CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 144



"Al, kamu tidak apa-apa?" tanyanya setelah berlari secepat mungkin ke arah Al. Alvaro masih memegangi tangannya yang terasa nyeri.


"Aku tidak apa-apa." jawabnya. Yuna membantunya berdiri.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Security yang baru saja datang. Al hanya mengangguk.


"Lebih baik kita ke rumah sakit." ucap Yuna. Dirinya begitu khawatir.


"Tidak perlu." tolak Al.


"Tapi, Al kita harus memeriksakan kondisimu." Yuna memaksanya. Al mengambil ponsel yang ada di kantong jasnya dan menghubungi seseorang.


"Ke apartemenku dalam 15 menit." ucapnya, lalu segera mematikan panggilan itu tanpa mau mendengarkan penjelasan Andreas dulu.


"Jo, ke apartemenku dalam 15 menit." perintahnya dan sama seperti sebelumnya, Al memutus panggilannya begitu saja.


"Ayo, kita pulang!" ajaknya pada Yuna yang sejak tadi berdiri disisinya.


"Tapi, apa kamu bisa bawa mobil?" tanya Yuna.


"Bisa." mendengar itu, Yuna segera mengikutinya kembali ke mobil. Mereka masuk dan Al menghidupkan mesin mobilnya, lalu membawa lagi sedan hitam itu keluar dari area parkir. Alvaro tidak banyak bicara, dia fokus menyetir hingga mereka sampai di apartemen.


"Al ..." Yuna mendekat dan melihat ke arah tangan kiri Al.


"Aku tidak apa-apa." Alvaro tersenyum dan mengengam tangan Yuna, mengajaknya masuk ke lobby.


"Ada apa, Jo? Siapa yang sakit?" tanya Andreas saat melihat Jo berdiri di depan pintu apartemen Al.


"Apa tuan Al yang memanggilmu kesini?" Jhosua penasaran.


"Iya. Kenapa kamu hanya berdiri disini? Cepat tekan belnya, aku masih harus kembali ke rumah sakit." protes Andreas saat Jo masih tidak menekan bel.


"Itu, tuan Al!" Jo menunjuk Al dan Yuna yang berjalan menuju ke arah mereka.


"Ada apa, Al? Siapa yang sakit?" Andreas segera bertanya saat mereka tiba di hadapannya. Yuna membuka pintu apartemen, dan mereka bergantian masuk.


"Duduklah!" Yuna mempersilahkan mereka duduk, sementara Al mencoba membuka jasnya. Melihat Al sedikit kesusahan, Yuna mendekat dan membantunya. Jas itu terlepas dan Al membuka kancing kemejanya, betapa terkejutnya Yuna saat melihat memar tangan Al. Memar itu cukup luas, mungkin karena efek pukulan yang terlalu kuat.


"Al, ada apa ini?" Andreas yang melihat itu segera mendekat kepadanya, begitupun dengan Jhosua.


"Tadi ada yang memukulku dengan kayu." mereka kaget.


"Siapa?" tanya Andreas sambil memeriksa luka Al.


"Entahlah, aku juga belum tahu." jawabnya. "Jo, kamu pergi ke Aldante Resto. Minta mereka untuk memperlihatkan rekaman cctv di lokasi kejadian." perintahnya.


"Baik, Tuan." Jhosua yang mengerti segera melaksanakan perintah Al.


"Apa harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Yuna pada Andreas yang sedang mengobati luka Al.


"Aku rasa tidak perlu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Al hanya mengalamu luka memar." jelasnya.


"Oelskan saja salap ini pada lukanya, dan ini obat untuk meredakan nyeri akibat pukulan itu." Yuna mengambil obat yang dia berikan. "Jika bengkak, kamu bisa kompres." Ayuna mengangguk mengerti.


"Al, Apa masih ada yang terluka?" tanyanya.


"Disini." Al memegang pundaknya, Andreas kembali memeriksanya. Terdapat luka memar juga pada pundaknya.


"Kenapa mereka bisa melakukan hal ini padamu?" tanyanya.


"Aku tidak tahu." jawabnya.


"Apa kamu sudah lapor polisi?"


"Nanti saja, aku harus tahu lebih dulu, siapa yang ingin bermain-main denganku." Ayuna bisa melihat kemarahan di mata Al.


"Lebih baik kamu beristirahat." sarannya, Al mengangguk. "Kalau begitu aku permisi. Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Andreas segera keluar setelah mendapat izin dari sang tuan rumah. Al menatap Yuna yang sejak tadi berdiri di depannya.


"Kemarilah!" Al menepuk sofa yang ada disebelahnya. Ayuna mendekat dan duduk disebelah Al.


"Kamu pasti sangat terkejut." ucapnya.


"Tentu saja! Bagaimana aku tidak kaget melihat mereka memukulimu seperti itu." Yuna menunduk menahan air yang akan keluar dari matanya.


"Aku tidak apa-apa. Lihatlah!" Al mencoba mengerakkan tangan kirinya, tapi itu membuatnya meringis menahan sakit.


"Sudah hentikan! Gak perlu berpura-pura kuat." Ayuna memegang tangannya dan terus melihat memar yang ada dikulit putih itu. "Aku kompres ya!" Ayuna berdiri, tapi Al mencegahnya. "Ada apa?" tanyanya.


"Kamu disini saja." Al menariknya hingga Yuna kembali duduk disebelahnya.


"Tapi ..."


"Sstt, aku sangat letih, biarkan aku tidur sebentar saja." Alvaro merebahkan kepalanya di paha Yuna. Ayuna mengelus-elus kepalanya, membuat Al semakin terlelap.


"Apa ini perbuatannya?" Yuna kembali teringat dengam ancaman Mahen siang tadi. "Aku tidak akan memaafkannya, jika dia dalang dibalik semua ini." Ayuna kembali menatap tangan Al.


🍀🍀🍀


"Bagaimana?" Candra menghubungi Leo.


"Perintah anda sudah dilaksanakan, Tuan." lapor Leo.


"Bagus! Katakan pada mereka, jangan pernah mengatakan apapun." ucapnya.


"Baik, Tuan." Candra tersenyum puas. Niatnya untuk memberi pelajaran pada Al terkabul.


"Aku ingin melihat, apa dia masih bisa bertingkah di depanku." ucapnya pelan.


"Siapa?" suara Soraya mengagetkannya.


"Sejak kapan kamu disini?" tanyanya setelah melihat Soraya mendekat padanya.


"Baru saja. Siapa yang bertingkah di depanmu?" Soraya meletakkan teh yang ada ditangannya di meja yang ada di balkon kamarnya.


"Biasalah, saingan bisnisku yang ada di Jerman." bohongnya.


"Lalu, apa yang kamu lakukan padanya?" Soraya duduk di kursi yang lain.


"Kamu jangan terlalu keras pada mereka. Tidak baik mempunyai banyak musuh." Soraya mencoba menasehati suaminya.


"Jika aku tidak melakukan itu, maka perusahaanku yang akan dalam bahaya." jawabnya.


"Tapi, tetaplah hati-hati! Aku tidak ingin kamu terluka." Candra tersenyum padanya.


"Kamu tenang saja! Tidak akan ada yang menyentuhku." Candra begitu percaya diri.


Sementara itu di ruang kerja Hans, berita mengenai pemukulan Al sudah sampai ke telinganya.


"Kenapa bisa seperti itu?" teriaknya. "Kamu sudah tahu siapa pelakunya?" dia menatap tajam sekretaris Ken.


"Belum, Tuan. Tapi, kami sudah mendapatkan rekaman cctv di sekitar restoran itu." Ken menyerahkan ponselnya yang berisi rekaman cctv di lokasi kejadian. Mata Hans membesar melihat apa yang terjadi pada cucu kesayangannya.


"Beraninya mereka melakukan itu pada cucuku." Hans sangat marah.


"Cari mereka sampai ketemu, dan bawa kehadapanku. Mereka harus merasakan apa yang cucuku rasakan." perintahnya.


"Baik, Tuan."


"Aku sangat yakin ini adalah perbuatanmu. Jika aku menemukan buktinya, maka kau akan merasakan hal yang sama." Hans mencengkram tongkatnya.


🍀🍀🍀


"Kenapa aku disini?" Ayuna terbangun karena mendengar suara alarm, dan dia sangat terkejut karena saat ini dia berada dikamar Al. Dia heran kenapa dia berada di kamar Al, karena seingatnya semalam dia sedang di sofa ruang tamu bersama Alvaro.


"Dimana dia?" Yuna melihat kesekeliling kamar mencari keberadaan Al, tapi nihil. Ayuna menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Al.


"Al!!" panggilnya. Yuna berjalan menuju dapur, tapi Al tidak ada disana. "Kemana dia?" Yuna mendengar suara pintu terbuka, dan dia bergegas menuju ke depan. "Kamu darimana saja?" tanyanya saat melihat Alvaro masuk dengan menenteng paper bag.


"Aku keluar untuk mengambil sarapan." dia memperlihatkan bawaannya pada Yuna.


"Kenapa tidak membangunkanku? Aku bisa mengambilkannya untukmu." Yuna mengambil paper bag itu dari tangan Al dan membawanya ke meja makan, Al mengikutinya.


"Kamu tidurnya pulas banget." Ayuna menatap tajam padanya.


"Jangan lakukan itu lagi. Kalau mau pergi beritahu aku." Yuna meletakkan nasi goreng itu pada piring yang telah dia ambil.


"Apa kamu sebegitu mengkhawatirkanku?" goda Al.


"Tentu saja." jawabnya.


"Apa kamu takut kehilangan aku?" Alvaro masih saja mengodanya.


"Sudah, makan saja sarapanmu." Ayuna tidak menanggapinya. "Apa hari ini kita ke kantor?" tanyanya.


"Tentu saja." jawab Al.


"Tapi, tanganmu?"


"Yang sakit hanya tangan kiriku, bukan yang kanan." jawabnya. "Kamu bersiaplah, setelah itu bantu aku untuk bersiap-siap." Al berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Setelah selesai, Ayunapun bergegas menuju kamar Al. "Dimana dia?" tanyanya saat tidak melihat Al disana.


"Mau kemana kamu?" suara Al menghentikan langkahnya.


"Aku kira kamu sudah diluar." Yuna menunduk saat melihat Al hanya mengenakan celana panjang saja.


"Kemarilah!" Alvaro memintanya mendekat.


"Ada apa?" walaupun ragu Yuna tetap mendekat pada Al.


"Tolong bantu aku memakai baju."


"Hah?" Yuna kaget.


"Kenapa?"


"Apa kamu tidak bisa melakukannya sendiri?" tolaknya.


"Kamu lupa apa yang terjadi dengan tanganku." Ayuna mengalihkan pandangannya ke arah tangan Al.


"Ayo, cepat! Kita sudah terlambat." dengan terpaksa Ayuna membantu Al memakai kaos dalamnya, kemudian kemeja miliknya. Walaupun sejak tadi jantungnya berdetak tak karuan. Setelah selesai Yuna memasangkan jas dengan hati-hati.


"Kenapa kamu harus malu begitu?" Goda Al begitu dia selesai membantunya. "Semalam saja kamu tidak malu sama sekali." Yuna menatapnya.


"Maksudmu?"


"Apa kamu lupa apa yang terjadi semalam? Kamu terus memelukku hingga aku sulit untuk menahan diri." wajah Yuna bersemu merah.


"Sudah jangan mengangguku terus. Ayo berangkat! Kamu bilang kita sudah telat." Yuna segera keluar dari kamar Al. Alvaro tertawa melihatnya salah tingkah.


"Selamat pagi, Tuan." sapa Jo saat mereka sudah sampai di lobby apartemen.


"Pagi, Jo." Yuna menyapanya sebelum masuk.


"Bagaimana?" tanya Al saat mobil mereka meninggalkan apartemen.


"Saya sudah memeriksa rekaman cctv disana, Tuan. Mereka menggunakan motor curian, jadi saat ini mereka masih dalam pengejaran kami." Jhosua menjelaskan mengenai pelaku pemukulan Al. Alvaro terlihat berpikir keras, Ayuna melirik ke arahnya. Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba di Ivander Group.


"Kalian duluan saja." ucap Yuna pada mereka.


"Kamu mau kemana?" tanya Al.


"Aku mau ke kantin dulu."


"Jangan lama-lama." pesannya, kemudian Al dan Jo memasuki lift. Ayuna berjalan menuju kantin, dan memesan beberapa cemilan. Setelah selesai, dia segera menuju lift. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat orang yang sangat dia kenal berada disana.


"Yuna." Gina menyapanya, mendengar nama Ayuna disebut Mahen segera menoleh padanya. "Apa yang kamu ..."


"PLAAKK!!" sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Mahendra, sebelum Gina menyelesaikan perkataannya.


~tbc