CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 140



"Tidak bisakah kamu berbasa-basi dahulu?" tanya Hans.


"Tidak." jawabnya.


"Kapan?" tanya Hans.


"Secepatnya, kalau bisa dalam bulan ini."


"Kenapa terburu-buru? Apa aku akan segera mempunyai cicit?" pertanyaan Hans sama seperti oma Tyas. Wajah Yuna merona.


"Aku bukan pria seperti itu." bantah Al.


"Lalu?"


"Aku tidak ingin ada orang lain yang berusaha merebutnya dariku." Al menatap tajam pada lelaki paruh baya di depannya.


"Lalu, kapan tanggal pastinya?" tanyanya lagi.


"Kami sedang menunggu kabar dari oma Tyas, besok oma akan mengabariku." jawab Al, Hans mengangguk. "Aku hanya ingin memberitahu kakek." Al mengajak Yuna berdiri.


"Al ...!" Yuna menghentikannya. Ayuna kembali duduk, begitupun dengan Al. "Aku harap kakek bisa merestui kami." ucap Yuna.


"Aku sudah merestui kalian." jawabannya membuat mereka saling pandang.


"Benarkah? Kapan?" terukir sedikit senyuman di wajahnya.


"Kau masih muda tapi sudah pikun. Terakhir kali kita bertemu." ujar Hans.


"Aku lupa!" Alvaro tertawa. Hans sangat senang, ini pertama kalinya dia melihat Al tertawa di depannya.


"Terima kasih, Kakek!" ucap Yuna tulus, Hans mengangguk padanya.


"Aku senang hubungan kalian baik-baik saja. Aku harap kamu mampu melunakkan hati cucuku yang sekeras batu." ledek Hans.


"Kakek tenang saja, aku sudah banyak berubah. Batu dihatiku sudah mulai terkikis oleh cintanya." mereka tertawa bersama.


Mahen sangat murka, dia tidak menyangka kalau hubungan Al dan Yuna malah sudah ke tahap yang lebih serius. Dia meninggalkan ruang kerja Hans dan berjalan menuju kamarnya. Mahen berpikir dengam Yuna mengetahui masalalu mereka, maka hubungan itu akan berakhir. Tapi, yang dia dengar sungguh mengejutkan. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Papa dimana?" ucapnya.


"Papa sedang diluar." jawab Candra. "Ada apa?"


"Ayo, kita lakukan! Aku akan menjatuhkannya dan merebut Ayuna dan juga Ivander Group darinya." Candra tersenyum mendengar keputusan putranya.


"Bagus! Keputusanmu sudah benar." ucapnya, Mahen lalu memutus panggilannya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian menikah. Bagaimanapun juga Ayuna harus menjadi milikku." dia mengenggam erat ponselnya.


"Makan malamlah disini." pinta Hans saat mereka berpamitan.


"Tidak perlu." tolak Al.


"Katakan padanya untuk makan malam bersamaku." Hans meminta bantuan Yuna. Ayuna menatap Al dan dengan terpaksa Alvaro menyetujuinya.


"Dimana papa?" tanya Soraya pada pelayan yang ada didekatnya.


"Tuan sedang di ruang kerjanya, Nyonya." jawabnya.


"Tolong kamu kesana dan katakan kalau makan malam sudah siap." perintahnya.


"Tidak perlu!" suara Hans mengagetkan mereka.


"Papa ..., Al!" Soraya terkejut melihat Al dan Yuna berjalan beriringan dengan Hans. Begitupun dengan Monika, tampak jelas keterkejutan diwajahnya.


"Selamat malam, Tante!" sapa Yuna, Al tidak mengatakan apapun. Alvaro menarik kursi untuk Yuna, setelah itu untuk dirinya.


"Sejak kapan kalian disini?" tanya Soraya, Monika hanya diam.


"Ayo, kita mulia makan!" ucap Hans.


"Sebentar Pa, Mahen belum turun." Sela Soraya. Ayuna terkejut tapi tidak dengan Al.


"Dimana dia?" tanya Hans.


"Itu dia datang!" terlihat Mahen berjalan menuju meja makan.


"Maaf, aku telat!" ucapnya. "Kamu disini?" tanyanya pada Yuna.


"Iya." jawab Yuna


"Ayo, makan!" ucap Hans. Mereka mulai makan bersama, tidak ada satupun yang memulai percakapan, semua terlihat canggung dam merasa tidak nyaman dengan yang terjadi saat ini.


"Dimana suamimu?" tanya Hans pada Soraya.


"Mas Candra sedang ada urusan." jawabnya.


"Kebetulan kalian berkumpul disini, aku ingin memberitahu bahwa mereka akan segera menikah." Monika dan Soraya sangat terkejut mendengarnya. Soraya melirik pada putranya yang terlihat santai.


"Kapan? Kenapa kamu tidak memberitahu mama sebelumnya?" Monika ikut bersuara.


"Untuk apa?" Al menatap tajam padanya, sorot matanya memperlihatkan kalau dia sangat tidak kalau Monika ikut campur.


"Al, bagaimanapun aku ini tetaplah mamamu." ucapnya.


"Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya terluka." jawab Al.


"Al ...!" Yuna menghentikannya, Mahen melihat itu dari sudut matanya.


"Jadi, apa masih ada yang ingin kaliam tanyakan?" ucap Al.


"Kapan?" tanya Soraya.


"Tante akan segera tahu." jawabnya.


"Lalu, apa yang bisa tante lakukan untuk kalian?" Soraya menawarkan diri untuk membantu mereka.


"Tidak perlu. Semua sudah ditangani oleh pihak WO. Tante cukup bantu doa saja, agar tidak ada yang berusaha mengagalkan pernikahan kami." sindirnya.


"Al ...!" Yuna kembali menghentikannya. Terdengar denting sendok dan piring dari kursi Mahen. Semua menoleh padanya.


"Jika sudah tidak ada yang ingin kakek sampaikan lagi, aku duluan." Mahen berdiri dam berjalan menuju pintu keluar. Semua kembali melanjutkan makan dalam keheningan.


"Bajingan lo, Al!!"Mahen memukul-mukul kemudinya. "Aku pasti akan membalasmu!!" Mahen sangat marah. Hatinya begitu panas, kecemburuan hampir membuatnya kehilangan akal.


🍀🍀🍀


"Sering-seringlah ke sini." ucap Hans, Ayuna mengangguk. "Hey, Bocah nakal! Kau dengar aku tidak??" teriaknya pada Al.


"Hey, Kakek tua, ingat umur! Simpan tenagamu untuk hari pernikahanku kelak." balas Al. "Ayo!" ajaknya pada Yuna.


"Kami pulang dulu, Kek, Tan!" Yuna berpamitan pada mereka. Hans dan Soraya mengizinkan mereka kembali ke apartemen.


"Kalian hati-hati!"Soraya mendoakan mereka.


"Terima kasih!!" ucap Yuna. Mereka masuk ke mobil Al. Dan, Alvaro kembali menembus macetnya ibukota.


"Al, apa menurutmu Mahen akan baik-baik saja?" tanya Yuna.


"Tentu saja." jawab Al.


"Tapi, harusnya kamu tidak sekasar itu padanya." ucap Yuna.


"Aku bahkan tidak mengatakan apapun padanya." bantah Al.


"Kamu ini ...!" Yuna mencubit lengannya.


"Aaww!! Sakit, Yang!!" Al meringis.


"Makanya fokus nyetirnya, jangan becanda mulu." ucap Yuna.


"Siapa yang becanda? Kamu aja yang KDRT." godanya.


"Kamu tu ya ..." sebelum tangan Yuna kembali mendarat di lengannya, Al lebih dahulu mengenggamnya.


"Lebih baik seperti ini." Al mencium punggung tangan Yuna. Ayuna tersipu malu, sudut bibir Al tertarik ke atas.


🍀🍀🍀


"Sudah?" tanya Al saat melihat Yuna berhenti di depannya. Ayuna memgangguk. "Ayo!" ajak Al. Mereka berjalan bersama menuju lift. Pagi ini, Al ada meeting dengan perusahaan baru dari Singapura.


"Apa oma sudah memghubungimu?" tanya Al saat mereka dalam perjalanan menuju kantor.


"Belum." jawabnya. Tak lama terdengar dering ponsel dari tas Yuna. Ayuna mengambil ponselnya dan memeriksa siapa yang menghubunginya. "Oma." ucap Yuna. "Assalamu'alaikum, Oma." jawab Yuna.


"Wa'alaikumusalam. Apa saat ini kamu bersama Al?" tanya Oma, Yuna melirik pada Al yang sedang menyetir.


"Iya, Oma." jawabnya, Ayuna mengaktifkan loudspeaker ponselnya.


"Oma sudah dapat tanggal baiknya. Kalian bisa menikah di tanggal 20 bulan ini. Apa kalian bisa?" tanya Oma.


"Bisa, Oma." Al yang menjawab. "Itu masih sekitar tiga minggu lagi. Masih cukup waktu untuk mempersiapkan segalanya." jelas Al.


"Ya sudah, oma hanya ingin memberitahu itu saja."


"Oma, kapan kesini?" tanya Yuna.


"Apa kalian membutuhkan bantuan oma?"


"Oma tidak perlu repot, segala sesuatu sudah di-handle oleh pihak WO." jawab Al.


"Kalau begitu oma kesana seminggu sebelum acara saja." jawabnya.


"Ok, Oma. Kami tunggu!" balas Al.


"Ya sudah, kalian baik-baik disana. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumusalam." jawab Yuna.


"Nanti minta Jo untuk mengabari pihak WO." Ayuna mengangguk. Kembali terdengar dering ponsel, tapi kali ini ponsel milik Al.


"Ada apa, Jo?" tanya Al.


"Tuan, anda dimana?" dari nada suaranya Al bisa mendengar ada sesuatu yang salah.


"Saya sedang dalam perjalanan menuju kantor. Ada apa?" tanya lagi.


"Tuan, apa anda sudah melihat artikel tentang anda?" tanya Jo.


"Artikel apa?" tanya Al.


"Berita tentang penyakit yang anda derita. Saat ini, banyak media yang menunggu anda di depan, dan juga akan ada rapat dengan para pemegang saham." Jo menjelaskan mengenai kondisi yang terjadi saat ini.


Alvaro menghentikan mobilnya dan membuka browser pada ponselnya. Dan benar saja, seperti kata Jo berita tentangnya sedang menjadi tranding nomor satu.


"Ada apa?" Ayuna mengambil ponsel yanh ada ditangan Al. Dia sama terkejutnya dengan Al. "Dari mana mereka tahu?" tanya Yuna, karena selama ini hal itu memang dirahasiakan dari siapapun.


"Sepertinya ada yang berniat untuk menjatuhkanku." ucapnya. Alvaro kembali menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas menuju Ivander Group.


"Akan banyak media di depan, jadi lebih baik kita lewat belakang saja. Jhosua sudah menunggu disana." Al membelokkan mobilnya menuju belakang perusahaan. Jhosua sudah disana menunggu mereka. Mereka bertukar mobil, Al dan Yuna masuk melalui pintu darurat, sementara Jo menuju pintu utama.


"Itu dia, tuan Alvaro!!" teriak media yang sedang berkumpul di depan pintu masuk. Jhosua memarkir mobil Al di tempat biasa. Para pencari berita mengejarnya dan betapa terkejutnya mereka karena yang keluar hanya Jo saja. "Dimana, tuan Al??" teriak mereka, tapi Jo terus saja berjalan masuk ke lobby.


"Jangan biarkan mereka masuk." perintahnya pada Security dan bodyguard yang berjaga.


"Baik, Tuan." jawab mereka.


"Kita harus ke ruangan meeting." ucap Al sesampainya mereka di lantai 20.


"Kenapa?" tanya Yuna.


"Ada rapat darurat dengan para pemegang saham." jelasnya. "Kamu bisa ikit denganku?" tanya Al, Yuna mengangguk.


"Al, apa semua akan baik-baik saja?" tanya Yuna saat mereka berada di depan ruang meeting.


"Kamu tenang saja, semua pasti baik-baik saja." jawab Al.


"Bagaimana jika saat didalam nanti penyakitmu kambuh?" Al bisa melihat kecemasan Yuna. Alvaro memegang erat tangannya.


"Selama kamu menggengam tanganku, aku yakin tidak akan terjadi apapun." Al meyakinkan Yuna. "Apa kamu siap?" tanya Al.


"Iya." Yuna menarik napas dalam. Setelah itu Jhosua membukakan pintu untuk mereka. Terdengar keriuhan saat mereka masuk. Ayuna bisa melihat seluruh meja terisi penuh. Ada Hans, Candra dan juga Mahen disana.


~tbc