan bola besi berbahaya dengan liarnya.
“Sial! Bajingan ini benar-benar menyusahkan!” Leo tak bisa bertindak banyak karena setiap serangan Alexis sangat berbahaya.
Sampai saat ini Leo masih mempelajari Degree yang dimiliki Alexis. Yang berbahaya bukanlah kekuatan lemparannya tetapi bola besinya. Meski kecil benda itu jelas sangat berat, Leo pernah coba mengambilnya dan mengejutkannya benda itu memiliki bobot lebih dari dua puluh kilo.
Manusia seperti apa yang bisa melemparkan benda seperti itu dengan sangat mudah? Sulit membayangkannya jika Alexis tidak mendapatkan dukungan dari Degree-nya.
“Mau sampai kapan kamu ingin bersembunyi? Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin mengalahkanku? Tampaknya kamu sangat ahli menyampaikan omong kosong.”
Alexis melemparkan bola besinya ke tempat Leo bersembunyi. Pohon yang menjadi penghalang hancur dengan mudah namun Leo bergerak cepat sehingga berhasil meloloskan diri.
Aku tak bisa terus bertahan, orang ini seakan memiliki stok bola besi tidak terbatas!
Rencana awal Leo adalah membuat Alexis kehabisan bolanya namun siapa yang menduga orang ini sama sekali tidak khawatir menggunakannya. Bahkan seiring dengan waktu ia menggunakan semakin banyak bola.
Leo merasa kesal karena dirinya menjadi sombong beberapa waktu lalu padahal ia tidak bisa menghadapinya sama sekali.
“Sial! Kalau aku menggunakan Degree-ku, maka fakta bahwa singa tidur bukan kekuatanku akan terungkap,” gumam Leo selagi berlari melewati pepohonan.
Alasannya tak pernah serius dalam pertarungan adalah karena Degree-nya. Leo mungkin bodoh namun dia tidak tolol, fakta bahwa sejak awal ia memalsukan Degree-nya tak pernah diketahui oleh siapapun.
Hal ini berlaku untuk Terumi yang bisa dibilang sudah cukup lama bersamanya.
Namun jika aku ingin bertahan, tak ada pilihan selain menggunakannya!
Urat-urat di tangan kiri Leo mulai keluar dan terlihat besar seiring dengan kukunya yang kian memanjang. Saat dia ingin menggunakan kekuatan sesungguhnya, Alexis melompat tepat di depannya.
Di tangannya sudah tersedia empat bola besi. Alexis tertawa senang dan melemparkannya.
“Bola itu akan membunuhmu.” Suara asing menggema dan seketika itu akurasi dari bola yang dilemparkan Alexis tiba-tiba meleset.
Bahkan dari balik topengnya mudah menilai bahwa Alexis terbelalak karena tidak menyangka akurasi lemparannya meleset dari jarak yang sangat dekat.
Alexis kemudian melompat mundur dan menjaga jarak. Perhatiannya tidak tertuju kepada Leo, tetapi pria asing yang berkata sebelumnya.
Seorang pria dengan rambut keemasan bersandar santai di pepohonan. Dari wajahnya yang terlihat narsisme dan mengejek pasti akan membuat siapapun kesal melihatnya.
Leo ingat pria itu saat pertama kali mengikuti uji coba ini. Dia adalah pria yang banyak bertanya dan bicara.
“Apa yang baru saja kamu lakukan?” Bukan Alexis tetapi Leo yang bertanya.
“Aku? Tidak ada. Aku hanya berbicara selagi melihat kalian bermain kejar-kejaran.” Ia mengelak menjawabnya dan mendengus senang.
“Jelas kamu melakukan sesuatu karena tidak mungkin bagiku meleset.” Alexis terlihat geram dan berniat melemparkan bola kepada pria pirang itu.
“Ups! Aku akan mati jika kamu melempar itu padaku!” Pria pirang tampak panik dan berusaha menghentikan Alexis.
“Tentu saja kamu harus mati!” Alexis melemparkan tanpa menghentikannya namun ia kembali terkejut karena bolanya berbelok sebelum mengenai pria itu.
“Ups, aku beruntung!” Pria pirang tertawa senang selagi menjulurkan lidahnya.
Baik Leo maupun Alexis terkejut bukan main karena pria ini jelas tidak normal. Ia hampir tidak melakukan gerakan yang berarti selain berbicara.
“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak melakukan apapun padamu. Tidak perlu dendam padaku, orang yang hanya bisa berbicara.”
“Apa maksudmu semua kejadian ini disebabkan kamu yang berbicara? Maka aku harus menutup mulutmu.”
Alexis berniat melemparinya dengan liar tetapi radio kecil di telinganya berdering. Panggilan itu tak bisa ia abaikan karena datang dari pemimpinnya.
“Ada apa, Virgo?” Alexis jelas tidak senang karena pertarungannya mendapatkan gangguan tidak terduga.
“Ini situasi tidak terduga. Kelompok kecil yang menyebalkan mulai menampakkan dirinya dan kita harus mundur. Aku yakin salah satu dari mereka datang menemuimu saat ini.”
Alexis menatap pria pirang di depannya yang tersenyum menyebalkan. Ia tidak tahu siapa orang ini namun pastinya dia anggota dari kelompok kecil yang dimaksud Virgo.
“Mengapa kita harus mundur? Bahkan jika Degree-nya kuat, aku percaya diri bisa mengalahkannya.” Alexis menolak perintah Virgo untuk mundur.
“Kamu tidak mengerti, Alexis. Mereka semua adalah generasi kedua yang menyebalkan. Degree mereka bukan sesuatu yang kamu akan mampu menghadapinya.”
“Mengapa aku tak mampu?”
“Orang di depanmu adalah si pembohong, Guren. Apapun yang dia katakan adalah kebohongan, setiap seranganmu akan meleset hanya dengan kata-katanya saja. Itulah Degree-nya, dan rekan-rekannya memiliki Degree yang lebih menyusahkan ketimbang dia.”
“Karena itu cepatlah pergi. Waktu takkan menunggu lagi, nuklir tidak akan bisa dihentikan. Jika kamu mau tetap hidup maka patuhi aku.” Virgo menekankan ancamannya di kata-kata terakhirnya.
Alexis merasa geram dan marah karena ini akan menjadi kali kedua ia membiarkan lawannya hidup. Tentunya hal ini melukai harga dirinya yang tinggi.
“Cepatlah pergi, itu perintah dari bosmu, kan?” Pria pirang bernama Guren berkata mengejek, “Aku yakin dia sudah bertemu pemimpinku yang tidak masuk akal.”
“Apa maksudmu?” Alexis mengerutkan alisnya.
“Yah, kamu tahu? Aku, Hiroshi, bahkan Ben tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pemimpinku. Kami pada awalnya memiliki tujuan yang berbeda-beda namun di bawah kepemimpinannya orang-orang yang berbeda jalan bisa bersatu. Hanya satu tujuan kami yaitu menyelesaikan Open World dan seluruh tugas lainnya. Untuk alasan itu juga yang mendorong pemimpinku mengaktifkan nuklirnya.”
Alexis tidak menduga bahwa kelompok kecil ini adalah yang dimaksud oleh Virgo beberapa hari yang lalu, tentang gerakan kecil dari kelompok misterius.
Ia tidak menduga bahwa kelompok itu benar-benar ada. Dan, harusnya orang-orang ini tidak akan menunjukkan dirinya di tahap ini.
Pastinya ada satu hal yang membuat mereka memutuskan untuk bergabung di panggung utama dan tak lagi bermain dari balik layar.
“Tch! Aku akan pergi untuk saat ini. Di kesempatan selanjutnya, tidak akan pernah aku melarikan diri dengan memalukan seperti ini.” Meninggalkan kalimat itu Alexis melangkah mundur dengan hati-hati dan menyatu dengan gelapnya malam.
Leo memandangnya selama beberapa saat sebelum teralihkan ke Guren yang menghela napas panjang.
“Huh, itu benar-benar menegangkan.” Guren menyeka rambutnya dan mengajak Leo untuk lekas pergi, “Ikuti aku. Teman-temanmu juga akan pergi ke tempat yang sama. Tenang saja, tidak selamanya aku berbohong.”
Leo mungkin ragu namun untuk sekarang tak ada cara apapun yang bisa ia lakukan selain mengikutinya.
...****************...
Nama: Guren Marckwel.
Umur: 25 tahun.
Asal: Canada.
Degree: Pembohong Ulung.
Setiap kalimat yang ia ucapkan akan selalu berkebalikan dengan fakta. Apapun yang ia bicarakan akan selalu terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Jika dia mengatakan "bola itu takkan mengenaiku" maka faktanya bola itu justru akan mengenainya.
Setiap kalimatnya mengandung kebohongan. Namun kebohongannya akan menjadi nyata jika lawan bicaranya membayangkan situasi yang dia katakan ataupun percaya akan kata-katanya.