
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud namun ini peringatan terakhir; minggir, jangan halangi aku,” Eric berkata dengan nada yang dingin. “kamu akan menyesal,” lanjutnya.
Roid mendengus setelah mendengar perkataan tersebut, “Menyesal? Hidupku sudah penuh dengan penyesalan sehingga apa yang mampu membuatku jadi lebih menyesal?”
Perkataan tersebut jelas memancing kemarahan Eric, tampak jelas dari alisnya yang berkerut dalam meski Roid tidak bertujuan untuk provokasi.
Eric mungkin saja marah dikarenakan Roid menolak menyingkir dan akan menahannya di sini sementara Ray sedang bertarung sengit dengan Leo.
“Asal kamu tahu, aku tidaklah lemah,” ujar Eric yang mulai mengambil kuda-kuda.
“Itu juga berlaku untukku.”
Roid percaya diri dengan kemampuannya dalam pertarungan. Belum lagi dari yang terlihat Eric menggunakan tangan kosong, ini jelas akan menguntungkannya.
Sebagai orang dengan Degree petinju, pertarungan tanpa pisau dan senjata api adalah keuntungan besar baginya. Mustahil Roid akan mudah dikalahkan dalam hal ini.
‘Namun ini tidak mudah. Aku yakin si brengsek ini memiliki Degree serupa denganku. Tampaknya aku perlu menahan diri untuk mengetahui apa Degree-nya.’
Setidaknya Roid yakin Eric memiliki bela diri yang bagus mengingat dia percaya diri untuk bertarung dengan tangan kosong.
“Aku tidak ingat ada kuda-kuda seperti itu,” gumam Roid, menyipitkan matanya.
Setidaknya itu adalah sesuatu yang terbentuk melalui banyak pengalaman berkelahi. Roid tidak yakin tentang itu namun dia akan memahaminya saat sudah merasakan tinju Eric.
Satu hal yang diyakini Roid adalah Degree hanya memberikan manusia sebuah kekuatan dan bukan pengalaman. Meski Degree kuat namun bukan berarti mampu mengatasi pengalaman.
Roid akan mampu merasakan pengalaman seseorang melalui pertarungan nyata. Mau bagaimanapun, jika Eric diberkati kemampuan hebat, tetapi tidak memiliki pengalaman pertempuran nyata maka Roid akan keluar sebagai pemenang.
‘Aku memiliki pengalaman bertarung di ring dan telah melewati banyak situasi yang mempertaruhkan hidupku. Mustahil aku kalah dengan orang tanpa pengalaman.’
Setidaknya dia percaya diri tentang itu. Namun Roid juga sadar bahwa orang yang memiliki Degree seni bela diri pastinya memiliki pengalaman juga.
“Aku sudah memperingatkanmu. Jangan salahkan aku jika kamu terbunuh!” Eric memulai dengan memberikan pukulan beruntun.
Roid tanpa memandang rendah Eric mulia menghindari pukulan demi pukulan yang datang. Meski ada celah yang terlihat namun Roid tidak mencoba menyerang Eric.
Dia sedang mengamatinya dan mencari tahu sedalam apa kemampuannya.
‘Akurasinya bagus, dia mengincar titik di mana akan menyebabkan luka fatal jika kena. Dari cara dia menyerang, bagian yang diincar dan keakuratannya. Orang ini sangat ahli.’
Roid bersyukur dia tidak meremehkan lawannya seperti yang dilakukannya kepada Ray. Meremehkan musuh adalah awal mula red flag berkibar, Roid tidak mau membangkitkan pola semacam itu untuk kedua kalinya.
Setelah merasa cukup mengetahui kemampuan Eric, Roid akhirnya memulai serangannya. Dia memutar tubuh searah jarum jam selagi mengayunkan tangannya dengan kekuatan penuh.
Eric menunduk sekaligus mundur beberapa langkah untuk menghindarinya. Akan fatal bahkan jika dia hanya terkena sedikit.
Dia mulai merasakan seberapa kuat Roid melalui satu serangan meleset tersebut. Atmosfer di sekitar Roid juga berubah, Eric bisa merasakan ketegangan yang nyata.
“Ada apa? Kamu sangat gesit sebelumnya. Mengapa sekarang mengendur?” tanya Roid dengan suara mengejek. Dia menggunakan tangannya untuk mengejek, seperti yang biasa dilakukan para petinju lainnya. “Apa kamu takut?”
Eric menggertak giginya karena kesal, dia mulai mengambil langkah maju dan berniat meninju wajah sombong Roid.
“Jangan banyak bicara—”
Dengan putus asa Eric mengayunkan tinju dan melangkah mundur menjauh dari Roid.
Di sisi lain Roid mulai tersenyum sombong setelah melihat Eric menerima pukulan.
“Justru kamu yang banyak bicara, pecundang.”
Raut wajah Eric terlihat bercampur antara sakit dan juga marah. Melihatnya demikian membuat Roid semakin tersenyum lebar.
“Kamu memiliki tingkat bela diri setara denganku, pengalamanmu juga lumayan. Namun kamu kehilangan satu hal; mentalmu sangat lemah, dasar bocah.”
Tidakkah Eric memahami bahwa cara termudah mendapatkan kekalahan adalah terbawa emosi dengan terprovokasi oleh musuh? Menjadi pemarah dalam pertarungan tidak selamanya bagus.
Tentu, orang yang marah saat bertarung akan menjadi sangat kuat seakan-akan melampaui batasan mereka. Hal yang mengerikan dari orang murka adalah mereka tak merasakan sakit, sedih, maupun takut. Hanya keinginan membunuh dan terus memukul yang akan dipikirkannya.
Namun kemarahan juga memiliki belati lain yang bisa melukai diri sendiri di hadapan orang-orang tertentu seperti Roid.
‘Orang yang tak bisa menenangkan diri sama sekali tidak menakutkan.’
Orang yang mengerikan di dunia ini adalah orang yang bisa marah selagi tetap tenang. Mereka tidak menjadi buta oleh amarah dan tetap memiliki pikiran dingin.
Dalam banyak pertandingan yang dilalui Roid, dia telah melatih kemampuan mentalnya untuk tak terprovokasi dan tetap menjaga ketenangan dirinya.
‘Emosi memang hal yang sangat berguna saat berhubungan dengan tinju, tetapi akan membunuhmu jika kamu tak bisa mengendalikannya.’
Roid memandang Eric yang berusaha berdiri tegak setelah memuntahkan isi perutnya dan mengatur napasnya.
“Jangan keras kepala, aku yakin kamu juga tak bisa melihat dengan benar,” Roid berkata dengan tenang dan menurunkan penjagaannya.
Dia sangat yakin memukul Eric tepat di rahangnya. Pukulannya mungkin setengah tenaga namun harusnya itu cukup untuk membuat seseorang pingsan.
Tak hanya itu, Roid bahkan memberikan pukulan dan tendangan keras di dada serta perutnya. Sangat mengagumkan bahwa Eric masih mampu mempertahankan kesadarannya.
“Kebanyakan orang akan pingsan dengan kombinasi tiga serangan itu. Kamu jelas memiliki tubuh yang tahan banting karena bisa tetap sadarkan diri,” Roid tersenyum ketir dan mengagumi vitalitas milik Eric.
Eric hanya memandang Roid yang terus berbicara dan mengejek namun tidak mendekatinya. Orang itu jelas tidak menjadi lengah sama sekali.
‘Ugh! Bajingan, aku hampir tidak sadarkan diri!’
Dia sadar kesalahan besar dilakukannya karena terpancing oleh emosi. Berkat itu dia mendapatkan pukulan yang sangat fatal. Jika bukan karena Eric terbiasa bertarung dan mendapatkan pukulan kuat, dia sudah dijamin tak sadarkan diri.
“Ugh ... ini bukan apa-apa-!” Eric menggelengkan kepalanya, meski terhuyung-huyung dia berusaha berdiri tegak.
Mengatur napas, menjaga pandangan kembali normal dan menenangkan dirinya. Eric perlu melakukan semua itu secepatnya selama Roid tidak melangkah untuk maju.
Saat itu juga, dia mendengar ledakan dari tempat yang jauh. Tampaknya kekacauan pecah diantara para tentara dan pengguna Degree.
Tak hanya itu, pertarungan antara Ray dan Leo tampaknya hampir berakhir.
“Huh,” Roid menghela napas panjang. “Aku tak punya waktu untuk bermain denganmu terus. Mari akhiri secepatnya.”
Roid hampir lupa bahwa situasi sekarang tidak memungkinkan untuk membuang-buang waktu.