CEO BUCIN

CEO BUCIN
BAB 164



"Dimana Ayuna?" tanya Al sesampainya dia di rumah.


"Dia masih di kamar. Sepertinya istrimu ..." Soraya tidak jadi melanjutkan perkataannya saat melihat Al sudah berlari menaiki anak tangga.


"Sayang!" panggil Al begitu sampai di kamar.


"Ada apa?" tanya Yuna yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kamu belum bersiap?" tanya Al.


"Bersiap kemana?" tanyanya.


"Bukankah kamu sudah dengar kalau kita ada janji dengan nona Angela?" Al berjalan ke kamar mandi. Bukannya bersiap Ayuna malah naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya. "Sayang, kamu sudah siap?" Alvaro terkejut saat melihat Ayuna sedang berbaring. "Kenapa malah tiduran? Ayolah!" ucapnya.


"Kamu saja! Aku letih." tolak Yuna.


"Mana mungkin aku pergi sendiri." jawabnya.


"Kan ada Jo!" ucapnya.


"Sayang, kamu harus ikut! Kamu juga harus membantuku untuk menyenangkan hati nona Angela. Aku benar-benar membutuhkan kerjasama ini." bujuknya.


Dengan terpaksa Ayuna beranjak dan bersiap. Ayuna menggunakan dress berwarna peach dengan sedikit sentuhan make up di wajahnya. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai begitu saja. Sementara Al sudah siap dengan kaos hitam dan celana jeans dari brand ternama.


"Sudah?" tanya Al. Ayuna mengangguk lemah. Mereka berpamitan pada Hans dan Tyas yang kebetulan ada di ruang keluarga.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Jo, apa kamu sudah tahu nona Angela ingin kemana?" tanya Al.


"Sudah, Tuan." jawabnya, Jhosua melihat Ayuna yang sejak tadi diam melalui spion.


"Bagus!" Alvaro terlihat sangat antusias. Jo menghentikan mobil mereka disebuah sebuah club malam.


"Kenapa disini?" tanya Al.


"Nona Angela meminta kita untuk datang kesini, Tuan." jawabnya.


"Tapi, inikan ...? Ya sudahlah! Ayo, Sayang!" Al mengajak Yuna keluar. Ayuna terdiam saat melihat tempat yang akan mereka masuki.


"Kenapa harus disini?" tanya Yuna, karena seumur-umur ini pertama kalinya dia masuk ke tempat seperti ini.


"Kamu'kan tahu dia orang luar. Susah pasti dia menyukai tempat seperti ini." ujar Al. "Sudah gak apa-apa, Ayo!" ajaknya. Mereka memasuki club itu, baru saja sampai disana Ayuna sudah mendengar suara musik yang berdentum keras, serta asap rokok dimana-mana. Ayuna menutup hidungnya. Al menoleh pada Yuna kemudian mengenggam tangannya. Jhosua berjalan di belakang mereka.


"Hi, Tuan Al!" Angela mendekat dan memeluk Al. Alvaro terlihat kaget, tapi dia menyembunyikan keterkejutannya. Mata Ayuna membelalak, dia tidak menyangka dengan sambutan yang dia dapatkan.


Mereka berada di ruangan VIP, Ayuna duduk disebelah Al dan Jhosua, sementara Angela duduk di sebelah Al.


"Apa anda menikmati pestanya?" tanya Angela pada Al.


"Ya." jawab Al.


"Kenapa minumannya dianggurin begitu?" Angela mengangkat gelas yang ada di depan Al dan memberikannya pada Al. "Ayolah, Al! Ini saat nya kita bersenang-senang." ucapnya sambil meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama musik.


Al mencicipi sedikit minuman beralkohol itu, kemudian meletakkannya kembali. Ayuna semakin jengkel melihat Al yang mengikuti semua kemauan Angela.


"Aku sangat senang bisa berkenalan denganmu. Ternyata selain sukses kamu juga sangat tampan." puji Angela, Al hanya tersenyum.


"Silahkan, Nona!" Jo memberikan jus pada Yuna.


"Sekretarismu sepertinya sangat tidak nyaman dengan tempat ini. Apa tidak sebaiknya dia kamu suruh pulang saja?" Angela menatap tajam pada Yuna. Alvaro menoleh pada Yuna yang memang sejak tadi terlihat risih.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Al, tapi Yuna tidak mengatakan apapun.


"Sudahlah! Bagaimana kalau kita turun ke bawah?" Angela merangkul lengan Al. Ayuna yang sudah tidak tahan lagi, segera berdiri dan meraih tasnya. Kemudian dia berjalan meninggalkan ruangan itu.


"Nona, tunggu!" Jhosua mengejarnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Angela.


"Maafkan saya, Nona Angela. Tapi, sepertinya saya harus pulang." Al melepaskan tangan Angela darinya.


"Pulang? Oh, Ayolah! Ini masih terlalu pagi untuk pulang." ledeknya.


"Maafkan saya! Kita akan bertemu lagi besok." setelah mengatakan itu Al segera pergi dari sana. Angela terlihat sangat kesal.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Jo, dimana Ayuna?" tanya Al sesampainya dia di parkiran.


"Nona baru saja pergi dengan taksi, Tuan." lapornya.


"Kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri?" amuk Al.


"Saya sudah meminta nona untuk naik ke mobil, tapi beliau menolak." jawabnya.


"Ayo, kita susul dia!" Al segera naik, Jo memacu mobilnya menuju kediaman Ivander.


"Loh, kenapa kamu pulang sendiri?" tanya Tyas.


"Aku sedang tidak enak badan, Oma." jawabnya. Oma Tyas memeriksanya dan seperti Soraya dia merasakn dahi Yuna panas.


"Ya sudah, kamu istirahat. Nanti, oma bawain obat ke kamarmu." Ayuna mengangguk dan segera naik ke kamarnya.


"TOK TOK TOK."


"Masuk!" ucap Yuna.


"Nak, ini oma bawa obat penurun panas." oma memberikan obat itu padanya.


"Terima kasih, Oma." ucapnya.


"Ada apa? Sejak tadi oma perhatikan kamu terlihat kesal." tanya Tyas.


"Aku baik-baik saja, Oma. Aku hanya terlalu letih." Ayuna berkilah, dia tidakningin oma tahu kalau saat ini dia sedang kesal pada Al.


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja." Tyas segera keluar setelah melihat Ayuna berbaring.


"Oma, dimana Yuna?" tanya Al saat melihat Tyas yang baru keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Oma?" tanyanya.


"Oma yang harusnya bertanya. Ada apa? Apa kamu dan Yuna bertengkar?" tanya Tyas.


"Tidak. Kami baik-baik saja." jawab Al.


"Kalau kalian baik-baik saja, kenapa kamu tidak tahu kalau istrimu sedang sakit?" tanya Oma.


"Sakit? Apa yang oma katakan? Ayuna tadi baik-baik saja." jawabnya.


"Apa yang terjadi padamu? Belum seminggu kalian menikah, tapi kamu tidak tahu keadaan istrimu." Tyas mengomelinya.


"Tapi, benar oma. Tadi dia baik-baik saja." jawab Al.


"Sudah jangan berisik! Aku baru memberinya obat, mungkin saat ini dia sudah tertidur." Tyas meninggalkan Al yang masih terpaku di depan pintu kamar. Al membuka pintu dengan sangat hati-hati. Dia melihat Yuna sedang berbaring.


"Sayang!" panggilnya pelan. Melihat Al datang, Ayuna berbalik membelakanginya. "Sayang, apa kamu sakit? Kenapa tidak bilang padaku?" Al menyentuh dahi Yuna, masih terasa hangat.


"Jangan sentuh aku!" Ayuna mengibaskan tangan Al.


"Kamu marah padaku?" tanya Al.


"Aku mau tidur." ucapnya.


"Sayang, dengarkan aku! Aku tahu kamu marah. Tapi, kamu tahu sendiri Angela itu klienku. Aku membutuhkannya kerjasama itu." Alvaro mencoba menjelaskan kembali seberapa penting hubungannya dengan wanita itu. Ayuna menyibak selimutnya dan segera duduk.


"Apa kerjasama itu sebegitu pentingnya, sampai kamu mau melakukan apapun? Kami bahkan mengikuti semua kemauannya. Dan kamu tidak peduli ada aku disana." Ayuna meluapkan kemarahannya.


"Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan ini." jawabnya.


"Baik, kalau begitu pergi sana. Kamu membutuhkannya, bukan?" Ayuna mendorong Al, dan segera berdiri.


"Sayang!" Al menangkap tubuh Yuna yang lunglai.


"Jangan sentuh aku!" Ayuna berusaha menjauhkan tangan Al darinya. Al tidak mendengarkannya, dia mengangkat Yuna dan meletakkannya di tempat tidur.


"Badanmu panas!" jawab Al. Ayuna memalingkan wajahnya.


"Aku minta maaf!" Al mengenggam tangan Yuna. Ayuna menutup matanya. "Istirahatlah! Besok kita bicarakan." Al mengecup dahi Yuna, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi. Di dalam sana, Al menyeka leher, pundak dan tangannya dengan sangat keras. Sehingga tubuhnya menjadi kemerahan. Setelah selesai, dia bergabung bersama Yuna yang sudah tertidur pulas.


"Maafkan Aku! Aku janji hal itu tidak akan terjadi lagi." Alvaro memeluknya. Dia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi hari ini. Al tahu Yuna pasti terluka dengan perlakuan Angela padanya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Sayang, lebih baik kamu istirahat saja di rumah." ucap Al saat melihat Yuna sudah bersiap-siap.


"Kenapa? Apa kamu takut ketahuan oleh wanita itu kalau kamu sudah beristri?" tanya Yuna ketus.


"Kok ngomongnya begitu?" Al memeluk Yuna.


"Lepasin aku! Aku gak mau disentuh sama tangan yang sudah dirangkul wanita lain." Ayuna menjauh dari Al. Bukannya marah, Al malah tersenyum. Baru kali ini dia melihat Ayuna sebegitu cemburunya.


"Kalau begitu apa aku harus memeluk Angela saja?" godanya.


"Coba saja! Aku pastikan kamu tidak akan bisa berjalan lagi." ancam Yuna. Alvaro terbahak mendengar ucapannya. Al mengejar Yuna yang sudah terlebih dahulu bergabung dengan yang lain di ruang makan.


"Kamu sudah baikan?" tanya Oma.


"Sudah, Oma." jawab Yuna.


"Kalau belum lebih baik istirahat dulu." timpal Soraya.


"Tidak perlu, Tante! Ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan." Al menatap Yuna. Setelah sarapan, mereka bergehas menuju kantor. Karena pagi ini mereka harus kembali meeting dengan Angela.


"Tapi, kenapa hari ini kamu cantik banget?" sejak tadi Al melihat ada yang berbeda dari istrinya.


Ayuna yang biasa hanya bergaya seperti layaknya sekretaris, sekarang ke kantor dengan menggunakan dress berwarna navy. Rambutnya yang biasanya dibiarkan tergerai atau diikat satu, kali ini Ayuna sengaja membuatnya sedikit bergelombang. Dan Ayuna menenteng tas tangan dari brand ternama hadiah dari Al.


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Yuna.


"Bukan begitu! Aku hanya tidak mau jika ada pria lain yang menikmati kecantikanmu." jawab Al.


"Tapi, aku harus waspada banyak pelakor yang berkeliaran di depanmu." balas Yuna. Mereka sampai di Ivander Group, Al dan Yuna segera menuju ruang meeting.


"Selamat pagi!" sapa Al pada Angela dan timnya.


"Pagi, Tuan Al!" Angela mengulurkan tangannya. Al melirik Yuna, kemudian menerima menjabat tangannya.


"Bagaimana kabar anda, nona Ayuna? Apakah sudah lebih baik?" tanya Angela berbasa-basi.


"Saya baik. Tapi maaf, anda salah memanggil nama saya, nona Angela." ucapnya.


"Salah? Apanya yang salah?" Angela terlihat bingung, karena setahunya namanya adalah Ayuna.


"Bukan nona tapi nyonya." ucap Yuna tegas.


"Oh, maafkan saya! Saya kira anda belum menikah." Angela yang semula cemburu dengan keberadaan Yuna disisi Al, akhirnya bernapas lega.


"Iya, saya memang sudah menikah." jawabnya.


"Yah, baguslah! Saya kira anda mempunyai hubungan khusus dengan tuan Al. Karena sejak kemarin tuan Al selalu membawa anda kemanapun." Angela tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya pada Al.


Semua yang berada di ruang rapat hanya menjadi pendengar. Alvaro juga tidak berusaha menghentikan Yuna, karena dia tahu apa yang Ayuna lakukan sudah benar.


Tentu saja dia membawa saya kemanapun, karena saya ini sekretaris pribadinya." Angela tersenyum mendengar jawaban Yuna. "Sekaligus sekretaris hatinya." Ayuna tersenyum pada Al.


"Maksudnya?" tanya Angela, Ayuna berdiri.


"Maafkan saya karena kemarin tidak sempat memperkenalkan diri dengan benar. Saya Ayuna, istrinya Alvaro!" Ayuna mengulurkan tangannya pada Angela.


"Apa??"


~tbc


🌸Sorry ya readers, dari kemarin up 3 bab tapi yang lulus hanya 1, sampai sekarang masih di review.