CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 156



Nona ...” Jo mencoba menghentikannya, tapi Ayuna mendorongnya.


“Yuna ...” Al berdiri menutupi pandangannya.


“Minggir, Al! Aku ingin melihatnya.” Alvaro terpaksa mengeser tubuhnya.


Ayuna melangkah mendekati brankar. Dia membuka kain putih itu lagi. Tangisnya langsung pecah saat melihat wajah Mahen yang sudah memutih.


“Mahen!! Al, kenapa dia seperti ini?” ucapnya.


“Sayang, biarkan mereka membawanya!” Al memeluknya.


“Al, dia seperti ini karena aku. Aku yang menyebabkan dia meninggal.” Ayuna menyalahkan dirinya.


“Sus, tolong bawa dia!” Al meminta mereka untuk membawa jenazah Mahen.


"Tidak, Al, dia tidak mungkin pergi begitu saja. Al, aku ..." Ayuna mencoba menghentikan mereka yang akan membawa Mahen.


"Ayuna, sudah! Dia sudah tiada. Ikhlaskan kepergiannya." ujar Al. Ayuna menangis dipelukannya.


Mereka kembali mendorong brangkar itu. Jhosua membantu Soraya berjalan, Hans dan Ken masih berdiri di tempat yang sama.. Ambulance sudah menanti mereka di pintu belakang rumah sakit.


“Lihatlah, akibat dari perbuatanmu. Untuk menutupi semua dosamu, kau malah melenyapkan putramu sendiri.” ucap Hans pada Candra masih berada di lantai.


“Ayo, Ken! Kita harus mempersiapkan semuanya.” Mereka berjalan meninggalkan Candra seorang diri. Sementara Candra, dia masih tidak bisa mempercayai semua yang terjadi.


“Ayo, kita kembali ke kamarmu.” Ucap Al pada Yuna.


“Gak. Aku gak mau! Aku ingin menemaninya.” Tolak Yuna.


“Tapi, kamu masih terluka.” Al melihat kaki Yuna yang ditutupi perban.


“Aku gak mau, Al! Aku baik-baik saja.” Tegasnya.


"Aku mau pulang. Aku ingin menemaninya untuk yang terakhir kalinya." ucapnya.


“Baiklah. Kita pulang!” Al tidak bisa lagi memaksanya. Setelah mengurus semuanya, Al membawa Yuna pulang dengan mobilnya.


“Jika saja aku tidak hadir dihidup kalian, mungkin saat ini Mahen masih hidup.” Ucap Yuna saat mereka berada di mobil.


“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kita tidak dapat melawan kematian. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mengikhlaskannya.” Al memberi motivasi agar Yuna tidak terus-terusan menyalahkan dirinya.


“Tapi, dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku.” Ayuna kembali menangis.


“Dia melakukan itu karena dia mencintaimu.” Akhirnya Al mengakui kalau cinta Mahen padanya begitu besar. “Dia ingin kamu tetap hidup. Jadi, kuatlah! Jangan sia-siakan pengorbanannya.” Ayuna menoleh padanya. Al menghapus airmata yang jatuh dipipinya.


Rumah keluarga Ivander sudah ramai oleh karangan bunga yang entah dari mana saja datangnya. Karangan bunga dan ucapan bela sungkawa masih terus berdatangan bahkan sampai memenuhi perkarangan yang luas itu. Ambulance memasuki pintu utama, semua orang berkumpul. Beberapa dari mereka membantu membawa jenazah Mahen memasuki rumah. Soraya tidak mau menjauh dari putranya. Al dan Yuna tiba tak lama setelah ambulance meninggalkan rumah itu.


“Tante, maafkan aku!” Yuna bersimpuh dihadapan Soraya. Soraya bangun dan memeluknya.


“Dia pasti sangat bahagia. Selama ini dia hanya mencintai satu wanita. Dan akhirnya dia bisa membuktikan, jika cintanya jauh lebih besar dari Al.” Soraya menatap Al. Jika situasi saat ini tidak seperti ini, Alvaro mungkin akan marah. Tapi apa yang dikatakan Soraya memang benar.


“Tante benar, dia memang sangat mencintai Yuna.” Jawab Al. Ayuna duduk disebelah Soraya.


Akhirnya, sang mentari menampakkan wujudnya. Berita meninggalnya penerus Ivander sudah bergema dimana-mana. Lama kelamaan semakin banyak orang yang datang ke rumah itu. Termasuk kedua sahabat Yuna dan juga Gandhi.


“Na!” sapa mereka saat berada di dekat Yuna. Ayuna menoleh dan mereka langsung memeluknya.


“Yang sabar ya!” ucap Gina.


“Iya, Na. Semua ini sudah takdir dari yang kuasa.” Timpal Karin. Sementara Gandhi bergabung dengan pelayat pria.


“Aku hanya tidak menyangka dia sampai rela mengorbankan nyawanya untukku.” Ucap Yuna. Matanya sudah begitu sembab, suaranya juga terdengar sengau.


Karin dan Gina yang sudah tahu beritanya hanya bisa terdiam.


Kabar meninggalnya Mahen sudah menjadi trending topik. Apalagi kasus itu sudah ditangani oleh pihak kepolisian.


"Hans!" Hans menoleh, dia melihat Tyas berdiri di hadapannya.


"Maaf aku terlambat!" ujar oma Tyas. "Aku turut berduka." Oma Tyas memegang tangan lelaki sepuh itu.


"Tidak apa-apa." jawabnya. Setelah itu, oma Tyas berjalan ke arah Soraya dan juga Yuna.


"Aku turut berduka." ucap oma Tyas pada Soraya.


"Terima kasih, Tante." jawabnya.


"Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Tapi, kau harus kuat. Kau harusnya bangga karena kau telah berhasil mendidik putramu hingga menjadi pria sejati." Soraya tersenyum tipis. Kata-kata oma mampu menenangkannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya pada Ayuna. Dia baru bisa menyapa cucu kesayangannya.


"Yuna baik, Oma." Ayuna memeluknya.


"Yuna gak nyangka dia akan pergi secepat ini." ucapnya dipelukan oma Tyas.


"Dia pria baik. Oma bisa melihat betapa besar cintanya untukmu. Kamu beruntung dicintai oleh pria seperti mereka." oma Tyas mengelus kepala cucunya. Ayuna menatap Mahen yang tertidur pulas di hadapannya.


Setelah rangkaian proses dilalui, akhirnya jenazah Mahen bersiap untuk di bawa menuju ke peristirahatan terakhirnya. Soraya dan Hans memeluknya untuk yang terakhir kalinya, Candra juga turut hadir disana. Ayuna hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Dia diapit oleh kedua sahabatnya. Oma berjalan bersama Hans. Dia tahu bahwa saat ini Hans membutuhkan seseorang disisinya.


Tangis mereka semakin menjadi saat keranda itu diangkat menuju ambulance. Soraya memeluk erat foto putranya. Ayuna menatap nanar pada keranda Mahen yang saat ini sudah berada di dalam ambulance.


“Ayo, Na!” ajak Gina. Mereka naik ke mobil yang dikendarai Jhosua.


Sesampainya di lokasi pemakaman, semua orang telah bersiap. Soraya berjalan di depan dengan terus memeluk fotonya. Hans berdiri di sebelahnya.


Sementara, Al ikut serta mengangkat keranda adiknya menuju ke pembaringan terakhirnya. Jhosua tetap ditugaskan untuk melindungi Yuna. Karena Candra masih bersama dengan mereka. Alvaro gak mau dia berbuat nekat pada Yuna.


Ayuna menitikkan airmatanya saat melihat Mahen yang sudah terbungkus kain putih dibawa masuk ke dalam liang lahat.


Oma Tyas merangkulnya memberi kekuatan untuknya. Soraya tidak mampu menahan tangisnya, saat putra yang dia sayangi selama ini harus kembali pada sang pencipta.


“Aku tidak akan pernah mendengar tawa dan candanya lagi.” Ucap Yuna pelan.


“Lo benar, gak akan ada lagi wajah dingin tuan Mahen.” Timpal Gina, Karin setuju dengannya.


Soraya memeluk nisannya, Hans berdiri di sampingnya di temani oleh oma Tyas, dan Al disebelah Yuna. Prosesi pemakaman telah selesai. Saat ini hanya tinggal mereka, keluarga inti Ivander. Termasuk beberapa orang-orang kepercayaan mereka. Gina dan Karin juga masih berada disana.


“Tidurlah dalam damai, Sayang! Mama bersyukur pernah memilikimu.” Ucapnya.


“Aku harap kamu sudah tenang disana. Terima kasih sudah memberi warna dalam hidupku. Aku beruntung dicintai oleh pria sepertimu.” Yuna menatap dalam nisan itu. Lagi dan lagi, airmatanya terus mengalir. Al merangkulnya, dia bisa melihat kesedihan di matanya.


“Terima kasih sudah menjaganya. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan pengorbananmu. Akan kupastikan dia selalu bahagia.” Alvaro berjanji padanya.


“Tuan, Candra?” beberapa orang berseragam polisi mendataginya, Candra tidak mengatakan apapun. Dia masih sangat terpukul atas kepergian Mahen. “Kami dari pihak kepolisian, kami menangkap anda atas dugaan penculikkan dan pembunuhan yang dilakukan oleh saudara Leo.” Candra masih tidak mengatakan apa-apa. Dia bahkan diam saja saat polisi memborgol tangannya. Soraya menatap tajam pada lelaki yang pernah dia cintai. Candrapun menoleh padanya.


“Maafkan, aku!” ucapnya pada sang istri.


“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Jawabnya.


“Bawa dia, Pak!” Soraya tidak mau menatapnya. Candra digiring menuju mobil yang terparkir di luar area pemakaman. Semua orang yang berada disana menatap kepergiannya dengan rasa marah.


“Apakah ini sudah berakhir?” tanya Yuna pelan.


“Yah, aku rasa sudah.” Jawab Al.


“Aku harap juga seperti itu.” Timpal Yuna.


“Ayo, kita pulang!” ajak Al, Ayuna menatap kembali gundukan tanah yang masih basah dan dipenuhi oleh taburan bunga.


“Selamat tinggal! Aku akan mengunjungimu lagi.” Ucapnya sebelum mereka meninggalkan makam itu.


~tbc


🌼 kisah Al dan Yuna udah hampir selesai ya😁