CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 124



"Kamu gak apa-apa?" tanya Mahen yang membantu Yuna berdiri.


"Kamu baik-baik sajakan? Ada yang luka gak?" Gina memperhatikan seluruh tubuh Yuna.


"Aku tidak apa-apa." Yuna menahan sakit di sikunya.


"Kenapa mobil itu mengincarmu?" tanya Mahen.


"Apa maksudmu?" Yuna bingung.


"Aku tadi melihat mobil itu baru saja masuk." jelas Mahen. "Tapi saat kamuw menghampiriku, mobil itu sengaja menambah lajunya." Mahen ingat jelas kalau saat mobil itu masuk, si pengendara hanya memacu pelan mobilnya. "Dia mengincarmu!" Ayuna terkejut begitupun dengan Gina.


"Lebih baik kita ke rumah sakit. Lihatlah tangan lo berdarah begini." Gina begitu mengkhawatirkannya.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." Yuna menolak dibawa ke rumah sakit.


"Gina benar, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu." Mahen mengajaknya untuk memeriksakan lukanya. Yuna tidak tahu bahwa sejak tadi Al menghubunginya, karena ponselnya dalam mode senyap.


"Biar aku antar kalian!" Mahen membantu Yuna naik ke mobilnya.


"Mobil saya?" tanya Gina.


"Kamu bisakan mengikuti kami? Kita ke Giant Hospital." ucapnya.


"Baik, Tuan." Gina segera menuju mobilnya dan mengikuti mobil Mahen yang sudah lebih dahulu keluar dari Star Cafe.


"Kenapa dia tidak menjawab ponselnya?Entah kenapa sejak tadi perasaanku gak enak." Al terlihat kesal. "Jo, kamu hubungi Gina!" perintahnya pada Jhosua yang sedang bersama dengannya. Gina sedang menyetir saat melihat ada panggilan masuk dari Jhosua di ponselnya. Dia memakai headset di telinganya dan menjawab panggilan Jo.


"Hallo." ucapnya.


"Kamu dimana?" Jo segera bertanya begitu mendengar suara Gina.


"Aku dalam perjalanan menunu Giant Hospital." Gina memilih untuk jujur, dari pada nantinya menjadi masalah. Dia yakin Jo menghubunginya atas perintah Alvaro.


"Giant Hospital?" Al segera merebut ponsel itu dari Jo.


"Apa maksudmu? Bukankah kalian ke Star Cafe?"


"Benar, Tuan, tadi kami sudah sampai di Star Cafe, tapi saat Ayuna akan memghampiri tuan Mahen tiba-tiba ada sebuah mobil yang berusaha untuk menabraknya." Al sangat terkejut dengan kabar yang Gina sampaikan.


"Bagaimana Yuna?" tanyanya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan. Ayuna hanya mengalami lecet dan luka pada tangannya. Saat ini kami sudah hampir sampai di Giant Hospital." Alvaro segera mematikan sambungan teleponnya.


"Kita ke Giant Hospital." ucapnya pada Jo. Mereka segera bergegas menuju lantai 1. Jhosua memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Gimana, Dok?" Mahen bertanya pada dokter yang baru selesai memeriksa kondisi Yuna.


"Tidak apa-apa. Nona Ayuna hanya mengalami lecet-lecet saja." Mahen bernapas lega. "Saya akan resepkan obatnya." ucap sang dokter.


"Syukurlah, Na, kamu baik-baik saja." ucap Gina yang berdiri disebelahnya. Ayuna tersenyum padanya. "Oh ya, tadi Tuan Al nelpon." Gina memberitahunya.


"Kamu cerita ke dia?" tanya Yuna. Gina mengiyakan.


"Pasti bakalan rumit ini." ucap Yuna, benar saja terdengar keributan tak jauh dari tempat Yuna diperiksa.


"Kau selalu saja membawa masalah untuknya." Al bertengkar dengan Mahen.


"Bukan aku tapi kau." Mahen menunjuknya.


"Maaf, tuan ini rumah sakit." tegur perawat yang ada disana.


"Diam!!" teriak mereka bersamaan.


"Yuna, kamu mau kemana?" tanya Gina saat melihat Yuna turun dari tempat tidur. Ayuna tidak mendengarkannya, dia berjalan menuju Al dan Mahen yang masih bertengkar.


"Tiap kali dia keluar bersamamu, ada saja masalah yang dia dapat." ucap Al.


"Bukan aku penyebabnya, tapi kau." Mahen kembali menunjuknya. "Kecelakaan tempo hari, bukankah itu karenamu?" lanjutnya.


"Kau yang tidak becus menjaganya!" jawab Al. Mereka tidak sadar kalau saat ini Yuna sudah berdiri di dekat mereka. Al dan Mahen masih saja terus ribut, sampai akhirnya.


"PLAK." Yuna memukul bahu mereka berdua. Mereka terkejut dan mendapati Ayuna yang sedang menatap tajam pada keduanya.


"Yuna." ucap mereka berdua.


"Apa kalian gak malu ribut di rumah sakit?" omelnya. "Kalian menganggu pasien dan juga petugas medis disini. Kalau mau ribut sana keluar." Ayuna mengusir mereka, Al dan Mahen saling pandang.


"Kamu gak apa-apakan?" Al segera memdekatinya.


"Menurutmu?" melihat Yuna berkata ketus pada Al, Mahen tersenyum meledek.


"Kau ..." Al tidak jadi melanjutkan niatnya membalas Mahen, karena Yuna lebih dulu meliriknya.


"Kamu juga, bisa diam gak?" Mahenpun tidak lolos dari amukan Yuna. Sekarang gantian Al yang tersenyum meledeknya.


"Ini resep anda, Nona." perawat mendekat dan memberikannya pada Ayuna. Al mengambilnya dari tangan Yuna.


"Jo, kamu tebus!" perintahnya.


"Na, aku temani Jhosua dulu ya!" Gina berlari kecil mengejar Jo.


"Dimana dokternya? Apa dia yakin kamu baik-baik saja?" tanya Al.


"Kamu mau kemana?" tanya Al.


"Pulang!"


"Biar aku antar!" Mahen maju menawarkan diri mengantar Yuna. Al mendorongnya.


"Dia akan terkena masalah lagi jika terus bersamamu." ucapnya.


"Jangan mulai lagi deh! Aku bisa pulang sendiri." Yuna segera keluar dari UGD.


"Jangan, Na, bahaya jika kamu pergi sendiri." cegah Mahen, Al menatapnya.


"Apa maksudmu?" tanya Al.


"Aku sudah bilang, mobil itu mengincarnya. Ini bukan kecelakaan, tapi kesengajaan. Mobil itu sengaja menabrak Yuna." sambil menunggu Gina, Ayuna memilih duduk di bangku yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


"Jelaskan padaku!" pinta Al padanya. Mahen meceritakan semua yang dia lihat pada Al, untuk sesaat mereka melupakan permusuhan mereka.


"Apa kau melihat orangnya?" tanya Al.


"Tidak. Kaca mobilnya sangat gelap."


"Bagaimana dengan plat mobilnya?" Mahen kembali menggeleng.


"Aku tidak tahu, karena saat itu aku sedang menolong Yuna." jawabnya. Alvaro terlihat berpikir.


"Apakah ini perbuatan James?" Alvaro curiga pada James, ayah Natalie.


"Aku akan mencaritahu." ucap Al.


"Nona, ini obat anda." Jo yang baru datang bersama Gina menyerahkan obat yang sudah dia tebus pada Yuna.


"Makasih, Jo." Yuna mengambil obat itu dari tangan Jo.


"Kalian kembali saja ke kantor." Al menatap Jo dan Gina. Jhosua memberikan kunci mobil Al padanya. "Sudahkan? Ayo, kita pulang!" ajak Al pada Yuna.


"Na, aku duluan ya!"


"Iya, kabari aku kalau kamu butuh sesuatu." jawab Gina, Ayuna mengangguk.


"Mahen, aku pulang dulu." Mahen hanya mampu menatapnya. "Terima kasih karena sudah menyelamatkanku." Al menatap Mahen.


"Itu sudah kewajibanku." jawabnya. Yuna tersenyum, kemudian mereka segera berjalan menuju ke tempat mobil Al terparkir.


🍀🍀🍀


"Lihatkan? Ini, kenapa aku melarangmu untuk menemuinya." sesampainya di dalam mobil Al mulai mengomeli Yuna.


"Tapi ini bukan salahnya." Ayuna membela Mahen.


"Seharusnya dia belajar dari kesalahan. Untung saja kamu gak apa-apa. Apa kamu mau kepalamu dibedah lagi?" Ayuna menatap tajam padanya.


"Buruk banget sih doamu?" Yuna terlihat kesal.


"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kejadian ini selalu terulang. Setiap kali bersamanya kamu selalu terluka." Ayuna tidak mau menanggapi Al lagi. Dia memilih untuk menutup matanya. Melihat Yuna tertidur, Al kembali memikirkan perkataan Mahen tadi.


"Apa benar ini perbuatan James?Apa dia ingin balas dendam padaku karena memenjarakan putrinya?" Al terus memikirkan tentang kecelakaan yang baru Yuna alami. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Jhosua.


"Hallo, Tuan." ucap Jo setelah mengangkat telepon dari Al.


"Kamu pergi ke Star Cafe, minta mereka menunjukkan cctv hari ini. Cari tahu mobil yang menabrak Yuna tadi. Dan juga, cari tahu apa yang dilakukan James akhir-akhir ini." perintahnya.


"Baik, Tuan." jawab Jo.


"Ada apa?" tanya Gina yang duduk disebelahnya.


"Kita ke Star Cafe dulu ya." ucapnya. Gina mengangguk. Dia mengerti bahwa ini pasti berkaitan dengan kecelakaan Yuna. Jo mengubah tujuan mereka, dia melajukan mobil Gina menuju Star Cafe.


"Bagaimana?" Monika sedang menghubungi seseorang di kamarnya.


"Maaf, Nyonya, kami gagal!" ucap orang yang dia hubungi.


"Dasar bodoh! Melenyapkan seorang wanita saja kalian tidak becus." Monika memarahi orang suruhannya itu.


"Maaf, Nyonya, ada seorang pria yang menolongnya." jawabnya.


"Siapa?" Monika harus tahu siapa yang sedang bersama dengan Yuna.


"Kami tidak tahu, Nyonya." jawabnya.


" Kalian pergilah yang jauh, untuk sementara ini jangan muncul di kota ini apalagi didepanku. Nanti uangnya ku transfer." Monika yakin Alvaro tidak akan tinggal diam.


"Al pasti akan mencari tahu semua ini. Aku harus buru-buru membuat mereka pergi dari sini." Monika segera mengambil tasnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


"Kamu mau kemana?" Hans yang melihatnya terburu-buru segera menegurnya.


"Ah, papa mengangetkanku saja." dia memegang dadanya. "Aku mau keluar ada sedikit urusan." jawabnya, lalu bergegas meninggalkan Hans.


"Apa lagi yang sedang dia lakukan? Kerjanya hanya menghabiskan uangku saja." setelah melihat Monika menghilang dari ruang tamu, Hans kembali berjalan menuju ruang kerjanya.


~tbc