
Harun dan Fatma pergi meninggalkan dokter Agam menuju rumah Wijaya, sesampainya dirumah Wijaya, Richard merasa senang atas kedatangan Fatma dan Harun kerumahnya, ia tak tahu maksud dan tujuan mereka datang kerumahnya.
"Begini tuan Wijaya, saya mau memberitahu kabar duka, Aberlie mengalami kecelakaan, ia saat ini tengah dirawat dirumah sakit x telah manjalani operasi dan saat ini masih tak sadarkan diri" ucap Fatma membuka obrolan diantara mereka setelah Ina menyuguhkan minum.
"Apa yang terjadi pada Aberlie nyonya besar?" tanya Richard terkejut.
"Dia ditabrak mobil pada saat berjalan didekat cafenya" ucap Fatma.
"Siapa yang menabraknya? apa sudah tertangkap" tanya Richard.
"Yang menabrak sudah ditangkap namun bukan oleh polisi melainkan oleh Bram, tuan Richard pasti tahu jika Bram yang menangkapnya apa yang akan terjadi pada orang tersebut kan" ucap Fatma.
"Saya tahu nyonya besar, saya sudah mendengar tentang kekejaman tuan muda jika ada yang melakukan kesalahan yang sangat fatal padanya dan tak bisa mentolerirnya lagi tuan muda tak segan segan untuk memberinya pelajaran bahkan menghancurkannya" ucap Richard.
"Namun saya mau bertanya pada tuan Richard, jika yang menabrak Aberlie adalah Aliva dan saat ini Aliva tengah berada dalam genggaman Bram bagaimana menurut tuan Wijaya?" tanya Fatma dengan tenang.
"Aliva memang merasa iri terhadap kakaknya nyonya besar karena ia mencintai tuan muda namun saya yakin Aliva tak mungkin berbuat sampai sejauh itu pada kakaknya nyonya besar" ucap Richard tak mempercayai umpamaan Fatma.
"Aberlie tengah mengandung dua minggu saat kecelakaan tersebut terjadi, dan karena kecelakaan tersebut Aberlie dan Bram harus kehilangan buah cinta pertama mereka membuat Bram sangat murka, dan sayangnya yang melakukan perbuatan keji tersebut adalah putri tuan Richard yang sangat tuan Richard sayangi Aliva, saat ini Aliva tengah berada ditangan Bram, saya kesini hanya ingin menyampaikan pesan yang Bram titipkan pada saya untuk tuan Richard, Bram menitipkan permohonan maafnya untuk tuan Richard karena ia akan membuat putri kesayangan tuan Richard cacat seumur hidup" jelas Fatma dengan tenang.
Bagai tersambar patir saat Richard mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Fatma.
"Tak mungkin, Aliva tak mungkin melakukan itu pada kakaknya, ia sangat menyayangi kakaknya, selama ini mereka berdua sangat akur" ucap Richard menggelengkan kepalanya.
Saat Richard sedang dilanda panik dan sedih serta tegang menjadi satu tiba tiba Riska datang dengan membawa beberapa paper bag ditangannya, ia baru kembali dari acara shopingnya.
"Ada apa pah, tumben ada nyonya dan tuan besar dirumah" ucap Riska yang baru saja masuk.
Richard menarik Riska untuk duduk bersamanya dan menjelaskan apa yang telah Fatma sampaikan padanya dari A sampai Z, dan Riska pun terkejut mendengar penjelasan dari Richard.
"Tak mungkin, putriku tak mungkin tega berbuat kejam seperti itu, saya akui Aliva memang terobsesi dengan tuan muda namun belakangan ini dia semakin dekat dengan tuan muda kedua" ucap Riska histeris.
"Sayangnya itu benar nyonya Wijaya" ucap Fatma.
"Tolong lepaskan putriku nyonya besar, jangan sakiti dia, dia masih sangat muda, aku mohon pada kalian" ucap Riska berlutut dikaki Fatma memohon.
"Bram tak akan membunuhnya nyonya Wijaya tenang saja, Bram hanya akan membuat Aliva cacat permanen selamanya saja, nanti jika Aliva sudah mendapat hukumannya anak buah Bram pasti akan mengantarkannya pada kalian, namun kalian harus ingat, jika Aliva berani berbuat seperti itu lagi pada Aberlie, Bram tak akan segan segan untuk mengakhirinya" ucap Fatma dengan penuh penekanan tanpa melihat kearah Riska sedikitpun yang sedang berlutut dikakinya.
"Jika tuan muda membuat Aliva cacat terus kelak dengan siapa Aliva akan menikah, pasti tak ada yang mau dengan wanita yang cacat" ucap Riska.
"Nyonya dan tuan Wijaya tak perlu khawatir, setelah Haris dan Risa menikah, saya akan menikahkan putri kalian dengan Aron, bukankah nyonya Wijaya sangat ingin putri anda masuk kekeluarga Hanoraga, saya akan mengabulkannya, setelah menikahpun saya akan menghadiahi rumah untuk mereka berdua sebagai belas kasihan saya walaupun rumah tersebut tak sebesar rumah utama Hanoraga atau mansion Bram" ucap Fatma.
"Tapi nyonya besar......"
"Baiklah jika seperti itu, saya permisi dulu" ucap Fatma, kemudian Fatma dan Harun pun pergi.
Didalam mobil menuju rumah sakit Harun menelfon Erwin untuk mengantarkan obat pada Bram untuk Aliva.
"Ini lebih baik mah dari pada Bram mengakhirinya" ucap Harun memegang tangan Fatma dengan tangan satunya.
"Mamah selalu setuju dengan apa yang papah lakukan" ucap Fatma tersenyum pada Harun.
***
Dimarkas Erwin baru saja sampai, ia langsung menuju ketempat dimana mereka berkumpul, Erwin melihat Sumi istrinya tengah berteriak pada Aliva.
"Tuan muda, tuan besar menyuruhku untuk memberikan anda ini, tuan besar menitipkan pesan agar jangan terlalu emosi padanya, cukup menyuruh Sumi memberikan ini saja padanya agar ia tak bisa mempunyai keturunan itu akan membuatnya tersiksa" ucap Erwin menyerahkan botol kecil yang kemungkinan wadah obat pada Bram.
"Baiklah, ku serahkan disini padamu, kau atur saja, aku akan kembali kerumah sakit, aku bisa hilang kendali jika melihat wajahnya, lebih baik aku menunggu Aberlie dirumah sakit" ucap Bram menepuk pundak Erwin dan berlalu pergi diikuti oleh Haris dibelakangnya.
Erwin melihat kearah wajah Aliva yang lebam, mungkin ia kena tampar oleh Sumi karena membuatnya marah, Erwin memberikan botol kecil tersebut pada Sumi dan Sumi pun menjalankan tugasnya.
Setelah mereka selesai dengan tugas mereka pada Aliva, Erwin menyuruh anak buahnya mengantarkan Aliva yang tengah tak sadarkan diri karena efek obatnya.
***
Dirumah sakit Bram menghampiri Harun dan Fatma yang juga baru saja sampai, terlihat diruang tunggu tersebut dokter Agam masih menunggu kedatangan mereka.
"Bagaimana kondisi Aberlie Gam?" tanya Bram saat sudah berada diruang tunggu.
"Operasinya berjalan lancar Bram, ini baru akan dipindahkan keruang rawat, mungkin satu atau dua jam lagi ia akan siuman atau mungkin besok pagi" ucap dokter Agam memberi tahu Bram.
Tak lama ruangan operasi terbuka dan beberapa perawat mendorong brangkar Aberlie untuk dipindahkan keruang rawat.
Bram dan yang lain mengikuti dibelakangnya, sampainya diruang rawat Bram duduk dikursi yang tersedia disamping brangkar Aberlie, ia menggenggam tangan sang istri yang masih betah memejamkan matanya, tak terasa air mata Bram jatuh melewati pipinya.
"By, cepat bangun yah by, aku rindu sama kamu by, apa kamu nggak rindu sama aku by, kamu nggak akan ninggalin aku kan by" ucap Bram.
Harun, Fatma, Haris dan dokter Agam yang berada diruangan tersebutpun ikut sedih melihat mereka, Fatma menangis dipelukan Harun, ia tak kuasa melihat kedua cucunya seperti itu.
*****
Selamat membaca semuanya, maaf part pembalasan Aliva tak seekstrim partnya Aron yah kak, soalnya gak lulus review dengan alasan kekerasan jadi kurevisi ulang🙏😊
Salam hangat dariku untuk kalian semua🤗😊🤗🥰