
Di tempat lain, dua orang berdiri memandang langit di mana pemandangan menakjubkan; sebuah helikopter meledak dengan anggun. Kembang api yang indah.
“Tahun baru masih lama namun kembang api sudah semeriah ini,” gumam Ray.
Roid datang ke arahnya dan membuang senjata bazoka yang telah kehabisan peluru.
“Kita sungguh-sungguh berperang melawan militer negara ini. Aku khawatir kematian adalah hukuman ringan bagi kita.”
Jika ada hukuman yang lebih mengerikan dari kematian maka itu jelas disiksa seumur hidup, sampai kematian menjadi sebuah keselamatan. Meski begitu Ray tak khawatir masa depan itu akan terjadi.
“Tenang saja. Semua kekacauan ini akan diarahkan kepada Haiyan dan rekan terorisnya. Sejak awal mereka adalah bajingan yang memulai ini semua.”
Ray tidak ragu membunuh ataupun menghancurkan persenjataan militer lantaran pada akhirnya Haiyan akan tetap menjadi kambing hitam.
Tindakan ini cukup menguntungkannya karena gerakannya akan bisa disamarkan, tetapi dia yakin bahwa tak segalanya akan seperti itu.
Ada variabel seperti Arthur yang akan langsung menganggapnya sebagai bagian dari kejahatan yang terjadi saat ini.
“Kamu sungguh memikirkan banyak hal, ya,” ujar Roid dengan sedikit bermasalah. “Aku penasaran apa yang akan aku temukan jika membedah kepalamu.”
Ray tidak merasa terlalu banyak memikirkannya lantaran ini adalah hal yang sederhana. Meski begitu tampaknya bagi Roid itu bukan sesuatu yang begitu sederhana.
“Itu bukan hal yang spesial. Untuk memikirkan hal ini dibutuhkan ketenangan dan kemampuan untuk memahami situasi.”
Informasi adalah senjata terkuat yang bisa dimiliki manusia. Dengan informasi maka medan perang bisa dikuasai.
“Ho? Tampaknya mereka telah bergerak.”
Ray melihat ke arah lain dan menemukan bahwa beberapa mobil mulai menerobos barikade tentara. Mobil tersebut mengangkut banyak orang di dalamnya dan mereka mulai bergerak, menyebar ke berbagai tempat.
Mereka adalah para pengguna Degree yang berada di bawah tangan Ray dan Roid. Dengan adanya demonstrasi yang dilakukan oleh ormas maka mereka bisa melakukan penyusupan.
Memang tidak mudah melakukannya karena Ray harus mengorbankan banyak uang dan DP untuk membeli mobil pengangkut yang seperti milik tentara.
Ray awalnya berniat untuk mencuri beberapa namun tampaknya tidak mudah dan terlalu membuang-buang waktu. Oleh karena itu membeli adalah langkah yang dipilih.
“Kamu sudah menyampaikan kepada Yan untuk tak bertindak sampai pertempuran benar-benar pecah?”
“Jangan khawatir, dia telah sepenuhnya memahami perintah. Selain itu, Degree-nya sebagai ahli strategis membuatnya bisa memahami situasi ini dengan baik.”
Ray mengangguk dan pergi untuk melihat keadaan di dalam monas. Dia ingat sebelumnya ada ledakan besar dari pusat kekacauan dan cukup tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi.
Saat dia separuh perjalanan Ray terkejut tentang betapa banyaknya darah yang sudah tumpah. Baku tembak telah terjadi di mana-mana.
Situasinya menjadi kacau dalam waktu yang begitu singkat. Ray tidak menyangka hal ini.
“Meski Haiyan dan rekannya melakukan perlawanan dengan baku tembak namun tampaknya negara tak bisa melakukan hal yang lebih jauh dari itu,” ujar Roid saat mengamati situasinya.
Faktanya meski senjata berat disiapkan namun tak digunakan karena Haiyan dan kelompoknya masih bersama dengan tawanan. Hal itu membuat tentara tidak bisa mengambil risiko itu.
“Haiyan jelas memegang keuntungan dari hal ini karena militer tidak bisa mengambil sikap yang sia-sia.”
Ray yakin bahwa semuanya sudah diperhitungkan dengan baik. Jika keadaannya tetap seperti ini maka perlahan akan jelas siapa pemenangnya.
Tentu, Ray takkan membiarkan salah satu dari mereka keluar sebagai pemenang. Untuk itulah dia berdiri di sini.
Saat Ray mengamati ke sekitarnya dia menemukan orang yang menarik minatnya. Ray tidak tahu mengapa dia ada di sana namun hal bagus untuknya. Dengan kehadirannya maka Ray akan langsung memiliki lima kunci.
Ray memanggil keduanya yang tampak hendak memulai pertikaian dengan beberapa tentara. Mendengar panggilan tersebut membuat fokus mereka terpecah ke arah Ray.
Tatapan keduanya tertuju kepada Ray namun anehnya itu bukan sesuatu yang bisa disambut dengan baik. Bukan sebuah momen mengharukan di mana mereka akhirnya bertemu.
“RAY MORGAN!”
Leo berteriak dengan marah dan mulai menghujaninya dengan peluru.
Ray dan Roid segera berlindung di balik pohon, untuk beberapa detik Ray tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini.
“Mengapa kamu menyerang rekanmu sendiri?!” bentak Roid dengan kesal.
“Rekan? Apanya yang rekan! Kamu telah berkhianat dan melakukan tindakan kotor!”
“Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, jelaskan maksudmu!” ujar Ray.
“Jangan berpura-pura, bajingan!” bentak Eric, penuh kemarahan. “Aku tahu dosa yang kamu perbuat di saat terakhir sebelum pelepasan!”
“Kamu membuat skema untuk menarikku ke pihakmu dengan mengorbankan Chelsea!”
Ray sedikit terguncang, rahasia dan kebenaran yang dia sembunyikan dari siapapun terungkap dengan ajaib. Tentu, Ray sangat yakin mustahil orang seperti Eric ataupun Leo akan mampu menyadari hal itu.
‘Pastinya mereka mengetahuinya dari seorang pengamat yang cakap.’
“Mengapa kamu diam saja? Cepat perjelas, Ray!” bentak Leo.
Ray diam cukup lama, tidak mengindahkan pernyataan Leo maupun Eric. Di sisi lain Roid hanya mengamati Ray. Meski dia tampak terkejut sebelumnya namun itu tak membuatnya mempertanyakan insiden tersebut.
“Huh~,” Ray menghela napas panjang dan dengan santai menyampaikan, “Dari mana kalian mengetahuinya?”
Sontak hal tersebut membuat Eric dan Leo tertegun.
“Kamu tidak menyangkalnya?” tanya Leo.
“Untuk apa? Kamu juga takkan mau mendengarkan. Lebih dari itu, aku tertarik untuk mengetahui bajingan mana yang mengungkapkan itu pada kalian?”
Mengecualikan Eric dan Leo, Ray yakin koleganya tak ada yang mengetahuinya. Tidak, ada beberapa pengecualian khusus
“Apa mungkin itu Indri? Tidak, kalian berdua takkan bisa mempercayai wanita itu tidak peduli apa yang dikatakannya. Mungkinkah itu Arthur? Dikarenakan Erina hilang ingatan maka kekuatan yang ia gunakan untuk mengikat Arthur juga terlepas.”
Kemungkinan itu bukannya mustahil terjadi. Meski begitu Ray meragukannya, dia merasa bahwa Leo tak mungkin terhubung dengan Arthur.
”Ray,” panggil Roid dengan sedikit tercengang dan tersenyum ketir, “Apa mungkin bencana di fasilitas itu adalah ulahmu?”
Ray menoleh dan menemukan Roid penuh dengan rasa keingintahuannya. Sudah cukup lama Ray mengenal Roid, seorang bajingan dunia bawah yang cukup menyukai kekacauan besar.
Faktanya Ray mampu membagikan tindakan kotor dengannya dan Roid tidak pernah menyatakan keberatan meski harus mengorbankan beberapa nyawa.
“Benar, kamu tidak mengetahuinya, ya? Semua yang terjadi, kamu lihat dan rasakan saat itu adalah skenario kecil yang aku buat. Apa ada masalah, Roid?” Ray tersenyum tipis saat menatap langsung mata Roid.
Untuk beberapa alasan Ray menemukan bahwa Roid tampak terpacu dan menjadi lebih bersemangat. Bahkan dia mengeluarkan tawa kecil.
“Ku ku ku, kamu sungguh orang gila. Namun ... tidak salah sama sekali aku memilih bersamamu. Justru aku kecewa mengapa baru sekarang kita mengenal?!”
Motivasinya aneh akan tetapi Ray menyukainya. Roid jelas mengaguminya, dan pria seperti itu dapat dipercaya.