The Degree

The Degree
Wanita Tampan



Ray cukup kesal dengan si kembar yang belum juga bangun. Mau seberapa lama para brengsek ini pergi tidur?


Hal tersebut menjengkelkan karena keterlambatan mereka untuk pergi menyebabkan konflik tidak perlu dengan Terumi.


‘Aku bisa saja mengabaikannya, tetapi Terumi masih dibutuhkan. Aku tidak boleh sampai kehilangannya.’


Jika Ray kehilangannya di tahap ini maka di masa depan ia akan kerepotan. Terumi memiliki Degree yang sangat berguna untuk menyelesaikan tugas, terutama belum diketahui sejauh apa ia bisa berkembang.


‘Untuk sekarang sebaiknya kita selesaikan masalah yang ada di depan mata.’


Ray menghela napas lelah dan mengambil air dari keran, ia kemudian langsung menyiramkannya ke dua gadis yang tertidur lelap di kasurnya.


Air mencapai mereka dan hal tersebut menyebabkan kejutan besar sehingga keduanya terbangun. Pemikiran tentu masih setengah sadar sampai akhirnya mereka mendapatkan dirinya.


“Jika kalian masih belum terbangun, aku akan membawa ember dan memberikan lebih banyak.” Ray tentunya tidak main-main dengan kata-katanya.


“Ugh, kamu orang yang kasar,” Rani menyampaikan keluhannya, diikuti Rina yang mengangkat selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Tidak bisakah kamu menggunakan cara yang lebih halus? Bahkan semalam kamu bermain lembut.” Wajahnya merona ketika mengatakannya.


Ray mengerutkan alisnya. Sekarang bukan waktu di mana ia bisa mentolerir guyonan. Masalah yang harus dia tangani jelas bukan hanya kedua bocah ini semata.


“Cepat gunakan pakaianmu dan pergi dari sini,” Ray menyalakan keran sekali lagi dan memenuhi gelas di tangannya dengan air, “Aku tak lagi memiliki kesabaran yang cukup.”


“Baiklah, kamu sungguh dingin.”


“Ya,” Rani setuju, “Entah apa yang membuatmu marah. Semalam kamu seperti anjing yang imut, tampan.” Rina menggodanya selagi mengambil pakaiannya.


Ray kemudian pergi keluar untuk menunggu. Butuh waktu beberapa menit untuk keduanya selesai memakai pakaian. Mereka berjalan keluar, anehnya cara berjalan mereka tak benar. Keduanya terlihat sedikit pincang dengan kakinya yang lemas untuk berdiri.


“Jadi benar ... pengalaman pertama cukup menyakitkan awalnya.”


“Ya. Mungkin, ukuran itu tak normal.”


“Cepat pergi. Berkat kelengahan kalian aku harus mengalami beberapa kerusakan tidak perlu.” Ray mengatakannya secara eksplisit.


Meski tidak tahu apa yang terjadi namun Rani dan Rina tahu bahwa mungkin secara tidak langsung mereka memberikan masalah kepada Ray. Hal tersebut masuk akal ketika melihat pria itu menjadi pemarah.


“Dengan ini aku tak memiliki hutang apapun lagi pada kalian. Maka jangan ungkit masalah ini kepada siapapun.” Ray memesan.


“Tentunya kami akan diam. Aku sendiri malu mengumbar hal semacam ini,” ujar Rani.


“Jika kamu memiliki dorongan seksual, aku dengan sukarela akan menyerahkan tubuhku,” Rina sedikit merona, “Itu sesuatu yang luar biasa. Kupikir aku akan ketagihan.”


Itu pemikiran yang mengerikan jika seorang wanita kecanduan berhubungan intim. Ray takkan mau melakukannya lagi dengan mereka, bisa jadi keduanya sengaja mengorbankan tubuhnya sebagai taktik untuk membuat Ray lengah.


Ray tak menjawab keduanya sedikitpun untuk membuat mereka pergi lebih cepat. Baik Rani ataupun Rina tidak ingin memancing permusuhan Ray lebih jauh dari ini. Keduanya berjalan pergi selagi saling memapah karena kakinya bergetar.


“Sepertinya memang sebuah kesalahan membiarkan Terumi.”


“Cinta selalu membawa perang dan petaka.”


Ray telah merasakan sendiri bahwa sesuatu bernama cinta hannyalah kata-kata yang memberikan sugesti kepada manusia dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik dari manusia.


Pada kenyataannya, cinta itu sendiri mampu membawakan malapetaka. Seperti yang terjadi antara Ray dan Ayahnya di masa lalu. Sejak kecil Ray tak pernah diajarkan untuk mengerti keindahan cinta.


Faktanya sekarang hal tersebut menjadikannya petaka. Selagi pergi mencari Terumi, Ray membuat berbagai simulasi di kepalanya tentang bagaimana cara meyakinkan Terumi.


Berkata jujur mungkin baik, tetapi ada kalanya di mana hal tersebut tidak berjalan dengan lancar. Belum lagi ini Terumi, ia mungkin akan sangat terluka oleh kebenaran.


“Meski kebohongan tidak menjadikannya jawaban baik, setidaknya aku bisa menunda kerusakannya untuk saat ini.”


“Jangan sampai semua rencana masa depan yang telah aku susun hancur begitu saja.”


Ray telah memikirkan tentang hal apa yang akan ia wujudkan ketika semua ini selesai. Jawaban dari pertanyaan Ray yang pernah ia ajukan kepada Secret, entah bagaimana ia bisa mengerti apa maksud dan tujuan sesungguhnya organisasi ini.


“Evolusi manusia adalah tema yang menarik. Namun evolusi secara instan tidak akan menghasilkan hal baik apapun. Dengan begitu, dunia ini mungkin tidak akan membosankan.”


Ada kemungkinan yang coba Ray raih meski sulit. Dan, untuk menggapainya keberadaan pion seperti Terumi tidak bisa diabaikan.


Ray terus berjalan, bergumam dan berpikir sampai ia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia tak melihat bahwa ada seorang wanita berlari tergesa-gesa dan menabraknya.


“Ah! Maafkan aku!” Wanita itu lekas mengambil beberapa kertas yang ia bawa, kini berserakan.


“Tidak. Aku yang salah,” Ray mencoba membantu dan mengambil satu, ia sedikit membaca isi dari kertas tersebut, tetapi wanita itu membereskannya lebih cepat tanpa membiarkan Ray membantu.


“Tidak, aku salah karena berlari. Maafkan aku.” Wanita itu menatap Ray dengan wajah memelas. Matanya yang kebiruan dan layu, wajahnya tegas dan membuatnya seperti wanita tampan.


Menggunakan setelan jas pria, Ray mungkin tidak akan menyadari kalau orang di depannya adalah wanita jika bukan karena tubuh langsing dan dadanya yang sedikit menonjol.


“Kalau begitu, aku permisi.” Dengan segera wanita itu pergi tanpa menatap Ray kembali.


Di sisi lain Ray menatap punggungnya yang terus menjauh dan menghilang di ujung lorong.


“Siapa dia?” gumamnya. “Ada banyak orang di tempat ini namun aku yakin belum pernah melihat orang sepertinya.”


Tentunya Ray juga tidak percaya diri menyampaikan telah bertemu semua orang di sini. Namun setidaknya ia akan tahu dari rumor jika ada wanita seperti itu.


“Selain itu, kertas miliknya berisi hal-hal yang cukup perlu diberi perhatian.”


Di kertas yang Ray lihat terdapat denah dari tempat ini. Secret untuk beberapa alasan tidak memberikannya secara terperinci. Secret hanya akan memberikan lokasi melalui fitur GPS yang tersedia di jam.


Ray mampu mengingat tempat-tempat yang ia lalui dan membuat peta tempat ini secara kasar dengan potongan ingatannya, tetapi apa yang wanita itu miliki berbeda.


“Bukan hanya tempat ini. Wanita itu membuat seluruh peta lokasi dengan sangat terperinci. Dia patut diwaspadai.”


Bahkan jika wanita tampan itu memiliki Degree pemetaan, Ray takkan ragu melenyapkan atau menariknya ke sisinya. Jujur saja, kemampuan pemetaan sangat Ray butuhkan saat ini.