
Pagi menjelang siang di Stay With Me Cafe Arumi sudah berada didepan meja barista, ia tengah asik memperhatikan sang babang gantengnya, pagi ini ia akan memulai aksi pengejarannya.
"Kamu tak ada kerjaan yah pagi pagi sudah bertengger disini?" tanya Kevin dengan sedikit ketus.
"Ada ko," jawab Arumi masih asik memperhatikan sang babang gantengnya dengan posisi dagu yang bertumpu pada kedua tangannya.
"Lalu kenapa kamu pagi pagi sudah disini?" tanya Kevin kembali yang sedang sibuk membersihkan tempat tersebut.
"Karena kerjaanku pagi ini yang cuci mata, melihat kegantengan kamu yang cool dan cuek itu membuat mataku yang semalaman tak bisa tidur ini menjadi fresh kembali," jawab Arumi seperti seorang puitis.
Yah Arumi semalaman tak bisa tidur karena memikirkan babang gantengnya itu, ia sibuk berguling kesana kemari diatas tempat tidurnya sambil tersenyum dan terkadang kesal sendiri.
"Kamu tahu tidak, kamu tuh menghalangi orang lagi kerja tahu, lebih baik kamu pulang saja sekarang dari pada disini menghalangi orang," ucap Kevin masih dengan nada ketusnya.
"Babang ganteng, emang kamu gak tertarik sedikitpun sama aku yah, kamu normal kan bang, kamu gak belok kan bang?" tanya Arumi dengan ekspresi yang dibuat terkejut.
"Terserah kamu saja mau berfikir apa tentangku, sekarang yang aku mau kamu pergi dari sini jika tak ada kepentingan jangan menghalangi orang." Kevin mengusir Arumi dengan cara langsung tanpa basa basi.
"Bro pagi pagi ditemenin sama cewe cantik marah marah ajah kamu bro," ucap Rean yang merangku sahabatnya tersebut.
"Hai kak, pagi!" ucap Arumi menyapa Rean.
"Pagi cantik, berjuang semoga sukses yah, jangan patah semangat," jawab Rean seraya mengepalkan kedua tangannya memberi semangat pada Arumi.
"Siap kak, tenang ajah pantang mundur walau badai menghadang," jawab Arumi dengan semangat.
"Kita sebagai kaum hawa jangan mau kalah, kejar terus Rum taklukin hatinya lama lama juga luluh," sambung Ashana dari belakang.
"Waaaaah senengnya aku banyak yang dukung jadi makin semangat ngejar babang ganteng," ucap Arumi.
Tak lama Aberlie datang dan disusul dengan para karyawan lainnya, Arumi menghampiri Aberlie yang baru saja duduk dikursi depan meja kasirnya.
"Kak kak aku mau kerja paruh waktu diaini boleh yah kak," ucap Arumi memohon.
"Kamu mau kerja jadi apa Rum, disini gajihnya gak gede loh, sama uang jajan sebulan kamu ajah masih gede uang jajan kamu," jawab Aberlie yang bingung dengan permintaan Arumi yang notabennya adalah anak orang yang terbilang sukses walaupun tak sesukses Bram.
"Pelayan juga boleh kak, atau nanti aku mau minta diajarin jadi barista, yah kak please ku mohon, nanti setiap pulang kuliah atau kalau jadwal kuliah ku siang paginya aku kesini," mohon Arumi pada Aberlie.
"Terima ajah mba, dia lagi ngejar siKevin tuh mba," ucap Rean menimpali.
"Gajihnya gak gede loh Rum," ucap Aberlie meyakinkan.
"Kak aku gak butuh gajih asal kakak terima aku ajah udah seneng banget," jawab Arumi masih memohon.
"Apa boleh buat lah, asal kamu jangan ngeluh cape ajah yah," jawab Aberlie pasrah.
"Yeeeeay makasih yah kak, siang agak sorean aku kesini lagi sepulang kuliah kak, sekarang aku berangkat kekampus dulu satu jam lagi ada kelas." Arumi pergi setelah memeluk Aberlie.
"Anak itu sebelas dua belas sama Risa," ucap Aberlie menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arumi.
Siang hari saat waktu makan siang tiba Bram datang dengan membawa dua kotak makan siang dari kantin kantornya, Bram ingin makan berdua dengan Aberlie dicafenya sekalian ingin dibuatkan coffee latte oleh sang istri, ia rindu coffee latte buatan istrinya tersebut.
Didalam ruang kerja Aberlie, Bram dan Aberlie tengah menikmati makan siangnya bersama sambil sesekali mereka membicarakan sesuatu yang hanya mereka saja yang tahu, setelah selesai dengan makan siangnya Bram bersiap untuk kembali kekantornya.
"Aku balik kantor dulu yah by, sore kaya biasa aku jemput," ucap Bram mengecup bibir mungil sang istri, Aberlie hanya menganggukkan kepalanya.
"Bye by, love you." Bram mengecup kembali ujung kepala Aberlie beberapa saat.
"Love you to my lion, hati hati dijalan yah," balas Aberlie tersenyum, ia melambaikan tangannya saat mobil meninggalkan cafenya, Aberlie masuk kedalam cafe setwlah mobil sudah tak lagi terlihat.
"Ciiiiieeeeee," goda Ashana setelah Aberlie masuk kedalam cafenya.
"Kamu juga ciiieeee yang suka dianter jemput Rean," balas Aberlie menggoda Ashana seketika membuat wajah Ashana memerah.
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka hingga sore menjelang, sore seperti biasa Aberlie sudah bersiap untuk pulang dan menunggu Bram dengan mengobrol sebentar dengan Ashana dan Veronica.
"Ve, belakangan ini mba perhatikan kamu sediki gemukan deh?" tanya Aberlie.
"Iya yah mba, sekarang Ve sedikit gemuk jadi terlihat lebih cantik Ve, beda pada saat kamu pertama kerja dulu," timpal Ashana Veronica hanya tersenyum kikuk.
"Mungkin karena sekarang saya lebih santai mba setelah ibu meninggal gak perlu bolak balik rumah sakit dan cafe jadi badan saya gemukan karena kan gak terlalu cape," jawab Ashana kikuk.
"Mungkin juga sih yah Ve, kalau dulu pertama kerja kan kamu cape harus bolak balik rumah sakit, cafe sama rumah mu, sekarang mah kan pulang kerja langsung pulang kerumah istirahat," ucap Aberlie menganggukan kepala.
"Bener bener mba mungkin faktor cape jadi badan kamu kurus Ve, kalo sekarang kamu santai jadi gemukan."Ashana ikut menganggukan kepala setuju dengan ucapan Aberlie.
Tak lama Bram datang menjemput Aberlie pulang. "Mba pulang duluan yah Ve, Shan singa sudah datang hehe." Aberlie bangun dari duduknya dan berbisik pada mereka berdua.
"Iya mba hati hati yah awas diterkam singa hehe," jawab Ashana ikut terkekeh.
"Hati hati yah mba," timpal Veronica.
Aberlie berjalan menuju pintu dan melambaikan tangannya pada kedua karyawan tersebut, jika mereka baru saja say hello bye dengan Aberlie lain ceritanya dengan Arumi yang terus menempel pada Kevin membuat Kevin sedikit risih.
"Babang ganteng, ajarin aku jadi barista dong," pinta Arumi pada Kevin.
"Kamu mending gabung sama Ashana dan Veronica saja tuh jadi pelayan jangan ganggu aku bisa tidak sih," jawab Kevin sedikit kesal karena dari tadi Arumi menempel mulu padanya.
"Gak mau, orang aku pinginnya sama kamu," ucap Arumi manja.
"Astaga kamu tuh tahu tidak sih kalau aku tak mau dideketin sama kamu," ucap Kevin mulai kesal.
"Aku bakal bilang kak Aberlie kalau kamu gak mau ngajarin aku." Arumi merajuk.
"Terserah kamu sajalah,"
Sampai malam menjelang untuk waktunya pulang Arumi masih setia menempel pada Kevin membuat yang lainnya selalu tertawa melihat tingkah Kevin yang kadang kesal pada Arumi namun Arumi selalu saja tak pernah jera walau sudah dibentak berkali kali oleh Kevin.
"Udah lah bro kamu terima ajah tuh si Arumi kan dia cantik suka lagi sama kamu, dari pada jomblo terus," ucap Rean dan Kevin hanya diam saja.
Sebenarnya Kevin pun ingin memiliki kekasih seperti sahabatnya, ia juga tak menampik jika jantungnya selalu berdetak kencang saat Arumi mendekatinya apalagi saat tangannya dipegang dan dipeluk oleh Arumi, namun Kevin sadar diri jika ia hanya seorang barista yang tak mungkin bisa memberikan apapun pada Arumi jika Arumi jadi kekasihnya.
*****
selamat membaca semuanya jangan lupa likenya yah, kita melipir dulu keceritanya anak cafe yah gaes sedikit cerita ajah buat bocoran novel kisah Kevin dan Arumi yang entah kapan akan othor garap🤭
Salam hangat dariku untuk kalian🙏😊🤗🥰