
"Selamat malam, Tuan." sapa Dea begitu Al tiba di rumah. Dia tidak mengatakan apapun, Al menoleh ke kamar tamu yang di tempati Yuna. Setelah itu, dia bergegas menuju kamarnya. "Kenapa dengan tuan Al? Oh iya, aku lupa bilang kalau nyonya belum pulang." Dea bergegas menuju kamar Al.
"TOK TOK TOK." Dea mengetuk pintu kamar Al.
"Ada apa?" Alvaro keluar setelah Dea menunggu selama 5 menit.
"Maaf,Tuan, tapi hingga saat ini Nyonya belum pulang." lapornya. Dahi Al mengerinyit.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Nyonya belum pulang, Tuan. Pagi tadi saya dapat kamar dari Tuan Jo kalau Nyonya sudah tiba di Jakarta." Dea menunduk saat melihat mata Al membesar. Alvaro bergegas turun dan menuju kamar tamu yang Ayuna tempati. Dia membuka pintu melihat ke sekeliling ruangan, kemudian memeriksa kamar mandi.
"Kemana dia?" bukannya menghubungi Yuna, Al memilih untuk menghubungi Jhosua.
"Hallo, Tuan!" jawab Jo.
"Kamu dimana?" tanyanya.
"Saya di apartemen." jawabnya.
"Dimana Ayuna?" tanyanya.
"Saya tidak tahu, Tuan." Jhosua berkata jujur.
"Apa maksudmu?" Alvaro mulai panik.
"Setelah bertemu anda, nona meminta saya untuk membiarkannya sendiri." jelasnya.
"Dasar bodoh! Bagaimana kau bisa membiarkan dia pergi sendiri. Harusnya kau tetap mengikutinya." bentak Al, Jhosua tidak mengatakan apapun. "Cari dia sampai ketemu." Al segera memutus panggilan teleponnya. Dia mencoba menghubungi nomor Yuna. Ayuna yang sudah tertidur tidak mendengar dering ponselnya sama sekali.
"Kemana dia?" Alvaro terlihat khawatir. "Apa dia pergi menemui bule brengsek itu?" Al mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kamar. Para asisten ruamh tangga hanya bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa tuan muda?" tanya salah satu dari mereka pada Dea.
"Entahlah!" jawabnya. Dea juga tidak tahu apa yang terjadi. Yang jelas saat ini dia mengkhawatirkan Yuna.
Sebelum pergi, Al sudah menghubungi Jhosua terlebih dahulu. Dengan perasaan marah, dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh 20 menit untuk dia sampai di apartemen yang baru Bumi tempati. Sesampainya di depan unit apartemen Bumi, Al menekan bel dengan tergesa-gesa.
"Siapa yang datang malam-malam begini." gerutu Bumi. Dengan kesal, dia membuka pintu. "Kau? Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Dimana dia?" tanpa meminta izin Al masuk begitu saja ke dalam apartemen itu.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Bumi.
"Ayuna!!! Dimana kau menyembunyikan istriku?" teriaknya. Alvaro kemudian memeriksa seluruh ruangam yang ada disana. Tapi, dia tidak menemukan Yuna sama sekali.
"Jadi, kau mencari Yuna disini?" tanya Bumi.
"Dimana kau menyembunyikannya?" Alvaro menatap tajam pada Bumi.
"Untuk apa aku menyembunyikannya? Kau apakan Yuna, sehingga dia pergi darimu?" tanyanya.
"Semua ini karenamu! Kau yang menyebabkan dia pergi dariku." Al bersiap untuk melayangkan tinjunya pada Bumi, tapi Kai dan Jhosua masuk dan menahannya.
"Tuan, hentikan!" ucap Jo. Kai berdiriadi depan Bumi untuk melindunginya.
"Lepaskan aku! Aku harus menghajar pria brengsek ini." Alvaro berusaha melepaskan tangannya dari Jhosua.
"Kenapa kau berpikir Ayuna disini?" Alvaro terdiam. "Apa menurutmu Ayuna serendah itu, hingga datang menemuiku?" Bumi berhasil membungkam Al. "Suami macam apa kau, yang berpikiran rendah pada istrimu? Aku memang menyukai Ayuna, tapi aku sadar tidak ada celah untukku di hatinya. Aku bingung, kenapa Ayuna bisa mencintai pria bodoh sepertimu." Alvaro tidak berkutik, dia menelaah kembali semua perkataan Bumi.
"Ayo!" Al mengajak Jhosua pergi darisana.
"Kau harus segera menemukannya, atau kau akan menyesal seumur hidupmu." ucap Bumi, sebelum Al keluar dari apartemennya.
"Dimana Ayuna, Bi?" tanya Cleo yang baru pulang dari rumah sakit.
"Sudah tidur, Non." jawab bi Ita.
"Apa dia sudah minum susu dan obat yang ku kirimkan tadi?" tanyanya.
"Sudah, Non." lapornya. Cleo mengangguk dan segera menuju kamarnya.
🍀🍀🍀
"Bagaimana?" tanya Al pada Jo.
"Saya masih belum bisa menemukan nona, Tuan." Alvaro semakin kesal.
"Dia bahkan tidak ada disini." ucapnya.
"Gimana nona bisa ada disini, dia saja tidak mempunyai hubungan apapun dengan tuan Bumi." batin Jo.
"Kamu kerahkan anak buahmu. Cari Ayuna sampai ketemu." Al terlihat putus asa. Ayuna bahkan tidak mau mengangkat teleponnya.
"Tuan, apa mungkin nona pulang ke Malang?" Alvaro terlihat berpikir. Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor oma Tyas. "Tapi Tuan, ini sudah larut. Kalau tuan menghubungi oma sekarang, yang ada beliau akan khawatir." Al menyimpan kembali ponselnya.
"Jelas-jelas dia yang mengusir nona Ayuna, kenapa malah melampiaskan kesalahan padaku. Dasar bos bucin!" Jhosua hanya bisa membatin.
"Bagaimana dengan Gina?" tanyanya.
"Saya sudah mengkonfirmasi, tapi dia bahkan tidak tahu nona menghilang."
"Agghhh!!!" Al memukul kap mobilnya.
🍀🍀🍀
"Gimana keadaanmu?" tanya Cleo saat melihat Yuna menghampirinya di ruang makan.
"Baik." Yuna ikut bergabung dengannya.
"Kamu nggak kerja?" tanya Yuna lagi.
"Hari ini aku libur." jawabnya. "Gimana kalau kita jalan?" ajak Cleo.
"H-hm, aku ingin beristirahat di rumah saja. Soalnya, kemarin aku baru saja dari Lombok." jawab Yuna.
"Lombok?" tanya Cleo. Ayuna mengangguk.
"Kenapa?" tanya Yuna.
"Kakak sepupuku kemarin juga baru kembali dari sana." Ayuna hanya manggut-manggut.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Jo, saat mereka baru saja meninggalkan kediaman Ivander.
"Apartemen Cassanova." ucapnya. Jhosua segera mengarah mobilnya menuju apartemen yang ditempati oleh Andreas.
Sesampainya disana, Al segera menekan bel. Tapi, dokter bule itu belum juga terlihat membukakan pintu.
"Kenapa kau tidak bisa bersabar?" Andreas sudah tahu bahwa Al yang datang. Sebelum kesini, Al sudah terlebih dahulu menghubunginya.
"Kenapa kau lama sekali?" Al dan Jo masuk, sebelum Andreas mengizinkannya.
"Kau mau apa?" Andreas bingung, melihat Al yang memeriksa seluruh kamar yang ada disana.
"Milik siapa ini?" Al mengangkat piyama wanita yang terletak di atas tempat tidur, disalah satu kamarnya. Terlihat juga perlengkapan wanita lainnya yang berjejer di meja rias.
"Bukan urusanmu!" Andreas mendorongnya keluar.
"Dimana dia?" tanya Al.
"Siapa?" Andreas balik bertanya.
"Jangan berpura-pura. Aku tahu kau menyembunyikannya disini." Alvaro terlihat marah. Andreas yang bingung menoleh pada Jo yang berdiri di sebelah Al.
"Aku tidak tahu siapa yang kau cari." jawabnya.
"Ayuna, istriku! Dimana dia?" Andreas kembali tercengang.
"Ayuna? Kenapa juga dia ada disini?" Andreas benar-benar bingung. Dia tidak tahu kenapa Al mencari Yuna di apartemennya.
"Kau jangan bohong!" Al mencengkram baju Andreas. "Jika dia tidak disini, lalu milik siapa barang-barang itu?" Al bisa membedakan barang-barang yang ada di kamar tadi bukanlah milik asisten rumah tangga. "Cepat katakan, dimana Ayuna?" Alvaro terlihat murka.
"Apa yang kau katakan? Ayuna tidak ada disini." Andreas menepis tangan Al dari bajunya. "Itu milik istriku!" dari pada Al terus menuduhnya menyembunyikan Ayuna, lebih baim dia berkata jujur.
"Istri?" Al dan Jo juga tak kalah terkejut. Mereka bahkan tidak tahu bahwa sahabat mereka sudah menikah.
"Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau mencari Ayuna?" tanyanya.
"Karena emosi, aku memarahinya dan memintanya menjauh." jawab Al pelan.
"Oh, astaga, Al! Kau dan amarahmu itu!" Andreas terlihat geram. "Jadi, kau mengusirnya?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya mengatakan tidak ingin melihatnya." jawab Al.
"Itu sama saja! Tentu saja dia pergi meninggalkanmu. Kenapa kau begitu tega pada istri dan calon bayimu?"
"Aku tidak ...., Apa yang kau katakan?" Al baru tersadar dengan ucapan Andreas.
"Memangnya kau tidak tahu kalau Ayuna sedang hamil?" Al terkejut, kemudian dia menggeleng.
"Apa saja yang selama ini kau lakukan? Bahkan kau tidak tahu kalau istrimu sedang hamil? Apa kau sama sekali tidak memperhatikannya?" Alvaro menoleh pada Jhosua.
"Apa kau tahu?" tanyanya, Jhosua menggeleng.
"BRUK!" Al mendaratkan tinjunya di perut Jo. "Bagaimana kau menjaga istriku?" teriaknya.
~tbc