CEO BUCIN

CEO BUCIN
episode 98



Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore waktunya Bram untuk pulang namun kerjaannya belum selesai. Masih ada beberapa berkas yang harus ia kerjakan, ia merentangkan tangannya mengusir kaku di tubuhnya. Bram bangun dari duduknya dan menuju kamar istirahat di mana sang istri tengah beristirahat.


Bram masuk ke dalam kamar tersebut dan mendapati istrinya sedang terlelap di atas kasur empuk. Ia menghampirinya dan duduk di samping sang istri. Bram tersenyum melihat wajah sang istri yang sudah sangat cuby pipinya, ia mengusap perut buncit sang istri lembut.


"Sehat selalu Sayang yah sampai kita berjumpa waktunya nanti, jangan buat Mommy mu kelelahan karena kalian yang sangat suka bercanda berdua di dalam," ucap Bram berbicara pada baby twinsnya yang belum lahir.


Bram berjalan ke arah lemari tak jauh dari tempat tidur untuk mengambil selimut. Ia.menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut yang ia ambil dan mengecup keningnya. Bram keluar dan melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Tak lama Haris dan Risa datang ke ruangan Bram untuk memberi beberapa berkas.


"Belom pulang Bro?" tanya Haris saat sudah berada dalam ruangan Bram.


"Belom, bentar lagi selesai," jawab Bram tanpa menoleh ke arah Haris.


"Kakak ipar mana Kak?" tanya Risa yang tak menemukan Aberlie.


"Di kamar, lagi tidur," jawab Bram singkat.


"Ooooh." Risa hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ya sudah gua pulang dulu yah Bro, semangat sambil nunggu sang Ratu bangun hehe." Haris menepuk pundak Bram sambil terkekeh.


"Thank you Men, iya gua juga sambil nunggu Ratu bangun nih, nanti kalau udah bangun baru pulang," jawab Bram.


Bram melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa sedikit lagi sambil menunggu Aberlie bangun. Ia tak ingin mengganggu waktu istirahat sang istri karena belakangan Aberlie sulit untuk tidur malam. Sementara Haris dan Risa sudah berada di dalam mobil menuju resto untuk makan malam.


Aron yang sudah selesai dengan kerjaannya berniat untuk menyapa sekaligus berpamitan pada sang Kakak di ruangannya. Sampai di dalam ruang kerja Bram Aron langsung menyerahkan laporan yang harus ia tanda tangani. Aron melihat Bram sangat lelah tapi kerjaannya belum selesai.


"Kau belum pulang Kak?" tanya Aron sambil menyerahkan beberapa berkas.


"Bentar lagi selesai kok, kamu pulang ajah duluan aku masih harus menyelesaikan ini," jawab Bram.


"Ya sudah yah Kak, aku mau jemput Aliva dulu di Cafe," pamit Aron dan kemudian ia keluar dari ruangan Bram.


Sampai di parkiran mobil Aron langsung memasuki mobilnya dan melajukannya keluar dari parkiran. Di jalan raya yang tak terlalu ramai ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Cafe milik Aberlie di mana Aliva sekarang bekerja sebagai pelayan menggantikan Arumi karena Arumi sudah menjadi barista bersama dengan Kevin. Tak lama mobil sudah berhenti di depan Cafe, ia langsung turun dan masuk kedalam Cafe yang dulu pernah ia porak porandakan.


"Kau sudah datang Sayang?" tanya Aliva menyambut sang suami datang.


"Hm, apa kau masih lama?" tanya Aron kembali seraya mengucup kening sang istri.


"Bentar lagi yah, kau mau minum apa biar aku minta tolong Kevin buatkan?" tanya Aliva kembali menawarkan minum pada sang suami.


"Apa saja yang di bawakan istriku pasti ku minum," jawab Aron tersenyum.


"Baiklah kamu duduk dulu yah,"


Aliva menuju meja barista dan meminta tolong pada Kevin untuk membuatkan coffee latte untuk sang suami. Tanpa menunggu lama Kevin langsung membuatkannya. Tak lama coffee latte buatan Kevin pun jadi, ia mengantarkannya sendiri pada Aron karena memang dia juga sudah selesai sama pekerjaannya.


"Kopinya Kak," ucap Kevin menyuguhkan coffe latte tersebut pada Aron.


"Makasih yah Vi,"


Mereka pun mengobrol entah apa yang mereka obrolin hanya Aron dan Kevin yang tahu. Aliva yang masih sibuk dengan pekerjaannya tersenyum melihat keakraban mereka. Di sisi lain juga Arumi tersenyum melihat Kevin tersenyum mengobrol dengan Aron.


Dari ketiga tuan muda Hanoraga Kevin hanya akrab dengan Aron, karena menurutnya ia lebih enak di ajak bicara dibanding Bram dan Haris yang terbilang cukup kaku. Aron lebih ke mudah untuk bergaul dan enak di ajak bicara oleh Kevin. Tapi kalau menurut Rean Haris lah yang mudah untuk di ajak bicara.


Tak lama mereka selesai dengan pekerjaan mereka. Aron dan Aliva pemit pulang terlebih dahulu. Di susul oleh Rean dan Ashana.


"Babang ganteng, anterin aku pulang yah," pinta Arumi sambil bergelayut manja di lengan Kevin.


"Aku hanya memiliki motor, kamu gak bakal nyaman pulang naik motor sama aku," balas Kevin ketus.


"Kata siapa, aku suka naik ojol kok, kamu tuh yah aku udah berjuang ngejar kamu hampir satahun tapi masih ajah begitu sama aku," protes Arumi.


"Terus aku harus gimana, coba kamu kasih tau aku, aku harus gimana?" tanya Kevin.


"Terima cinta aku oke," jawab Arumi dengan tersenyum manis pada Kevin membuat jantung Kevin berdetak kencang.


"Maaf Rum aku tak bisa, kamu itu cocoknya dengan pria sekelas tuan Haris atau Kak Aron," tolak Kevin segera membuat Arumi sedih.


***


Di dalam ruang kantor Aberlie baru saja bangun dari tidurnya, ia mengusap wajahnya. Ia bangun dan berjalan keluar dari dalam kamar menuju di aman sang suami berada. Aberlie melihat Bram masih berada di kursi kebesarannya, ia menghampirinya.


"Belum selesai Dear?" tanya Aberlie sudah berdiri di samping Bram.


"Sudah Baby tinggal beresin ajah, kamu sudah bangu, apa tidurnya nyenyak?" tanya Bram meraih tangan Aberlie untuk duduk di pangkuannya.


"Hm nyenyak sekali," jawab Aberlie tersenyum.


"Aku berat Dear," sambung Aberlie.


"Kata siapa kamu berat, bagiku kamu gak pernah barat, malah kamu seksi Baby, aku semakin cinta sama kamu," jawab Bram memeluk sang istri, Aberlie mengusap rambut Bram lembut.


"Aku gak sabar nunggu mereka lahir, kata Sandra mereka sepasang, seperti apa wajah mereka yah By," sambung Bram mencium perut buncit Aberlie dan mengelusnya.


"Dia akan tampan seperti Daddynya, dan cantik seperti Oma buyutnya," jawab Aberlie tersenyum.


"No By, mereka akan tampan dan cantik mirip seperti Mommynya, karena kamu yang mengandungnya untukku, makasih yah By, aku sangat bahagia sampe gak sabar menunggu kehadiran mereka," balas Bram yang masih asik mengusap bermain dengan benjolan yang sesekali muncul di perut buncit sang istri.


*****


hai kak mampir juga di karya temen othor nih, ceritanya gak kalah seru loh.


Blurb...


Ditinggalkan oleh sang Ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang Ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba Ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang Ayah menorehkan pilu dalam dada sang Ibu.


Di tengah deruan rasa rindunya pada sang Ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang Ayah telah menceraikan Ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat Ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang Ibu tak berdaya. Di sisi lain sang Ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.


Akankah kerinduan Shaka pada sang Ayah berakhir dengan sebuah pertemuan atau mungkin tidak ???


intip yu ceritanya disini ๐Ÿ‘‡



selamat membaca semuanya jangan lupa likenya yah๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


Besok udah mau puasa othor mau mgucapin maaf lahir batin untuk para reader setia yang selalu setia menunggu karya othor update, maaf kalau ada salah di balasan komentar kalian yang mungkin menyakiti perasaan kalian yah kakak semua.


salam sayang dari othor untuk kalian semua para reader setia yang selalu mendukung othor untuk terus berkarya๐Ÿ™๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿฅฐ