CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 139



Mereka dikagetkan dengan suara tepukan tangan. Gilang datang dan menyambut mereka dengan tawa.


"Jadi, apa sudah bisa kita mulai?" tanyanya.


"Tentu saja." jawab Yuna sambil tersenyum.


"Tapi, Al, baru kali ini aku melihat seorang milyarder melamar wanita tanpa modal sedikitpun." ledeknya.


"Tutup mulutmu!"


"Lalu, gaun seperti apa yang nona muda inginkan?" Ayuna bingung. "Begini saja, apa konsep pernikahan kalian?" melihat Yuna yang kebingungan, Gilang berusaha membantunya. Ayuna menoleh padanya.


"Tidak apa-apa. Katakan saja pernikahan seperti apa yang kamu impikan." ucap Al.


"Aku hanya ingin pernikahanku secara sederhana, tidak perlu pesta mewah. Aku ingin pernikahan yang bernuansa alam." Yuna memberitahu mereka pernikahan yang dia impikan.


"Aku sudah tahu apa yang kamu mau." ucap Gilang. "Kalian tenang saja, aku pastikan akan membuat gaun yang sesuai dengan apa yang kamu impikan." ucap Gilang.


"Baiklah, kalau begitu aku tunggu hasil kerjamu." ujar Al.


"Tunggu dulu, ada satu hal yang paling penting." Gilang menghentikan mereka.


"Apa lagi?" tanya Al.


"Kapan tanggal pernikahan kalian?" Al dan Yuna saling pandang. "Jangan bilang kalian belum menuntukannya?" tanya Gilang. Al dan Yuna sama-sama menggelengkan kepala. "Ya, ampun!!" Gilang menepuk jidatnya. "Lama-lama aku bisa gila disini." Gilang meninggalkan mereka berdua.


"Dia benar, aku juga bisa gila." Ayunapun mengikuti langkah Gilang, hanya tinggal Al seorang diri disana.


"Sayang, tunggu!!" dia mengejarnya. "Aku akan mengabarimu tentang tanggal pernikahan kami." ucapnya saat melewati Gilang.


"Dasar bucin!!" teriak Gilang. "Apa dia pikir nikah itu gampang?" Gilang masih saja mengerutu.


"Ayuna, Tunggu!!" Al mencengkram tangannya.


"Apa?" tanyanya.


"Maafkan aku! Karena sangat ingin bersamamu, aku sampai melupakan semua hal." ucapnya.


"Untung saja kita pergi ke butik temanmu, Kalau misalkan itu orang lain, pasti saat ini namamu sudah ada dimana-mana. Apa yang kamu pikirkan sampai berbuat kesalahan seperti ini?" Ayuna begitu kesal dengannya.


"Kamu! Yang ada dalam kepalaku ini hanya kamu, kamu, dan kamu." jujurnya, Ayuna tidak percaya bahwa Al begitu menginginkannya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Yuna.


"Kenapa?" tanya Al.


"Apa kamu mau kita membahas mengenai pernikahan di tempat seperti ini?" Al tersadar kalau saat ini mereka sedang berada di area parkir. Tanpa banyak bicara mereka segera masuk ke mobil. Dan, Alvaro mengendarai mobilnya menuju sebuah restoran yang tidak begitu jauh dari butik Gilang. Sesampainya disana mereka segera memesan menu untuk makan siang.


"Jo, hubungi WO terbaik di kota ini. Setangah jam lagi saya tiba di kantor." Al menyempatkan untuk menghubungi Jhosua.


"WO? Siapa yang akan menikah tuan?" Jhosua bingung.


"Tentu saja untuk saya, tidak mungkin untukmu." kemudian Alvaro memutus panggilannya.


"Al, apa kamu tidak terburu-buru?" tanya Yuna.


"Tidak." jawabnya.


"Seharusnya kita bertanya dulu pada oma atau kakekmu. Setahu aku pernikahan itu harus menentukan tanggal baik dulu." jelasnya.


"Ya sudah kalau begitu kamu hubungi oma. Tanyakan padanya, apa dalam waktu dekat ini kita bisa menikah?" Ayuna semakin bingung.


"Ya gak bisa begitu dong. Paling gak kuta harus kesana untuk membicarakan ini dengan oma."


"Sayang, jangan dibuat ribet dong!" Al mengenggam tangannya.


"Lagin, aku juga bingung, kamu kenapa terburu-buru begini sih?" tanyanya.


"Sudah cukup aku menunggumu selama 10 tahun, aku tidak mau menunggu lagi. Aku ingin segera menjadikanmu milikku." Ayuna hanya bisa tersenyum melihat kegigihannya.


"Asaalamu'alaikum, Oma." akhirnya Yuna mengikuti kemauan Al.


"Wa'alaikumusalam, sayang. Apa kabarmu?" tanya Oma begitu menjawab teleponnya.


"Alhamdulillah Yuna baik oma. Oma apa kabar?"


"Oma juga baik. Ada apa nak?" Oma Tyas heran kenapa Yuna menghubunginya di jam kerja seperti ini.


"Oma, Yuna mau memberitahu kalau Yuna dan Al akan segera menikah."


"Hah? Benarkah? Kenapa baru memberitahu oma?" oma memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Kami juga baru merencanakannya, Oma. Dan Al ingin kami menikah secepatnya." Al tersenyum.


"Kenapa buru-buru? Kamu gak lagi hamil kan?"


"Huk, huk, huk!!" Ayuna tersedak air yangs sedang dia minum.


"Hati-hati!" Al membersihkan sisa air yang ada didagunya.


"Dimana Al?" tanya Oma. Ayuna segera memberikan ponselnya pada Al.


"Hallo, oma!" ucapnya.


"Al, kenapa pernikahan kalian terkesan terburu-buru?" tanyanya.


"Tidak, Oma, sejak bertemu dengan Yuna aku sudah merencanakan untuk segera menikahinya." jawab Al.


"Kamu jangan bohong? Apa Ayuna hamil?" Al terkejut mendengar pertanyaan Oma.


"Lalu, kenapa buru-buru?" tanya Oma lagi.


"Oma, kalau aku tidak segera menikahinya, aku takut apa yang oma katakan akan segera terjadi." Yuna mencubit perut Al, dan Oma sangat terkejut.


"Baiklah, kalian segeralah menikah. Oma tidak mau kalian menjadi pembicaraan seluruh negeri." ucapnya.


"Bisakah oma bantu carikan tanggal baiknya? Kalau bisa dalam bulan ini." pinta Al.


"Baiklah, akan oma carikan." oma Tyas menyetujui permintaannya. "Besok oma kabari kamu." ucapnya.


"Terima kasih,Oma. Assalamu'alaikum." mereka mengakhiri pembicaraan itu.


"Kita tinggal menemui kakek. Nanti sepulang dari kantor kita ke rumah utama." Ayuna mengangguk setuju.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Maaf, Nona, kami dari Tally's Wedding ingin bertemu dengan Tuan Alvaro." Refa menatap wanita yang ada di depannya.


"Apa sudah ada janji sebelumnya?" tanya Refa.


"Sudah. Tuan Al meminta kami untuk menemuinya disini." jelasnya.


"Tunggu sebentar, saya hubungi tuan Al terlebih dahulu." Refa menekan nomor Yuna.


"Na, apa tuan Al ada janji dengan pihak WO?" tanyanya begitu Ayuna mengangkat teleponnya.


"Iya, apa mereka sudah datang?" tanya Yuna.


"Sudah." jawab Refa.


"Suruh tunggu sebentar, ini kita baru sampai di parkiran."


"Baik." Refa kemudian meminta mereka untuk menunggu Al.


"Siapa yang akan menikah? Apa tuan Al dan Yuna?" Refa bertanya-tanya.


"Fa, dimana mereka?" Ayuna segera bertanya pada Refa, sementara Al segera masuk ke ruangannya.


"Itu." Refa menunjuk dua orang yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Tolong, suruh mereka masuk ya!" pinta Yuna.


"Na, siapa yang mau nikah? Kamu?" Refa menyempatkan bertanya padanya.


"Kepo." jawab Yuna lalu berlalu menuju ruangan Al.


"Permisi, Tuan." ucap wanita dari pihak WO.


"Silahkan duduk!" ucap Al. Mereka segera duduk, Al dan Yuna pun duduk di depan mereka berdua.


"Kami dari Tally's Wedding, Tuan. Tuan Jhosua menghubungi kami untuk datang menemui anda." ucap wanita yang bernama Viona manager di WO tersebut. Begitu tahu yang menghubungi mereka adalah Alvaro Putra Ivander, mereka bergegas datang. "Jadi siapa yang akan menikah, Tuan?" tanyanya.


"Saya dan ini tunangan saya."Al memperkenalkan Yuna pada mereka.


"Jadi, konsep seperti apa yang anda inginkan?" tanyanya.


"Kamu mau yang seperti apa?" Al bertanya pada Yuna.


"Saya ingin pernikahan yang sederhana. Tapi, saya ingin acaranya itu diadakan di ruang terbuka." jelasnya.


"Nona bisa melihat katalog yang kami bawa." Viona menyuruh asistennya untuk memberikan katalog yang dia pegang. Al dan Yuna sama-sama melihat konsep yang mereka inginkan, tidak jarang terjadi perdebatan kecil diantara mereka. Hingga mereka keputusan jatuh pada konsep outdoor dengan tema rustic wedding.


"Untuk tanggal saya akan kabari kalian besok." ucap Al sebelum mereka berpamitan.


"Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi." mereka segera keluar dari ruangan Al.


"Jadi, siapa yang akan menikah?" Refa kembali mempertanyakannya begitu Ayuna sudah berada disebelahnya. Ayuna hanya tersenyum.


"Kamu kan?" tanya Refa. "Benarkan?" Refa terus saja memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Iya." Ayuna menyerah.


"Wah, selamat ya!!" Refa memeluknya.


"Ssttt, diamlah! Kalau tidak satu gedung akan tahu." Ayuna menghentikan Refa. Refa segera menutup mulutnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dimana kakek?" saat ini Al dan Yuna sudah berada di rumah utama.


"Tuan besar ada di ruang kerjanya." jawab pelayan yang mereka temui.


"Ayo!" Al mengajak Yuna menuju ruang kerja Hans.


"Ayuna!" Mahen yang berada di anak tangga melihat kedatangan Al dan Yuna.


"TOK TOK TOK."


"Masuk!" perintah Hans dari dalam. "Kalian?" Hans terkejut saat tahu yang datang menemuinya adalah Al dan Yuna. "Duduklah!" ucapnya. Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Ada apa? Tumben kalian mampir?" tanya Hans.


"Kami akan segera menikah." Hans terkejut, karena Al langsung memberitahunya maksud kedatangan mereka.


"Menikah??" Mahen yang sengaja menguping pembicaraan mereka sangat terkejut mendengar perkataan Al.


~tbc


Mereka yang mau nikah, saya yang pusingπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†