
Haris dan Risa sudah berada didalam perjalanan, mereka sampai apartemen sudah larut malam, Haris hanya membawa koper pakaian mereka saja untuk dibawa masuk sedangkan karung berisi pisang dan singkong dia biarkan didalam mobil karena siang harinya akan ia bawa ketempat Fatma kebetulan bertepatan dengan akhir pekan jadi Haris berencana menelfon mereka semua satu persatu untuk berkumpul dirumah utama.
Pagi sekali Haris dan Risa sudah berada dirumah utama, mereka berencana untuk sarapan bareng Fatma dan Harun, tak lupa mereka menelfon semuanya untuk datang siang ini.
Setelah sarapan mereka duduk diruang keluarga mengobrol sàmbil menunggu yang lainnya datang.
Tak lama Surya beserta kedua istrinya dan pasangan yang masih hangat pula sampai, mereka ikut bergabung bersama Haris dan yang lainnya, disusul dengan datangnya Bram dan Aberlie.
"Lu gak pergi kemanapun untuk berbulan madu bro?" Tanya Haris seraya memeluk Aron.
"Aku dirumah saja kak hanya mengunjungi beberapa tempat wisata disini saja, Aliva tak ingin pergi berbulan madu, entah dia tak ingin atau mungin karena malu dangan keadaanku," jawab Aron membalas pelukan Haris.
"Bukan seperti itu yang, aku hanya tak ingin pergi kemanapun," ucap Aliva segera setelah mendengar ucapan sang suami.
"Aku akan membawamu memasang tangan prosthetic bionic, aku sudah membicarakan ini pada Agam dan dia merekomendasikan rumah sakit yang bisa memasangnya, jadi kau bisa hidup normal kembali seperti dulu." Bram angkat suara dan mengusap punggung adiknya tersebut, ia mulai merasa kasihan pada sang adik yang tak pernah ia anggap tersebut.
"Makasih kak." Aron beralih memeluk Bram dan terisak dipelukannya, semua keluarga yang menyaksikan ikit terharu.
"Hm, asal kau benar benar berubah," ucap Bram menepuk punggung Aron.
"Janji aku akan berubah dan memulai hidupku yang baru," jawab Aron.
"Weh bro lu gak mau meluk gua nih, apa lu gak rindu selama sebulan lu gak ketemu sama gua." Haris merentangkan tangannya.
"Brengs*k lu ninggalin gua lama lama, mentang mentang udah punya maenan baru gua gak diperioritaskan lagi sama lu." Bram memeluk Haris setelah melepaskan pelukannya dari Aron.
"Kan seperti yang lu bilang bro, kalau tau meris seenak ntu udah dari dulu ajah merid, ah untung Risa minta langsung merid n gak jadi pake acara tunangan, kalo pake acara tunangan dulu mah karata pasti gua nunggu setahun kemudian," jawab Haris mengusap punggung Bram.
"Yeeee yang tadinya kekeh mau tunangan ajah dulu nolah merid sekarang sekarang siapa coba, pas udah merid mah klepek klepek." Risa menyambar tanpa permisi.
"Stres gua bro dibikin gak berdaya hahaha," ucap Haris tertawa diikuti yang lainnya.
"Eh Berl ada titipan dari mbok Tun tuh sekarung, bentar aku ambil dulu," ucap Haris kemudian berlalu kemobil untuk mengambil karung berisi oleh oleh dari Tun.
Haris kembali dengan karung ditangannya membuat semua mata menatapnya.
"Apa ini Ris?" tanya Aberlie bingung.
"Oleh oleh dari mbok Tun buat lu hehe," jawab Haris terkekeh.
Haris membuka ikatan karung tersebut dan mengeluarkan isinya, Aberlie sampai melongo melihat isi dari karung tersebut.
"Waaaah pisang sama singkong, aku mau bawa pulang yang banyak nanti buat dibikin pisang goreng sama singkong goreng seperti mbok Tun buat," ucap Aberlue antusias saat melihat isi dari karung tersebut.
"Aku juga mau honey buat kugoreng dirumah nanti kaya yang mbok Tun buat." Risa menyambar tak mau kalah.
Merekapun akhirnya ngobrol bersama setelah sesi bongkr karung oleh oleh dari Tun.
Tak terasa hari sudah sore dan hampir memasuki makan malam, Aberlie dan Risa sibuk didapur untuk mempersiapka makan malam membantu Fatma.
Aliva datang menghampiri mereka yang tengah sibuk mempersiapkan makan malam sambil mengobrol.
"Bo....leh aku ikut membantu....?" tanya Aliva dengan sedikit ragu, Aberlie dan yang lainnya sepontan langsung menoleh kearah Aliva.
"Kenapa harus bertanya lagi, tentu saja boleh, kau juga bagian dari kami," ucap Aberlie.
Aberlie menghampiri Aliva diikuti Risa, mereka mengajak Aliva untuk bergabung, Fatma tersenyum menyaksikannya begitupula seseorang yang tengah duduk diruang keluarga yang sedang memperhatikan mereka.
Tak lama makan malampun selesai dihidangkan dimeja makan, para istri sibuk melayani suami mereka masing masing, tak terkecuali Surya yang sampai pusing dengan tingkah kedua istrinya yang berebut melayaninya.
"Kebanyakan sih," celetuk Bram.
"Iri lu bro," dijawab oleh Haris.
"Gak, satu ajah cukup," jawab Bram kembali
Mereka pun makan malam dengan bahagia dan sesekali diselingi obrolan dan tawa.
Setelah makan malam selesai mereka pamit pulang kerumah mereka masing masing.
***
Pagi menjelang Aberlie sudah berada dicafenya, ia dan karyawannya tengah menikmati singkong goreng yang Aberlie bawa dari rumahnya.
Tiba tiba Aberlie sadar jika pagi ini ia tak melihat seseorang, Aberlie mencoba mengingat ingat siapa kira kira dari karyawannya yang kurang.
"Ah Veronica iya dimana Veronica? apa dia tak masuk aku belum lihat Veronica dari aku sampai," ucap Aberlie dan karyawan yang lainpun baru sadar jika Veronica tak ada saking pada asiknya makan singkong goreng.
"Biar aku telfon mba,"ucap Rean langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celana.
Rean menelfon Veronica namun tak kunjung diangkat, ia mencobanya lagi dan kali ini diangakat.
"Hallo Ve, kamu tak masuk kerja?" tanya Rean sesaat setelah panggilannya terhubung
"Iya kak maaf yah aku tak mengabari, ibuku kak, ibuku meninggal huhuhu," tangis Veronica pecah dari balik telfon.
"Dimana sekarang ibumu berada, apa sudah dibawa kerumah atau langsung dibawa dari rumah sakit?" tanya Rean sedikit cemas.
"Masih dirumah sakit kak rencana mau langsung dimakamkan setelah selesai dimandikan dirumah sakit," jawab Veronica terisak.
"Ya sudah kami akan kesana yah Ve, kamu yang tenang, bye." Rean menutup sambungan telfonnya dan menjelaskan semuanya pada Aberlie dan mereka akhirnya setuju untuk pergi kerumah sakit untuk menemani Veronica.
Sesampainya dirumah sakit mereka menghampiri Veronica, Aberlie melihat dokter Agam berada disampingnya, ia melihatnya bingung.
Aberlie memeluk Veronica dan menenangkannya disusul oleh para karyawan lainnya
"Sabar yah Ve, kami semua ada buat kamu, kamu gak sendiri," ucap Aberlie memeluk Veronica.
"Makasih yah mba." Veronica terisak dipelukan Aberlie.
"Dokter Agam ada disini?" tanya Aberlie heran.
"Iya kebetulan saya dan...."
"Dokter Agam pernah membantu saya meminjamkan uangnya untuk membayar tagihan rumah sakit ibu mba," ucap Veronica sebelum dokter Agam menjawab.
"Oh begitu." Aberlie menganggukan kepalanya.
*****
Selamat membaca kakak semua, aku update 3bab nih jangan lupa likenya yah🥺
salam hangat dariku untuk kalian semua🙏😊🤗🥰