
“Begitulah, tidak hanya kalian namun aku juga membutuhkan jaminan keselamatan.”
Jika mereka bisa memilikinya maka Ray tentunya juga bisa. Meski harus dengan cara yang terbilang kasar namun untuk hidup dia takkan ragu membuang kemanusiaan.
Pastinya lingkungan yang diciptakan Degree bertujuan untuk partisipan membuang kemanusiaannya.
Itu sesuatu yang dapat Ray yakini karena hanya orang gila yang membuat permainan hingga menyebabkan kematian.
“Bajingan ini ... setelah semua ini berakhir aku akan membunuhmu!”
Steve mengepalkan erat tinjunya dan membuat wajah yang menyeramkan. Kebenciannya mungkin telah mencapai di tingkat tertinggi. Seakan-akan Ray adalah orang yang telah membunuh keluarganya.
Tak peduli apa yang Steve katakan dan tunjukkan takkan membuat Ray gentar sama sekali. Orang yang tertipu oleh tipuan kecil dua kali tak patut diwaspadai.
“Menurutku itu adil, Steve. Jika kita ada di situasinya, aku akan menyarankan hal yang sama.” Jane mengungkapkan pemikirannya.
“Namun itu keterlaluan, kan? Apa kamu mendukung tindakannya?!”
Steve cukup kesal sampai tak mampu berpikir objektif.
Jane yang merupakan otak dari kelompok tak menyerah untuk menjelaskan.
Degree wanita itu pasti sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan. Sesuatu yang mirip dengan Justina namun juga bukan. Pikir Ray.
“Pikirkanlah jika kita ada di posisinya, Steve. Cara terbaik untuk menghindari kejadian buruk adalah dengan memegang kelemahan satu sama lain seperti sekarang ini. Kelemahannya ada pada kita, dan kelemahan kita ada padanya.”
Ray memanipulasi kelompok Edward dengan meracuni Steve dan Diana. Dia juga berjanji akan menyeret satu orang bersamanya seandainya Steve atau yang lain melakukan tindakan bodoh secara sengaja.
Tak ada maksud untuk mengganggu namun Ray ingin menegaskan sesuatu yang salah tentang kata-kata Jane.
“Namun ada satu hal yang kalian salah pahami. Sedikitpun tidak, kalian tidak memegang kelemahanku sama sekali. Lagipula aku tak yakin memiliki kelemahan apapun. Jika ada sesuatu yang bisa disebut kelemahanku ... aku ingin menemukannya.”
Edward dan yang lainnya memandang Ray dengan tatapan aneh. Mereka berpikir pastinya Ray itu bodoh atau semacamnya.
Manusia adalah makhluk sosial yang artinya membutuhkan orang lain.
Ray sendiri sadar bahwa perkataannya berlawanan dengan sifat manusia yang bergantung kepada orang lain.
Namun dia berbicara bukan tanpa dasar, ada sesuatu yang membuat dirinya begitu percaya diri.
“Kamu hanya bajingan sombong!”
“Entah kamu hanya menggertak atau memang percaya diri. Namun tak peduli apa yang bisa kamu lakukan dengan Degree, akan selalu ada kekurangan sebagai manusia.”
“Manusia memang membuat kekurangan. Namun kekurangan dan kelemahan bagiku adalah dua hal berbeda.”
Untuk tidak memiliki kelemahan apapun sangat mudah. Seseorang hanya perlu memikirkan cara yang baik untuk menjadikan kelemahan menjadi sesuatu yang tidak berguna.
Ray tak ingat pernah memiliki apapun bernama kelemahan. Bukan karena sombong namun selama hidupnya dia tak lagi pernah menemui kesulitan yang tidak bisa dia atasi.
Aku jadi mengingat sesuatu yang tidak mengenakan. Jika bukan karena orang itu pasti aku tidak akan menjadi orang seperti ini. Pikirnya.
Ray segera mengalihkannya pikirannya dan mendesak yang lain untuk fokus pada apa yang ada di depan mereka.
“Mari kembali ke permasalahan utamanya. Waktu akan terus berjalan dan takkan diam untuk menunggu.”
[***]
Minal aidzin wal faizin, mohon maaf bila ada kesalahan yang saya buat baik secara langsung atau tidak.
Chapter kali ini memang pendek, ya. Sebagai umat yang merayakan idul fitri saya harus mengunjungi kerabat, jadi kalian pasti paham.
Sekian saja, terima kasih.