The Degree

The Degree
Konfrontasi



“Ordo.” Sebastian menatap dingin padanya dan menunjukkan senyuman dingin, “Kamu datang ke sini untuk mengantarkan nyawa? Asal tahu saja bahwa aku takkan gagal dua kali.”


Melihat Sebastian benar-benar berbeda dari yang ia kenal membuat kemarahannya semakin membara. Ordo juga merasa sakit di dadanya, ia memiliki harapan kecil bahwa Sebastian hanya terpaksa berkhianat namun sekarang semuanya sudah jelas.


Tak ada lagi harapan apapun. Sebastian sudah dipastikan seorang pengkhianat.


“Dosa seperti apa yang pernah aku perbuat padamu? Sampai-sampai kamu jatuh untuk melakukan tindakan pecundang?!” Ordo tampak benar-benar sulit menerima kenyataan pahit tersebut.


Sejak pertama kali Sebastian menusuknya Ordo sudah bertanya-tanya, apa yang menyebabkan semua ini, sejak kapan segalanya menjadi salah seperti ini?


Ordo tak ingat melakukan dosa apapun sampai harus menerima karma seperti ini. Dikhianati oleh orang kepercayaannya, rasa sakitnya melebihi luka yang dideritanya.


“Kamu memang tidak melakukan dosa apapun kepadaku. Kamu hanya salah paham akan satu hal.” Sebastian tersenyum geli selagi memandang Ordo dari mata ke mata.


“Salah paham?”


“Ya.” Sebastian menggelengkan kepalanya sebelum mengambil langkah cepat mendekati Ordo, “Sejak awal aku tak pernah ada di pihakmu!”


Ordo menghela napas panjang dan berat. Ia memiliki tatapan yang menyakitkan pada awalnya. Ketika Ordo memejamkan mata dan membukanya lagi, tatapannya menjadi sedingin es yang seakan-akan mampu membunuh orang hanya dengan menatapnya.


“Kalau begitu matilah di sini!” Ordo berteriak dengan keras, ia mengabaikan lukanya dan berlari menuju Sebastian.


Melihat tindakan Ordo yang serampangan membuat Ray memahami niatnya. Hanya ada satu kemungkinan pasti.


“Apa yang kamu lakukan, Ordo? Lukamu terbuka lagi, loh. Cepatlah pergi!” Erina ingin menghampirinya namun kakinya tidak bisa bergerak sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menyeret dirinya.


Ray segera membawa Erina dan bersembunyi ke hutan dalam selagi menjauh tempat yang terbakar. Virgo menyadari hal itu dan memerintahkan orang-orangnya untuk mengejarnya.


“Mari pergi, Mona!” Terumi menarik tangan Mona secara paksa dan pergi ke arah yang berbeda dengan Ray. “Aku akan melindungimu jadi jangan khawatir! Meskipun sesama wanita, aku cukup kuat menghadapinya!”


Mona tak mempermasalahkan seperti apa kekuatan yang dimiliki Terumi. Sejak awal ia tak pernah memusingkan apakah baik-baik saja jika Terumi yang melindunginya.


Kekhawatiran yang dimiliki Mona hanya satu yaitu Arthur.


“Tetapi Arthur—”


“Kamu mengenalnya lebih lama dariku sehingga kamu seharusnya tahu kemampuannya!” Terumi menyela karena tahu apa yang ingin disampaikannya.


Mona membuka mulutnya namun tak ada suara yang keluar. Dia tahu Arthur orang seperti apa dan terlebih lagi Mona juga tahu Degree-nya. Sangat sulit melenyapkan Arthur mengingat Degree-nya takkan membiarkan ia celaka.


Bahkan jika Arthur terluka sangat parah, harus menghadapi kendaraan yang menghantam tubuhnya, orang itu tetap akan hidup mau bagaimanapun kondisinya nanti.


“Bahkan jika kita tetap di sana hanya akan menghambat mereka. Arthur, Leo, maupun Ordo takkan bisa memberikan yang terbaik dari yang mereka miliki!”


Mereka hanya akan menghambat para petarung andaikata memilih diam dan menonton seperti orang bodoh. Masalahnya adalah tidak hanya kepungan dan Virgo memburu mereka.


Bagian yang paling menjadi ancaman besar adalah waktu yang mereka miliki. Waktu sungguh terbatas dan tak ada cara apapun membelinya. Jika bukan karena nuklir yang akan lepas landas mereka takkan serasa dikebiri.


Di tempat sebelumnya, Virgo hanya memandang Terumi yang membawa Mona pergi, sebelum beralih ke tempat pelarian Ray dan Erina.


Ia mulai berpikir untuk memprioritaskan pembunuhannya. Mana yang akan memberikan ancaman nyata di masa depan, dan mana yang kelak akan menusuknya.


“Baik pria itu ataupun wanita yang kamu coba lindungi sama-sama menyebalkan.” Virgo menepuk tangannya tiga kali dan segera tiga orang bertopeng lainnya muncul.


Arthur mengerutkan alisnya setelah mengetahui bahwa Virgo menyimpan kartu andalannya. Jika seperti ini keadaannya mereka tentu saja kalah dalam hal jumlah.


Di sisi lain Leo mengangkat alisnya karena terkejut, “Kamu, kan?” Ia tentunya sangat mengenali salah satu pria yang ada di hadapan Virgo saat ini.


“Sepertinya keberuntunganmu bagus bocah, tidak. Haruskah aku sebut kesialan karena bertemu lagi denganku?” Suara pria itu terdengar mengejek dan tertawa geli.


“Alexis Sanchez!” Leo bergumam dengan kesal. Tentunya ia tidak lupa dengan orang berbahaya yang pernah hampir membunuhnya andaikan ia memiliki waktu lebih banyak saat itu.


“Sonata, Ryoma, kalian berdua kejar pecundang yang melarikan diri itu. Sementara Alexis, lawanmu adalah orang yang gagal kamu bunuh.” Virgo mengambil langkah melewati mereka selagi mematahkan jari-jari tangannya, “Aku akan mengetes seberapa jauh kemampuan bajingan ini. Jika ia selamat dari semua tragedi ini, maka keberuntungannya benar-benar tidak masuk akal.”


Dua orang lainnya mengangguk dan berlari mengejar Ray dan Terumi yang pergi ke arah lain.


Alexis menatap Leo dengan senang dan mengangguk, “Ini bagus. Aku akan melakukannya tanpa menolaknya.” Ia berjalan dengan santai dan bersiap menyerang Leo.


Leo memanjangkan kukunya dan tersenyum ketir, “Sepakat. Ini merupakan hal yang baik karena menjadi ajang membalas dendam untukku.”


“Ku ku ku, terakhir aku ingat kamu beberapa kali nyaris mati. Andaikata kamu tak ceroboh dan terjatuh saat itu, sekarang yang tersisa darimu hanyalah nama saja.”


Leo tak bisa membantahnya karena faktanya berkata demikian. Ia tak bisa bergantung kepada hal tidak pasti seperti keberuntungan. Hal yang sama takkan terjadi untuk kedua kalinya.


Jadi karena itu Leo harus amat berhati-hati untuk pertarungan kali ini.


“Sekarang bagaimana jika kita menjauh? Kedua orang ini pastinya membutuhkan tempat yang luas sama seperti kita.” Alexis memberikan saran saat melirik Sebastian yang sudah mulai bertarung dan Arthur juga siap memulai.


Leo berpikiran sama. Andaikan keduanya melakukan konfrontasi di sini ada kemungkinan serangan nyasar akan tertuju kepada Arthur ataupun Ordo.


Meski aku mengkhawatirkan para pengejar itu namun sekarang bukan waktunya. Aku hanya bisa percaya pada kekuatan mereka. Pikirnya.


“Kalau begitu mari ikut aku.” Leo memimpin jalan tanpa berusaha memunggungi Alexis. Ada kemungkinan besar saat ia berbalik Alexis akan melemparkan bola besinya yang berbahaya.


Di sisi lain ada Arthur yang sedang menghadapi Virgo. Untuk sekarang keduanya masih melakukan tukar kata demi kata.


“Kamu menganggap aku memiliki keberuntungan tinggi? Tidakkah kamu takut kalau keberuntungan ini mampu membunuhmu?” Arthur tersenyum untuk memprovokasinya, “‘Virgo tewas karena Arthur beruntung bisa membunuhnya’ hal itu akan jadi kisah yang sungguh lucu.”


“Lidahmu cukup tajam namun sayangnya aku tidak sebodoh itu untuk mati ditanganmu.”


Keduanya mengambil ancang-ancang untuk melakukan pertarungan yang sengit. Baik Arthur maupun Virgo tidak berencana menyelesaikan pertarungan tanpa ada yang mati.