
Pagi menjelang matahari sudah keluar dari persembunyiannya, hari ini adalah hari pertama Risa menyandang setatus sebagai seorang istri, ia sudah tak lagi tidur sendirian.
Risa membuka matanya, ia menoleh kearah samping tersenyum melihat sang suami yang masih terlelap dalam dunia mimpinya dengan memeluk dirinya.
Risa memindahkan tangan Haris yang melingkar diperutnya secara perlahan, ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, saat ia akan turun dari tempat tidur ia merasakan nyeri yang teramat diarea kewanitaannya.
"Aw...." pekik Risa saat menurunkan kakinya, ia melihat bercak darah disprei yang ia tiduri.
Mendengar Risa mengaduh kesakitan Haris terbangun dari tidurnya, ia menggendong sang istri menuju kamar mandi.
"Harusnya kau bangunin aku honey" Haris menurunkan tubuh Risa saat sudah berada dikamar mandi.
"Aku tak mau mengganggu tidurmu honey" ucap Risa.
"Tapi kau kesusahan berjalan karenaku kan, kau mau mandi, biar aku bantu oke."
"Tak usah honey aku bisa sendiri," ucap Risa menolak.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar, setelah ini kamu kembali tiduran saja nanti ku bawakan sarapan untukmu oke." Haris keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.
Haris mengganti seprei yang terdapat noda darah terlebih dahulu, setelah selesai ia lalu pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan ala kadarnya.
Setelah selesai mandi Risa berbaring kembali diatas tempat tidur yang sepreinya sudah diganti oleh Haris.
Tak lama Haris datang membawa nampan berisi dua potong roti isi ukuran besar dan segelas susu ditangannya, Haris duduk ditepi tempat tidur dan memangku nampan tersebut lalu menyuapi Risa dengan roti isi yang ia potong.
"Maaf yah honey bukannya aku yang menyiapkan sarapan malah kamu yang menyiapkannya," ucap Risa setelah habis mengunyah roti yang ada didalam mulutnya.
"Kamu tak perlu menyiapkan apapun untukku jika kau tak ingin, kau cukup mencintaiku seperti selama ini dan selalu berada disisiku aku sudah sangat bahagia sekali honey," ucap Haris mengusap sudut bibir Risa yang belepotan.
"Love you honey,"
"Love you to." Haris mengecup bibir Risa.
***
Dirumah utama Aberlie dan Bram sudah siap untuk pergi kerumah sakit x untuk cek up kandungannya.
Setelah berpamitan pada Fatma Bram dan Aberlie meninggalkan rumah utama menuju rumah sakit x.
Kebetulan jalanan tidak macet jadi mereka hanya memerlukan waktu tiga puluh menit untuk sampai dirumah sakit x, mereka sudah ditunggu oleh dokter kandungan.
"Selamat pagi nyonya muda dan tuan muda Hanoraga," sapa dokter kandungan wanita tersebut.
"Pagi dokter Sandra." Aberlie membalas ucapan selamat pagi dokter wanita yang bernama Sandra tersebut.
"Ayu nyonya muda berbaring dibrangkar terlebih dahulu, biar saya lihat apakah luka jahitannya sudah kering dan kendungannya sudah baik baik saja," ajak dokter Sandra menuju brangkar.
"Baik dok," ucap Aberlie mengikuti dokter Sandra dan diikuti oleh Bram.
Dokter Sandra mulai memeriksa luka pasca operasi Aberlie saat pengangkatan janin, serelah selesai dokter Sandra lalu mulai melakukan usg pada kandungan Aberlie untuk memastikan bahwa kandungan Aberlie sudah normal kembali dan siap untuk dibuahi.
"Luka jahitannya sudah sedikit kering yah nyonya muda perbanyak makan ikan gabus ditim biar lebih cepat kering lagi, kandungan nyonya muda juga sudah normal dan siap untuk dibuahi, hari ini genap empat puluh hari pasca melakukan pengangkatan janin yah nyonya muda," ucap dokter Sandra menjelaskan.
"Kandungan nyonya muda sudah normal dan siap untuk dibuahi, tuan muda sudah bisa berbuka puasanya yah, tapi harus ingat nyonya muda belum bisa melakukannya terlalu berat dan kasar jadi saya sarankan untuk pelan pelan saja melakukannya karena luka jahitannya belum sepenuhnya kering, mohon berhati hati yah tuan muda." dokter Sandra menjelaskan secara rinci.
"Ini aku resepkan obat dan vitamin yah mohon nyonya muda meminumnya dengan teratur dan dihabiskan," lanjut dokter Sandra seraya memberikan kertas berisi resep obat.
"Terima kasih yah San," ucap Bram meraih kertas resep tersebut.
"Sama sama tuan muda semoga lekas sembuh yah nyonya muda," ucap dokye Sandra tersenyum.
"Gak usah formal formalan begitu jadi kedengeran aneh, ya sudah aku pamit dulu yah, salam buat Agam." Bram bangun dan mendorong kursi roda Aberlie keluar ruangan dokter Sandra.
(lah kok Bram bilang salam buat Dokter Agam sih🤔 hayoooo siapa yah kira kira si Dokter Sandra ini, yang penasaran tunggu dikisah cintanya dokter kece sama pelayan pendiam di novel selanjutnya yah🙏😊)
Bram menuju outlet apotek untuk menebus obat dan vitamin yang diresepkan oleh dokter Sandra, setelah selesai mereka langsung menuju parkiran dan pulang kerumah utama.
Sampai dirumah utama pas sekali waktu makan siang, setelah Bram mengantarkan Aberlie dan membantunya untuk duduk bersandar ditempat tidurnya Bram langsung menuju dapur untuk mempersiapkan makanan untuk Aberlie dan dibawanya kekamar.
Bram menyuapi Aberlie dengan penuh kasih sayang, setelah selesai makan Bram memberinya obat dan vitamin yang tadi ditebusnya.
"Kamu istirahat yah by, aku mau beresin ini dulu, nanti aku nyusul." Bram membantu Aberlie untuk berbaring.
"Kamu jangan lupa makan yah Bram." Aberlie mengingatkan Bram untuk makan karena ia suka melewatkan makan siangnya saking biasanya Aberlie yang selalu menyuapinya makan siang.
"Ia by, aku sekalian makan siàng, ya sudah kamu istirahat aku kedapur dulu." Bram pergi setelah mengecup ujung kepala Aberlie.
***
Sementara dikediaman Wijaya Aron dan Aliva tengah sibuk dengan persiapan pernikahannya, mereka menyiapkan beberapa keperluan sendiri.
Gedung dan gaun pengantin sudah diurus oleh Bram dan Harun, katering dan suguhan makanan ringan seperti cake sudah diurus oleh Siska dan Lisa, tinggal yang kecil seperti souvenir menjadi bagian kedua pengantin.
Mereka berdua sibuk berdiskusi masalah souvenir hingga malam tiba dikediaman Wijaya.
Dirumah besar Bram yang sudah membantu Aberlie untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian kini sedang menyuapi Aberlie dikamarnya, Bram merawat Aberlie dengan sabar dan penuh kasih sayang selama empat puluh hari ini, ia bahkan rela berjuang menahan hasratnya demi Aberlie sembuh total.
"Aku beresin ini dulu kedapur yah by," ucap Bram seraya berlalu meninggalkan Aberlie setelah Aberlie menganggukan kepalanya.
Tak lama Bram kembali dan memberi obat serta vitamin untuk diminum Aberlie kemudian ia ikut duduk diatas kasur disebelah Aberlie.
"Dear, makasih yah kamu udah sabar banget ngerawat aku, mungkin jika laki laki lain ia sudah mencari kesenangan diluar sana untuk memenuhi hasrat mereka karena istrinya sedang tak bisa melayaninya, namun kamu seorang bos besar dari perusahaan perhiasan dan berlian nomer satu dikota ini dimana banyak wanita mengantri hanya untuk one night denganmu tapi kamu malah sibuk mengurusku seperti ini dan menahan hasratmu, aku tau dear kamu sering bermain solo dikamar mandi setelah membantuku membersihkan tubuh dan mengganti pakaian, maafkan aku yah dear karena telah membuatmu tersiksa."
Aberlie menyandarkan kepalanya didada sang suami seraya meneteskan air matanya, entah dia bahagia karena suaminya setia dan sabar mengurusnya saat tak berdaya seperti ini atau dia merasa sedih dan bersalah karena tak bisa melayaninya.
"Kamu ngomong apa sih by, buat apa kamu meminta maaf dan berterima kasih padaku seperti ini, sudah menjadi kewajibanku merawatmu saat kamu sedang sakit, bukankah kau akan melakukan hal yang sama denganku by jika aku berada diposisimu saat ini, aku bahagia bisa bersama denganmu by, jangan kamu ngomong seperti ini lagi oke, fokus pada kesembuhanmu, cafemu memerlukanmu begitupula denganku by, kamu harus semangat dengan pemulihanmu oke, aku selalu mencintaimu." Bram mengecup ujung kepala Aberlie dan mengusap rambutnya lembut.
"Sekarang tidur sudah malam oke," ucap Bram seraya membantu Aberlie berbaring, Bram memeluk Aberlie dan mereka tertidur dengan ternyenyum.
*****
Selamat membaca yah kakak semua jangan lupa likenya😊
Salam hangatku dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰