
"Apa kau tahu nona Ayuna dimana?" Jo berjalan mendekat padanya.
"Aku ..." Andreas gelagapan.
"Atau nona Ayuna saat ini bersamamu?" tebak Jo, melihat Andreas tidak mampu menjawabnya. Jo semakin yakin ada yang disembunyikan oleh dokter itu.
"Katakan dimana nona Ayuna?" Andreas segera menutup mulut Jhosua, dia melihat ke arah Al yang sedang tertidur dengan infus yang terpasang ditangannya. Andreas menarik Jo keluar dari sana.
"Dimana nona Ayuna?" tanyanya lagi begitu Andreas melepaskannya.
"Dia ada di apartemenku." jawabnya.
"Apa kau sudah kehilangan akal? Kau membawanya ke apartemenmu? Kalau tuan Al tahu kau bisa mati." Jhosua beraksi berlebihan.
"Aku bingung harus membawanya kemana. Kemarin, dia hampir tertabrak mobilku. Melihatnya menangis membuatku tidak tega. Dia menolak saat aku ingin mengantarnya kesini.
"Tapi kenapa harus ke apartemenmu? Kau bisa mengantarnya ke hotel atau kemanapu." jawab Jo.
"Aku takut dia malah bertindak nekat. Gimana kalau dia pergi jauh, apa kalian tidak akan kesusahan mencarinya?" Jo terdiam.
"Kalau begitu, aku beritahu tuan Al dulu."
"Hey, tunggu!" Andreas mencegah Jo yang akan kembali masuk ke kamar Al.
"Kenapa lagi?" tanya Jo.
"Jangan beritahu tuan Al dulu." Jo menolah dan menatap tajam padanya.
"Ayuna tidak ingin bertemu dengannya." ucap Andreas.
"Itu bukan urusan kita! Biarkan tuan Al yang mengurusnya." jawab Jo.
"Jangan sekarang! Biarkan Ayuna sendiri dulu. Aku akan mencoba membujuknya." selanya.
"Apa maksudmu? Aku tidak setuju, Tuan Al harus tahu dimana nona Yuna." Jo keberatan dengan idenya.
"Ayuna sedang emosi, gimana kalau saat melihat Al, dia malah kabur lagi." ucapnya.
"Apa kau takut kalau tuan Al tahu Ayuna bersamamu?" tanyanya.
"Tentu saja!" jawab Andreas cepat.
"Sudah ku duga." Jo menyeringai.
"Dia bisa membunuhku kalau tahu Yuna tinggal bersamaku." jawabnya.
"Siapa yang tinggal bersamamu?" tanya Al yang saat ini berdiri di depan pintu kamarnya.
"Itu ... Al ... Aku ..." Andreas menatap ke arah Jo, Jhosua malah mengangkat bahu.
"Jawab aku!" teriaknya.
"A-ayuna!" baru saja dia menyebut nama Yuna sebuah vas bunga mendarat di dekat kakinya. "Tunggu, Al! Aku bisa jelaskan!" Andreas menghindar.
"Brengsek! Kenapa kau membawa calon istriku ke rumahmu?" Al berjalan dengan menyeret tiang infus yang ada disebelahnya.
"Kamu salah paham! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Andreas masih menghindarinya.
"Aku mencarinya kemana-mana, tapi kau malah menyembunyikannya. Apa kau menyukainya?" Alvaro masih mengejarnya. Entah sudah berapa banyak barang yang melayang.
"Kamu salah paham, Al! Jo, jelaskan padanya." Andreas meminta bantuan pada Jhosua yang sejak tadi menjadi penonton.
"Apa kau tahu?" tanya Al pada Jhosua.
"Saya baru tahu. Tuan." jawab Jo.
"Lalu, kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Al.
"Saya baru akan memberitahu anda." jawabnya.
"Jadi, jika aku tidak mendengarnya maka kalian akan terus merahasiakannya dariku?" tanyanya.
"Bukan begitu Al, aku bertemu dengannya di jalan, dia hampir saja tertabrak mobilku." mendengar itu Al segera berhenti. "Saat itu, aku tidak tahu bahwa itu Ayuna, saat aku keluar aku melihat dia sedang menangis. Jadi, aku tidak mungkin mengabaikannya atau meninggalkannya sendiri." Al terdiam dan segera duduk di sofa yang ada di belakangnya.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanyanya pelan.
"Dia membencimu!" jawabnya cepat, mata Al membesar menatapnya.
"Itu saja?" tanya Al.
"Dia tidak ingin bertemu denganmu, karena kamu adalah penyebab kematian orangtuanya." Alvaro menghembuskan napas kasar.
"Aku ingin menemuinya." ucap Al.
"Tapi, Al ..." Andreas ragu.
"Tolong, bantu aku!" Andreas kaget, begitupun dengan Jhosua. Selama pertemanan mereka baru kali ini mereka melihat Al bersikap sopan.
"Aku pasti akan membantumu. Tapi, kamu harus mengikuti perkataanku." jawabnya.
"Jangan mengambil keuntungan dalam kesulitanku." Al berpikir Andreas akan mengerjainya.
"Tidak, kamu tenang saja. Bagaimana?" tanyanya.
🍀🍀🍀
"Dimana, Ayuna?" tanya Andreas begitu dia sampai di apartemennya.
"Di kamarnya." jawab Cleo.
"Selama aku menahan Ayuna, suruh kedua orang yang ada diluar menunggu di kamarku. Setelah itu, kau boleh pergi." perintahnya, Cleo tidak bergeming. "Apa yang kau tunggu?" Cleo berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya, dia sangat kesal melihat sikap Andreas yang semena-mena padanya."
"Rasanya ingin ku suntik mati saja itu orang." gerutunya. Dia membuka pintu dan melihat ada dua orang pria tampan yang berdiri disana. Mata Cleo, bagaikan terkena pancaran sinar matahari.
"Apa kami sudah boleh masuk?" tanya pria berjas padanya.
"Hah, E-eh, tentu saja." dia membuka pintu lebar-lebar. Al dan Jo segera masuk.
"Kalian disuruh menunggu di kamarnya." ucapnya, sebelum Cleo menunjukkan kamar Andreas, mereka sudah terlebih dahulu masuk kesana.
"Aku belum ngomong, mereka sudah tahu. Siapa mereka? Cakep banget!" Cleo senyum-senyum sendiri.
"Hem!!" suara Andreas mengagetkannya. Andreas keluar bersama dengan Yuna.
"Kamu belum pulang?" tanyanya.
"Ini juga aku mau pulang." Cleo mengambil tasnya dan menatap ke arah Yuna.
"Cleo, makasih ya! Kamu udah nemani aku seharian." ucap Yuna.
"Iya, gak masalah." Cleo segera keluar dari sana.
"Duduklah!" ucap Andreas pada Yuna.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku baru pulang dari apartemen Al." jawabnya, Yuna terkejut.
"Apa kau memberitahunya kalau aku disini?" tanya Yuna, Andreas menggeleng.
"Al jatuh sakit, Na." Ayuna kembali terkejut.
"Biarkan saja! Aku tidak peduli." Ayuna memalingkan wajahnya.
"Aku sudah tahu semuanya, tapi kenapa kamu tidak mau mendengar penjelasan Al dulu?"
"Untuk apa?"
"Sebenarnya apa yang membuatmu marah? Kamu sendiri tahu kalau Al adalah korban sepertimu. Dia sendiri tidak tahu kalau orangtuamu meninggal dalam penculikan kalian." Andreas sengaja memancing Yuna agar mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Tapi, setidaknya dia bisa menemuiku. Apa dia tidak bisa mencariku untuk sekedar menanyakan kabarku?" akhirnya Ayuna buka suara.
"Dia tidak mungkin bisa menemuimu, karena saat itu kakinya masih dalam proses pemulihan." jawabnya. "Alvaro mengalami patah tulang pada kakinya, dia membutukan waktu yang panjang untuk dapat pulih seperti sedia kala." jelasnya. Ayuna mencari kejujuran dibalik ucapan Andreas.
"Saat itu hidupku sangat hancur. Aku kehilangan kedua orang yang sangat kucintai. Tidak ada lagi tempatku untuk bertumpu, untuk berbagi suka dan dukaku. Tidak ada lagi yang bisa ku panggil mama dan papa." Airmata Yuna mengalir membasahi pipinya. "Seharusnya aku tidak menolongnya, seharusnya ku biarkan saja dia diculik, pasti kedua orangtuaku masih hidup." lanjutnya.
"Apa kamu yakin itu yang kamu inginkan?" tanyanya, tangis Yuna semakin deras.
"Na, aku bukan ingin membela Al, tapi dia memang tidak bersalah." Yuna menatapnya dengan mata yang masih berair. "Alvaro berusaha mencarimu, dia berjuang keras untuk menemukanmu, dia bahkan tidak mempedulikan kakinya. Tapi, semua usahanya hancur saat mendapat kabar kalau kamu sudah tiada." Ayuna menutup mulutnya.
"Untuk menghentikan Al, Tante Monika membohongi Al dengan mengatakan kalau kamu meninggal dalam kecelakaan itu. Setelah itu, mereka mengirim Alvaro keluar negeri. Setelah dia kembali, Al mulai mencarimu tapi dia tidak menemukan keberadaanmu, sampai takdir mempertemukan kalian." jelasnya. Ayuna mengingat pertemuan mereka.
"Jadi, dia sudah tahu itu aku?" tanya Yuna.
"Iya, dia langsung mengenalimu." Yuna seolah tidak percaya.
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Sejak kejadian itu, tidak sedetikpun Al melupakanmu. Ada namamu disetiap hembusan napasnya." jelasnya. "Setelah mendengar semua ini, apa kamu masih membencinya?" Andreas kembali bertanya. "Apa kamu benar-benar sudah tidak mencintainya?" tanyanya.
"A-aku ..."
"Tanya hatimu, apakah Al memang penyebab kematian kedua orangtuamu? Kalau menurutku, orangtuamu pasti bangga mempunyai anak yang pemberani sepertimu." ucapnya.
"Aku tidak benar-benar membencinya, aku hanya tidak tahu harus menyalahkan siapa." Yuna kembali meneteskan airmata. Andreas mendekat dan memegang tangannya.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanyanya.
"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku masih mencintainya." jawab Yuna.
"Kamu sudah dengarkan?" Ayuna heran kenapa Andreas berbicara dengan suara keras.
"Kenapa kamu berteriak?" Yuna heran kenapa Andreas malah tersenyum menatap ke arah kamarnya. Ayuna ikut menoleh dan melihat Alvaro berjalan mendekat ke arahnya.
"Al ...?" ucapnya.
"Aku sudah dengar semuanya." ucap Al begitu sampai di depan Yuna.
"Aku sangat merindukanmu!" Alvaro memeluk Yuna. Ayuna kembali meneteskan airmata.
"Aku juga." Yuna membalas pelukannya. Andreas dan Jhosua tersenyum melihat dua sejoli yang saling mencintai itu.
~tbc