
“Dasar pengecut! Bisa-bisanya kamu melakukan ini?!” Steve mengambil langkah berat dan menuju Ray.
Steve berniat meraih lehernya namun Ray dengan lincah dan kuat menangkis tangan Steve.
“Aku bisa mengatur racunnya semauku. Bahkan sekarang aku bisa membunuhmu dengannya.”
“Maka lakukan saja! Aku tak peduli jika harus kehilangan nyawa selama aku bisa menghajarmu!”
“Kamu mungkin tidak namun bagaimana dengan teman-temanmu? Kamu tak peduli apa yang akan terjadi dengan mereka?”
Steve menoleh menatap Edward dan yang lainnya. Terutama Nadia yang terlihat begitu cemas selagi memegang lehernya yang terluka.
Benar. Jika aku memilih mati di sini maka mereka akan sedih. Jauh dari apapun aku tak ingin mereka menderita lebih dari ini. Pikir Steve.
“Aku tidak masalah jika kamu ingin tetap melanjutkannya. Lagipula aku akan tetap berdiri sampai akhir.”
Ray tak peduli jika harus kehilangan satu atau dua nyawa kelompok Edward namun untuk situasi sekarang ini saja dia tak menginginkannya.
Jika harus menghilang setidaknya terjadilah ketika semua ini selesai. Segala hal akan jadi bencana andaikata Steve memilih mati sekarang juga.
“Cih! Kamu pecundang terbesar yang pernah aku temui!” Steve menyerah dan mengumpat selagi meludah.
Pecundang, pengecut, licik hingga rendahan. Apapun julukan yang akan Ray terima takkan mengubah tujuannya untuk berdiri di puncak.
“Jadi ... akankah kita melakukannya sekarang?” Edward berusaha mencairkan suasana dengan menepuk tangan dan mengalihkan situasi.
“Lebih banyak waktu terbuang akan lebih besar kemungkinan kita terbuang ke jurang. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku akan mengambil tempat paling berbahaya yakni orang ke enam.”
Meski enggan mau tak mau dia harus melakukannya. Ada beberapa hal yang mungkin saja terjadi jika Ray mengambil posisi di luar orang ke enam.
Diskusi antara Edward dan rekan-rekannya dimulai tanpa membiarkan Ray bergabung.
Rasanya cukup menyedihkan karena seperti orang yang diacuhkan diantara kerumunan orang-orang.
Cukup untuk beberapa menit bagi mereka selesai berdiskusi. Sudah diputuskan bahwa Steve akan jadi orang pertama, diikuti para gadis dan Ray diakhir.
“Ingatlah baik-baik bahwa waktu pergantian kita hanya tiga detik. Saat lima dari kalian sudah mencapai kubus, bergeraklah dengan cepat atau semuanya akan terjatuh.”
Ini adalah taruhan terbesar dalam hidup Ray. Ada kemungkinan bahwa Edward dan kelompoknya sengaja melambat sehingga Ray kehabisan pijakan atau mendorong disaat-saat terakhir.
“Berhati-hatilah, Steve!”
Menatap kubus di depannya Steve sedikit tertahan selama beberapa waktu sebelum memberanikan diri untuk melompat.
Langkah pertamanya bagus dan dia tiba di kubus pertama dengan selamat. Kubus yang awalnya berwarna biru berubah menjadi hijau ketika diinjak.
Meski begitu dia tetap harus melakukan lompatan selanjutnya yang mana menjadi tahap krusial.
“Jane, apapun yang terjadi tetaplah tenang. Jika kamu bertindak ceroboh tidak hanya dirimu namun Steve juga akan berada dalam masalah.” Edward memegang bahu Jane dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Jane mengangguk dan tersenyum canggung, “Ya. Aku pasti akan melakukannya sebaik mungkin. Doakan aku.”
Menyelesaikan pertukaran antara dia dengan Edward, Jane menarik napas dalam-dalam dan memejamkan matanya.
Dia membuka mata dan menatap Steve kemudian mengangguk dengan penuh keyakinan.
Steve melompat ke kubus kedua. Kubus pertama mulai kehilangan warna hijau dan akan diganti dengan merah.
Namun ketika waktunya hampir tiba Jane melompat dan kembali mengembalikan warnanya ke hijau.
“Itu benar ... dibutuhkan waktu tiga detik untuknya berubah warna.” Edward bergumam selagi menatap Ray yang diam membatu.
“Aku berhasil!” Jane terlihat senang seakan-akan telah membuat pencapaian besar dalam hidupnya.
“Jangan senang dulu, masih ada banyak lompatan yang harus kamu ambil.”
Ray tak mau mereka terbuai oleh lompatan kecil tersebut. Jika memang harus maka lakukanlah ketika berhasil melewati seluruhnya.
Ray menemukan bahwa semua orang tengah sibuk melalui rintangannya masing-masing.
Hal yang janggal adalah fakta bahwa tak ada seorangpun yang mengambil rintangan kubus selain Ray dan kelompok Edward.
—Seseorang berhasil menduduki kursi. (4/6)—
Jam mereka berdering di waktu yang sama. Ray sedikit tertegun dan menatap kursi yang ada di ujung ruangan luas tersebut.
Seorang pria yang menggunakan topeng duduk dengan terengah-engah. Tubuh dan pakaiannya bersimbah dengan darah.
Penampilannya sudah cukup menjelaskan bahwa dia telah membunuh setidaknya beberapa orang untuk mencapai kursi tersebut.
Namun waktunya tidak tepat. Tidak baik untuk Edward dan lainnya.
Dengan tersisa dua kursi akan menyebabkan Edward dan yang lainnya semakin tergesa-gesa.
Lantaran tak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika semua kursi terisi penuh.
“Apa yang harus kita lakukan? Jika terus seperti ini kita akan dieliminasi ...” Diana menutup mulutnya dengan tidak percaya dan menatap Edward.
“Jangan panik atau tergesa-gesa. Panik takkan mengubah apa-apa, karena itu sebaiknya kita bergegas.”
Mendengar kata-kata dari Edward membuat semuanya kembali tenang.
Tampaknya Ray tak perlu khawatir mereka akan membuat tindakan bodoh.
Selanjutnya giliran Diana melompat. Steve melompat ke kubus tiga, Jane dua dan Diana kubus satu.
Ketiganya melakukan dengan baik sehingga tidak ada kesalahan apapun.
Seperti yang diharapkan dari kelompok yang sudah ada sejak sebelum mereka mendapatkan Degree.
Tiba waktunya untuk Edward dan Jack, keduanya tak perlu diragukan karena mereka sangat cakap.
Lima kubus sudah terisi dan bagian yang paling mengkhawatirkan tiba.
Ray tak pernah merasa tegang seperti itu dalam waktu hidupnya.
Meski bukan kali pertama Ray harus dihadapkan situasi hidup dan mati, tetap saja rasanya mengerikan.
Adrenalin terpacu dan dikesempatan langka Ray menunjukkan senyum.
Dia memiliki kebiasaan aneh di mana ketika merasa tegang dan berdebar-debar bibirnya akan membentuk senyuman diiringi hati yang geli.
“Mengapa kamu tersenyum?” Edward terlihat khawatir karena mungkin Ray memiliki rencana jahat.
“Tidak. Ini hanya kebiasaanku ketika merasa gugup atau berada di situasi di mana nyawaku bisa saja menghilang. Debaran yang menyenangkan untuk hati yang terasa geli ini.”
“Aku tak tahu harus mengartikannya masokis atau kamu mencintai adrenalin seperti ini. Yah, sedikit banyaknya aku paham.”
Edward adalah seorang ahli bela diri bahkan tanpa Degree. Mereka yang sering menghadapi pertarungan akan terpacu adrenalinnya jika berhadapan dengan lawan kuat yang memungkinkan kekalahan.
“Akan aku peringatkan. Kecerobohan, sengaja melambat dalam perjalanan akan menyebabkan bagian belakang berbahaya. Ini hanya kata-kata saja, jika kalian melakukannya maka aku takkan ragu menyeret siapapun di depanku ke neraka.”
Seandainya Steve atau yang lainnya sengaja melambat agar Ray terjatuh. Maka ketika waktunya tiba Ray akan menarik siapapun yang ada di depannya.
“Meski kamu hanya menggertak namun melihat sikapmu yang tak memiliki keraguan menjadikan kata-katamu berbahaya.” Edward menghela napas kasar.
Seandainya Steve atau temannya yang lain melakukan tindakan tersebut maka Edward akan menjadi orang yang diseret oleh Ray.
“Sepertinya kamu sudah menduga bahwa aku akan jadi orang ke lima. Teman-temanku takkan melakukan hal bodoh jika itu bisa membuatku gugur.” Untuk pertama kalinya Edward benar-benar menunjukkan kebenciannya kepada Ray.
Itu memang fakta bahwa inti dari kelompok kecil tersebut adalah Edward.