
“Awas!”
Edward berteriak lantang dan menarik bahu Steve dengan kuat.
Untungnya Ray telah menduga bahwa hal semacam itu akan terjadi sehingga dia sudah siap sejak awal.
Ray menarik bahu Steve dari sisi lain dan ikut meraih Jane yang hampir benar-benar jatuh.
Keduanya berhasil diselamatkan dengan usaha Ray dan Edward. Jane yang sebelumnya berada di ujung tanduk kematian terlihat lemas dan tak mampu berdiri. Jane terlihat seakan bisa menangis dan pingsan kapan saja.
Diana segera membawanya ke dekapan dan menatap Ray dengan perasaan campur aduk. Antara takut dan berhutang budi.
“Terima kasih ... telah mau menyelamatkannya.”
Tak peduli seberapa besar dia membenci Ray, fakta bahwa dia menyelamatkan Jane takkan pernah berubah.
Edward dan Jack juga terkejut bahwa Ray memiliki kemauan untuk membantunya. Mereka pasti berpikir bahwa Ray akan diam dan melihat kematian Jane.
“Bahkan aku memiliki hati untuk menolong orang. Jika kamu sudah baik-baik saja seret bokongmu dan mari kita pergi.”
Dari pada rasa terima kasih Ray akan lebih senang mereka tak menyia-nyiakan waktu yang berharga.
Butuh kurang dari sepuluh menit untuk Jane benar-benar tenang. Ray sedikit lelah karena membuang waktu yang cukup lama namun dia tak bisa mengeluh.
“Ray ...” Edward menghampirinya dengan raut wajah yang sulit untuk dikatakan. “Aku ingin berterima kasih kepadamu karena telah menyelamatkan Jane sebelumnya.”
Aku kira apa yang ingin dia bicarakan namun soal ini, ya?
“Tidak perlu dipikirkan. Sejak awal yang pantas mendapatkan terima kasih adalah Steve. Jika dia tidak bertindak baik aku atau kamu takkan sempat menyelamatkannya.”
“Namun itu tidak cukup menyangkal bahwa kamu memiliki kontribusi besar menyelamatkan keduanya. Aku memang sangat mewaspadaimu namun izinkan aku benar-benar berterima kasih untuk kali ini!” Edward sedikit membungkukkan kepalanya dengan menyakitkan.
Ray tak ingin berdebat lebih jauh karena takkan ada hasil menguntungkan dengan mendebatkannya.
Lagipula mendapatkan terima kasih dari orang lain takkan mampu membunuhnya.
“Sesukamu saja. Mari bergegas, mulai dari titik ini akan sangat sulit untuk membantu satu sama lainnya. Tolong jangan ceroboh, ada dua rintangan yang lebih berbahaya di paruh tengah pada tahap awal.”
Pertarungan besar baru akan terjadi ketika mereka melewati rintangan ke tiga. Sampai saat itulah mereka harus melewati rintangan kedua dan menyusun strategi pertempuran.
Tujuan Ray menginginkan keberadaan kelompok kecil ini adalah untuk mengatasi pertempuran besar di depannya.
Selain itu tugas kedua membutuhkan lebih dari satu orang untuk melaluinya.
Tentunya Ray bisa melaluinya sendirian atau hanya berdua seperti yang dilakukan Erina. Akan tetapi Ray tak percaya diri bisa mengatasinya.
Meski dia kuat dan memiliki berbagai kemampuan namun dia tetap manusia biasa.
Kodrat manusia adalah tidak ahli dalam segala hal.
Erina Queen, dia jelas bukan wanita biasa. Tidak dengan tingkah laku, kemampuan dan Degree-nya. Aku akan merasa bodoh jika memaksakan diri menjadi sepertinya.
Jebakan selalu berubah setiap waktu dan semakin sulit.
Erina telah berada di tempat ini lebih lama daripada peserta lain di tempat tersebut. Kenyataan bahwa dia bertindak lebih cepat dari siapapun menunjukkan bahwa tugas tak pernah berubah.
Baik mereka yang bisa kami sebut senior seperti Erina, pemula seperti kami yang baru mengenal Degree. Tampaknya tugas yang diterima sama persis dan hampir tak ada perubahan sama sekali. Pikirnya.
Ray tak tahu apa yang dipikirkan Secret dan data semacam apa yang ingin mereka cari.
Dia menggelengkan kepalanya dan menyimpan pemikirannya untuk nanti.
Untuk saat ini yang terbaik adalah menghadapi rintangan di depan mata.
Terus berlari selagi menjauhi tempat yang ramai mereka mencapai rintangan kedua.
Jika sebelumnya adalah lantai jatuh dan membuat jurang, sekarang adalah jurang sungguhan.
Di dasarnya terdapat duri tajam yang akan menembus tubuh jika mereka jatuh dari atas.
“Apa kita harus melompat lagi?” Jane terlihat lelah dan putus asa begitu melihat rintangan selanjutnya.
Dia jelas tidak percaya diri mampu melompat jauh jika mengingat peristiwa sebelumnya.
“Mustahil! Jaraknya dua kali lebih jauh dari sebelumnya!”
Di depannya terdapat sepuluh kotak melayang mengabaikan gravitasi.
Kotak berbentuk kubus tersebut mengeluarkan sinar biru dan mesin pendorong di bawah yang membuatnya tetap melayang.
Steve, Jack dan para gadis terlihat lega karenanya namun Edward tak segera percaya. Di kelompok kecil tersebut dia adalah orang yang sekarang mulai memahami Secret.
“Apa yang harus kita lakukan, Ray?!”
Ray berhenti berlari dan menatap Edward dengan tajam, “Ini akan membutuhkan kekompakan semuanya.”
Serempak mereka memiringkan kepalanya karena tak mengerti.
“Apa kita harus melompat bersama-sama? Memangnya tidak bisa satu-persatu?”tanya Steve menggaruk kepala.
“Ya dan juga tidak. Kotak kubus di sana adalah jalan kita melalui rintangan kedua. Hanya saja benda-benda itu diatur untuk memiliki mekanisme sulit.”
Ray telah melihat pergerakan Erina dan pelayannya. Di satu sisi terlihat aneh namun di sisi lain keduanya sangat kompak ketika menghadapi rintangan tersebut.
Kemudian ketika dia mengawasi orang lain yang melaluinya, kotak kubus berjatuhan dan digantikan dengan yang baru. Tentu ada beberapa yang berhasil melaluinya. Entah menggunakan kotak kubus atau Degree.
“Mekanisme sulit?” tanya Steve.
Ray mengangguk, “Satu kotak hanya bisa diinjak satu orang dan akan jatuh jika orang yang menginjaknya pergi. Bagian paling buruk dari kotak-kotak itu adalah jatuh satu runtuh semua.”
Ibaratkan Ray berdiri di kotak pertama dan kemudian dia melompat kotak kedua.
Jika dia berhasil mencapai kotak kedua, maka yang pertama akan jatuh dan begitu juga kotak kedua hingga terakhir yakni sepuluh.
Tak peduli seberapa cepat langkah yang dimiliki seseorang, ketika satu jatuh, disaat bersama semuanya akan jatuh.
“Bukankah mustahil melaluinya jika begitu?” Diana sedikit geram dan tak percaya.
“Benar! Lalu mengapa orang-orang di sana berhasil melaluinya?!” Steve mengambil langkah berat menuju Ray namun Edward menghentikannya.
“Karena itulah dia mengatakan kita membutuhkan kekompakan untuk melaluinya, Steve.”
“Apa maksudmu?” Steve kembali bertanya dengan wajah jengkel.
“Pastinya ada pemicu tertentu yang menjadi penyebabnya. Apa kamu tidak ingat demonstrasi yang dilakukan dua wanita pertama sebelumnya? Mereka bergerak secara bersama dan teratur.” Jane memberikan penjelasannya dengan cermat.
“Aku tidak terlalu memperhatikan namun itu benar adanya.” Jack juga sepakat dan menatap sisi lain, “Selain itu kita tidak harus melaluinya karena ada rintangan lain yang mungkin lebih mudah. Atau kita bisa menggunakan Degree.”
Selain kotak kubus dan menggunakan Degree, ada dua cara lain yang bisa mereka gunakan.
Cara pertama adalah bergelantungan seperti monyet dan meraih tali dari satu tali ke tali yang lainnya. Itu akan persis jika digambarkan dengan manusia yang besar di hutan bernama Tarzan.
Cara kedua adalah menggunakan sepeda roda satu di jalan yang kecil dan hanya bisa dilangkahi roda sepeda tersebut. Cara tersebut sangat mirip dengan sesuatu yang ada di sirkus.
Sementara di tempat lain ada orang-orang yang melalui jurang dengan Degree mereka. Seperti seseorang yang bisa melompat jauh atau bahkan terbang.
“Mengapa kita tak mengambil rintangan di bagian sana saja?”
“Keduanya membutuhkan kekuatan fisik besar dan keseimbangan. Selain itu pertempuran di sana lumayan parah karena mereka berlomba-lomba untuk menggunakannya. Justru aku penasaran mengapa tak ada yang memilih kubus.” Jack meletakkan tangan di dagu selayaknya berpikir.
“Bagi mereka tempat ini adalah yang paling berbahaya, lihat di dasar sana. Sudah ada berapa banyak nyawa yang menghilang?”
Ada belasan orang mati mengenaskan di dasarnya. Pemandangan mereka membuat mual para gadis.
“Selain itu, tak peduli mana yang kamu pilih risiko kematiannya tetap tinggi.”
Ray mungkin bisa memilih salah satu dari dua cara lainnya jika tak mendapatkan Edward dan kawan-kawan.
Kedua rintangan di sana mungkin bisa aku lalui namun aku takkan mencoba sesuatu yang berpotensi besar mengelimiasiku. Pikirnya.
Kotak kubus adalah yang paling aman karena Ray telah mengetahui seperti apa rintangannya.
Keberadaan Edward dan rekannya seperti kereta kuda yang akan membawanya ke sisi lain.
“Kamu pasti memiliki alasan khusus memilih kotak kubus ini kan, Ray?” Edward menatap dengan penuh harap dan masih menyimpan kecurigaan.
Itu pertanyaan yang abu-abu. Apakah dia sekedar ingin tahu saja atau mencurigai ada udang di balik batu.
Ray sendiri menganggap pertanyaannya wajar mengingat rintangan kubus adalah cara termudah bagi Ray mengubur mereka semua.