
"Kau lagi ....? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mengikutiku?" ucap Yuna begitu Bumi sampai dihadapan mereka.
"Aku bahkan tidak tahu kalau kau ada disini." jawabnya.
"Nggak usah bohong." Yuna terlihat kesal.
"Maaf, sepertinya tuan dan Nyonya saling mengenal?" sela bu Panti.
"Iya, Bu." jawab Bumi sopan.
"Ibu mengenalnya?" Yuna menunjuk Bumi.
"Tentu saja, Nyonya, Tuan Bumi ini adalah donatur tetap disini." jawaban ibu Panti membuat Yuna sedikit terkejut.
"Maaf, Bu, ada sedikit masalah di dapur." lapor pegawai yang baru saja masuk.
"Baik." jawabnya.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya, saya ada sedikit urusan. Jika Tuan dan Nyonya berkenan,nsaya akan meminta Bunda Khadijah untuk menemani Tuan dan Nyonya." dia menyebutkan nama orang kepercayaannya.
"Hmm, tidak perlu, Bu. Saya kesini hanya untuk membagikan semua ini pada anak-anak." jawab Yuna.
"Anda tidak perlu risaukan kami. Silahkan! Lanjutkan saja pekerjaan Ibu." jawab Bumi. Setelah meminta bantuan Khadijah, Ibu Panti bergegas menuju dapur.
"Aku nggak menyangka, kalau orang sepertimu mempunyai hati semulia ini." ucap Yuna, Bumi menoleh padanya.
"Makanya jangan suka menilai sesuatu dari luarnya saja." jawabnya.
"Yah, itu adalah kesalahanku." akunya. Hal ini mengubah sudut pandang Yuna tentang Bumi. Ternyata pria itu tidak sedingin dan semenyebalkan yang selama ini dia pikirkan.
"Jadi, apa kini penilaianmu padaku sudah lebih baik?" tanya Bumi.
"Yah, tergantung! Jika kau bisa berhenti untuk mengangguku, kenapa tidak?" ucapnya.
"Aku hanya ingin berteman denganmu. Melihatmu mengingatkanku pada seseorang." jelasnya.
"Oh, ya? Siapa? Apakah dia orang yang sangat special untukmu?" ledek Yuna.
"Yah, dia begitu special. Sehingga aku tidak akan bisa mengantinya dengan yang lain." Yuna kembali terkejut. Dia tidak menyangka kalau Bumi bisa berterus terang mengenai kehidupan pribadinya pada Yuna.
"Loh, bukannya itu tuan Bumi?" Gina yang baru kembali dari toilet melihat Bumi sedang berdiri disisi Yuna. Jo menoleh padanya dengan tatapan dingin. "Kenapa dia disini?"
"Kita harus mencari tahu. Kalau dia sampai mengikuti nona kesini, mala aku tidak akan segan-segan melaporkan dia ke pihak berwajib." Jhosua mempercepat langkahnya.
"Nona!" sapanya begitu berada di dekat Yuna. "Kenapa anda ada disini? Apakah anda mengikuti nona Ayuna hingga kesini?" wajah Jo terlihat tidak bersahabat.
"Bukan, Jo. Dia adalah donatur disini." jawabnya cepat.
"Bu, saya nitip ini buat anak-anak ya." ucap Yuna pada Bu Khadijah.
"Terima kasih banyak, Bu." jawab wanita berhijab hitam itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Khadijah mengangguk. "Aku duluan." Yuna beralih pada Bumi.
"Berhati-hatilah! Terlebih saat menuruni tangga di depan." pesannya. Ayuna sadar bahwa Bumi mengingatkan tentang kondisiinya.
"Iya." dia mengangguk dan tersenyum. "Ayo!" ajaknya pada Jo dan Gina. Sebelum pergi, Jo masih memperlihatkan tatapan dinginnya pada Bumi.
๐๐๐
"Na, maksud tuan Bumi tadi apa?" Gina masih penasaran dengan pesan Bumi tadi. "Sepertinya dia perhatian banget sama lo."
"Dia itu memang baik dan perhatian." puji Yuna, Jhosua yang mendengar itu menjadi bingung dengan perubahan sikap Yuna. Gina juga ikutn bengong, karena setaunya Yuna tidak menyukai Bumi.
"Gimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Yuna. Jo dan Gina yang duduk di depan hanya bisa saling tatap. "Ye, ditanyaim malah saling pandang." sela Yuna.
"I-itu, lo tanya dia aja." jawab Gina pelan.
"Gimana, Jo? Bulan depankan?" tanyanya. Jhosua terlihat diam. "Kenapa?" Ayuna merasa ada masalah diantara mereka.
"Sepertinya bakal diundur, Na." Gina yang buka suara.
"Diundur? Kenapa? Bukankah kemarin udah ditentuin hari baiknya?" Ayuna yang kaget, melontarkan begitu banyak pertanyaan.
"Dia nggak mau menikah sebelum tuan Hans sembuh, dan mereka kembali ke Indonesia." Gina mengatakan itu dengan wajah sedih.
"Baiklah, Nona." jawab Jo.
"Kalian mau mampir?" tanya Yuna begitu mereka sampai di rumah.
"Kita langsung aja ya." tolak Gina. Karena udah hampir maghrib.
"Hati-hati." ucapnya. Setelah Yuna masuk, Jo kembali melajukan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Apa pendapatmu?" tanya Jo.
"Apa?" Gina bertanya balik.
"Tentang perkataan nona Ayuna tadi." ucap Jhosua.
"Bukankah pendapat Ayuna sama dengan perkataanku kemarin?" sebelumnya mereka sudah pernah membahas masalah ini. Tapi, Jo tetap pada keputusannya. Dia ingin Hans dan Al menghadiri pernikahan mereka. Menurutnya, mereka adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
"Selagi kita menunggu kepulangan tuan Al, ada baiknya kita persiapkan semuanya." Jo menimbang saran dari calon istrinya itu.
๐๐๐
"Tuan, ini berkas yang anda minta." Alvaro berada di kantor Candra. Hans memintanya untuk segera menyelesaikan semuanya. "Apa tidak ada lagi yang lain?" Ken menggeleng. "Kemana lagi kita harus mencari investor?"
"Saya rasa akan sangat sulit, Tuan Muda. Mengingat perusahaan ini sudah benar-benar jatuh." jawab orang kepercayaan Hans itu. Al memegang dahinya, dia berpikir keras.
"Apa kita menyerah saja?" Al terlihat lelah, Ken tidak mengatakan apapun.
"Permisi, Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda." lapor Carrel selaku sekretaris Al disana.
"Siapa?" tanyanya.
"Namanya Angela." Al seolah mengenal nama itu.
"Apakah dia dari Earth Corp?" tanyanya.
"Benar, Tuan." jawabnya.
"Mau apa dia?" batin Al. "Suruh masuk!" Carrel berjalan keluar dan tak lama tampak Angela berdiri dihadapan Al.
"Apa yang membawa anda hingga sampai ke sini?" tanya Al padanya. "Silahkan, duduk!" Angela langsung duduk di kursi yang ada di depan Al.
"Aku mendengar kamu ada disini. Itu sebabnya aku sengaja mampir." jawabnya.
"Apa pria brengsek itu yang menyuruhmu?" tanyanya.
"Maksudmu tuan Bumi?" Alvaro tidak mengatakan apapun. "Tidak. Aku datang karena mendengar kamu ada disini." jawabnya cepat.
"Langsung saja. Apa yang kamu inginkan?" Al tidak ingin membuang waktu dengannya.
"Tenanglah! Aku kesini karena mendengar kamu ada masalah. Kalau kamu berkenan, aku bisa membantumu." ujarnya.
"Apa maksudmu?" tanya Al.
"Kenapa kamu tidak bekerja sama dengan Earth Corp saja?" sarannya.
"Cih!! Sudah kuduga, kamu pasti disuruh olehnya." Alvaro menyeringai.
"Aku hanya memberi jalan keluar terbaik untukmu. Melihat kondisi perusahaan ini, aku rasa akan sangat sulit untukmu. Jika perusahaan ini berjalan bersama Earth Corp, aku pastikan semua masalahmu akan teratasi." ujarnya percaya diri.
"Aku tidak membutuhkan bantuan kalian." jawab Al.
"Coba kamu pertimbangkan kembali. Tuan Bumi hanya ingin membantumu. Aku akan menunggu jawabanmu hingga besok." Angela berdiri.
"Apa yang dia inginkan?" Angela menoleh padanya. Alvaro sangat yakin Bumi tidak mungkin memberikan bantuan secara cuma-cuma.
"Entahlah! Aku hanya tahu bahwa dia melakukan ini demi seseorang." jawabnya, Angela segera meninggalkan ruangan itu.
"BRAK!!" barang-barang yang ada diatas meja bertebaran dimana-mana. Wajah Alvaro memerah, rahangnya mengeras. Sorot matanya memancarkan kemarahan.
"Bumi sialan!!!!" teriaknya bersamaan dengan gelas yang pecah.
...๐Berhubung Idul Fitri jadi author mau mengucapkan "Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin."...
๐Maaf telat up ya! Author sibuk banget ngurusin persiapan Idul Fitri๐