CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 114



"Apa kamu masih marah?" tanya Hans, mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen Al.


"Menurutmu?" oma Tyas bertanya balik.


"Kemana saja kamu selama ini?" tanyanya.


"Kamu tidak perlu tahu."


"Aku sempat mencarimu, tapi kamu menghilang begitu saja." Hans masih terus membahas tentang masalalu. "Dimana suamimu?" tanyanya.


"Dia sudah lama meninggal." jawabnya tanpa melihat Hans. "Dan kau?"


"Sama, istriku juga sudah tiada." Hans masih terus menatap wanita yang pernah mengisi harinya. Tidak ada yang berubah darinya, Hans masih bisa melihat sisa-sisa kecantikan di masalalunya. Wanita yang pernah membuat jantungnya berdegup kencang saat berada di dekatnya, ataupun saat melihatnya tersenyum.


"Kenapa dia tida menikah?" pertanyaan oma membuyarkan lamunan Hans. "Bukankah dia pergi untuk menikah dengan pilihan orangtuanya?" Hans tahu siapa yang dimaksud olehnya. Lama Hans terdiam, dia masih menimbang apakah harus mengatakan yang sebenarnya pada Tyas.


"Kenapa kau diam?" oma menatapnya.


"Pasti Al yang sudah mengatakannya padamu." ucapnya. "Sebenarnya dari awal dia menentang keputusan orangtuanya, tapi demi aku dia memilih untuk setuju." Hans mengepalkan kedua tangannya. Oma terus menunggu kelanjutan kisahnya. "Maafkan aku, Tasya! Karena aku kalian harus berpisah. Dia rela kehilanganmu demi kebahagiaanku, adiknya." oma tidak lagi terkejut, karena dia sudah menebak kenapa Bima melakukannya.


"Apa dia bahagia dengan keputusannya?" tanya oma. Hans mengegeleng.


"Tidak! Bahkan, hingga akhir hanyatnya dia masih terus tersiksa. Aku mencoba mencarimu untuk mengembalikan semua ke tempatnya tapi aku gagal menemukanmu. Kau seolah hilang di telan bumi." oma tidak menyangka kalau Bima menderita seperti itu. Setelah mereka berpisah oma memang menjauh dari dua bersaudara itu. Oma tidak lagi ingin bertemu mereka. Dia sangat kecewa atas sikap Bima yang memutuskan hubungan secara sepihak.


"Aku pikir dia akan bahagia dengan keputusannya." oma menatap jalanan yang tampak ramai oleh lalu lalang kendaraan.


"Maafkan aku!" ucap Hans. Dia benar-benar menyesali sikapnya dulu, karena meminta Bima untuk meninggalkannya. Sehingga tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkannya.


"Sudahlah! Semua sudah berlalu. Tuhan memang tidak menakdirkan kami bersama." jawab oma.


"Tuan, kita sudah sampai!" lapor Sopir yang sejak tadi menjadi pendengar di sepanjang perjalanan mereka.


"Apa menurutmu keputusanmu akan membawa kebahagian untuk kedua cucumu?" Oma kembali mengingatkan Hans tentang drama percintaan cucu mereka. "Kau tahu, Hans, sangat menyakitkan ketika hak kita untuk saling mencintai diambil secara paksa. Jika kebahagian Al ada pada Yuna, maka kebahagiaan cucumu Mahen ada pada wanita lain. Kau harus yakin itu. Jodoh tidak akan pernah tertukar. Aku harap kau dapat mempertimbangkan kembali keputusanmu." oma keluar dari mobil Hans, dan berjalan menjauh darinya. Hans masih terdiam di tempatnya, memikirkan ucapan oma Tyas.


"Jalan." perintahnya pada sang sopir.


🌸🌸🌸


"Yuna!!" teriak Gina saat melihat Yuna berjalan di lobby.


"Hi!" sapa Yuna begitu Gina berada di hadapannya.


"Lo, mau pulang?" tanyanya.


"Iya."


"Dimana tuan Al?" tanya Gina karena tidak melihat keberadaan Al disekitar mereka.


"Oh, dia lagi ada urusan. Kamu mau pulang?" tanya Yuna.


"Iya, lo mau bareng?" Gina menawarkan untuk mengajak Yuna pulang bersama.


"Aku sudah ..." ucapannya terhenti saat melihat Mahen berjalan mendekati mereka.


"Kenapa?" Gina mengikuti arah pandangan Yuna.


"Kamu apa kabar?" tanya Mahen begitu bergabung bersama mereka.


"Aku baik." jawab Yuna.


"Bagaimana kondisimu?" Mahen memperhatikan Yuna secara intens.


"Aku sudah jauh lebih baik, buktinya aku sudah masuk kerja." Yuna ingin Mahen yakin bahwa dia sudah benar-benar sembuh.


"Syukurlah! Aku duluan!" setelah berkata seperti itu Mahen meninggalkan mereka. Yuna cukup terkejut saat melihat sikap Mahen yang dingin padanya. Dia sangat berbeda dengan Mahen yang sebelumnya dia kenal.


"Hey!!" Gina menyadarkannya. "Lo, lihat apaan?" tanyanya.


"E-eh, tidak! Aku hanya merasa dia sangat berbeda." ucap Yuna.


"Memang! Dia bukan lagi tuan Mahen yang kita kenal. Dia sangat dingin, semua takut padanya." jelasnya. "Ya sudah, lo mau pulang bareng gue gak?"tanyanya.


"Lain kali saja, Aku sudah ditungguin sopir di depan." tolak Yuna.


"Ok!" mereka berjalan bersama.


"Nona, Ayuna?" tanya seorang pria paruh baya.


"Iya, anda siapa?" tanyanya.


"Tuan Al menyuruh saya untuk mengantarkan anda pulang." jawabnya. Ayun yakin kalau dia adalah sopir yang diminta Al untuk mengantarnya.


"Aku duluan, ya!" Yuna memeluk Gina, dan mereka berpisah. Yuna masuk ke mobil yang sudah disediakan untuknya.


"Apa keputusanku merubahnya menjadi seperti itu?" Yuna masih memikirkan tentang perubahan sikap Mahen.


🌸🌸🌸


"Sayang!" Mahen menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita yang sangat dia sayang.


"Mau apa mama ke sini?" tanyanya.


"Sayang, mama kangen sekali padamu." Soraya memeluk putra kesayangannya. "Boleh kita bicara?" tanyanya.


"Jika, mama kesini untuk memintaku pulang, sebaiknya mama kembali." Mahen seolah tahu tujuan Soraya datang menemuinya.


"Apa kamu sudah tidak ingin bertemu dengan mama?" Soraya terlihat sedih. "Ayo, kita pulang, Nak!" Soraya memegang lembut tangannya.


"Aku tidak mau!" Mahen masih menolaknya.


"Mahen dengarin mama ..."


"Mama pulang saja." Mahen meninggalkan Soraya begitu saja. Soraya meneteskan airmata melihat putra yang dia sayangi menjauh darinya. Soraya menghubungi Gilang dan memintanya untuk bertemu. Dan, mereka berjanji untuk bertemu di Maiza Cafe yang tidak jauh dari butik Gilang.


"Maaf jika tante terlambat!" ucap Soraya saat dia sampai di tempat yang mereka janjikan.


"Tidak apa-apa, Tante, aku juga baru sampai." jawab Gilang. "Bagaimana kalau kita pesan minum dulu?" Gilang yakin pasti ini ada kaitannya dengan Mahen yang saat ini tinggal bersamanya. Soraya setuju, Gilang memanggil pelayan dan mereka memesan secangkir espresso.


"Ada apa tante ingin bertemu denganku?" tanyanya setelah pelayan tadi pergi. "Apa ini tentang Mahen?" tebaknya.


"Kenapa, Tan?" tanyanya.


"Tante, mohon kamu bantu membujuknya untuk pulang." akhirnya Soraya memilih untuk meminta bantuan Gilang.


"Dia tidak mau! Aku sudah berkali-kali mencobanya." jawabnya.


"Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Soraya. Gilang diam, Soraya yakin Gilang mengetahui sesuatu. "Gilang, tolong tante!"


"Mahen tidak banyak cerita. Dia hanya berkata kalau dia sangat mencintai Yuna. Aku pikir sebaiknya tante biarkan dia menata hatinya. Setelah dia berhasil melupakan Yuna, aku yakin dia akan pulang." ucapnya.


"Apa kamu yakin dia akan melupakan Yuna? Tante takut dia berbuat nekat." Soraya sangat tahu bagaimana putranya.


"Tante tidak perlu khawatir! Aku akan terus mengawasinya." Soraya mencoba untuk mempercayai Gilang.


"Tante titip Mahen ya! Maaf, kalau dia membuatmu repot." Gilang tersenyum.


"Tante tidak perlu khawatir." ucapnya. Setelah itu mereka berpisah. Soraya kembali ke rumah dengan rasa kecewa.


"Apa yang harus ku katakan pada papa." batinnya.


🌸🌸🌸


"Assalamu'alaikum." ucap Yuna setelah dia masuk.


"Wa'alaikumusalam." oma Tyas menyambutnya dengan pelukan hangat. "Dimana Al?" tanyanya saat melihat Yuna hanya sendiri.


"Dia masih ada pekerjaan, Oma." jawab Yuna.


"Terus kamu pulang dengan siapa?"


"Ada sopir kantor yang ngantarin."


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mandi, setelah itu kita tunggu Al buat makan malam." Yuna segera menuju kamarnya. Dia mulai membersihkan dirinya dari debu dan kotoran yang menempel seharian ini. Setelah selesai dia kembali bergabung bersama oma yang sedang menonton.


"Oma kemana saja seharian ini?" tanyanya.


"H-hm, oma hanya mengunjungi teman." oma Tyas tidak ingin Yuna tahu bahwa dia bertemu dengan Hans.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" oma mengalihakan pembicaraan.


"Yah, begitulah, Oma! Seharian ini aku dan Al sangat sibuk." Yuna merebahkan tubuhnya diatas sofa. Tapi, istirahatnya terganggu karena ponselnya berdering.


"Nomor siapa ini?" Yuna melihat nomor penelpon yang tidak dia ketahui.


"Hallo!" jawab Yuna.


"Apakah ini dengan ibu Ayuna Sahara?" tanya suara berat dari seberang telepon.


"Iya, benar! Saya, Ayuna!" jawabnya.


"Maaf menganggu waktu anda, kami dari polres Dirgantara."


"Iya, ada apa, Pak?" Yuna bingung kenapa polisi menghubungi selarut ini.


"Begini, Bu, kami sudah berhasil menangkap pelaku yang menabrak anda. Dan, kami mohon kesediaan ibu datang ke kantor untuk memberikan kesaksian." ucapnya.


"Baiklah, Pak, saya segera kesana." setelah berbicara dengan anggota kepolisian, Ayuna segera berdiri.


"Siapa yang telepon?" tanya Oma sebelum Yuna ke kamarnya.


"Dari kantor polisi, Oma." jawabnya.


"Polisi? Kenapa polisi menghubungimu selarut ini? Apa Al baik-baik saja?" Oma langsung kepikiran pada Al.


"Pelaku tabrak lari Yuna sudah ditangkap, jadi mereka meminta Yuna untuk memberikan kesaksian." jelasnya.


"Oma temani kamu, ya?" Oma menawarkan diri untuk menemai Yuna.


"Aku bisa sendiri, Oma." ucap Yuna.


"Tapi, ini sudah malam, Nak.


"Tidak apa-apa, Oma, Yuna bisa naik taksi. kalau Al pulang, tolong bilangin Yuna ke kantor polisi Dirgantara." Ayuna menitipkan pesan untuk Al pada oma sebelum dia pergi. Oma mengangguk. Tidak butuh waktu lama bagi Yuna untuk sampai di Polsek Dirgantara. Setelah bertanya pada petugas yang berjaga, Ayuna segera menuju unit reskrim yang berada di bagian belakang kantor.


"Ada apa, Bu?" tanya salah satu anggota yang bertugas.


"Saya baru saja di hubungi oleh salah satu anggota bapak, dan saya diminta datang untuk memberikan kesaksian." jelas Yuna.


"Ibu Ayuna?" tanyanya.


"Benar, Pak!" Ayuna langsung diminta untuk duduk di hadapan polisi yang bertugas. Mereka mulai menginterogasi Yuna atas kasus yang menimpanya. Dan, Yuna menjawab apa yang dia ketahui.


"Apa saya bisa bertemu dengan mereka?" tanya Yuna setelah mereka selesai.


"Tentu saja!" Kanit reskrim meminta bawahannya untuk membawa pelaku tabrak lari Yuna untuk dibawa ke hadapan mereka. Sejak tadi ponsel Yuna tidak berhenti berdering, Ayuna merijek panggilannya karena dirinya masih penasaran dengan pelaku. Ayuna melihat dua orang berbaju tahanan berjalan mendekatinya. Dan, Yuna begitu terkejut karena salah satu dari mereka seorang wanita.


"Ini mereka, Bu." Ayuna berdiri dan mendekat pada tahanan wanita yang sejak tadi menganggu pikirannya.


"Nona Natalie?" Yuna terkejut karena dia sangat mengenal pelakunya. Natalie menatap tajam padanya.


"Bagaimana ini mungkin?" Yuna masih tidak percaya. Kemudian polisi menceritakan bahwa Natalie adalah dalang dari kecelakaan yang dia alami.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanya Yuna. Tapi, Natalie hanya terus menatapnya tanpa berkata apapun. Karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Ayuna segera menyelesaikan urusannya di kantor polisi.


"Alvaro." mendengar Natalie menyebut namanya Yuna segera menghentikan langkahnya.


"Kenapa dengan Al?" tanyanya.


"Tolong katakan padanya aku sudah mengakui segalanya, jadi tolong bebaskan papaku." pintanya. Ayuna terkejut mendengar perkataan Natalie. Dia segera keluar dari kantor polisi.


"Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" tanya Al yang tiba-tiba sudah mencegkram tangannya. Ayuna menatap tajam padanya. "Ada apa?" Al bisa merasakan ada sesuatu yang salah dari tatapan Yuna.


"Apa kamu benar-benar menculiknya?" Alvaro terdiam, karena akhirnya Yuna mengetahui aksinya.


~tbc